Mag-log inSebelum Sofia sempat berkata apa pun, Charlotte membuka suara pelan.
“Kakak…” Ia melangkah maju, nada suaranya lembut seperti biasa. “Itu memang barang aku, tapi aku belum sempat pakai… kakak bisa lihat sendiri masih ada lebel harganya.” Sofia menoleh cepat, alisnya terangkat. Nada Charlotte terdengar tenang, tidak menuduh, justru seperti membela. “Aku kira cocok buat Kak Alicia,” lanjut Charlotte. “Sepatunya juga… sebenarnya kurang pas sama aku. Modelnya terlalu norak dan ramai. Tapi sayang kalau dibuang. Jadi aku… aku pikir kakak pasti senang, suka dan memakainya.” Charlotte menunduk kecil, sangat meyakinkan. Dan seketika ruangan itu terdiam. Alicia merasakan dadanya menegang. Jadi dugaannya benar… itu memang barang Charlotte. Sofia menghela napas panjang, bukan lega, tapi seperti menahan kejengkelan. “Alicia,” katanya tajam, “kamu itu harusnya bersyukur. Barang ini mahal. Berkualitas. Tidak semua orang bisa dapat begitu saja.” Alicia menggigit bibirnya. Ia tidak bermaksud menolak atau menyinggung siapa pun. Namun ia juga tidak bisa berbohong. Dengan suara pelan dan tenang, ia berkata, “Mi… aku tidak bisa memakainya. Ukurannya terlalu besar. Sepatunya juga… tumitnya terlalu tinggi. Kaki aku bisa patah kalau memakainya.” Charlotte langsung menatap Alicia dengan ekspresi syok. Namun tepatnya pura-pura syok. Sofia membalik badan cepat, wajahnya memerah karena tersinggung. “Selama ini kamu selalu memakai barang bekas Charlotte,” bentaknya. “SELALAMA ini kamu bisa! Tiba-tiba sekarang kamu alasan tidak bisa?!” Alicia mengerutkan bibir, menunduk. Kata-kata itu seperti belati. Kata-kata dari ibu kandungnya sendiri. Namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja. Kemudian ia mengangkat kepala dan tersenyum. Tonny ikut membuka suara, keras, dingin. “Alicia, Mami kamu itu benar. Kamu itu harus tahu diri.” Ia menyilangkan tangan. “Barang yang kamu pakai dulu, semuanya bekas Charlotte. Dan tidak pernah masalah. Sekarang kenapa kamu jadi pilih-pilih?” Alicia mengepal jemari. Ada rasa panas di mata, tapi ia tahan. Menunjukkan sisi lemah, adalah hal yang memalukan. Ia justru malah tertawa ngakak, melihat kelucuan ayah serta ibunya. Entah mengapa Alicia menilai kedua orang tuanya bodoh. Charlotte melangkah maju cepat, memainkan perannya sebagai “anak yang berhati lembut.” “Mami… Papi… tolong jangan marah sama Kakak,” katanya lirih, suaranya penuh kepura-puraan. “Ini salah aku. Aku kira kakak suka… aku tidak menyangka kakak salah paham.” Ia memegang lengan Sofia, seolah menenangkan. “Jangan salahkan Kak Alicia, ya Mi… tolong…” Dan seperti biasa, Charlotte langsung mendapat aura “anak paling berbakti dan penyayang.” Sofia memandang putrinya itu dengan sorot terenyuh. Tonny pun mendengus kecil, emosinya mereda sedikit. Alicia hanya berdiri di sana, merasa semakin jijik dan ingin muntah. Drama yang seperti ini sudah dia tonton ribuan kali, sangking tidak terhitungnya. Charlotte sangat pandai memutar kata, seolah dialah yang bersalah. Alicia dianggap anak yang tidak tahu diri dan tidak bersyukur, berbeda dari Charlotte. Bibi Rika, yang sedari tadi berdiri di belakang, tampak sangat ketakutan melihat kemarahan majikannya. Ia buru-buru mendekat, merangkul bahu Alicia yang masih pucat. “Nona Alicia… sudah, sini sama bibi.” Ia menunduk, mengutip barang-barang yang tadi Alicia letakkan di lantai. Wanita tua itu berbicara pelan, berusaha menenangkan. “Nona… ini bagus sekali. Nanti bibi potong kaki celananya. Kerah bajunya juga bisa diubah. Bibi bisa, nona.” Ia menepuk pundak Alicia lembut. “Di kamar bibi ada mesin jahit. Bibi perbaiki sampai pas di badan nona, ya?” Alicia menelan ludah, lalu tersenyum kecil. “Terima kasih, Bibi…” Dan itu adalah satu-satunya kehangatan yang ia dapatkan hari itu. Karena sejak dulu… setiap barang bekas Charlotte yang diberikan padanya, Bibi Rika lah yang diam-diam mempermak, menjahit ulang, menyesuaikan ukuran, agar Alicia tetap bisa memakainya, tanpa pernah meminta imbalan apa pun. Bahkan wanita tua itu dengan sengaja membeli mesin jahit bekas hanya untuk memperbaiki pakaian-pakaian tersebut. Namun kini Alicia sudah dewasa. Semuanya pasti akan berbeda. Tonny akhirnya menarik napas panjang, mencoba meredakan kemarahan yang tadi sudah memuncak. “Alicia,” panggilnya dengan suara berat namun tegas. “Tolong duduk. Di sana.” Ia menunjuk sofa tunggal di sisi ruangan. Sofa yang sengaja dibiarkan kosong, seakan sudah disiapkan khusus untuk Alicia. Jaraknya cukup jauh dari Sofia, Tonny, Charlotte, maupun Jerry. Terlihat jelas… posisi ini menjadi bukti bahwa ia disisihkan oleh orang tuanya sendiri. Alicia menoleh perlahan. Kepalanya sedikit berputar karena belum makan, tapi ia tetap berjalan pelan menuju sofa tersebut. Ia duduk dengan rapi, menangkupkan kedua tangan di pangkuannya, menunggu dengan sabar. Tonny duduk tegak di kursi utama, Sofia di sampingnya, Charlotte dan Jerry duduk di sofa untuk dia orang. Mereka berdua sudah tampak sangat mesra sambil berpegangan tangan. Sofia berbicara duluan, menghela napas panjang seolah berusaha sabar. “Alicia… sebenarnya kami memanggilmu hari ini bukan hanya untuk memberikan hadiah.” Ia menatap Alicia tanpa senyum, sorot matanya penuh penilaian. “Kami ingin membicarakan hal penting.” Alicia menegakkan tubuh, meski wajahnya pucat. “Bicara saja. Meskipun posisi dudukku cukup jauh, tapi telinga ku masih bisa mendengar dengan jelas…” Tonny melanjutkan dengan suara yang dalam dan penuh tekanan. “Kami berharap kamu bisa menerima dengan baik apa yang akan kami sampaikan. Karena… ini menyangkut masa depan keluarga kita.”“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







