تسجيل الدخولNada suaranya terdengar ringan. Namun, kata-kata itu bagaikan gunung raksasa yang menghantam hati setiap orang.Byur! Byur! Byur! Tak jauh dari sana, sungai darah bergolak semakin dahsyat. Ternyata ada para tetua yang diam-diam mengendalikannya. Mereka menunggu Selvi lengah sejenak agar sungai darah itu dapat menelannya."Ketua masih belum akan memberi perintah untuk menyingkirkan wanita iblis ini?""Sekte Bulan Berdarah mengguncang delapan penjuru dan menguasai dunia awani. Kalau kejadian hari ini sampai tersebar, nama Sekte Bulan Berdarah hanya akan menjadi bahan ejekan semua orang!"Seorang Panglima Iblis akhirnya berhasil menenangkan diri, lalu bertanya dengan nada penuh rasa malu dan marah.Mereka sendiri termasuk sekte iblis, tetapi justru memanggil Selvi sebagai "iblis". Hal itu sudah cukup menunjukkan betapa besar penghinaan yang mereka rasakan."Jangkrik Suci, kamu benar-benar ingin bertarung sampai salah satu dari kita mati? Belum tentu kamu sanggup menghadapi kami semua," ka
"Seseorang, antar Stefan ke Kolam Darah untuk memulihkan diri, lalu bawakan tiga pusaka utama Sekte Bulan Berdarah dan antarkan Jangkrik Suci pergi dengan penuh hormat."Sorot mata Bowo sedikit meredup. Dia menekan keterkejutan dan amarah dalam hatinya, lalu menatap Selvi dengan tatapan penuh makna.Barusan dia sebenarnya ingin menghentikan. Namun, dia bahkan tidak sempat bereaksi."Nggak perlu. Kamu juga nggak usah menguji sikapku. Aku nggak akan menerima undanganmu.""Aku juga nggak akan pergi hanya karena beberapa patah katamu." Selvi menjentikkan jarinya, lalu berkata dengan terus terang."Kalau begitu, boleh aku bertanya, sebenarnya apa maksudmu?" Bowo tidak lagi berpura-pura. Wajahnya menjadi dingin, bahkan cara bicaranya pun berubah.Para tetua dan Panglima Iblis Sekte Bulan Berdarah mulai gelisah. Mereka sudah siap bergerak kapan saja.Dalam situasi saat ini, Selvi bagaikan dewi yang tidak mungkin mereka usir. Satu-satunya pilihan mereka hanyalah mencoba mengaktifkan kembali Fo
Sret! Semburat demi semburat cahaya keemasan berkelip-kelip bagaikan kunang-kunang, muncul lalu menghilang.Terlihat jelas bahwa Tirta yang berada di dalam sungai darah terus menggunakan kertas emas itu untuk berusaha sekuat tenaga melepaskan diri.Namun, sungai darah itu memiliki spiritualitas yang sangat tinggi. Setiap kali cahaya keemasan berhasil membelah sebuah celah, air darah yang tak berujung langsung menerjang untuk menutupinya kembali.Akibatnya, Tirta sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk lolos."Bocah ini memang sulit dihadapi, tapi bagaimanapun juga dia nggak mungkin mampu melawan begitu banyak orang sendirian. Hehe!"Para tetua dan Panglima Iblis Sekte Bulan Berdarah akhirnya benar-benar merasa lega."Bagus! Bagus sekali! Akhirnya aku bisa menyaksikan sendiri bocah ini disiksa sampai mati!""Kakek ... cepat ... carikan aku tubuh yang cocok. Aku ingin merebut tubuh baru dan berkultivasi lagi!"Melihat pemandangan itu, Stefan akhirnya tertawa terbahak-bahak dengan p
"Hahaha! Formasi Iblis Darah terbentuk dari kumpulan aura pembantaian yang luar biasa dahsyat.""Kecuali kamu benar-benar telah mencapai tingkat pencapaian agung, sekalipun kekuatanmu mampu mengguncang langit, tetap mustahil kamu bisa menerobosnya!""Formasi Iblis Darah, leburkan dia!"Melihat pemandangan itu, bayangan iblis raksasa yang mewakili kehendak para tetua dan Panglima Iblis akhirnya mengeluarkan tawa penuh kesombongan dan kekejaman.Sssst! Sssst! Sssst! Belum lama setelah kata-kata itu terucap, sembilan pilar darah perlahan menyusut, memancarkan aura iblis yang mampu mengikis tulang dan melelehkan jiwa.Tujuannya adalah melebur Tirta hidup-hidup.Ekspresi Selvi berubah. Dia hendak turun tangan membantu.Namun tepat pada saat itu, Tirta mendapat sebuah ide. Dia segera mengeluarkan kertas emas itu. Kertas emas itu berputar dengan cepat di udara, lalu langsung membelah kurungan yang selama ini dibanggakan para tetua itu."Apa?! Mana mungkin?!""Itu senjata apa? Bahkan aura pemb
