ログインDanendra menebas pedangnya. Jurus ini adalah yang terhebat di dalam Teknik Pedang Galaksi Sekte Hala. Seluruh kekuatan pengguna jurus ini bisa dikerahkan dalam waktu singkat! Cahaya pedang yang terlihat seperti galaksi terpancar dan kekuatannya sangat luar biasa."Untuk apa kamu menghabiskan tenagamu? Biarpun kamu berjuang mati-matian, kamu tetap nggak mampu melawanku," komentar Tirta sambil menggeleng. Dia berkelebat dan menghindari serangan pedang Danendra dengan mudah.Bruak! Muncul lubang besar sedalam sepuluh meter dan selebar ratusan meter karena tebasan pedang Danendra. Namun, tidak ada jejak Tirta di dalam lubang."Mana orang itu?" tanya Danendra dengan ekspresi muram.Tiba-tiba, terdengar suara Nayara yang mengingatkan, "Tuan Muda, hati-hati! Dia menyerang dari belakang!"Saat Nayara bicara, terdengar suara deru. Danendra masih belum sempat bereaksi, tetapi bokongnya sudah ditendang Tirta.Tubuh Danendra terpental dan tertancap di lumpur bagaikan lembing yang dilempar. Hanya k
Shanaya mengeluarkan tungku kecil merah. Tungku itu melayang di udara dan tidak berhenti mengeluarkan energi spiritual alami.Di dalam tungku, bara api bergejolak seperti gunung berapi yang bisa meletus kapan saja. Kekuatannya sangat mengerikan.Shanaya dan lainnya melihat Tirta menggendong Nova yang tidak sadarkan diri sehingga tidak berani bertindak gegabah. Mereka takut Tirta membunuh Nova demi melawan mereka.Jadi, mereka menahan amarah dan tidak langsung bertindak. Kalau tidak, mereka tidak akan bicara omong kosong dengan Tirta. Tentu saja tindakan Tirta membuat mereka makin membencinya.Sebenarnya mereka salah paham. Tirta tahu mereka tidak mungkin percaya, tetapi dia terpaksa menjelaskan, "Kalian dengarkan penjelasanku dulu. Ini cuma salah paham, aku nggak tahu obat spiritual di sini milik sekte kalian. Selain itu, aku bukan sengaja ingin menidurinya. Tapi, semua sudah terjadi dan aku mau bertanggung jawab ...."Danendra yang tampak murka maju. Wajahnya merah padam dan urat di d
Bagaimanapun, anggrek ular giok adalah obat spiritual yang ditanam Sekte Hala selama 1.500 tahun. Apalagi, anggrek ular giok tumbuh di dunia awani yang energi spiritualnya lebih melimpah berkali-kali lipat daripada di bumi.Tirta hanya mengonsumsi satu kelopak anggrek ular giok, tetapi efek obat yang dahsyat langsung membuat Tirta kehilangan akal sehat. Dia menghabiskan waktu tiga hari tiga malam untuk menawarkan efek obat yang kuat itu.Tirta sudah sepenuhnya sadar. Dia terkejut melihat Nova yang pakaiannya robek dan sangat lemah. Tirta bergumam, "Eh? Kenapa aku menindih wanita ini? Apa ... yang aku lakukan?"Tirta berusaha mengingat kembali. Dia baru ingat dirinya dipengaruhi efek obat setelah mengonsumsi anggrek ular giok, jadi dia tanpa sadar merenggut kesucian wanita ini."Sialan!" ujar Tirta. Dia menyiksa Nova selama tiga hari tiga malam. Apalagi dia juga tidak sadar dengan perbuatannya. Alhasil, Tirta tidak mengendalikan tenaganya.Walaupun Nova sudah mencapai tingkat pembentuka
Valeria mengusap lehernya yang sakit. Dia juga tidak berani membantah. Valeria hanya mengkhawatirkan kondisi Nova sekarang.Salah satu wanita tua memejamkan matanya dan melepaskan kesadaran spiritual. Dia menunjuk tempat Tirta sambil berujar, "Tuan Muda, aku mendengar suara wanita suci. Sepertinya dia ada di dalam hutan lebat ...."Hanya saja, ekspresi wanita tua itu tampak canggung."Baguslah, kita harus selamatkan Nova secepatnya!" balas Danendra yang sangat senang. Dia merasa kesempatannya untuk menjadi pahlawan sudah datang. Danendra menaiki Pedang Terbang ke tempat Tirta dengan ekspresi antusias.Valeria dan dua wanita lainnya serta empat murid pria juga mengikuti Danendra.Tiba-tiba, gurunya Nova berkelebat. Dia mengadang mereka dengan ekspresi sedih dan berseru, "Jangan! Tuan Muda, kamu nggak boleh pergi ke sana!"Gurunya Nova juga sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap kesembilan. Dia bisa merasakan apa yang terjadi pada Nova.Danendra marah, mana mungkin dia membiarkan
