Masuk"Nenek iblis, apa maksudmu ini? Suamiku sudah susah payah melindungimu selama kamu menerobos tingkatan, tapi kamu malah langsung pukul suamiku setelah berhasil. Keterlaluan sekali. Aku akan melawanmu," kata Irena yang tidak tahu situasi sebenarnya dan langsung dipenuhi amarah. Dia menghunus Pedang Haus Darah dan menusukkannya ke arah arah jantung Selvi dari belakang.Namun, saat Selvi tidak berjaga-jaga pun, Irena sudah tidak mampu melukai Selvi yang kini kekuatannya meningkat pesat."Kenapa Senior Selvi tiba-tiba pukul Tirta? Jangan-jangan dia kesurupan?"Yumika dan Priya juga hendak menghentikan Selvi. Namun, mereka melihat Selvi tidak menyerang dengan sungguh-sungguh dan tidak menggunakan kekuatan spiritual sedikit pun, bahkan hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk memukuli Tirta. Oleh karena itu, mereka akhirnya memilih untuk diam. Meskipun begitu, mereka tetap merasa heran."Selvi, Tuan Tirta sudah melindungimu selama kamu menerobos tingkatan dan bahkan selamatkan nyawa kita semu
Cahaya hijau muda mulai muncul bagaikan tunas yang baru saja tumbuh. Hijau itu begitu cerah hingga mengalahkan cahaya emas sebelumnya dan dipenuhi aura kehidupan yang melimpah."Begitu jangkrik emas itu berubah jadi hijau sepenuhnya, Senior Selvi juga akan berhasil tembus tingkat pencapaian agung," kata Tirta.Namun pada saat itu, Tirta sama sekali tidak lengah. Karena selain ada tiga roh ganas dari era surgawi yang mengintai dalam kegelapan, Sodam juga entah bersembunyi di mana. Begitu Selvi berhasil menerobos tingkatan, bencana langit akan turun untuk memusnahkan orang yang menentang langit itu hingga menjadi abu."Salah. Obat spiritual di tempat ini nggak pernah mengalami bencana langit. Kalau wilayah ini memang nggak ada bencana langit, apa Senior Selvi masih termasuk berhasil menembus tingkatan?" kata Tirta saat sebuah pemikiran lain tiba-tiba muncul di benaknya. Tentu saja, dia belum pernah menemui keadaan seperti ini sebelumnya. Oleh karena itu, dia hanya bisa terus mengamati ap
Gemuruh!Di dalam reruntuhan surgawi yang tenang, pusaran kekuatan spiritual memicu angin kencang hingga langit dan bumi berubah warna. Kekuatan spiritual yang tak berujung pun terus mengalir menuju Selvi. Pusaran itu terlihat seperti corong raksasa yang hampir padat dan menjadi wujud nyata.Berbeda dengan dunia luar, kekuatan spiritual di tempat ini jauh lebih pekat. Jika tidak, tempat ini mustahil bisa melahirkan begitu banyak obat spiritual berusia sepuluh ribu tahun dan batu spiritual berkualitas terbaik. Oleh karena itu, jika benar-benar dibandingkan, peluang untuk menerobos ke tingkat pencapaian agung di tempat ini jauh lebih besar daripada di dunia luar.Tentu saja, alasan utama Selvi bisa mencoba menerobos ke tingkat pencapaian agung tetap berkat Tirta. Meskipun kekuatan spiritual di tempat ini melimpah, dia juga tidak akan memiliki kesempatan tanpa pemahaman dari Tirta."Kita akan saksikan lahirnya kultivator tingkat pencapaian agung pertama di dunia awani dalam delapan ribu t
Setelah menerima Cincin Penyimpanan, kesan ketiga Orang Suci dunia awani terhadap Tirta langsung meningkat pesat. Mereka segera membongkar kelakuan tidak tahu malu dari anjing hitam besar itu."Sialan, kalian para bangka tua ini benar-benar mengganggu. Bocah sialan, aku begitu setia padamu. Jangan percaya omong kosong mereka yang menjelek-jelekkanku. Saat itu aku juga benar-benar nggak berdaya. Aku nggak peduli. Kamu harus beri aku sepuluh Cincin Penyimpanan. Kalau nggak, aku akan bertarung habis-habisan denganmu."Saat mengatakan itu, anjing hitam besar itu menunjukkan ekspresi yang tidak tahu malu. Setelah memelotot ke arah ketiga Orang Suci dunia awani, dia kembali menerjang ke arah Tirta tanpa peduli apa pun."Hanya satu. Mau, ambillah. Kalau nggak mau, ya sudah," kata Tirta yang merasa kesal sekaligus lucu, lalu melempar sebuah Cincin Penyimpanan pada anjing hitam besar itu."Huh. Pelit!" seru anjing hitam besar itu, lalu segera menggigit cincin itu dan menyembunyikannya di bawah
