Share

BAB 01| Duke Aslan!

last update publish date: 2026-04-28 20:40:35

Setelah keributan di depan cermin mereda, Ashyel-yang jiwanya kini telah ditempati Labella-melangkah keluar dari kamar. Ia harus segera menyusun rencana sebelum algojo datang mengetuk pintu.

Di ruang tamu utama, ia disambut oleh suasana yang lebih mirip rumah duka. Viscount Bastian van de Liora dan istrinya, Lady Elena, duduk dengan bahu merosot. Namun, saat Ashyel melihat mereka, ia sempat terpaku di anak tangga.

Gila... genetik keluarga ini benar-benar tidak masuk akal, batin Labella kagum.

Bastian, ayahnya, adalah pria paruh baya yang masih terlihat gagah dengan garis rahang tegas dan rambut perak yang tertata rapi. Sementara ibunya, Elena, memiliki kecantikan klasik yang abadi dengan mata biru yang jernih. Mereka terlihat persis seperti versi muda orang tua Labella di dunia nyata, namun dalam balutan busana aristokrat yang mewah.

"Ashyel? Nak, syukurlah kau sudah sadar," suara Bastian bergetar, ia langsung berdiri menghampiri putrinya.

"Ayah, Ibu," Ashyel tersenyum manis, sebuah senyum yang membuat kedua orang tuanya terperangah karena biasanya Ashyel hanya akan menangis gemetar. "Kalian terlihat sangat tampan dan cantik hari ini. Sayang sekali kalau wajah-wajah rupawan ini harus berakhir di tiang gantungan hanya karena ulah bodoh Beatrix."

"Ashyel, apa yang kau bicarakan?" Elena menyentuh kening putrinya. "Apa pingsanmu tadi membuat pikiranmu terganggu? Kita sedang dalam bahaya besar!"

"Justru karena aku sadar, Ibu," Ashyel memegang tangan ibunya, memberikan remasan menenangkan yang mantap. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh sehelai rambut pun dari keluarga Liora. Aku punya rencana. Pinjamkan aku kereta tercepat dan satu ksatria pengawal. Aku akan mendatangi Duke Aslan."

Bastian membelalak. "Mendatangi si Monster itu? Itu bunuh diri, Ashyel!"

"Percayalah pada putrimu sekali saja, Ayah," Ashyel mengedipkan mata, aura otoritas dokter bedahnya keluar. "Aku akan kembali membawa kabar baik, atau aku tidak akan kembali sama sekali."

------------------------------

Lumpur, bau besi berkarat, dan uap keringat adalah sambutan pertama saat kereta kuda Ashyel berhenti di depan gerbang barak. Tempat ini adalah neraka bagi para bangsawan, tapi bagi Labella, ini hanya terasa seperti bangsal darurat di rumah sakit pusat.

Ashyel turun dari kereta, menyingsingkan gaun sutra biru pucatnya sedikit agar tidak terkena kubangan air. Aroma peony yang melekat di tubuhnya langsung bertabrakan dengan bau amis darah yang menyengat di udara.

"Berhenti! Warga sipil dilarang masuk ke tenda Panglima!" seorang prajurit muda menghadang dengan tombak silang. Wajahnya garang, tapi matanya tidak bisa berbohong saat menatap kecantikan Ashyel yang menyilaukan.

Ashyel tidak berhenti. Ia justru melangkah maju hingga ujung tombak itu hampir menyentuh dadanya. Ia mencondongkan tubuh, mengedipkan mata dengan centil yang membuat prajurit itu tersedak ludahnya sendiri.

"Aduh, Ganteng... tombaknya disingkirkan dulu, ya? Nanti kalau gaun mahalku robek, kau tidak akan kuat membayarnya," bisik Ashyel manja, namun jemarinya dengan dingin menggeser mata tombak itu ke samping. "Aku ke sini mau menyelamatkan nyawa tuanmu, bukan mau jualan kosmetik. Minggir, ya?"

Tanpa menunggu izin, Ashyel menyelinap masuk ke dalam tenda utama.

Srett!

"Siapa-"

Belum sempat Ashyel menghirup udara di dalam tenda, sebilah pedang dingin sudah menekan leher mulusnya.

