LOGINMendengar perkataan Shindy, Suryana dan orang-orang dari Aula Penegak Hukum Sekte Formasi Surgawi langsung merasa kesal."Nenek tua, coba saja kalau kamu berani. Mau melukai muridku? Kamu punya kekuatan dan hak itu?" bentak Suryana langsung dengan marah. Sebelum Shindy sempat bergerak, dia sudah langsung melindungi Arshala dan Nova di belakangnya.Boom!Saat Suryana melepaskan aura kuat seorang ahli tingkat semi pencapaian agung dalam radius ribuan mil, seluruh makhluk hidup langsung terdiam ketakutan. Permukaan danau yang tadinya beriak pelan dan rerumputan yang bergoyang karena tertiup angin, semuanya tiba-tiba membeku seperti lukisan."Nenek, mohon kemurahan hatimu.""Wanita ini sudah mengkhianati Sekte Formasi Surgawi, dia tentu saja akan terima hukuman dari sekte kami sendiri. Mohon Nenek berbaik hati. Kalau nggak, kami akan sulit menjelaskannya setelah kembali nanti."Saat perwakilan dari Sekte Formasi Surgawi terus mundur, yang lainnya ikut membujuk. Namun, nada bicara mereka sa
Ekspresi Suryana terlihat agak santai. "Eh ...."Namun, Arshala tahu itu adalah bahasa dari Negara Darsia. Jika bukan karena dia pernah melihat bahasa itu di Desa Persik dan sempat memahami sebagian darinya, dia juga tidak akan bisa mengenalinya. Oleh karena itu, banyak kultivator di tempat itu yang tiba mampu membacanya padahal mereka sudah melihat barisan tulisan itu."Kak Arshala, kamu tahu sesuatu? Suamiku pergi ke mana?" tanya Nova sambil buru-buru maju.Tatapan Shindy terus terpaku pada tulisan itu, seolah-olah menyadari sesuatu.Oleh karena itu, Arshala yang melihat itu langsung menggelengkan kepala dan berkata, "Ini bukan tempat yang bagus untuk berbicara. Setelah kembali nanti, kita baru bicara.""Baik, kita bicarakan lagi setelah pulang," balas Suryana dan Nova sambil menganggukkan kepala secara bersamaan.Shindy baru saja ingin maju dan menggunakan Yumika sebagai alasan untuk bertanya lebih jauh.Namun pada saat itu, orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi tiba-tiba mengepung
Namun, begitu melihat Tirta, kedua wanita itu langsung dipenuhi emosi dan rasa benci yang luar biasa. Hanya saja, sebelum mereka sempat bereaksi, mereka sudah kembali pingsan karena kondisi tubuh mereka yang terlalu lemah.Swoosh!Pada saat yang bersamaan, Tirta juga sudah menggunakan peta bintang untuk membuka jalur menuju Bumi. Setelah cahaya berkilat sejenak, ketiga orang itu dibungkus oleh peta bintang itu dan langsung menghilang dari tempat semula. Namun, keadaan di sini sama sekali tidak diketahui oleh dunia luar.Setelah tiga hari kembali berlalu, kabut racun dari naga purba jahat baru benar-benar menghilang dan Rawa Besar kembali pada wujud aslinya.Swoosh swoosh swoosh!Pada saat itu juga, Suryana membawa Nova dan Arshala bergegas masuk ke Rawa Besar terlebih dulu."Murid durhaka, kamu di mana? Cepat keluar dan ikut gurumu ini kembali ke sekte," kata Suryana."Sayang, aku, Guru, dan juga Kak Arshala datang mencarimu ...."Suryana dan Nova membuka mulut hampir pada waktu yang b
"Kalau Guru bisa membantumu, tentu saja akan berusaha tenaga membantu. Tapi, kalau nggak bisa, aku sarankan kamu lebih baik siap-siap menghadapi kemungkinan terburuk," kata pria bertubuh tinggi kekar itu."Ya, terima kasih banyak Guru," kata Yandi sambil berlutut dan terus bersujud."Bangunlah," kata pria itu sambil menatap kabut hitam dengan tatapan dalam.....Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Tiga hari kemudian, kabut hitam itu pun mulai perlahan-lahan menghilang. Karena naga purba jahat tidak menyemburkan racun lagi, area kabut kini menyusut hingga hanya tersisa tiga ribu mil lebih.Di pinggiran Rawa Besar, para kultivator yang datang dan pergi bahkan sudah berganti beberapa kelompok. Suasana di sana sangat ramai. Namun, Suryana dan yang lainnya, orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi, serta Yandi yang diam-diam bersembunyi bersama gurunya malah tidak bergeser setengah langkah pun."Aduh. Tinggal tunggu satu atau dua hari lagi, kabut racun ini pasti akan lenyap sepenuhnya.""Sete
