LOGINMeskipun Afifah menggunakan formasi teleportasi terbesar di Istana Samara, Istana Samara berada di wilayah timur dunia awani, sedangkan lokasi Tirta berada di wilayah utara yang sangat jauh. Di antara kedua lokasi itu terbentang jarak belasan juta kilometer.Dengan mengandalkan formasi teleportasi saja, Afifah hanya bisa mencapai perbatasan wilayah utara. Itu pun dengan menghabiskan sangat banyak batu spiritual kualitas tertinggi.Jadi, untuk mencapai lokasi Tirta, dia masih harus terbang sendiri mencarinya.Selama proses perjalanan yang panjang menembus ruang, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan. Suasananya benar-benar sunyi dan sepi. Bahkan waktu pun terasa tidak lagi mengalir. Rasanya seperti kembali ke titik awal alam semesta.Namun, Afifah sudah lama terbiasa dengan keadaan seperti itu. Pikirannya tetap tenang. Hanya saja, melintasi ruang dalam waktu yang lama sangat mengurus tubuh fisik maupun kekuatan seseorang.Untuk jarak sejauh ini, bahkan Afifah pun mulai tidak mampu m
"Yang paling membuat kami tersiksa adalah karena nggak ada kabar sedikit pun tentang Tirta."Arshala menghela napas pelan.Dia tahu bahwa Tirta berasal dari bumi. Sekarang setelah sekian lama tidak ada kabar, Arshala khawatir Tirta telah pulang ke bumi dan memutuskan untuk tidak kembali lagi karena merasa dunia awani terlalu berbahaya.Kalau sebulan lagi masih tidak ada sedikit pun kabar tentang Tirta, Arshala sudah memutuskan untuk diam-diam membawa Nova pergi ke bumi untuk mencarinya."Kalian bertiga nggak perlu cemas. Aku, Ketua serta beberapa tetua, akhir-akhir ini telah menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki sebuah artefak khusus yang ditinggalkan oleh pendiri istana.""Selama bocah nakal itu masih berada di dunia awani, artefak itu dapat menentukan keberadaannya."Pada saat itulah Suryana berjalan memasuki aula bersama Afifah, lalu menyampaikan kabar itu."Hanya saja, artefak ini butuh sebuah benda yang pernah digunakan Tirta atau rambut miliknya sendiri, agar bisa berfungsi
Ternyata, pria tua itu adalah pemimpin Dinasti Pembunuh saat ini, Bakrie.Dia telah menyetujui untuk bekerja sama dengan Sekte Formasi Surgawi dalam menghadapi Istana Samara, dengan target utama adalah Tirta, serta membagi hasil yang diperoleh secara sama rata.Namun, karena beberapa monster tua dari Sekte Formasi Surgawi belum turun tangan, Bakrie pun tidak berangkat secara langsung.Dia hanya mengirim belasan tetua agung yang berpengalaman untuk bekerja sama dengan mereka.Selain itu, selama beberapa waktu terakhir, karena urusan Irena, Ketua Muda Sekte Bulan Berdarah selalu datang mengganggunya.Karena tidak punya pilihan lain, ditambah rasa sayangnya kepada cicit kandungnya itu, Bakrie pun mengumumkan kepada seluruh dunia awani, memerintahkan semua cabang Dinasti Pembunuh untuk mencari keberadaan Irena.Di Kota Suci dunia awani, tentu saja terdapat organisasi Dinasti Pembunuh. Pria muda tadi adalah penanggung jawab utama di tempat itu. Karena itulah, kemampuan melukisnya begitu lua
Dengan tenang, Lavanya masuk ke penginapan itu dan memesan beberapa hidangan beserta arak. Dia pun bersiap untuk tinggal di sana selama beberapa hari.Tempat itulah yang telah disepakatinya dengan Tirta sebagai lokasi untuk saling menunggu.Baru saja hidangan diantar, telinga Lavanya bergerak sedikit. Tiba-tiba, dia mendengar percakapan yang membuatnya tak kuasa memusatkan perhatian.Di meja sebelah, seorang pria tua berambut putih, bermata tajam, bertubuh kekar, dan memancarkan aura penguasa, sedang mengernyit sambil berbicara dengan seorang pria muda di sampingnya."Beberapa hari ini, aku benar-benar hampir gila gara-gara urusan cicitku. Kamu yakin beberapa hari lalu kamu melihat jejaknya di kota ini?"Suara pria tua itu terdengar lambat, berat, dan penuh tenaga. Setiap katanya bergema seperti pedang besar yang menghantam baja."Sangat yakin. Selain itu, beberapa hari yang lalu juga terjadi peristiwa besar di Kota Suci, sampai-sampai 18 Orang Suci dunia awani dan seluruh kultivator t
