Share

Bab 2

Author: Liam
“Ngga… nggak apa-apa, dok. Aku… aku agak kurang enak badan, jadi mau segera balik ke asrama untuk istirahat.” Aku menunduk, tak berani menatap matanya karena takut dia bisa melihat keanehan pada diriku.

Pandangannya tertuju pada wajahku yang memerah selama beberapa detik, lalu perlahan turun ke bawah, tepat ke arah kedua kakiku yang merapat erat karena gugup.

“Nggak enak badan?” Dia agak mengangkat alis, nada bicaranya terdengar agak sedikit menggoda, “Dari yang kulihat, kamu nggak terlihat seperti sedang sakit, malah terlihat seperti….”

Dia tak menyelesaikan kalimatnya, tapi jedanya yang menyiratkan sesuatu itu malah membuatku jauh lebih malu.

Aku merasa seperti seorang tahanan yang dilucuti pakaiannya, tak mampu bersembunyi di hadapannya.

“Aku benar-benar baik-baik saja!” ujarku hampir berteriak, lalu berbalik ingin melarikan diri.

Namun, langkahnya lebih cepat. Lengan panjangnya mencengkeram pergelangan tanganku.

Jarinya yang ramping dan dingin itu terasa seperti tang besi, membuatku tak bisa bergerak sedikitpun.

“Monica,” panggilnya dengan penuh penekanan.

“Wajahmu merah sekali, napasmu juga tersengal-sengal, denyut nadi di pergelangan tanganmu sangat cepat dan juga….”

Dia mendekat ke telingaku, hembusan napasnya yang panas menerpa daun telingaku. Suaranya rendah, seperti dentuman senar selo.

“Tubuhmu sangat panas.”

Boom… satu-satunya tali kewarasan di otakku langsung putus.

Telinga adalah bagian tubuhku yang paling sensitif.

Saat diterpa hembusan napasnya yang hangat, seluruh tubuhku melemas dan nyaris terjatuh ke lantai.

Rasa panas yang sudah lama tertahan itu seperti banjir yang menjebol tanggul, langsung meruntuhkan seluruh akal sehatku.

Aku bisa merasakan tubuhku gemetar di luar kendali dan desahan pelan lolos dari tenggorokanku.

“Hmm….”

Suaraku terlalu pelan, hampir hilang tertiup angin malam, tapi aku tahu dia mendengarnya.

Karena aku melihat tatapan di balik lensa kacamatanya tampak meredup, bagaikan lautan dalam yang sedang menyimpan badai.

Cengkeramannya pada pergelangan tanganku semakin erat, sementara tangan satunya lagi beralih merangkul pinggangku yang lemas, menarikku ke dalam pelukannya hingga tubuh kami menempel erat.

Di balik pakaian tipis, aku bisa merasakan dengan jelas dadanya yang bidang dan panas, serta detak jantungnya yang tenang dan bertenaga.

Aroma maskulin yang pekat bercampur dengan bau cairan disinfektan yang samar menyelimutiku, membuat kepalaku pening luar biasa.

“Lihat, kamu bahkan nggak bisa berdiri tegak,” ucapnya dengan nada menggoda, tapi juga memancarkan ketegasan yang tak bisa dibantah.

“Ikut aku.”

Dia tak memberiku kesempatan untuk melawan, merangkulku menuju gedung poliklinik yang tak jauh dari sana.

Otakku kosong, jadi hanya bisa menurut seperti boneka tali yang digerakkan olehnya.

Hasrat tubuh dan rasa malu di hati bercampur aduk, membuatku merasa takut sekaligus diam-diam menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Gedung poliklinik di tengah malam itu kosong melompong. Hanya lampu darurat di lorong yang menyala, melemparkan bayangan redup, membuat siluet kami terlihat panjang dan tipis.

Langkah kaki Calvin bergema di lorong yang sunyi itu. Setiap langkahnya terasa menghentak di jantungku.

Dia membawaku ke ruang prakteknya.

“Klik,” terdengar pintu dikunci dari dalam.

Di ruangan yang sempit itu, hanya tersisa suara napas kami berdua yang memburu.

