로그인Tiba-tiba, Devika maju dan berkata dengan ekspresi dingin, "Tunggu dulu!"Abrisam menyipitkan matanya sambil bertanya, "Kamu siapa?"Devika menjawab dengan dingin, "Kamu nggak berhak tahu aku siapa. Tapi, aku beri tahu kamu biar kamu bisa mati dengan tenang. Margaku Lakeswara dan namaku Devika. Apa kalian pernah mendengarnya?"Mendengar perkataan Devika, semua pejabat Kota Yugala langsung tertegun. Mereka bergidik. Para pejabat itu berseru."Apa?""Devika ... Lakeswara? Bukannya itu nama putri presiden?""Astaga! Jangan-jangan Pak Edgar mau kita sambut dia?"Bukan hanya itu, bahkan Yasser dan kedua putranya terkesiap. Mereka memandang Tirta dengan ekspresi terkejut. Ketiganya ketakutan.Yasser berucap dengan suara bergetar, "Kalau dia ini putri presiden, jangan-jangan ... pemuda ini Tirta yang legendaris?"Gluk! Begitu memikirkan hal ini, Yasser dan kedua putranya menelan ludah. Buk! Mereka langsung berlutut di tanah.Biarpun tinggal di Kota Yugala, mereka sudah sering mendengar tentan
Pemimpin orang-orang yang turun dari mobil yang melaju dari arah barat adalah wali kota. Dia bernama Abrisam. Dia sangat marah begitu melihat mayat Reivan.Tentu saja sekelompok orang yang turun dari arah timur adalah penguasa Kota Yugala. Yasser adalah kepala Keluarga Sultan. Ghaisan adalah putra pertama Yasser dan Daffin adalah putra keduanya. Zharif yang mati adalah putra ketiga Yasser.Selain Abrisam, kepala kepolisian dan semua pejabat Kota Yugala juga termasuk dalam rombongan mobil dari arah barat.Mereka takut dan juga marah saat memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. Kebencian mereka sangat mendalam dan tidak dihilangkan begitu saja.Bagaimanapun, para tamu yang mati adalah orang kaya di Kota Yugala. Kerugiannya yang dialami para pejabat dan Keluarga Sultan sangat besar setelah mereka mati.Kepala Keluarga Sultan yang bernama Yasser hampir berusia 60 tahun. Tatapannya sangat galak. Dia memelototi Tirta dan bertanya dengan geram, "Hei, sebenarnya kamu siapa? Apa ka
Tirta membunuh Vino hanya untuk menggertak semua orang.Reivan menahan rasa takut sembari maju dan berkata, "Tunggu sebentar. Dewa, orang mati nggak akan bisa hidup kembali. Aku yakin semua orang di tempat juga sedih setelah tahu masalah ini. Kami memang nggak perlu bertanggung jawab, tapi kami kasihan melihat apa yang dialami orang tua mahasiswi itu."Reivan meneruskan, "Menurutku, begini saja. Masing-masing dari kami bersedia mengeluarkan 2 miliar sebagai kompensasi untuk trauma yang dialami orang tua mahasiswi itu. Menurutmu bagaimana?"Mata para tamu di tempat berbinar-binar. Mereka menimpali."Benar, masalah ini memang nggak ada hubungannya dengan kami. Tapi, kami semua tetap bersedia mengeluarkan 2 miliar sebagai kompensasi.""Dewa, lihatlah. Kami begitu baik hati. Tolong biarkan kami pergi!""Kalau 2 miliar nggak cukup, kami juga bisa memberi mereka 4 miliar."Sekarang ini satu-satunya kesempatan mereka untuk hidup. Jadi, mereka berebutan bicara. Mereka takut mati jika terlambat
Mendengar perkataan Tirta, seketika jantung para tamu berdegup kencang. Mereka bisa merasakan niat membunuh intens yang terpancar dari tubuh Tirta.Jadi, Tirta pasti memegang omongannya dan tidak membual. Alhasil, para tamu tidak berani bersuara.Vino ketakutan setengah mati setelah didorong Reivan dan Zharif. Dia sangat lemas sampai-sampai tidak bisa berdiri.Vino berteriak dengan panik, "Memangnya kenapa kalau kami melakukan hal itu? Atas dasar apa ... kamu mengadili kami? Sekalipun kamu sangat hebat, kamu bukan polisi! Kamu cuma rakyat biasa, jadi kamu melanggar hukum kalau membunuh orang!"Wanita itu juga berteriak dengan suara bergetar, "Benar, kamu nggak berhak mengadili kami! Kalau kamu berani menyentuh kami, aku langsung lapor polisi untuk menangkapmu!"Saat mereka berdua bicara, Zharif sudah diam-diam menelepon kakak dan ayahnya. Hal ini karena masalah ini sudah di luar kendali Zharif.Tirta tentu melihat tindakan Zharif, tetapi dia tidak peduli. Justru lebih baik jika Zharif
