เข้าสู่ระบบAshyel sedang mencuci tangannya saat Aslan masuk ke ruangan medis. Wajah pria itu lebih kaku dari biasanya, seolah ada badai yang sedang tertahan di balik mata merahnya.
"Kita tidak akan pergi," ucap Aslan tanpa basa-basi, meletakkan surat undangan itu di meja kayu yang penuh dengan botol obat. Ashyel mengangkat alis, mengeringkan tangannya dengan kain bersih sambil berjalan mendekat ke arah suaminya dengan gaya Cegil yang kembali muncul. "Wah, surat dari Kaisar? Dan kau mau menolaknya? Bukankah itu sama saja dengan mengundang algojo ke depan gerbang istana kita, Sayang?" "Istana Pusat adalah sarang ular, Ashyel. Mereka hanya ingin memverifikasi apakah kau benar-benar menjinakkan aku atau jika kau hanyalah boneka yang siap mereka hancurkan," desis Aslan dingin. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi sasaran empuk di sana." "Atau kau takut aku akan tampil terlalu cantik sampai kaisar pun terpesona?" Ashyel menyeringai, melangkah maju hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh Aslan. "Dengar, Aslan. Aku butuh pesta itu. Aku butuh akses ke perpustakaan pusat untuk mencari tahu tentang akar hitam di tubuhmu. Dan kau butuh aku untuk menunjukkan pada dunia bahwa Duke Krossvane tidak sendirian lagi." Aslan menatap Ashyel tajam. Perang urat saraf terjadi di antara mereka selama beberapa detik. Akhirnya, sang Duke membuang muka dan menghela napas kasar. "Baik. Kita pergi. Tapi jangan pernah jauh dariku lebih dari tiga langkah." Mata Ashyel berbinar. "Setuju!" Tanpa aba-aba, Ashyel berjinjit dan CUP! Sebuah ciuman mendarat dengan manis di pipi kiri Aslan. Hanya sebuah kecupan singkat, namun suaranya terdengar jelas di ruangan yang sepi itu. Aslan mematung. Seluruh tubuhnya menegang seolah baru saja terkena serangan sihir tingkat tinggi. Ia perlahan menyentuh pipinya yang terasa panas, sementara matanya menatap Ashyel dengan tatapan yang sangat dingin dan menusuk. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Itu tidak sopan dan melanggar privasiku," ucap Aslan dengan suara yang lebih rendah dan tajam dari biasanya. Atmosfer di ruangan itu seketika membeku. Ashyel hanya tertawa renyah, sama sekali tidak terintimidasi oleh aura membunuh suaminya. "Ingat, Ashyel," lanjut Aslan, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Ashyel. "Ini hanya kontrak. Aku melindungimu dari hukuman mati, dan kau mengobati lukaku. Jangan terbawa suasana atau berpikir bahwa hubungan ini adalah sesuatu yang nyata. Kau hanya... Duchess di atas kertas." Senyum Ashyel tidak luntur. Ia justru menyilangkan tangan di depan dada, menatap langsung ke mata merah Aslan yang sedang bergejolak. "Begitukah menurutmu? Dingin sekali, Tuan Duke." Ashyel melangkah mendekat, berbisik tepat di depan bibir Aslan yang terkatup rapat. "Kalau begitu, mari kita bertaruh. Dengan segala sikap dinginmu itu... mari kita lihat siapa di antara kita yang akan jatuh cinta duluan." Tanpa menunggu jawaban, Ashyel berbalik dan berjalan pergi dengan langkah ringan, meninggalkan Aslan yang masih terpaku di tengah ruangan, merasakan detak jantungnya yang berkhianat terhadap logika dinginnya sendiri. ----------------------------- Sinar bulan menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi di ruang makan utama Istana Krossvane. Lilin bergoyang karena tiupan angin, Meja panjang dari kayu ek yang bisa menampung tiga puluh orang itu terlihat sangat megah, namun terasa sangat kosong. Hanya ada satu set piring perak yang tertata di ujung meja, tempat Ashyel duduk seorang diri. Ashyel menghela napas panjang, menatap piringnya yang berisi daging panggang dan sup krim. Suara dentingan sendoknya yang beradu dengan piring porselen menggema di ruangan yang sunyi itu, menciptakan suasana yang canggung. "Leo," panggil Ashyel tanpa menoleh. Leo, yang berdiri tegap di dekat pintu sebagai pengawal pribadi, segera melangkah maju dan membungkuk hormat. "Ya, Duchess?" "Apakah meja ini selalu sepi begini?" Ashyel memotong dagingnya dengan gerakan elegan namun bertenaga. "Di mana pria kaku itu? Kenapa dia tidak turun untuk makan malam?" Leo terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan sebelum menjawab. "Mohon maaf, Nona. Sejauh yang saya tahu... Yang Mulia Duke tidak pernah makan di ruang makan ini sejak kematian mendiang orang tuanya. Beliau lebih sering makan di ruang kerjanya sambil memeriksa dokumen, atau bahkan tidak makan sama sekali jika sedang sibuk." Ashyel menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi beludru. "Tidak pernah makan di sini? Selama bertahun-tahun?" "Benar, Nona. Beliau menganggap makan bersama hanya membuang waktu yang bisa digunakan untuk urusan militer," tambah Leo pelan. Labella, di dalam tubuh Ashyel, mendengus kesal. Sebagai dokter, ia tahu betul betapa buruknya kebiasaan itu bagi kesehatan, apalagi untuk seseorang yang tubuhnya sedang berperang melawan parasit hitam. "Pria itu benar-benar butuh pelajaran tentang manajemen hidup," gumam Ashyel. Ia kemudian menatap Leo dengan binar jenaka yang mulai muncul di matanya. "Jadi, dia pikir dia bisa bersembunyi di ruang kerja selamanya dan membiarkan istrinya yang cantik ini makan sendirian seperti hantu?" Leo hanya bisa tersenyum kaku, tidak berani berkomentar lebih jauh. Ashyel tiba-tiba berdiri, membuat kursi kayunya berderit nyaring. Ia menyambar nampan perak berisi makanan yang masih utuh, lalu menambahkannya dengan segelas susu hangat dan beberapa potong buah segar. "Nona? Apa yang Anda lakukan?" tanya Leo bingung melihat Duchess-nya membawa nampan sendiri. "Mendatangi Singa Galak itu, tentu saja," jawab Ashyel sambil mengedipkan mata centil. "Kalau dia tidak mau datang ke meja makan, maka meja makannya yang akan mendatangi dia. Lagipula, aku baru saja mendapat ide bagus untuk taruhan kita tadi siang." Ashyel melangkah keluar dari ruang makan dengan gaya fabulous-nya, mengabaikan tatapan kaget para pelayan yang berpapasan dengannya. Ia berjalan menuju ruang kerja Aslan, sudah menyusun skenario di kepalanya untuk mengacaukan konsentrasi pria sedingin es itu. Ingat, Aslan, batin Ashyel sambil menyeringai puas, kau tidak bisa lari dari jadwal makan malam jika istrimu adalah seorang dokter yang keras kepala. ------------------------------Matahari pagi menyiram ibu kota dengan cahaya yang terlalu terang untuk kota yang baru saja sekarat. Asap tipis masih membubung dari tumpukan puing, berbaur dengan deru kereta kuda militer dan denting sekop para prajurit yang mulai membersihkan jalanan. Kehidupan berdenyut kembali, namun dengan ritme yang pincang.Di bawah tanah, hawa dingin laboratorium Krossvane terasa berbeda. Bukan lagi dingin yang protektif, melainkan dingin yang mati. Langkah kaki Aslan dan Catherine bergema konstan saat mereka menyusuri lorong beton. Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan pintu besi ruang penyimpanan utama.Dua baris rantai baja tebal melilit tuas pintu, dikunci dengan segel lilin merah berlambang burung maritim—simbol otoritas yudisial tertinggi kekaisaran. Empat orang prajurit dengan zirah perak berdiri tegak di depannya, menondongkan tombak secara horizontal."Ruang ini berada di bawah yurisdiksi penuh Dewan Kekaisaran. Siapa pun dilarang masuk,"
Bau mint dan belerang perlahan terbawa angin sore, digantikan oleh aroma tanah basah dan debu beton yang memenuhi udara. Di sepanjang jalan utama ibu kota, jutaan serpihan kristal dimensi yang sebelumnya memenuhi langit kini jatuh perlahan, berkilauan ketika terkena cahaya matahari yang mulai menembus awan. Pemandangan itu terlihat indah. Namun semua orang tahu, keindahan tersebut lahir dari sesuatu yang hampir membawa mereka menuju kematian. Pintu-pintu bunker bawah tanah dan tempat perlindungan sihir mulai terbuka dengan suara derit yang berat. Satu per satu, warga keluar dengan langkah ragu. Beberapa masih gemetar. Sebagian lainnya bahkan belum berani percaya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Kemudian terdengar tangisan. Seorang ibu berlari memeluk anaknya yang ditemukan di dekat barikade. Beberapa prajurit saling merangkul dengan pelindung dada yang retak. Ada pula warga yang langsung berlutut di jalan, mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Ta
Suhu di dalam laboratorium bawah tanah Krossvane terasa pengap, kontras dengan hawa sedingin es yang melanda permukaan ibu kota. Getaran akibat pusaran dimensi di atas membuat dinding-dinding beton berlapis timbal di ruang riset itu retak, menjatuhkan debu-debu putih ke atas meja laboratorium. "Duke Aslan, tahan pipa hidrolik utama ini! Jangan biarkan tekanannya turun!" teriak Catherine di antara kebisingan mesin. Gadis itu tidak lagi menangis. Rambut pirangnya diikat asal-asalan ke belakang, wajahnya coreng-moreng oleh oli hitam dan keringat. Jemarinya bergerak dengan kecepatan gila, menyatukan sirkuit-sirkuit perak kompresor cadangan Krossvane generasi terbaru yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang digunakan Ashyel di Oakhaven. Aslan berdiri di sisi mesin, kedua tangan kekarnya mencengkeram pipa besi raksasa yang bergetar hebat. Mengabaikan sirkuit mananya yang menjerit kesakitan karena dipaksa menjadi penahan beban mekanis, sang Duke mengalirkan mana kegelapannya untuk m
