Masuk"Memusnahkan dunia awani juga bisa?" Setelah mendengar perkataan itu, kepala Irena langsung berdengung, seolah puluhan ribu petir meledak di dalam benaknya.Itu terutama karena para binatang iblis ini terlalu kuat dan benar-benar memiliki kemampuan untuk menghancurkan dunia awani. Perkataan itu memberi guncangan yang luar biasa besar baginya."Ya ampun, Sayang. Kamu benar-benar hebat sekarang. Siapa lagi yang berani menyinggungmu?" Irena memeluk lengan Tirta erat-erat, seolah sedang menggantungkan seluruh nasibnya di sana."Benar juga. Kalau dari awal kita tahu pencuri kecil sepertimu punya status sehebat ini, untuk apa kita khawatir lagi?" ujar Lavanya sambil menahan keterkejutannya dalam hati."Pantas saja sejak pertama masuk ke sini, Tirta ingin melakukan hal seperti itu. Ternyata dia memang sama sekali nggak takut," kata Yumika sambil tersenyum.Priya setengah mengerti dan setengah tidak. Dia melirik Tirta sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan. Situasi saat ini benar-benar
Namun, wanita itu tetap membisu seperti batu, seolah memang tidak ada. Dia sama sekali tidak menggubris Tirta."Sialan, aku sampai nggak habis pikir. Kamu itu nggak ada gunanya sama sekali. Buat apa aku bawa-bawa beban sepertimu?!" Tirta sampai memaki karena kesal.Dalam keadaan mendesak, dia tiba-tiba teringat satu cara lain untuk menyelamatkan diri, yaitu peta bintang.Di dalam peta bintang, Tirta masih ingat ada segumpal api yang pernah menyala hebat di Tebing Maut dan menyelamatkan nyawanya.Tepat ketika Tirta hendak mengeluarkan peta bintang, tiba-tiba naga berkepala tiga itu membuka mulutnya dan berbicara dengan bahasa manusia. Suaranya berat dan menggelegar.Gema suaranya mengguncang seluruh langit dan bumi, langsung membuat Tirta mengurungkan niatnya."Salam hormat kepada Utusan Suci. Kami nggak nyangka Utusan Suci akan berkenan datang. Saya gagal menyambut kedatangan Utusan Suci dari jauh. Mohon Utusan Suci berkenan memaafkan.""Uuuu ....""Auuu ....""Grrr ...."Seketika, rat
Pemandangan itu bagaikan menemukan secercah harapan di tengah jurang keputusasaan. Semua orang tak kuasa menahan semangat yang kembali muncul dalam hati mereka.Namun, tiba-tiba saja para binatang iblis di belakang mereka yang semula sangat tenang dan patuh mulai bergerak satu per satu.Meskipun berada di darat, mereka tetap terus bergerak, bahkan membuka sebuah jalan lebar yang mengarah ke lautan."Auuuu ...."Binatang iblis yang sedang diinjak oleh Tirta dan yang lainnya adalah seekor kura-kura raksasa yang bentuknya menyerupai kura-kura biasa, tetapi ukurannya puluhan ribu kali lebih besar. Cangkangnya saja cukup luas untuk menopang sebuah gunung. Benar-benar mengesankan.Keempat cakarnya telah berubah menjadi seperti cakar naga. Kepalanya yang seharusnya bulat dan memanjang ditumbuhi tanduk naga serta sisik hitam pekat. Sisik-sisik itu memantulkan cahaya dan membuatnya tampak begitu gagah.Kultivasinya setidaknya berada di tingkat pencapaian agung. Namun, bahkan seorang kultivator
Wilayah terlarang Laut Utara sangat terkenal di seluruh dunia awani. Jika cerita tentang fenomena aneh ini tersebar ke luar, pasti akan menimbulkan kegemparan besar."Awalnya kukira ini akan menjadi perjalanan menuju kematian, nggak kusangka malah terjadi hal yang begitu luar biasa. Kalau kita semua bisa keluar hidup-hidup dari sini ... wilayah terlarang Laut Utara mungkin sudah ganti nama," kata Irena yang mulai merasa gembira."Jangan lengah sebelum benar-benar keluar dari sini. Wilayah terlarang tetaplah wilayah terlarang. Alasan tempat ini disebut wilayah terlarang tentu karena reputasinya yang mengerikan. Nggak pernah ada yang selamat.""Menurutku, nggak mungkin sesederhana ini." Yumika mengingatkan sambil tetap berwaspada.Binatang-binatang iblis itu terlalu besar. Setiap ekor memiliki ukuran yang sebanding dengan sebuah bukit kecil.Tubuh mereka terasa licin dan lengket, jadi kaki juga mudah tergelincir. Bisa dibilang perjalanan itu sangat sulit.Meskipun demikian, Tirta dan yan