Pria paruh baya menyeka air matanya. Dia kembali ke sisi istrinya sambil menangis tersedu-sedu.Semua orang kaget. Mereka berseru sembari memelotot."Apa yang terjadi?""Kenapa orang itu tiba-tiba menghilang?"Vino yang tidak percaya mencubit dirinya sendiri untuk memastikan dia tidak bermimpi. Dia bergumam, "Mana mungkin .... Apa tubuh pengawal itu meledak setelah ditinju?"Wanita yang berada di samping Vino tidak berani bicara lagi. Dia sangat ketakutan sampai kedua kakinya gemetaran.Ekspresi Zharif berubah drastis. Dia segera memerintah pengawal yang tersisa, "Kenapa kalian diam saja? Semuanya maju. Pakai semua jurus kalian, nggak usah ragu!"Pada saat yang sama, Zharif juga mengamati Tirta dengan saksama. Sepertinya dia ingin melihat teknik yang digunakan Tirta.Reivan juga kepikiran sesuatu. Dia bertanya dengan ekspresi terkejut, "Zharif, jangan-jangan pemuda ini pemurni energi yang kamu bilang tadi?"Ekspresi Zharif menjadi sangat masam. Dia menjawab, "Aku nggak yakin. Kita akan
Kemudian, para pengawal itu mengikuti Zharif. Mereka semua bertubuh kekar dan tampak garang saat berjalan. Sudah jelas mereka tidak mudah dihadapi.Vino tahu jelas kehebatan para pengawal ini. Dia mendengus dan bergumam, "Begitu banyak orang yang turun. Pemuda itu pasti akan dihajar habis-habisan!"Vino sudah membayangkan momen Tirta dihajar sampai meminta ampun.Reivan mengikuti di paling belakang. Ekspresinya tampak datar. Dia hanya memedulikan para wanita cantik itu. Sebenarnya Reivan juga ikut menyiksa mahasiswi itu beberapa hari yang lalu.Setelah beberapa saat, Zharif dan lainnya keluar dari Artemis Tower dengan garang. Di perjalanan, banyak tamu sudah mendengar kabar Vino dipukul dan Tirta yang sok pahlawan. Mereka ikut keluar karena ingin menyaksikan pertunjukan menarik.Sementara itu, Tirta sudah kehilangan kesabaran karena menunggu terlalu lama. Melihat segerombolan orang datang, dia bertanya dengan suara keras, "Mana Zharif?"Banyak tamu mentertawakan Tirta."Hahaha, nyali p
Tirta membatin, 'Wah, Shinta bahkan menyemburkan cairan dari bagian intimnya! Waktu itu, Kak Nabila juga mimpi, tapi dia nggak menyemburkan cairan. Jangan-jangan Shinta juga sama seperti Marila? Mereka sangat sensitif sehingga langsung menyemburkan cairan begitu disentuh?'Tatapan Tirta saat melihat
Bella mengusap kepala Yasmin dan berucap dengan lembut, "Yasmin, kamu cuma merindukan gurumu? Apa kamu nggak merindukanku? Aku peluk kamu ya?"Sewaktu Bella dan Tirta berpisah sebelumnya, Yasmin yang menghibur Bella di kediaman Keluarga Purnomo setiap hari. Jadi, Bella juga ingin menghibur Yasmin sa
Tirta mengentakkan kakinya dengan pelan. Retakan besar sedalam 1 meter, selebar puluhan sentimeter, dan menyebar hingga puluhan meter muncul.Lapangan berguncang. Delapan anggota pasukan khusus tidak bisa berdiri dengan stabil dan langsung jatuh ke tanah.Namun, ini hanya permulaan. Tirta tidak berh
Anjing hitam hampir muntah karena kepalanya diguncang. Dia menceritakan apa yang terjadi kepada Tirta dengan enggan, "Sialan ... jangan guncang kepalaku lagi, aku hampir muntah. Aku beri tahu kamu ... tadi ada 2 wanita datang ... mereka itu pemurni energi .... Salah satu wanita ....""Kemudian, mere