Suhu di dalam Aula Dewan Tetua yang telah hancur total tidak lagi sekadar dingin, melainkan telah menyentuh titik beku yang mematikan. Udara bergetar hebat dalam frekuensi yang menyakitkan telinga. Sisa-sisa pilar marmer dan atap bangunan yang hancur akibat ledakan gelombang kejut dimensi kini melayang-layang di udara, seolah-olah hukum gravitasi di tempat itu telah mati bersama hilangnya raga Viscount Ashyel. Duke Aslan masih berlutut di tempatnya. Kedua telapak tangannya menempel pada lantai marmer yang retak, namun tangannya kini kosong. Tidak ada lagi tubuh hangat sang alkemis yang bisa ia dekap dalam pelukannya. Hanya ada sisa-sisa partikel uap tipis berwarna biru keperakan yang beraroma mint dan belerang. Partikel itu perlahan menguap, menyelinap di antara jemarinya yang bergetar hebat, sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke dalam hampa. "Ashyel..." Suara Aslan terdengar sangat pelan, hampir berupa bisikan lirih yang langsung tertelan oleh gemuruh mengerikan dari pusaran di
Rantai bayangan hitam pekat milik Duke Aslan menyeret tubuh Marquess Volkan yang sudah tak berdaya, melewati gerbang emas Istana Dalam yang biasanya dijaga ketat. Logam mulia pada gerbang itu kini penyok, menjadi saksi bisu sapuan badai mekanis yang tak terbendung. Di belakang mereka, ratusan pengawal internal Krossvane yang dipimpin langsung oleh Arthur dan Catherine berkuda dengan formasi barisan yang rapat. Senjata-senjata mekanis bersistem uap pneumatik di tangan mereka terkancing kokoh dalam posisi terkokang, siap memuntahkan peluru korosif kapan saja.Penampilan mereka yang dingin, berlumur debu perbatasan, dan sepenuhnya tanpa kompromi seketika melumpuhkan mental serta keberanian para ksatria penjaga istana yang tersisa. Tidak ada yang berani mengangkat senjata; mereka semua mundur ke dinding dengan napas tertahan.Sementara itu, di dalam Aula Dewan Tetua, suasananya sangat gaduh bagai pasar malam. Puluhan bangsawan tinggi dari Faksi Volkan, Faksi Netral, hingga perwakilan wil
Hening mencekam seketika mengunci pelataran kompleks laboratorium Krossvane. Ratusan ksatria dari Ordo Pengawal Kekaisaran terpaku di tempat, tangan mereka yang memegang gagang pedang mendadak basah oleh keringat dingin. Aura mana kegelapan milik Duke Aslan tidak hanya menurunkan suhu udara, tetapi juga menekan sirkuit mana di dalam tubuh mereka, membuat aliran energi mereka tersendat bagai air yang membeku.Marquess Volkan mengeratkan cengkeramannya pada jubah bulunya. Ego dan ambisi politiknya yang telanjur membubung tinggi menolak untuk runtuh begitu saja di hadapan dua pemuda ini."Ashyel! Aslan!" Volkan berteriak, mencoba mengusir getaran ketakutan dari suaranya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa melawan seluruh Ordo Pengawal Kekaisaran? Komandan! Jangan gentar! Mereka hanya berdua! Eksekusi perintah penyitaan sekarang juga!"Komandan berbaju zirah emas, yang dikenal sebagai Sir Galahad sang Pemecah Tembok, menggeram. Ia menarik pedang besarnya yang dialiri mana atribut tanah ber
Suara roda kereta kuda yang menggilas jalanan berbatu menuju kediaman Liora terdengar seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Langit sore yang berwarna jingga kemerahan menambah kesan dramatis pada bangunan megah bergaya Gothic tersebut. Biasanya, kediaman ini penuh dengan ta
Suasana di dalam tenda utama mendadak mencekam, hanya menyisakan suara deru napas berat sang Duke dan dentingan alat medis darurat yang dibawa Ashyel. Bau anyir darah yang tadinya menusuk, kini perlahan tertutup oleh aroma peony yang tenang dari tubuh gadis di depannya. Aslan mencengkeram pingg
Setelah keributan di depan cermin mereda, Ashyel-yang jiwanya kini telah ditempati Labella-melangkah keluar dari kamar. Ia harus segera menyusun rencana sebelum algojo datang mengetuk pintu. Di ruang tamu utama, ia disambut oleh suasana yang lebih mirip rumah duka. Viscount Bastian van de Liora
Jakarta, 02:15 WIB. Dua puluh empat jam. Labella Anastasia Laksani baru saja menyelesaikan operasi maraton tanpa jeda. Sebagai ahli bedah toraks terbaik, ia adalah mesin di ruang operasi, tapi mesin pun punya batas. Langkahnya gontai saat keluar dari lobi rumah sakit. Pandangannya kabur, kepala







