登入Priya sudah lama menduga ayahnya akan mengatakan hal seperti itu, sehingga dia segera membujuk, "Ayah ... kita juga bukan tinggalkan warisan leluhur. Kalau dipikirkan dengan saksama, para tetua dan murid yang telah mencurahkan seluruh hidup mereka demi Paviliun Ufuk baru harta paling berharga sekte kita.""Ada pepatah kuno yang bilang pertahankan wilayah tapi kehilangan orang, berarti wilayah dan orang sama-sama hilang. Pertahankan orang tapi kehilangan wilayah, berarti kelak wilayah dan orang akan sama-sama kembali. Ayah sudah baca begitu banyak kitab, pemikiran Ayah harusnya nggak sempit di saat seperti ini."Ekspresi Zuhair terlihat bernostalgia, lalu menghela napas. "Priya, apa yang kamu bilang memang sangat masuk akal, tapi Ayah tetap sangat sulit lakukan hal itu. Kamu juga tahu. Sebelum ibumu meninggal, dia pernah tinggalkan pesan terakhir. Apa pun yang terjadi kelak, dia berharap bisa hidup dan mati bersama sekte. Ayah mana mungkin tega tinggalkan jasad dan wasiatnya di tempat i
Hubungan dua belas Tetua Agung itu sebenarnya tidak benar-benar rukun seperti yang terlihat di permukaan juga. Mereka memiliki kepentingan dan rencana tersendiri. Jika mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya, mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kekacauan."Oh, jadi hanya masalah sekecil ini. Priya, kamu benar-benar terlalu panik. Kalau sikapmu yang gegabah seperti ini sampai tersebar, orang lain pasti akan menertawakanmu," kata Zuhair. Hatinya sebenarnya sedang bergejolak hebat, tetapi dia berusaha tetap tenang dan menasihati putrinya sambil tersenyum."Ya, Ayah. Aku nggak akan ulangi lagi," balas Priya yang langsung memahami maksud ayahnya dan ekspresinya pun kembali tenang."Ayo. Kalau senjata spiritual pelindungmu hilang, ya biarkan saja. Ayah akan pilihkan satu lagi untukmu," kata Zuhair dengan ekspresi yang tetap tenang sambil membawa Priya meninggalkan dunia kecil itu.Begitu sosok ayah dan anak itu menghilang, para Tetua Agung yang tadinya sedang medita
Kedua murid penjaga gerbang itu tidak berani lengah dan menganggukkan kepala berkali-kali."Dari begitu banyak murid yang pergi berlatih, hanya Kak Priya yang kembali dan ekspresinya juga sangat nggak biasa. Begitu tiba, dia langsung tanya keberadaan Ketua. Jangan-jangan akan terjadi sesuatu yang besar," bisik pelan murid penjaga di sebelah kiri yang tidak bisa menahan rasa penasarannya setelah Priya pergi jauh.Sambil melambaikan tangannya dengan malas, murid di sebelah kanan berkata, "Kalau langit runtuh pun masih ada petinggi yang menopangnya, nggak usah peduli. Meskipun terjadi sesuatu yang besar, itu juga bukan sesuatu yang bisa diubah orang kecil seperti kita. Dipikirkan juga percuma. Lagi pula, Paviliun Ufuk kita berada tepat di wilayah paling tengah dari Laut Bitriani.""Kita sudah menguasai semua pulau besar, puncak gunung, dan medan yang menguntungkan. Sekte mana yang mau susah payah menyerang kita tanpa dapat keuntungan?"Murid penjaga di sebelah kanan ini terlihat sangat me
Bowo menyimpan kembali surat itu. Dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia melambaikan tangan dan berkata, "Kalian nggak perlu bilang kata-kata menghibur seperti itu padaku. Sekarang Sekte Bulan Berdarah kita mana punya modal untuk melawan dua tanah suci. Entah bertahan hidup dengan susah payah atau dengan menahan malu, itu juga nggak apa-apa.""Sekarang yang paling penting adalah pertahankan anggota yang tersisa dan merekrut anggota baru. Setelah itu, kita bangun kembali sekte ini jadi lebih kuat. Soal balas dendam, kita abaikan dulu untuk sementara ini."Semua orang segera memuji. Dengan hati yang terasa lega, mereka berkata secara serempak, "Ketua sungguh bijaksana!"Seorang tetua memberanikan diri untuk berkata, "Lapor Ketua, aku sudah kirim orang untuk selidiki. Berdasarkan laporan yang bisa dipercaya, Sekte Formasi Surgawi sudah benar-benar musnah. Istana Samara juga mengalami pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan bisa dibilang hanya tinggal