Dia melepaskanku, berjalan ke belakang meja kerja, lalu dengan tenang melepas kacamatanya dan menyekanya dengan kain.

Tanpa terhalang lensa kacamata, matanya tampak lebih dalam, seperti dua pusaran yang hendak menyedot jiwaku masuk ke dalamnya.

“Duduklah,” ujarnya sambil menunjuk kursi di depan.

Aku duduk dengan kaku, kedua tanganku saling menggenggam erat sangking gugupnya. Akibat gerakanku, ujung rok perawat yang kupakai agak terangkat, memperlihatkan bagian pahaku yang putih mulus.

Aku bisa merasakan pandangannya tertuju ke arah kakiku, seolah ada pengait yang menggores kulitku dan menimbulkan sensasi merinding.

“Ceritakan detail kondisimu,” ucapnya sambil memakai kacamatanya kembali. Sosoknya kembali menjadi dingin dan penuh jarak, seolah orang yang baru saja menggodaku di lantai bawah tadi bukanlah dirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 15

    Dasar bodoh.Demi melindungiku, dia bahkan rela menghancurkan reputasi dan masa depannya sendiri.“Calvin! Kamu sadar nggak dirimu lagi bicara apa?!” Direktur rumah sakit bangkit berdiri sambil menggebrak meja sangking marahnya.“Demi wanita biasa ini, emangnya pantas?”“Pantas,” jawab Calvin tanpa ragu sedikitpun. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menggenggam tanganku erat-erat dan menyelipkan jari-jari kami.“Dia bukan wanita biasa.”“Dia satu-satunya wanita yang ingin kunikahi seumur hidupku.”Seketika, semua rasa sesak, rasa sakit dan pergulatan batin yang kualami langsung lenyap tak berbekas.Aku membalas genggaman tangannya. Menghadapi tatapan orang-orang yang dipenuhi keterkejutan, cibiran, maupun kebingungan, aku tetap berdiri penuh keyakinan di sisinya.Fitnah dan reputasi?Aku tak peduli!Yang kutahu pasti, saat ini, aku tak ingin melepaskan genggaman tangan pria ini lagi.Selesai.Masalah itu akhirnya selesai setelah Calvin menyerahkan surat pengunduran dirinya, lalu pergi meni

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 14

    Dia berbalik, melangkah terhuyung-huyung keluar dari kamarku.Melihat punggungnya yang tampak begitu kesepian, air mataku tak bisa ditahan lagi dan langsung membanjiri pipi.Maafkan aku, Calvin.Aku mencintaimu.Justru karena mencintaimu, makanya aku tak boleh menghancurkanmu.Aku mengira semua ini akan berakhir begitu saja.Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dan bersiap untuk pergi dari kota yang penuh kenangan sedih ini.Namun, aku tak menyangka kalau Gwen tak berniat melepaskanku begitu saja.Tepat sehari sebelum aku mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah unggahan muncul di forum internal rumah sakit.Judulnya, [Sungguh mengejutkan! Seorang perawat magang rela menghalalkan segala cara untuk menggoda dokter pria agar bisa naik jabatan!]Di dalam unggahan itu digambarkan secara detail ‘kasus’ antara aku dan Calvin. Meskipun namanya disamarkan, semua detail yang tertulis jelas-jelas mengarah pada kami berdua.Unggahan itu bahkan melampirkan sebuah foto yang buram.Itu adalah fot

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 13

    “Nggak melakukan apa-apa?” Dia terkekeh sinis, lalu tiba-tiba mendekat ke telingaku dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, “Jangan kira aku nggak tahu kasus murahan di antara kalian! Wanita jalang yang mengandalkan pria demi menaikkan posisi sepertimu, memangnya kamu punya hak apa untuk merebutnya dariku?”Seketika, wajahku menjadi pucat.Kok dia bisa tahu?“Kamu pikir rahasiamu bisa ditutup dengan sempurna?” Dia menatap puas ke arah ekspresiku yang panik, “Hari itu di dalam lift, aku melihat semuanya. Calvin memelukmu dan rokmu… tsk tsk, sungguh menarik sekali.”Ternyata, orang yang berada di dalam lift hari itu adalah dia.“Monica, dengarkan baik-baik,” ucapnya dengan nada yang kejam.“Calvin itu milikku, nggak ada yang boleh merebutnya. Kalau kamu tahu diri, cepat angkat kaki dari rumah sakit ini. Kalau nggak, aku punya cara untuk menghancurkan reputasimu!”Usai bicara, dia sengaja melabrak bahuku, lalu berbalik pergi dengan angkuh.Aku membeku di tempa