"Bocah keji, hatimu benar-benar terlalu kejam.""Kami semua sudah mengakui kesalahan kami, tapi kamu tetap nggak mau lepaskan kami.""Aku kutuk kamu akan mati mengenaskan.""Suatu hari nanti kamu pasti akan disambar petir sampai mati."Saat mendengar bagian awal dari perkataan Tirta, hampir empat puluhan kultivator tingkat penebas dewa yang masih hidup itu benar-benar merasa sangat bersyukur. Mereka bahkan ingin berlutut dan bersujud pada Tirta beberapa kali. Namun, setelah mendengar kalimat berikutnya, ekspresi mereka langsung dipenuhi amarah serta rasa malu dan mulai memaki."Huh. Kalau bukan karena kalian takut pada ketiga Orang Suci dari dunia awani, suamiku masih belum sadar, dan hanya ada kami yang wanita lemah di sini, apa kalian akan tetap diam menunggu di sini? Mungkin kalian sudah lama menyerang bersama-sama dan membunuh kami, lalu merebut lencana perunggu dan kabur dari tempat ini," kata Irena sambil tersenyum sinis."Kamu ...."Para kultivator itu langsung terdiam karena Ir
Namun, untuk menghadapi orang-orang ini, ketiga Orang Suci ini tetap bisa melakukannya dengan sangat mudah.Melihat situasi itu, para kultivator yang berkumpul di sekitar segera bersatu. Salah seorang dari mereka maju dan memarahi Tirta, "Bocah, kamu benar-benar kejam. Kami masuk ke reruntuhan ini dengan mempertaruhkan nyawa. Hanya dengan satu kalimat saja, kamu mau rampas hasil jerih payah yang kami dapat dengan susah payah. Bukannya itu sama saja kamu mau nyawa kami?""Kami lebih baik mati daripada serahkan bendanya. Benar. Kalau kamu mau kami serahkan barang yang kami dapat, itu juga bukannya nggak bisa. Tapi suruh dulu wanita baju putih itu buka reruntuhan ini dulu. Setelah kami kembali ke Kota Suci dunia awani, kami baru akan serahkan semuanya padamu."Terlihat jelas sekali. Meskipun Tirta sudah memberikan dua pilihan pada para kultivator itu, pilihan pertama jauh lebih murah hati dan menguntungkan dibanding pilihan kedua. Namun, mereka tidak ingin membayar harga sedikit pun. Mere
Seketika, ekspresi Lukman dan istrinya langsung berubah menjadi terkejut, sekaligus marah."Anakku sudah terluka begini, kenapa kalian masih memborgolnya?" bentak Lukman terhadap beberapa polisi tersebut."Pak Lukman, ini ... Bapak lihat saja sendiri," jawab seorang polisi paruh baya sambil menghela n
"Aku nggak bisa tidur. Kenapa kamu keluar?" tanya Tirta berpura-pura tidak tahu."Aku ... teringat dengan sindiran Susanti tadi siang, jadi hatiku agak kesal. Aku mau cari kamu untuk menemaniku. Ayo, kita duduk di dalam mobil saja .... Sudah lama kita nggak ketemu, aku sudah rindu," pinta Agatha samb
Shinta merasa agak malu saat menanyakan hal ini kepada Tirta. Setiap wanita pasti memiliki kekhawatiran terhadap bentuk payudara mereka. Biasanya Shinta tidak keberatan, tetapi dia merasa tidak puas setelah melihat tubuh seksi Naura dan Nabila."Oh, nggak ada efek seperti itu. Kamu masih muda. Nanti
Jelas sekali, kesedihannya itu adalah karena kehadiran Susanti dan Agatha yang mendadak."Oke, Kak." Tirta berlari kecil ke arahnya. Melihat tidak ada orang di sekitarnya, Tirta memeluk pinggang Melati yang ramping. "Kak, dadamu masih sakit? Gimana kalau kupijat nanti setelah mereka semua tertidur?""