Di depannya, berdiri seorang pria tanpa atasan. Tubuhnya adalah mahakarya yang membuat Labella nyaris lupa cara bernapas. Otot perut yang keras seperti pahatan batu, bahu lebar yang penuh luka gores artistik, dan rambut hitam legam yang basah oleh keringat.

Itulah Duke Aslan Krossvane. Sang Monster Utara.

Matanya yang merah kelam menatap Ashyel dengan haus darah. "Ashyel van de Liora? Berani sekali kau menginjakkan kaki di sini setelah adikmu mencoba meracuniku?"

Labella, di dalam tubuh Ashyel, menelan ludah. Tapi bukan karena takut.

Gila, ini mah bukan monster. Ini mah model majalah pria dewasa yang tersesat di medan perang! Roti sobeknya asli dan berkualitas premium! batinnya nakal.

"Wah, Yang Mulia..." Ashyel justru tersenyum manis, jari telunjuknya yang lentik menyentuh bilah pedang di lehernya dan menggesernya pelan dengan keberanian yang tidak masuk akal.

"Aku tahu aku cantik, tapi tidak perlu menyambutku dengan pedang setajam ini, kan? Bisa lecet kulit mulusku."

"Kau bosan hidup?" Aslan menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Ashyel yang ia tahu adalah gadis pendiam yang bahkan takut melihat bayangannya sendiri. Kenapa wanita di depannya ini malah menatap dadanya dengan tatapan... lapar?

"Aku ke sini justru karena ingin hidup panjang bersama Anda," Ashyel melangkah maju satu langkah lagi, membuat napas mereka bersentuhan. Ia menunjuk ke arah luka menganga di pinggang kiri Aslan yang hanya ditutup kain kotor yang sudah menghitam.

"Luka itu... kalau dibiarkan tiga jam lagi, Anda akan demam tinggi, kejang, lalu mati karena sepsis. Tabib Anda payah, mereka hanya memberi ramuan rumput yang malah mempercepat pembusukan, kan?"

Aslan tertegun. "Bagaimana kau tahu?"

"Anggap saja aku punya 'mata ketiga' untuk urusan nyawa," Ashyel menyeringai, lalu dengan gerakan cepat ia membuka tas kulit yang dibawanya dari rumah. Isinya bukan bedak atau parfum, melainkan pisau bedah kecil, botol alkohol dosis tinggi, dan benang sutra steril.

"Apa yang mau kau lakukan?!" bentak Aslan saat Ashyel tiba-tiba mencoba menyentuh pinggangnya.

"Duduk dan diamlah, Singa Kecil," Ashyel memberikan tekanan tak terduga di pundak Aslan, memaksanya duduk di kursi kayu.

"Aku akan menjahit lubang di perutmu ini sebelum ususmu memutuskan untuk keluar menyapa dunia. Dan tenang saja, sebagai bonus, aku akan melakukannya sambil terlihat sangat cantik di matamu."

Aslan terpaku. Ada aura otoritas yang sangat kuat, sangat dingin, namun sekaligus memikat dari cara Ashyel memegang pisaunya. Pria itu tidak berkutik saat tangan halus Ashyel mulai bekerja.

"Jika kau macam-macam, aku akan mematahkan lehermu," ancam Aslan pelan, suaranya parau.

"Simpan tenagamu untuk malam pertama kita nanti, Yang Mulia," sahut Ashyel santai. Ia menyiramkan alkohol ke luka terbuka itu tanpa peringatan. "Sekarang, gigit kain ini. Ini bakal terasa sedikit... hot."

Saat Aslan mengerang tertahan, menahan rasa perih yang seperti membakar dagingnya, Ashyel berbisik tepat di telinganya dengan nada menggoda yang mematikan.

