FAZER LOGINBau amis darah segar bercampur tajamnya cairan disinfektan menguar pekat di udara IGD rumah sakit. Dua brankar yang didorong, baru saja melewati pintu ganda darurat dengan kawalan para tenaga medis.Seorang dokter umum yang bertugas malam itu membelalak ngeri saat mengenali sosok pria di brankar pertama. “Ini Dokter Dashel!" serunya. "Cepat panggil tim bedah trauma sekarang juga!"Dashel terbaring dengan napas memburu. Ia mengalami cedera parah akibat benturan di area punggung bawah dan tulang belakang saat membentengi Lenora, meskipun begitu kondisinya masih dapat ditangani dan belum mencapai tahap fatal. Namun, rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak ia hiraukan.“Le-no-ra … No-ra …,” igaunya.Di brankar sebelah, seorang perawat senior berteriak dengan suara bergetar, "Dokter! Tanda vital pasien atas nama Lenora menurun drastis! Tekanan darahnya drop, dan ... pasien sedang hamil!""Panggil dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekarang! Siapkan ruang operasi darurat!" perintah
Di ruang bedah, Dashel bahkan tidak mampu fokus menjalankan perannya sebagai dokter bedah trauma utama. Usai mengenakan sarung tangannya, bayangan wajah Lenora yang tampak mendung dan pucat pagi tadi terus berkelebat di kepalanya, memicu rasa gelisah yang mencuat di dada.Dashel menatap perawat asistennya. "Panggil Dokter Rian. Minta dia tangani operasi ini, saya bertindak sebagai pengawas."Itu bukan kali pertama hari ini. Sebanyak dua jadwal operasi besar dilewatinya begitu saja tanpa menyentuh pisau bedah. Hingga pukul tiga sore, Dashel memutuskan izin pulang lebih awal. Sebelum jalanan kota berubah menjadi mace, ia harus sudah tiba di lokasi seminar. Lenora pasti menunggunya.Benar saja. Wanita itu baru saja keluar dari auditorium. Alih-alih antusias seperti saat pertama kali mendaftar, Lenora justru lebih banyak menghela napas panjang. Pikirannya kacau hingga ia melewatkan banyak poin penting dari materi seminar.Lenora terdiam, memandangi mahasiswa yang lalu-lalang."Dashel b
"Ini... ini mamaku, Dash." Lenora memperlihatkan nama yang tertera di layar. "Kamu ... jangan berisik, ya."Dashel mendengkus, membiarkan wanita itu mengangkat teleponnya, sementara ia sendiri merebahkan tubuhnya santai di atas kasur.Lenora memilih duduk di kursi plastik kecil dekat meja rias, menjauh sedikit agar suaranya tidak terdengar terlalu jelas."Ya, Ma?" sapa Lenora hati-hati.“Lama banget angkatnya, Nak! Gimana, tawaran Mama yang kemarin sudah kamu pikirkan? Mama bisa jemput kamu untuk urus keberangkatan.”Lenora melirik ke tempat tidur, kelopak mata Dashel nampak menegcil perlahan."Aku nggak setuju, Ma. Aku tetap pada pilihanku, aku mau tinggal di sini," jawabnya, tegas, pandangannya tetap mengawasi Dashel.“Lenora, kamu jangan keras kepala! Kalau nggak mau sesuatu yang buruk menimpamu, ikuti kata Mama! Mama melakukan ini semua karena Mama sayang sama kamu.”Lenora mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alisnya bertaut. "Maksud Mama apa? Sesuatu apa yang bakal menimpaku?" “
Dipandanginya Lenora yang masih terlelap di atas bantal putih, setelah Dashel kembali ke IGD. Kelopaknya tidak mengedip untuk beberapa saat. Masih teringat pada plat nomor yang tidak diketahuinya.Lenora mengerjap perlahan, membuka matanya dari tidur singkat. Netra hitamnya langsung bersirobok dengan manik hazel Dashel yang menatapnya lekat-lekat dari kursi di sisi ranjang—tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan.Lenora mengulurkan tangan, menangkupkan jemarinya di atas punggung tangan Dashel yang bertumpu di tepi brankar."Dash?" Lenora memanggilnya.Dashel merespons, ibu jarinya mengusap lembut buku-buku tangan wanita itu. "Sudah bangun, ya? Ada yang sakit? Perutmu masih terasa kram atau ada keluhan lain?"Lenora menggeleng pelan. "Nggak ada, Dash. Aku udah baikan. Aku mau pulang sekarang."Mendengar kata pulang, rahang Dashel mengeras sesaat. Pria itu menarik napas dalam-dalam, menata kata-kata dengan hati-hati agar tidak memicu stres baru."Pindah ke apartemenku, Lenora," ucap Da
"Dokter Devi! Cepat ke IGD sekarang!" Suara Dashel menggelegar begitu tiba di IGD. Seluruh perawat serta koas yang melintas terlonjak. "Siapkan ruang tindakan utama! Sekarang!"Lenora terpejam dalam dekapan erat Dashel, napasnya tersengal dan tangannya tak sedetik pun lepas dari permukaan perutnya yang buncit. Tak butuh waktu lama, Dokter Devi tergopoh-gopoh bersama dua perawat. "Periksa dia sekarang juga!" perintah Dashel. "Anak-anakku di dalam sana, mereka tidak bergerak!"Pernyataan meluncur begitu saja dari bibir Dashel. Seketika, beberapa perawat dan staf medis yang berdiri di sekitar IGD tersentak. Mereka saling berpandangan dengan mata membelalak.Bisik-bisik halus langsung berkelebat. Selama ini, seluruh rumah sakit tahu betapa dekatnya Lenora dengan sang wakil direktur. Hubungan kerja profesional yang awalnya dikira biasa, kini berubah menjadi bahan gosip panas saat mereka mendengar langsung betapa paniknya Dashel mengkhawatirkan bayi dalam kandungan wanita itu. Tatapan ib
“Dash?” lirih Lenora, napasnya tercekat dan tangannya gemetar memegangi pinggang Dashel. Sementara pria itu tidak menjawab, mata hazelnya masih terlalu fokus pada motor sport yang sudah menghilang di pertigaan. Tangannya terkepal di balik punggung Lenora. Andai saja bisa …. mungkin ia sudah mengejar orang itu, yang berani mencelakai wanitanya. Namun … Dashel menunduk sedikit, dagunya terantuk pelan dengan pucuk kepala Lenora. Ia tidak akan meninggalkan wanitanya sendirian. “Seharusnya kamu gak nyebrang, Lenora!” tegas Dashel, nadanya sedikit menekan. “Kamu tunggu aku!” Lenora tidak menjawab, bibirnya seolah terkunci rapat. Dan … tubuhnya benar-benar lemas dalam pelukan Dashel. Belum usai keterkejutannya, pria itu justru membentaknya. Ia berusaha mundur, tetapi limbung. Dashel cepat menahannya. “Kita ke rumah sakit!” Sigap Dashel menuntun Lenora masuk mobil. Bahkan sikapnya ini kontras dengan ucapannya beberapa saat lalu. Sepanjang perjalanan, Lenora tak hentinya memeluk perut.