Binatang iblis yang jumlahnya tak terhitung itu berdesakan begitu rapat hingga seolah memenuhi seluruh cakrawala.Di belakang satu binatang iblis, masih ada binatang iblis lain yang lebih kuat. Pemandangan yang begitu mengguncang ini membuat Tirta sulit percaya bahwa semua itu benar-benar nyata.Kalaupun seluruh kultivator di dunia awani dikumpulkan di sini, mereka tetap tidak akan mampu menandingi para binatang iblis ini.Terlebih lagi, sekarang Pedang Penumpas Dewa tampaknya sudah kehilangan efeknya. Bahkan Tirta pun mulai merasakan kepanikan dan kegelisahan seolah tidak ada lagi tempat untuk meminta pertolongan."Sebenarnya mati bersama suamiku juga bukan hal yang buruk. Tapi di kehidupan berikutnya, tolong jangan gunakan peta hartamu itu lagi ya? Aku belum puas hidup, tapi sudah harus mati seperti ini. Sayang sekali."Irena menatap langit dengan mata kosong, merasakan keputusasaan yang mendalam."Aku juga nggak nyangka akan diteleportasi ke tempat seperti ini. Mungkin memang sudah
Di dalam Paviliun Ufuk, selain Bahadir, semua murid bergelimpangan di tangga panjang yang berlumuran darah. Tidak ada satu pun yang masih hidup."Ayah, aku nggak bisa pergi begitu saja .... Aku ... aku punya banyak obat suci penyembuh luka ....""Aku akan menyelamatkanmu ... lalu membalas dendam kepada Sodam!"Priya terkejut sekaligus murka. Dia hendak mengeluarkan obat-obatan penyembuh luka dari cincin penyimpanannya.Namun tepat pada saat itu, Sodam memegang pedang panjang yang masih meneteskan darah sambil berjalan mendekat dari belakang Priya dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakang pria itu, sekelompok ahli Sekte Bulan Berdarah berpakaian hitam mengikuti."Hehe. Priya, aku memperlakukanmu dengan tulus selama ini, tapi kamu berkali-kali menginjak harga diriku!""Kamu lebih memilih dekat dengan si pecundang itu daripada mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Aku pasti akan bikin kamu merasakan akibat dari mengkhianatiku!""Pengawal! Cincang pemimpin Paviliun Ufuk di depan mata
Bahkan, lampu di luar juga dihiasi dengan giok. Semua barang-barang ini menunjukkan kekayaan Keluarga Purnomo yang luar biasa.Kala ini, perasaan Ayu campur aduk. Awalnya, dia mendengar Tirta mengatakan Bella adalah putri konglomerat di ibu kota provinsi.Sebelumnya, Ayu tidak tahu jelas bagaimana k
Melihat respons Camila, tentu saja Tirta bisa menebak apa yang terjadi. Dia melirik Simon dan bertanya, "Pak Simon, seharusnya kamu yang bantu dia tulis, 'kan?"Simon menjawab, "Tirta, memang aku yang tulis. Semalam aku lihat dia nggak kuat lagi, jadi aku bantu dia karena nggak tega. Bagaimanapun, a
Tirta menambahkan, "Tadi aku sudah menghubungi Pak Saba. Dia bilang dia akan bantu aku selesaikan masalah ini."Camila mencibir saat mendengar Tirta mengakui dirinya memang mempunyai sokongan hebat. Ketika hendak menyindir Tirta dan Bella, tiba-tiba Simon mengernyit.Simon yang mempunyai firasat bur
Simon menambahkan, "Kamu boleh minta kompensasi apa pun. Aku pasti akan memenuhinya."Mendengar ucapan Simon, wajah Camila menjadi tegang. Dia langsung bersandar di pelukan Simon dan memelas, "Simon, kamu pasti bercanda, 'kan? Ini nggak lucu, jangan takut-takuti aku, ya?"Simon mendorong Camila deng