"Tahan ya, Sayang. Habis ini, kau bukan hanya berhutang nyawa padaku, tapi kau juga akan memberikan status Duchess itu padaku secara sukarela."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 129:Nama yang Tidak Boleh Disebut

    Matahari pagi menyiram ibu kota dengan cahaya yang terlalu terang untuk kota yang baru saja sekarat. Asap tipis masih membubung dari tumpukan puing, berbaur dengan deru kereta kuda militer dan denting sekop para prajurit yang mulai membersihkan jalanan. Kehidupan berdenyut kembali, namun dengan ritme yang pincang.Di bawah tanah, hawa dingin laboratorium Krossvane terasa berbeda. Bukan lagi dingin yang protektif, melainkan dingin yang mati. Langkah kaki Aslan dan Catherine bergema konstan saat mereka menyusuri lorong beton. Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan pintu besi ruang penyimpanan utama.Dua baris rantai baja tebal melilit tuas pintu, dikunci dengan segel lilin merah berlambang burung maritim—simbol otoritas yudisial tertinggi kekaisaran. Empat orang prajurit dengan zirah perak berdiri tegak di depannya, menondongkan tombak secara horizontal."Ruang ini berada di bawah yurisdiksi penuh Dewan Kekaisaran. Siapa pun dilarang masuk,"

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 128 :Kemenangan yang Terasa Seperti Kehilangan

    Bau mint dan belerang perlahan terbawa angin sore, digantikan oleh aroma tanah basah dan debu beton yang memenuhi udara. Di sepanjang jalan utama ibu kota, jutaan serpihan kristal dimensi yang sebelumnya memenuhi langit kini jatuh perlahan, berkilauan ketika terkena cahaya matahari yang mulai menembus awan. Pemandangan itu terlihat indah. Namun semua orang tahu, keindahan tersebut lahir dari sesuatu yang hampir membawa mereka menuju kematian. Pintu-pintu bunker bawah tanah dan tempat perlindungan sihir mulai terbuka dengan suara derit yang berat. Satu per satu, warga keluar dengan langkah ragu. Beberapa masih gemetar. Sebagian lainnya bahkan belum berani percaya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Kemudian terdengar tangisan. Seorang ibu berlari memeluk anaknya yang ditemukan di dekat barikade. Beberapa prajurit saling merangkul dengan pelindung dada yang retak. Ada pula warga yang langsung berlutut di jalan, mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Ta

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   Bab 127: Tembakan Epik Krossvane-04

    Suhu di dalam laboratorium bawah tanah Krossvane terasa pengap, kontras dengan hawa sedingin es yang melanda permukaan ibu kota. Getaran akibat pusaran dimensi di atas membuat dinding-dinding beton berlapis timbal di ruang riset itu retak, menjatuhkan debu-debu putih ke atas meja laboratorium. "Duke Aslan, tahan pipa hidrolik utama ini! Jangan biarkan tekanannya turun!" teriak Catherine di antara kebisingan mesin. Gadis itu tidak lagi menangis. Rambut pirangnya diikat asal-asalan ke belakang, wajahnya coreng-moreng oleh oli hitam dan keringat. Jemarinya bergerak dengan kecepatan gila, menyatukan sirkuit-sirkuit perak kompresor cadangan Krossvane generasi terbaru yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang digunakan Ashyel di Oakhaven. Aslan berdiri di sisi mesin, kedua tangan kekarnya mencengkeram pipa besi raksasa yang bergetar hebat. Mengabaikan sirkuit mananya yang menjerit kesakitan karena dipaksa menjadi penahan beban mekanis, sang Duke mengalirkan mana kegelapannya untuk m

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   Bab 126: Amukan sang Penguasa Kegelapan

    Suhu di dalam Aula Dewan Tetua yang telah hancur total tidak lagi sekadar dingin, melainkan telah menyentuh titik beku yang mematikan. Udara bergetar hebat dalam frekuensi yang menyakitkan telinga. Sisa-sisa pilar marmer dan atap bangunan yang hancur akibat ledakan gelombang kejut dimensi kini melayang-layang di udara, seolah-olah hukum gravitasi di tempat itu telah mati bersama hilangnya raga Viscount Ashyel. Duke Aslan masih berlutut di tempatnya. Kedua telapak tangannya menempel pada lantai marmer yang retak, namun tangannya kini kosong. Tidak ada lagi tubuh hangat sang alkemis yang bisa ia dekap dalam pelukannya. Hanya ada sisa-sisa partikel uap tipis berwarna biru keperakan yang beraroma mint dan belerang. Partikel itu perlahan menguap, menyelinap di antara jemarinya yang bergetar hebat, sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke dalam hampa. "Ashyel..." Suara Aslan terdengar sangat pelan, hampir berupa bisikan lirih yang langsung tertelan oleh gemuruh mengerikan dari pusaran di

