Share

Bab 121: Rasanya Sesak

Author: NACL
last update publish date: 2026-09-29 17:58:12

"Ini... ini mamaku, Dash." Lenora memperlihatkan nama yang tertera di layar. "Kamu ... jangan berisik, ya."

Dashel mendengkus, membiarkan wanita itu mengangkat teleponnya, sementara ia sendiri merebahkan tubuhnya santai di atas kasur.

Lenora memilih duduk di kursi plastik kecil dekat meja rias, menjauh sedikit agar suaranya tidak terdengar terlalu jelas.

"Ya, Ma?" sapa Lenora hati-hati.

“Lama banget angkatnya, Nak! Gimana, tawaran Mama yang kemarin sudah kamu pikirkan? Mama bisa jemput kamu unt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Pergi Selamanya

    Dua orang petugas sekuriti rumah sakit langsung menahan tubuh Dashel yang limbung. Darah segar merembes dari balutan kasa di punggungnya."Tenang, Pak! Tolong tenang, kembali ke kamar Anda," cegah sekuriti itu, berhati-hati menahan tubuh Dashel agar tidak makin terluka.Dashel meronta lemah, air matanya tumpah tanpa bisa ia cegah. "Istri saya! Istri saya di dalam!"Sedangkan Dewi duduk di kursi tunggu dengan tatapan kosong ke depan. Bahkan suara teriakan Dashel sekadar angin lalu yang tak lagi mampu ia dengar. Berbeda dengan Denver segera meminta pihak rumah sakit menyiapkan kamar khusus agar Dewi bisa ditenangkan di bawah pengawasan dokter.Setelah memastikan istrinya tertidur karena obat penenang, Denver menemani putranya yang terduduk di tepi ranjang. Dashel mencengkeram erat seprai hingga buku-buku jarinya memutih."Pa ... aku nggak percaya Lenora meninggal. Itu pasti bohong. Lenora nggak mungkin ninggalin aku."Denver mendekat, menepuk bahu putranya, pelan. "Papa akan cari tahu

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 124: Kehilangan

    Ponsel di atas nakas bergetar, memecah keheningan malam yang sunyi. Bu Lia mengerjap malas, mengucek matanya dengan rasa kesal karena benda itu berbunyi tanpa henti."Kenapa, sih?!" maki Bu Lia begitu mengangkat sambungan tanpa melihat layar. "Kamu nggak tahu ini jam berapa, hah? Orang lagi tidur!"Suara serak di seberang sana menjawab, “Dengan Bu Amalia? Wali dari Lenora Farisha?”Bu Lia mendecak malas, setengah mendengus. "Iya, saya walinya. Ada apa malam-malam begini?"“Saudari Lenora mengalami kecelakaan, Bu. Harap Ibu segera datang ke Rumah Sakit Sentra Medis sekarang juga.”"Hah? Hati-hati kalau ngomong ya!" bentak Bu Lia kaget. Namun sambungan telepon itu terputus sepihak.Bu Lia bergegas keluar rumah, mengetuk pintu rumah tetangganya dengan tergesa-gesa untuk meminta bantuan tumpangan kendaraan sampai ke jalan raya utama.Sepanjang jalan ia bersungut-sungut, "Lenora, kamu itu anak nggak tahu diri! Mama kan sudah bilang kamu harus nurut, sekarang kejadian kan! Orang kalau sudah

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 123: Selamatnya Ibunya!

    Bau amis darah segar bercampur tajamnya cairan disinfektan menguar pekat di udara IGD rumah sakit. Dua brankar yang didorong, baru saja melewati pintu ganda darurat dengan kawalan para tenaga medis.Seorang dokter umum yang bertugas malam itu membelalak ngeri saat mengenali sosok pria di brankar pertama. “Ini Dokter Dashel!" serunya. "Cepat panggil tim bedah trauma sekarang juga!"Dashel terbaring dengan napas memburu. Ia mengalami cedera parah akibat benturan di area punggung bawah dan tulang belakang saat membentengi Lenora, meskipun begitu kondisinya masih dapat ditangani dan belum mencapai tahap fatal. Namun, rasa sakit di tubuhnya sama sekali tidak ia hiraukan.“Le-no-ra … No-ra …,” igaunya.Di brankar sebelah, seorang perawat senior berteriak dengan suara bergetar, "Dokter! Tanda vital pasien atas nama Lenora menurun drastis! Tekanan darahnya drop, dan ... pasien sedang hamil!""Panggil dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekarang! Siapkan ruang operasi darurat!" perintah

