Se connecterAlicia merasakan napasnya tersendat.
Detak jantungnya makin tidak stabil. Ia tahu betul, nada bicara seperti ini tidak pernah membawa kabar baik. Charlotte melirik sekilas ke arah Alicia, ekspresi seolah cemas, tetapi sudut bibirnya yang tertahan mengisyaratkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Jerry duduk kaku di sampingnya, seperti ingin menjauh dari situasi itu. Namun tatapannya beberapa kali mencuri pandang ke arah Alicia, penuh rasa yang sulit diartikan. Tonny mencondongkan tubuh, menatap putrinya dalam-dalam. “Pertunangan Charlotte dan Jerry… telah dibatalkan.” Alicia mengangkat kepalanya cepat, dada yang tadinya terasa sesak, hilang seketika. Kabar ini terasa sangat membuat ia bahagia. Ia menatap Charlotte, lalu Jerry, keduanya menghindari tatapannya. Tiba-tiba saja ia menyadari bahwa kedua orang itu tidak terlihat seperti orang yang akan berpisah. Bahkan Charlotte tampak ketakutan sambil menggenggam tangan Jerry Sofia menambahkan dengan nada ceria. “Dan keluarga Jerry sudah membuat keputusan baru.” Alicia menelan ludah. “K-keputusan… apa…?” Namun suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar. Charlotte memejamkan mata, pura-pura menahan sedih. Tonny melanjutkan dengan lancar, seolah tidak sedang menghancurkan hati siapa pun. “Jerry akan menikahi Charlotte bulan depan. Semua persiapan sudah berjalan. Meskipun terburu-buru, keluarga Jerry menginginkan pesta besar. Resepsi akan digelar di Hilton Hotel.” Tonny berkata dengan bangga. Hilton hotel, merupakan hotel termewah di kota mereka. Nada suara Tonny benar-benar ringan, seakan hal ini tidak melukai siapa pun. Terutama putri kandungnya sendiri. Alicia membeku. Seakan jantungnya berhenti berdetak. Suara itu menusuknya seperti pisau dingin. Namun Tonny belum selesai. “Kita bukan membahas itu hari ini.” Ia meluruskan punggung, kini lebih tegas. “Kita akan membahas kamu, Alicia.” Alicia menggenggam jari-jarinya yang gemetar, tapi raut wajahnya tetap datar dan tenang. Tidak ada air mata. Tidak ada bantahan. Jerry memandangnya, jelas kebingungan dan gelisah. Ia bahkan berulang kali menarik tangannya dari genggaman Charlotte, seolah menjaga agar Alicia tidak salah paham. “Kamu sudah dewasa,” lanjut Tonny. “Dan kamu akan kami nikahkan.” Ruangan tiba-tiba terasa sempit, menyesakkan. Suara Sofia yang menusuk, ekspresi Charlotte yang pura-pura cemas, dan napas Alicia sendiri terdengar semakin keras di telinganya. “Nikahkan… dengan siapa…?” Pertanyaan itu hanya bergema dalam hatinya. Bibirnya bahkan tidak bergerak. Tonny tidak memberi ruang bernapas. “Dengan seorang pria terhormat. Seorang duda. Usianya empat puluh lima tahun. Ia memiliki proyek besar dengan perusahaan kita.” Alicia merasa tanah di bawah kakinya ambruk. Charlotte menutup mulut, berpura-pura kaget. Jerry menunduk, tidak berani melihat Alicia. Sofia bersuara dengan lembut, lembut versi dirinya, yang justru paling tajam. “Kami melakukan ini demi masa depan keluarga. Kamu harus berterima kasih.” Alicia tetap diam. Tetap tenang. Tidak ada raut terkejut, tidak ada pertanyaan. Sofia melanjutkan dengan mata berbinar, seakan sedang menawarkan surga, bukan neraka. “Jika kamu menikah dengan pria itu, hidupmu akan bahagia. Kamu akan punya uang yang banyak, hidup mu akan terjamin. Dan yang paling penting, proyek triliunan itu akan menjadi milik keluarga kita.” Alicia hanya menatap kosong. Baru bangun tidur, belum makan, diberi barang bekas… dimarahi… dan sekarang—dijual demi proyek. Ia mengembuskan napas pelan. “Apa hanya ini yang ingin diberitahu?” Sofia terdiam. Untuk sesaat ia tampak ragu. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata Alicia… Tatapan itu membuatnya menundukkan kepala cepat-cepat. Tonny menjawab singkat, “Ya, ini saja.” Charlotte menggenggam erat tangan Jerry sambil menatap Alicia dengan kelembutan palsu. “Kak Alicia… aku harap Kakak tidak terkejut. Dan aku sangat ingin Kakak hadir di pernikahanku nanti.” Ia menghela napas panjang, suara dibuat lirih dan lemah. “Maaf, Kak… aku tahu Jerry adalah kekasih Kakak. Tapi Kakak tahu kondisiku. Tubuhku lemah. Karena itu Papi dan Mami memutuskan Kakak yang menikah dengan Tuan Thomas.” Alicia tidak menjawab. Tidak bertanya. Tidak menolak. Ia hanya berdiri perlahan. “Aku sudah mendengar semuanya. Dan aku paham.” Itu satu-satunya kalimat yang keluar dari bibirnya. Setelah itu ia pergi, langkahnya tenang… sangat tenang. Jerry membeku. Matanya mengikuti punggung Alicia yang menjauh, dengan perasaan bercampur aduk yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Bagaimana bisa Alicia tidak menangis? Bagaimana bisa ia semudah itu menerima semuanya? Apakah selama dua tahun ini… Alicia tidak pernah mencintainya? Tiba-tiba Jerry merasakan sakit dan sesak di dadanya. Tonny memperhatikan putrinya pergi tanpa satu pun protes. Ia tidak menyangka reaksi Alicia akan seperti ini. Ia justru merasa semakin bingung. “Mami… aku tidak menyangka kakak tidak menolak perjodohan itu.” Charlotte berkata dengan wajah berseri, bahagia tanpa bisa disembunyikan. Sofia tersenyum lebar dan memeluk putri angkatnya. Anak yang menurutnya paling berharga. ---“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