"Penglihatanku bagaimana, Nenek Shindy nggak perlu peduli. Karena kita dari sekte yang sama, aku sudah sampaikan semua yang perlu aku katakan. Kalau Nenek Shindy tetap keras kepala, aku juga nggak akan membujukmu lagi."Mendengar perkataan Shindy itu, Suryana tentu saja bisa menebak Shindy pasti masih akan diam-diam menargetkan Tirta. Oleh karena itu, dia juga tidak berkata apa-apa lagi."Hehe."Menanggapi hal itu, Shindy hanya tersenyum sinis.Hanya saja, Shindy sama sekali tidak tahu semua orang bisa menghargai Tirta sebenarnya karena kehendak Afifah. Begitu Suryana melaporkan masalah ini pada Afifah, Shindy pasti tidak akan mampu menanggung akibatnya. Jika bukan karena dia baik hati, mana mungkin Shindy masih bisa begitu sombong.Sejak saat itu, kedua orang itu tidak berbicara dengan satu sama lain lagi. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada kabut hitam yang luas dan menutupi wilayah itu dengan pikiran mereka masing-masing."Guru, suamiku seharusnya baik-baik saja, 'kan?" tanya Nova
"Benarkah? Sebelum datang ke sini, aku dengar salah satu paman di sukumu bilang tugas ini awalnya adalah tingkat dua tahap awal. Tapi, karena ulahmu, tugas ini sengaja diubah jadi tingkat tiga tahap akhir dan dibagikan. Yunda, kamu nggak berniat menjelaskan ini padamu?" kata Suryana dengan nada dingin.Suryana sangat memahami kekuatan Tirta, sehingga dia sebenarnya tidak begitu khawatir dengan keselamatan Tirta. Namun, Tirta sudah pergi begitu lama dan masih belum kembali, berarti ada sesuatu yang mencurigakan. Oleh karena itu, dia sengaja menyelidiki masalah ini sebelum berangkat.Maka dari itu, Suryana merasa sangat kesal saat menghadapi tipu muslihat dari Yunda. Tidak peduli betapa menyebalkannya Tirta, Tirta tetap adalah muridnya."Oh?"Mendengar perkataan itu, Shindy juga langsung menyipitkan matanya dan menoleh ke arah Tirta. Bahkan dia sendiri pun ditipu dalam masalah ini, sehingga dia merasa sangat kesal."Apa? Mungkin Bibi Guru yang salah dengar. Aku ... benar-benar nggak tahu
"Kamu ...," ucap Heidi dengan ekspresi bimbang. Kemudian, dia yang teringat sesuatu melanjutkan, "Aku tahu. Kamu mau pakai cara ini untuk meniduriku. Sebenarnya kamu nggak akan berikan warisan Petani Suci kepadaku, 'kan?"Tirta tidak bisa berkata-kata. "Em ....""Kenapa? Apa omonganku kali ini juga
Walaupun menaiki Pedang Terbang, Tirta yang berangkat dari Sekte Mujarab juga membutuhkan waktu sehari untuk sampai di Sekte Kristala. Dalam waktu sehari, Tirta bisa memeluk Althea dari belakang sambil melakukan banyak hal.Sekarang Althea tidak mempunyai tempat tinggal. Tirta ingin memberikan rumah
Melihat Heidi menggigit bibirnya, Tirta sengaja bertanya, "Kakakku sayang, kenapa kamu nggak bicara lagi?"Heidi tetap tidak bicara. Dia hanya mendesah. "Um ....""Apa? Kak, kamu bilang kamu sangat menyukai rasanya?" tanya Tirta seraya memelotot. Nada bicaranya terdengar terkejut.Namun, jelas-jelas
Begitu Laurel baru berjalan, Tirta yang mengikuti di belakang langsung bertanya, "Hei, Dik. Berapa total murid wanita di Sekte Kristala?"Althea juga tidak bicara. Dia hanya mengikuti mereka.Laurel menjawab dengan suara bergetar, "Totalnya ... 20 lebih. Biasanya setiap tetua cuma mengajar 1 sampai