Tak lama kemudian, elang hitam raksasa itu makin menjauh dan menghilang di langit.Melihat mereka bertiga pergi, Nova baru merasa lega. Tang! Saat Nova tidak fokus, Pedang Galaksi dihantam oleh Tirta lagi hingga terpental.Nova membatin, 'Padahal penjahat ini sudah kehilangan akal sehat, tapi dia masih begitu hebat. Penjahat ini benar-benar nggak sederhana! Sebenarnya dia siapa? Kenapa aku nggak pernah mendengar tentang orang ini di kumpulan generasi muda wilayah lembah selatan?'Apa daya, Nova hanya bisa mengerahkan Teknik Mengejar Bintang untuk kabur ke hutan lebat. Dia berencana memanfaatkan kondisi geografis untuk mengulur waktu Tirta.Saat ini, efek anggrek ular giok sudah berkembang sampai batas maksimal. Tubuh Tirta sangat panas hingga terasa seperti hampir meledak.Melihat Nova kabur ke hutan lebat, Tirta menyimpan Busur Matahari dan berteriak. Dia langsung mengejar Nova tanpa ragu.Nova memang sudah mengerahkan teknik andalan sektenya, Teknik Mengejar Bintang. Kecepatannya san
Bisa dibilang teknik pedang mereka sangat hebat. Kerja sama mereka membuat musuh tidak bisa menghindar. Bahkan mereka bisa melawan kultivator tingkat pembentukan jiwa tahap keenam.Cahaya pedang di sebelah kiri membentuk garis lurus untuk mengadang Tirta. Cahaya pedang di sebelah kanan berubah menjadi sembilan cahaya untuk membuat Tirta tidak bisa mundur.Sementara itu, Valeria melompat ke udara dan mengayunkan cambuknya. Dia mengadang Tirta di bagian atas. Valeria berseru, "Cambuk Lima Petir!"Tirta membatin, 'Aku juga akan mengalami luka ringan kalau ingin terbebas dari kepungan mereka.'Nova yang sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap ketujuh tidak bertindak, melainkan hanya berjaga di samping. Dia mengangguk sesudah melihat serangan tiga juniornya. Sudah jelas dia setuju dengan tindakan mereka."Panas sekali ... jangan halangi aku!" ujar Tirta. Dia segera mengeluarkan Busur Matahari dari Giok Penyimpanan.Bum! Bum! Bum! Terdengar tiga suara teredam. Kepala Valeria dan dua wa
"Sepertinya, kamu mengira profesi dokter nggak bisa menghasilkan uang, ya? Atau kamu merasa ilmu medisku kurang hebat?" Tirta terkekeh-kekeh."Aku merasa setiap manusia memiliki kelebihan tersendiri. Kamu begitu ahli dalam menilai batu mentah, jadi aku merasa ilmu medismu seharusnya biasa-biasa saja.
Setelah bicara demikian, Tirta berjalan ke hadapan Ayu. Dia memegang tangan Ayu dan memeriksa luka di dada Ayu. Kulitnya yang putih mulus terlihat sangat kontras dengan noda darah. Seketika, Tirta merasa sangat kasihan melihatnya."Ah, Tirta, minggir kamu. Suruh Melati saja yang periksa. Kalau kamu y
"Hehe. Sudah nggak mengerti apa-apa, tapi masih berani sombong? Kamu memang harus diberi pelajaran dulu. Ayo, cepat potong ketiga batu itu," ujar Gilang sembari tersenyum lebar. Dia yakin bahwa Tirta akan merasa malu sebentar lagi."Ini namanya buang-buang waktu!" Para staf mengejek Tirta dengan kesa
"Tentu saja ini asli! Kelihatannya bahkan lebih mahal dari gelang emas di tanganmu itu!" ujar Betari."Ibu, jangan ngomong lagi. Cepat kembalikan padaku," desak Nabila yang merasa bersalah. Dia benar-benar takut Joan bisa melihat bahwa giok itu palsu."Kalau begitu, kebetulan sekali. Lukas dulu adalah