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   Bab 124: Penundukan Dewan Tetua

    Rantai bayangan hitam pekat milik Duke Aslan menyeret tubuh Marquess Volkan yang sudah tak berdaya, melewati gerbang emas Istana Dalam yang biasanya dijaga ketat. Logam mulia pada gerbang itu kini penyok, menjadi saksi bisu sapuan badai mekanis yang tak terbendung. Di belakang mereka, ratusan pengawal internal Krossvane yang dipimpin langsung oleh Arthur dan Catherine berkuda dengan formasi barisan yang rapat. Senjata-senjata mekanis bersistem uap pneumatik di tangan mereka terkancing kokoh dalam posisi terkokang, siap memuntahkan peluru korosif kapan saja.Penampilan mereka yang dingin, berlumur debu perbatasan, dan sepenuhnya tanpa kompromi seketika melumpuhkan mental serta keberanian para ksatria penjaga istana yang tersisa. Tidak ada yang berani mengangkat senjata; mereka semua mundur ke dinding dengan napas tertahan.Sementara itu, di dalam Aula Dewan Tetua, suasananya sangat gaduh bagai pasar malam. Puluhan bangsawan tinggi dari Faksi Volkan, Faksi Netral, hingga perwakilan wil

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   Bab 122: Badai Logam dan Kabut Beracun

    Hening mencekam seketika mengunci pelataran kompleks laboratorium Krossvane. Ratusan ksatria dari Ordo Pengawal Kekaisaran terpaku di tempat, tangan mereka yang memegang gagang pedang mendadak basah oleh keringat dingin. Aura mana kegelapan milik Duke Aslan tidak hanya menurunkan suhu udara, tetapi juga menekan sirkuit mana di dalam tubuh mereka, membuat aliran energi mereka tersendat bagai air yang membeku.Marquess Volkan mengeratkan cengkeramannya pada jubah bulunya. Ego dan ambisi politiknya yang telanjur membubung tinggi menolak untuk runtuh begitu saja di hadapan dua pemuda ini."Ashyel! Aslan!" Volkan berteriak, mencoba mengusir getaran ketakutan dari suaranya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa melawan seluruh Ordo Pengawal Kekaisaran? Komandan! Jangan gentar! Mereka hanya berdua! Eksekusi perintah penyitaan sekarang juga!"Komandan berbaju zirah emas, yang dikenal sebagai Sir Galahad sang Pemecah Tembok, menggeram. Ia menarik pedang besarnya yang dialiri mana atribut tanah ber

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 05| Ke Pusat Kota.

    Keheningan Istana Krossvane di jam lima pagi terasa sangat menekan, seperti beratnya beban yang dipikul oleh pemiliknya. Labella, yang kini mendiami tubuh Ashyel, terbangun dengan peluh dingin yang membanjiri lehernya. Mimpi tentang cairan hitam itu terasa terlalu nyata untuk dianggap sekadar

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 04| Perpisahan.

    Pagi itu, langit di atas kediaman Liora tampak abu-abu, seolah turut merasakan beratnya perpisahan. Di depan gerbang utama, sebuah kereta kuda hitam mewah dengan ukiran singa perak khas keluarga Krossvane telah menunggu. Di sampingnya, berdiri seorang ksatria tegap dengan zirah yang berkilau tert

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 03| Kepulangan.

    Suara roda kereta kuda yang menggilas jalanan berbatu menuju kediaman Liora terdengar seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Langit sore yang berwarna jingga kemerahan menambah kesan dramatis pada bangunan megah bergaya Gothic tersebut. Biasanya, kediaman ini penuh dengan ta

  • Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!   BAB 02| Jahitan

    Suasana di dalam tenda utama mendadak mencekam, hanya menyisakan suara deru napas berat sang Duke dan dentingan alat medis darurat yang dibawa Ashyel. Bau anyir darah yang tadinya menusuk, kini perlahan tertutup oleh aroma peony yang tenang dari tubuh gadis di depannya. Aslan mencengkeram pingg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status