Saat para anggota Sekte Bulan Berdarah menuju Puncak Elokwi, Bowo si Ketua Sekte, tokoh ambisius yang mengguncang dunia, dan iblis di zaman kekacauan tentu saja ikut keluar dari pengasingannya. Berbeda dengan orang lain, sudah terdapat sebuah formasi teleportasi di depan kediaman guanya. Selain memudahkan perjalanan, itu juga memudahkannya melarikan diri saat diperlukan.Begitu cahaya berkilat, tubuh Bowo yang tinggi besar dan kekar sudah langsung muncul di depan aula di Puncak Elokwi."Hormat pada Ketua," sapa kedua tetua yang segera berlutut memberi hormat.Saat itu, sudah satu jam berlalu sejak lencana darurat tertinggi dihancurkan, sehingga puluhan tetua telah berkumpul di tempat itu juga ikut berlutut memberi hormat. Karena Sekte Bulan Berdarah berbeda dengan tanah suci, setiap tetua wajib berlutut di hadapan ketua sekte untuk menunjukkan kekuasaan mutlak seorang ketua."Bangun. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kalian sudah selidiki?" tanya Bowo dengan nada muram sambil menyipit
Pecahan genting berserakan memenuhi lantai."Huh. Kalau lain kali masih berani bicara kurang ajar, aku akan langsung melumpuhkannya," kata Selvi sambil menghela napas, lalu berjalan keluar dari aula dengan kedua tangan di belakang punggung dan berpura-pura tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Ekspresi semua orang menjadi canggung.Tabib Suci dan tiga Orang Suci dunia awani merasa malu hingga hanya bisa menundukkan kepala.Wajah Irena, Yumika, dan para gadis lainnya memerah karena merasa malu dan tanpa sadar mengalihkan pandangannya.Sementara itu, Afifah menunjukkan ekspresi tercengang yang sama sekali tidak sesuai dengan citranya.Anjing hitam besar menggerutu dengan kesal. "Sialan. Bocah itu benar-benar binatang berkedok manusia!"Namun pada saat itu, terdengar suara Tirta dari kejauhan. "Ketua, tolong bantu perhatikan keberadaan kedua istriku dan adik seperguruanku, Nivia. Aku dan Senior Selvi berangkat lebih dulu ...."........Dua hari sebelumnya.Di wilayah tenggara dunia a
Gadis harimau putih menyeka air matanya dan menjawab dengan ekspresi sedih, "Itu giok berisi banyak teknik yang ditinggalkan pemurni energi ras manusia. Nggak ada barang lain lagi ...." "Mengenai batu spiritual, obat spiritual, dan artefak yang kamu bilang, semua itu ada di tempat terlarang Sekte A
Tirta tertawa dan menanggapi, 'Kamu menolak, tapi reaksi tubuhmu nggak sesuai omonganmu!'"Manusia nggak tahu malu ... aku mau buat perhitungan denganmu!" balas gadis harimau putih. Didengar dari suaranya, sepertinya dia makin malu. Cakarnya masuk ke dalam baju Tirta.Awalnya Elisa memejamkan mata u
Jairus dan lainnya tertegun sejenak sebelum bicara."Apa? Mana boleh begitu? Pelatih, kami tetap mau bayar.""Harga jimat ini 20 miliar per lembar dan berguna untuk melindungi nyawa seseorang."Tirta menegaskan, "Pokoknya kalian nggak usah bayar. Jangan berdebat denganku lagi. Kalau nggak, aku mau m
Tirta tersentuh. Dia berucap, "Ayah, Ibu, aku tahu niat baik kalian. Tapi, kalian nggak usah mengkhawatirkan hal ini. Kedua barang ini hampir nggak membutuhkan modal produksi. Kita cuma butuh batu giok dan kertas jimat kuning biasa. Aku bisa membuat ribuan jimat dan air spiritual dalam sehari."Mend







