Compartilhar

Bab 3

Autor: Liam
“Ak… Aku….” Aku membuka mulut, tapi tak tahu harus mulai dari mana.

Haruskah aku memberitahunya kalau aku bisa terangsang tanpa alasan yang jelas setiap hari? Seperti seorang wanita murahan yang tak punya malu?

“Sulit untuk menjelaskannya?” Dia tampaknya bisa membaca kebingunganku. Tubuhnya agak mencondong ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja dengan jari yang saling bergenggam, lalu melanjutkan, “Monica, aku ini dokter. Nggak ada hal yang nggak bisa dibicarakan di hadapanku.”

Suaranya memiliki kekuatan yang menenangkan, membuat sarafku yang tegang menjadi agak rileks.

Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu dengan suara sepelan mungkin seperti dengungan nyamuk, aku menceritakan ‘kondisi penyakitku’ dengan terbata-bata.

Setiap satu kalimat terucap, wajahku menjadi semakin merah.

Hingga akhir cerita, aku hampir membenamkan wajahku ke dada, rasanya ingin sekali ada celah di lantai agar bisa bersembunyi di dalamnya.

Usai menceritakannya, ruang praktek itu langsung diselimuti keheningan yang panjang.

Aku bahkan bisa mendengar suara jarum detik dari jam dinding yang berdetak… tak… tak… tak…

Setiap detakannya terasa seperti hukuman mati yang menyiksaku perlahan.

Tepat di saat aku hampir gila oleh keheningan yang mencekik ini, akhirnya Calvin membuka suara.

“Kondisi seperti ini sudah berlangsung berapa lama?”

“Se… sekitar setengah tahun.”

“Saat kambuh, apa yang kamu rasakan?”

“Rasanya… sangat panas, seluruh tubuh terasa geli, seperti… seperti ada serangga yang merayap….” Aku merasa begitu malu hingga ingin menangis rasanya.

“Selain itu?” desaknya lagi, suaranya tetap datar tanpa emosi.

“Rasanya juga… sangat ingin….” Aku menggigit bibir bawahku, kata-kata selanjutnya benar-benar tak sanggup kulanjutkan.

“Sangat ingin disentuh pria, ‘kan?” Dia melanjutkan kalimatku, nadanya begitu santai seolah-olah sedang membicarakan cuaca hari ini.

Wajahku langsung terasa meledak dan terbakar hebat. Air mata yang sudah tak bisa ditahan lagi akhirnya menetes membasahi pipi.

Dia tak menenangkanku, hanya menatapku dalam diam sampai tangisku mereda. Barulah dia mengambil sebuah formulir dan pena dari dalam laci, lalu mendorongnya ke hadapanku.

“Isi ini.”

Aku menerimanya dan melihat isinya. Itu adalah kuesioner yang sangat detail dan pertanyaan di dalamnya jauh lebih vulgar dan pribadi daripada yang dia tanyakan tadi.

Contohnya, [Bagian tubuh mana yang paling ingin disentuh saat sedang kambuh?]

[Apakah objek fantasimu orang asing atau orang dikenal?]

[Apakah pernah melakukan tindakan yang tak senonoh dan seberapa sering frekuensinya?]

Setiap pertanyaan terasa seperti pisau yang menyayat harga diri dan martabat yang selama ini kupertahankan hingga berdarah-darah.

“Bagian… bagian ini juga harus diisi?” tanyaku dengan gemetar.

“Untuk memahami penyakitmu, aku harus tahu reaksi dan pemikiranmu yang paling jujur.”

Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil melipat tangan di dada dengan posisi santai dan melanjutkan, “Tentu saja kamu boleh memilih untuk nggak mengisinya, lalu membiarkan dirimu terus tersiksa oleh penyakit ini. Sampai suatu hari nanti penyakitmu kambuh di atas meja operasi dan menghancurkan karirmu.”

Kata-katanya bagaikan seember air es yang menyiramku hingga membeku.

Benar juga, emangnya aku masih punya pilihan?

Aku memegang pena itu. Dengan tangan gemetar, aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatku kehilangan muka itu satu demi satu.

Sepanjang proses itu, tatapannya terus terkunci pada tubuhku, begitu tajam seolah-olah bisa menembus diriku.

