MasukAlicia mengurungkan niatnya untuk makan. Padahal sejak tadi, perutnya sudah terasa perih karena kosong. Namun setelah mendengar ucapan kedua orang tuanya… rasa lapar itu hilang begitu saja, lenyap seperti tidak pernah ada.
Tanpa berkata apa pun, Alicia berjalan menuju kamarnya. Dari luar, mungkin ia tampak tenang, seolah tidak terpengaruh sedikit pun. Namun siapa yang tahu… seperti apa hati seorang anak yang baru saja dicabik oleh orang tuanya sendiri? Orang yang seharusnya melindunginya… justru orang pertama yang menancapkan luka. Luka yang jumlahnya sudah tak terhitung. Perlahan Alicia duduk di tepi ranjang. Tubuhnya tidak bergerak, seolah semua tenaga telah hilang. Tatapannya kosong mengarah pada paper bag di lantai—benda yang tadi menjadi sumber masalah, hinaan, dan kemarahan. Beberapa menit berlalu dalam kesunyian yang mencekik. Kemudian terdengar ketukan lembut di pintu. Bibi Rika masuk sambil membawa sebuah nampan. Wanita paruh baya itu… satu-satunya yang benar-benar peduli padanya. “Nona, bibi bawakan susu dan makanan lezat,” ucapnya pelan agar tidak mengejutkan. Alicia menoleh. Untuk pertama kalinya sejak kejadian di ruang tamu, senyum kecil terbit di bibirnya. Dari nampan itu, tercium aroma gurami bakar—hangat, harum, dan sangat menggugah selera. Menu favoritnya. Dan ikannya… besar sekali. “Apa ini… bibi masak khusus untukku?” gumam Alicia, matanya berbinar tak percaya. Bibi Rika tersenyum dan mengangguk. “Bibi tahu nona belum makan dari pagi. Jadi bibi masakkan yang paling nona suka.” Wanita itu berusaha menghiburnya. Setidaknya, dengan makanan lezat ini, Alicia bisa sedikit melupakan mimpi buruk yang baru saja ia jalani. Alicia merasakan sedikit kehangatan merambat di dadanya. Nyeri yang tadi menghimpit perlahan mereda. Perutnya yang semula mati rasa kembali bergemuruh melihat makanan yang dibuat khusus untuknya. Semua ucapan pedas, semua perlakuan menyakitkan… seolah berhenti menusuk ketika ia melihat perhatian tulus dari satu-satunya orang yang memihaknya. Ia mulai makan perlahan, lalu semakin lahap. Hingga akhirnya hanya tersisa tulangnya saja. “Habiskan ya, nona,” kata Bibi Rika lembut. Alicia mengangguk. Bahkan ia sempat menawarkan, “Bi… mau makan sedikit?” Namun Bibi Rika menggeleng sambil tersenyum hangat. “Tidak usah. Ini memang bibi masak untuk nona. Bibi sudah makan.” Alicia meletakkan sendoknya. Perutnya terasa hangat—bukan hanya karena makanan, tetapi karena perhatian tulus yang begitu langka ia dapatkan. “Enak sekali, Bi…” ucap Alicia dengan suara serak. Bibi Rika tersenyum kecil. Ia mengambil piring kosong itu lalu meletakkannya di meja kecil di sudut kamar. “Yang penting nona makan. Perut kosong tidak baik,” katanya sambil menyeka sedikit saus di sudut bibir Alicia. Alicia menunduk. “Terima kasih, Bi. Hanya bibi saja yang selalu—” Kalimatnya terhenti, tersangkut di tenggorokan. Bibi Rika tahu apa yang ingin ia ucapkan. Ia duduk di tepi ranjang, memegang tangan Alicia erat sambil berbisik lembut, “Nona… jangan simpan semuanya sendirian.” Alicia menatapnya. Mata yang tadi hanya berkaca-kaca akhirnya pecah. Air mata turun satu per satu, tanpa bisa ia tahan lagi. Bibi Rika mengusap pipinya perlahan. “Aku tidak apa-apa, Bi… sungguh tidak apa-apa,” Alicia berusaha tersenyum. Namun senyum itu rapuh—seperti kaca yang retak jika disentuh sedikit saja. Bibi Rika menggeleng. “Nona boleh berbohong pada dunia… tapi jangan bohong pada diri sendiri.” Alicia mengusap air matanya. Suaranya lirih saat berkata, “Bi… aku boleh peluk bibi sambil nangis?” Bibi Rika tersenyum dan mengangguk. “Tapi… aku kunci pintu dulu ya, Bi.” Alicia berlari kecil ke pintu, menguncinya rapat, lalu kembali ke ranjang. Ia memejamkan mata ketika pelukan hangat Bibi Rika menyambutnya. Dadanya terasa sesak, penuh luka yang coba ia tahan. “Aku hanya ingin… mereka mengerti,” bisik Alicia. “Hanya itu.” Bibi Rika memeluknya lebih erat. “Suatu hari… semua akan berubah, nona. Percayalah.” Alicia tahu kata-kata itu hanya penghiburan. Tapi untuk hari ini, ia ingin mempercayainya. Untuk hari ini… ia tidak ingin sendirian. Beberapa menit kemudian, Bibi Rika melepaskan pelukan dan merapikan rambutnya. “Bibi turun dulu ya. Kalau nona butuh sesuatu, panggil saja.” Alicia memegang tangannya. “Bibi… temani aku sebentar lagi.” “Iya, nona. Bibi di sini.” “Bi…” Alicia menatapnya. “Anugerah terindah dalam hidup aku cuma satu.” "Apa itu nona?" Tanya Bibi Rika dengan suara bergetar. Wanita tua itu berusaha tidak menangis, agar Alicia tidak semakin sedih. Namun ternyata menahan air mata, sangatlah sulit. Bahkan suara Isak tangisnya terdengar jelas. "Aku bahagia karena tuhan mempertemukan aku dengan bibi. Aku tidak ingin terlahir di keluarga kaya raya seperti ini. Aku tidak menginginkan orang tua seperti mereka. Jika bisa memilih, aku ingin terlahir dari rahim Bibi Rika," katanya sambil tertawa kecil. Bibi Rika dapat merasakan ucapan Alicia tidak sekedar candaan. Kata-kata ini murni keluar dari lubuk hatinya. ---“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