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 12

    Bagi diriku dan dirinya, proses ini merupakan sebuah siksaan yang luar biasa.Setiap kali ‘terapi’ selesai, kami berdua seperti kehabisan tenaga dan sekujur tubuh dibanjiri keringat.Beberapa kali aku melihat wajahnya memerah dan urat-uratnya menonjol karena menahan diri. Dia bahkan sampai harus berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diri dengan air dingin.Aku pernah bertanya padanya, kenapa dia tak menyentuhku saja, padahal itu jauh lebih mudah.Dia hanya tersenyum pahit dan menjawab, “Kalau aku menyentuhmu, semua yang kita lakukan sebelumnya akan sia-sia. Aku nggak mau kamu merasa kalau dirimu bergantung padaku, bukannya bergantung pada dirimu sendiri."“Monica, kamu bisa mengalahkannya. Aku percaya padamu.”Berkat bantuannya, frekuensi kambuhnya penyakitku jadi semakin jarang dan jarak waktunya pun semakin lama.Perlahan-lahan, aku mulai bisa mengendalikan hasrat yang datang mendadak itu.Bahkan jika sesekali hasrat itu muncul kembali, aku bisa menekan dan meredakannya melalui ta

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 11

    Jika dia menyetujuinya….Maka aku mungkin bisa memberikan satu kesempatan lagi untuknya dan juga untuk diriku sendiri.Calvin membeku setelah mendengar perkataanku.Dia menatapku dengan tatapan yang penasaran dan kebingungan.Waktu berlalu lama… begitu lama hingga aku mengira dia akan pergi begitu saja. Namun, dia malah menganggukkan kepala pelan.“Iya, aku setuju.”Aku tak menyangka kalau dia benar-benar akan menyetujuinya.Terlebih lagi, aku tak menyangka kalau terapi ‘tanpa menyentuhku’ yang dia maksud akan menjadi seperti ini.Dia menyuruhku duduk di atas ranjang, memejamkan mata, lalu dia mulai menggunakan kata-kata untuk membangun skenario demi skenario yang penuh gairah di benakku.Dengan suaranya yang berwibawa, berat dan agak berat, dia berbisik di telingaku untuk menggambarkan semuanya.Menggambarkan bagaimana tangannya membelai kulitku.Menggambarkan bagaimana bibirnya mengecup seluruh tubuhku.Menggambarkan bagaimana kami saling berpelukan dan tenggelam bersama….Gambarann

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 10

    Rentetan pertanyaan itu bagaikan peluru yang menghantam dirinya.Dia terdiam seribu bahasa karena pertanyaanku, hanya bisa menatapku lekat-lekat dengan sorot mata rumit yang sepekat tinta hitam.“Iya, kuakui awalnya memang memanfaatkan penyakitmu karena ingin melihat dirimu kehilangan kendali,” ujarnya setelah terdiam lama.Suaranya terdengar sangat serak, “Aku suka melihat dirimu yang padahal sangat malu, tapi tetap nggak bisa menahan diri untuk runtuh di hadapanku. Itu memberiku kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”“Tapi, Monica….”Dia terdiam sejenak, lalu sekilas kerapuhan dan pergulatan batin yang belum pernah kulihat sebelumnya tampak di matanya.“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi semua ini sudah berubah.”“Melihatmu mengobrol dengan dokter pria lain saja bisa membuatku cemburu setengah mati.”“Melihatmu pulang kehujanan seperti ini membuat hatiku sangat sakit.”“Melihatmu menatapku dengan pandangan seperti sekarang… rasanya jantungku seperti diiris-iris pisau.”Dia m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status