Aku merasa bukan sedang mengisi kuesioner, melainkan sedang menulis surat pengakuan dosa, memamerkan hasratku yang paling kelam dan memalukan secara telanjang di hadapannya.

Begitu menyelesaikan pertanyaan terakhir dan meletakkan pena, seluruh tubuhku rasanya seperti baru saja diangkat dari dalam air. Baju di bagian punggungku sudah basah kuyup karena keringat dingin.

Calvin mengambil kuesioner itu, menunduk untuk membacanya dengan teliti. Sementara jarinya yang ramping bergerak perlahan menyusuri lembaran kertas.

Ekspresinya sangat tenang, seakan-akan sedang membaca rekam medis yang biasa saja.

Namun, aku merasa setiap kata di kertas itu sedang mengejekku dalam diam.

“Hm… menarik sekali.”

Setelah membacanya, dia meletakkan kuesioner itu ke samping, lalu mendongak menatapku dengan senyuman misterius di sudut bibirnya.

“Ternyata tubuhmu jauh lebih jujur dari pikiranmu.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 15

    Dasar bodoh.Demi melindungiku, dia bahkan rela menghancurkan reputasi dan masa depannya sendiri.“Calvin! Kamu sadar nggak dirimu lagi bicara apa?!” Direktur rumah sakit bangkit berdiri sambil menggebrak meja sangking marahnya.“Demi wanita biasa ini, emangnya pantas?”“Pantas,” jawab Calvin tanpa ragu sedikitpun. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menggenggam tanganku erat-erat dan menyelipkan jari-jari kami.“Dia bukan wanita biasa.”“Dia satu-satunya wanita yang ingin kunikahi seumur hidupku.”Seketika, semua rasa sesak, rasa sakit dan pergulatan batin yang kualami langsung lenyap tak berbekas.Aku membalas genggaman tangannya. Menghadapi tatapan orang-orang yang dipenuhi keterkejutan, cibiran, maupun kebingungan, aku tetap berdiri penuh keyakinan di sisinya.Fitnah dan reputasi?Aku tak peduli!Yang kutahu pasti, saat ini, aku tak ingin melepaskan genggaman tangan pria ini lagi.Selesai.Masalah itu akhirnya selesai setelah Calvin menyerahkan surat pengunduran dirinya, lalu pergi meni

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 14

    Dia berbalik, melangkah terhuyung-huyung keluar dari kamarku.Melihat punggungnya yang tampak begitu kesepian, air mataku tak bisa ditahan lagi dan langsung membanjiri pipi.Maafkan aku, Calvin.Aku mencintaimu.Justru karena mencintaimu, makanya aku tak boleh menghancurkanmu.Aku mengira semua ini akan berakhir begitu saja.Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dan bersiap untuk pergi dari kota yang penuh kenangan sedih ini.Namun, aku tak menyangka kalau Gwen tak berniat melepaskanku begitu saja.Tepat sehari sebelum aku mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah unggahan muncul di forum internal rumah sakit.Judulnya, [Sungguh mengejutkan! Seorang perawat magang rela menghalalkan segala cara untuk menggoda dokter pria agar bisa naik jabatan!]Di dalam unggahan itu digambarkan secara detail ‘kasus’ antara aku dan Calvin. Meskipun namanya disamarkan, semua detail yang tertulis jelas-jelas mengarah pada kami berdua.Unggahan itu bahkan melampirkan sebuah foto yang buram.Itu adalah fot

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 13

    “Nggak melakukan apa-apa?” Dia terkekeh sinis, lalu tiba-tiba mendekat ke telingaku dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, “Jangan kira aku nggak tahu kasus murahan di antara kalian! Wanita jalang yang mengandalkan pria demi menaikkan posisi sepertimu, memangnya kamu punya hak apa untuk merebutnya dariku?”Seketika, wajahku menjadi pucat.Kok dia bisa tahu?“Kamu pikir rahasiamu bisa ditutup dengan sempurna?” Dia menatap puas ke arah ekspresiku yang panik, “Hari itu di dalam lift, aku melihat semuanya. Calvin memelukmu dan rokmu… tsk tsk, sungguh menarik sekali.”Ternyata, orang yang berada di dalam lift hari itu adalah dia.“Monica, dengarkan baik-baik,” ucapnya dengan nada yang kejam.“Calvin itu milikku, nggak ada yang boleh merebutnya. Kalau kamu tahu diri, cepat angkat kaki dari rumah sakit ini. Kalau nggak, aku punya cara untuk menghancurkan reputasimu!”Usai bicara, dia sengaja melabrak bahuku, lalu berbalik pergi dengan angkuh.Aku membeku di tempa