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 122: Kesalahan Fatal

    Di ruang bedah, Dashel bahkan tidak mampu fokus menjalankan perannya sebagai dokter bedah trauma utama. Usai mengenakan sarung tangannya, bayangan wajah Lenora yang tampak mendung dan pucat pagi tadi terus berkelebat di kepalanya, memicu rasa gelisah yang mencuat di dada.Dashel menatap perawat asistennya. "Panggil Dokter Rian. Minta dia tangani operasi ini, saya bertindak sebagai pengawas."Itu bukan kali pertama hari ini. Sebanyak dua jadwal operasi besar dilewatinya begitu saja tanpa menyentuh pisau bedah. Hingga pukul tiga sore, Dashel memutuskan izin pulang lebih awal. Sebelum jalanan kota berubah menjadi mace, ia harus sudah tiba di lokasi seminar. Lenora pasti menunggunya.Benar saja. Wanita itu baru saja keluar dari auditorium. Alih-alih antusias seperti saat pertama kali mendaftar, Lenora justru lebih banyak menghela napas panjang. Pikirannya kacau hingga ia melewatkan banyak poin penting dari materi seminar.Lenora terdiam, memandangi mahasiswa yang lalu-lalang."Dashel b

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 121: Rasanya Sesak

    "Ini... ini mamaku, Dash." Lenora memperlihatkan nama yang tertera di layar. "Kamu ... jangan berisik, ya."Dashel mendengkus, membiarkan wanita itu mengangkat teleponnya, sementara ia sendiri merebahkan tubuhnya santai di atas kasur.Lenora memilih duduk di kursi plastik kecil dekat meja rias, menjauh sedikit agar suaranya tidak terdengar terlalu jelas."Ya, Ma?" sapa Lenora hati-hati.“Lama banget angkatnya, Nak! Gimana, tawaran Mama yang kemarin sudah kamu pikirkan? Mama bisa jemput kamu untuk urus keberangkatan.”Lenora melirik ke tempat tidur, kelopak mata Dashel nampak menegcil perlahan."Aku nggak setuju, Ma. Aku tetap pada pilihanku, aku mau tinggal di sini," jawabnya, tegas, pandangannya tetap mengawasi Dashel.“Lenora, kamu jangan keras kepala! Kalau nggak mau sesuatu yang buruk menimpamu, ikuti kata Mama! Mama melakukan ini semua karena Mama sayang sama kamu.”Lenora mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alisnya bertaut. "Maksud Mama apa? Sesuatu apa yang bakal menimpaku?" “

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 120: Sama-sama Keras

    Dipandanginya Lenora yang masih terlelap di atas bantal putih, setelah Dashel kembali ke IGD. Kelopaknya tidak mengedip untuk beberapa saat. Masih teringat pada plat nomor yang tidak diketahuinya.Lenora mengerjap perlahan, membuka matanya dari tidur singkat. Netra hitamnya langsung bersirobok dengan manik hazel Dashel yang menatapnya lekat-lekat dari kursi di sisi ranjang—tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan.Lenora mengulurkan tangan, menangkupkan jemarinya di atas punggung tangan Dashel yang bertumpu di tepi brankar."Dash?" Lenora memanggilnya.Dashel merespons, ibu jarinya mengusap lembut buku-buku tangan wanita itu. "Sudah bangun, ya? Ada yang sakit? Perutmu masih terasa kram atau ada keluhan lain?"Lenora menggeleng pelan. "Nggak ada, Dash. Aku udah baikan. Aku mau pulang sekarang."Mendengar kata pulang, rahang Dashel mengeras sesaat. Pria itu menarik napas dalam-dalam, menata kata-kata dengan hati-hati agar tidak memicu stres baru."Pindah ke apartemenku, Lenora," ucap Da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status