Pemandangan yang ada di hadapan sekarang dipahami dengan sangat jelas oleh Bowo.Hanya Tirta seorang saja sudah membuat para tetua dan Panglima Iblis Sekte Bulan Berdarah tidak mampu berbuat apa pun terhadapnya.Kalau Selvi ikut turun tangan, nasib Sekte Bulan Berdarah sudah bisa dibayangkan.Mereka harus membunuh Tirta dengan secepat kilat dan tanpa ragu. Hanya dengan begitu mereka bisa mencegah keadaan itu terjadi."Baik, Ketua!""Kami juga ingin melihat sampai sejauh mana bocah ini mewarisi kemampuan Bakrie!"Para tetua Sekte Bulan Berdarah pun mulai merasakan tekanan. Mereka segera mundur hingga mencapai jarak tertentu, lalu berdiri pada posisi formasi yang telah ditentukan dan secara bersamaan mulai menyusun formasi.Bum! Bum! Bum! Sekitar 20 lebih tetua dan Panglima Iblis yang berada di tingkat semi pencapaian agung berteriak serempak. Wajah mereka dipenuhi rasa sakit.Semburan demi semburan energi dan darah berwarna hitam kemerahan memancar dari tubuh mereka, meluncur lurus ke a
"Huh! Bocah, biar aku yang mengujimu!"Pada saat itu, seorang Panglima Iblis yang merasa terdesak berteriak keras. Sambil memegang sebuah segel hitam pekat, dia langsung menghantamkannya ke arah kepala Tirta.Segel besar itu membesar tertiup angin, berubah sebesar gunung, dan siap menghancurkan Tirta hingga menjadi daging cincang.Ruuumm! Tekanan dahsyat yang terpancar darinya langsung menghancurkan pegunungan dalam radius ratusan kilometer yang sudah tidak lagi dilindungi formasi.Tang!"Pusaka rongsokan macam apa ini? Jangan mempermalukan dirimu di depanku! Lebih baik dilebur dan ditempa ulang saja!"Tirta tetap melayangkan satu pukulan. Namun, kali ini yang muncul bukan lagi energi pedang sepanjang sekitar 3 kilometer, melainkan tujuh ekor harimau surgawi.Bayangan ketujuh harimau itu memang tidak besar, tetapi mereka menerjang lurus ke angkasa. Dengan sekali tabrak, mereka langsung menghancurkan segel raksasa itu hingga berkeping-keping.Aura spiritualnya lenyap. Senjata itu beruba
Ketika melihat reaksi Susanti, Tirta tahu bahwa wanita ini cemburu karena melihatnya peduli pada Agatha. Bagaimanapun, ada banyak hal yang terjadi selama mereka berada di makam kuno. Mereka telah memiliki perasaan untuk satu sama lain.Secara fisik, mereka juga melakukan pertukaran yang menyenangkan.
Pada akhirnya, suasana di kantor polisi menjadi sunyi senyap. Dari ibu kota provinsi, yang tersisa hanya Amal yang tidak sadarkan diri dan Budi yang mengikuti di belakang Tirta tanpa mengatakan apa pun sejak tadi.Lutfi menyuruh pengawalnya untuk mengangkat Amal ke tumpukan sampah yang tidak jauh dar
"Dasar jalang ...." Melati memegang kepalanya yang terasa agak pusing sambil kembali ke ruang privat dengan wajah berlinang air mata.Ketika melihat air mata Melati dan bekas tamparan di wajahnya, Tirta segera bertanya, "Kak, kamu kenapa? Siapa yang menamparmu?"Wanita lainnya bergegas menghampiri. Me
"Hahaha ...." Putro tidak segan-segan mengejek keputusan Afrian. Aina juga tidak mungkin melewatkan kesempatan ini untuk mengejek Tirta.Dia menyindir Tirta, "Kalau mau mati, langsung bilang saja. Kenapa malah nyeret orang lain? Kamu ini benar-benar orang baik ya."Bahkan beberapa orang di samping mer