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 12

    Bagi diriku dan dirinya, proses ini merupakan sebuah siksaan yang luar biasa.Setiap kali ‘terapi’ selesai, kami berdua seperti kehabisan tenaga dan sekujur tubuh dibanjiri keringat.Beberapa kali aku melihat wajahnya memerah dan urat-uratnya menonjol karena menahan diri. Dia bahkan sampai harus berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diri dengan air dingin.Aku pernah bertanya padanya, kenapa dia tak menyentuhku saja, padahal itu jauh lebih mudah.Dia hanya tersenyum pahit dan menjawab, “Kalau aku menyentuhmu, semua yang kita lakukan sebelumnya akan sia-sia. Aku nggak mau kamu merasa kalau dirimu bergantung padaku, bukannya bergantung pada dirimu sendiri."“Monica, kamu bisa mengalahkannya. Aku percaya padamu.”Berkat bantuannya, frekuensi kambuhnya penyakitku jadi semakin jarang dan jarak waktunya pun semakin lama.Perlahan-lahan, aku mulai bisa mengendalikan hasrat yang datang mendadak itu.Bahkan jika sesekali hasrat itu muncul kembali, aku bisa menekan dan meredakannya melalui ta

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 11

    Jika dia menyetujuinya….Maka aku mungkin bisa memberikan satu kesempatan lagi untuknya dan juga untuk diriku sendiri.Calvin membeku setelah mendengar perkataanku.Dia menatapku dengan tatapan yang penasaran dan kebingungan.Waktu berlalu lama… begitu lama hingga aku mengira dia akan pergi begitu saja. Namun, dia malah menganggukkan kepala pelan.“Iya, aku setuju.”Aku tak menyangka kalau dia benar-benar akan menyetujuinya.Terlebih lagi, aku tak menyangka kalau terapi ‘tanpa menyentuhku’ yang dia maksud akan menjadi seperti ini.Dia menyuruhku duduk di atas ranjang, memejamkan mata, lalu dia mulai menggunakan kata-kata untuk membangun skenario demi skenario yang penuh gairah di benakku.Dengan suaranya yang berwibawa, berat dan agak berat, dia berbisik di telingaku untuk menggambarkan semuanya.Menggambarkan bagaimana tangannya membelai kulitku.Menggambarkan bagaimana bibirnya mengecup seluruh tubuhku.Menggambarkan bagaimana kami saling berpelukan dan tenggelam bersama….Gambarann

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 10

    Rentetan pertanyaan itu bagaikan peluru yang menghantam dirinya.Dia terdiam seribu bahasa karena pertanyaanku, hanya bisa menatapku lekat-lekat dengan sorot mata rumit yang sepekat tinta hitam.“Iya, kuakui awalnya memang memanfaatkan penyakitmu karena ingin melihat dirimu kehilangan kendali,” ujarnya setelah terdiam lama.Suaranya terdengar sangat serak, “Aku suka melihat dirimu yang padahal sangat malu, tapi tetap nggak bisa menahan diri untuk runtuh di hadapanku. Itu memberiku kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”“Tapi, Monica….”Dia terdiam sejenak, lalu sekilas kerapuhan dan pergulatan batin yang belum pernah kulihat sebelumnya tampak di matanya.“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi semua ini sudah berubah.”“Melihatmu mengobrol dengan dokter pria lain saja bisa membuatku cemburu setengah mati.”“Melihatmu pulang kehujanan seperti ini membuat hatiku sangat sakit.”“Melihatmu menatapku dengan pandangan seperti sekarang… rasanya jantungku seperti diiris-iris pisau.”Dia m

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status