Setelah dipastikan bahwa Tabib Suci masih berada di dalam jalan ujian, Tirta dan yang lainnya tidak perlu lagi terburu-buru mencarinya ke mana-mana.Begitulah, selama beberapa hari berikutnya, Tirta terus memperagakan teknik kultivasi itu kepada ketiga wanita itu. Dia dengan sabar membimbing mereka dalam setiap bagian yang sulit dipahami.Hasil seperti ini tentu jauh lebih baik dibandingkan hanya melihat Selvi memperagakannya sekali.Ketiga wanita itu memperoleh manfaat yang sangat besar. Bahkan Irena yang bakatnya relatif paling rendah, berhasil memahami sekitar 50 hingga 60 persen isi Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas.Seandainya Selvi berada di sana, dia pasti akan dibuat tercengang oleh bakat Tirta."Baiklah, semua yang perlu kuajarkan sudah hampir selesai kuajarkan. Selebihnya, kalau masih ada bagian yang belum benar-benar kalian kuasai, kalian hanya bisa menyempurnakannya sendiri melalui pertarungan."Dua hari kemudian, Tirta berhenti memperagakan teknik itu, karena ketiga wanit
Pada saat itu, tiba-tiba Priya melihat ekspresi Tirta tampak sedikit aneh. Setelah berpikir sejenak, dia pun tersenyum.Benar saja, saat Selvi hampir menghilang dari pandangan, tiba-tiba Tirta mengerahkan seluruh energi spiritualnya, mengumpulkan napas ke pusat energinya, lalu berteriak keras, "Senior, mohon tunggu sebentar!""Aku baru teringat satu hal. Belum lama ini, seluruh orang suci dunia awani tewas bersama di tangan seorang makhluk yang berasal dari era surgawi. Arah yang sedang Senior tuju adalah tempat mereka semua gugur.""Mohon Senior kembali dan menunggu kakak seperguruanku. Kalau bersama, peluang kita untuk bertahan hidup akan jauh lebih besar!"Dalam satu tarikan napas, Tirta mengucapkan rangkaian kata yang panjang. Suaranya cukup untuk menjangkau hingga ke kejauhan sehingga dia yakin Selvi dapat mendengarnya."Bocah, jangan coba-coba menakut-nakutiku. Dengan kekuatanku saat ini, aku sudah tak tertandingi. Kalaupun kamu nggak bohong, saat bertemu makhluk itu, aku tetap b
Hampir 500 lebih pasukan Negara Yumai mati di dalam awan jamur itu. Tidak tampak darah ataupun potongan tubuh mereka lagi, semuanya langsung menjadi abu. Selain itu, setidaknya 700 lebih pasukan Negara Yumai terluka parah.Melihat situasi ini, Tirta tertawa dan berkomentar, "Benda ini bisa membunuh
Selesai bicara, Marila benar-benar menarik Shinta pergi. Mereka meninggalkan Tirta dan Devika, begitu pula anjing hitam yang merasa sangat bosan.Ucapan Marila membuat wajah Devika memerah. Dia menyeka air matanya seraya bertanya, "Hei ... Tirta, kamu benar-benar memedulikanku? Kenapa aku nggak mera
"Oke ...," sahut Tirta. Melihat Lilian begitu perhatian kepadanya dan tidak memberinya kesempatan bicara, dia terpaksa mengikuti Lilian masuk ke toilet pesawat terbang dengan ekspresi tidak berdaya.Sewaktu berjalan melewati Hasta dan pria paruh baya di sampingnya, Tirta melihat mereka tampak terkej
Saba berbicara dengan ekspresi serius, "Kami belum mencari tahu tentang hal ini. Tapi, lebih baik kita perkuat upaya pencegahan."Tirta juga tidak bertanya lagi. Dia berpikir nanti dia akan mencari Luvia saat senggang. Tirta akan meminta bantuan Luvia untuk memperkuat formasi perlindungan di rumah K







