แชร์

Bab 10

ผู้เขียน: Liazta
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-05 10:32:58

Sebelum Sofia sempat berkata apa pun, Charlotte membuka suara pelan.

“Kakak…”

Ia melangkah maju, nada suaranya lembut seperti biasa.

“Itu memang barang aku, tapi aku belum sempat pakai… kakak bisa lihat sendiri masih ada lebel harganya.”

Sofia menoleh cepat, alisnya terangkat.

Nada Charlotte terdengar tenang, tidak menuduh, justru seperti membela.

“Aku kira cocok buat Kak Alicia,” lanjut Charlotte. “Sepatunya juga… sebenarnya kurang pas sama aku. Modelnya terlalu norak dan ramai. Tapi sayang kalau dibuang. Jadi aku… aku pikir kakak pasti senang, suka dan memakainya.”

Charlotte menunduk kecil, sangat meyakinkan.

Dan seketika ruangan itu terdiam.

Alicia merasakan dadanya menegang.

Jadi dugaannya benar… itu memang barang Charlotte.

Sofia menghela napas panjang, bukan lega, tapi seperti menahan kejengkelan.

“Alicia,” katanya tajam, “kamu itu harusnya bersyukur. Barang ini mahal. Berkualitas. Tidak semua orang bisa dapat begitu saja.”

Alicia menggigit bibirnya. Ia tidak bermaksud menolak atau menyinggung siapa pun.

Namun ia juga tidak bisa berbohong.

Dengan suara pelan dan tenang, ia berkata,

“Mi… aku tidak bisa memakainya. Ukurannya terlalu besar. Sepatunya juga… tumitnya terlalu tinggi. Kaki aku bisa patah kalau memakainya.”

Charlotte langsung menatap Alicia dengan ekspresi syok. Namun tepatnya pura-pura syok.

Sofia membalik badan cepat, wajahnya memerah karena tersinggung.

“Selama ini kamu selalu memakai barang bekas Charlotte,” bentaknya.

“SELALAMA ini kamu bisa! Tiba-tiba sekarang kamu alasan tidak bisa?!”

Alicia mengerutkan bibir, menunduk. Kata-kata itu seperti belati.

Kata-kata dari ibu kandungnya sendiri. Namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja. Kemudian ia mengangkat kepala dan tersenyum.

Tonny ikut membuka suara, keras, dingin.

“Alicia, Mami kamu itu benar. Kamu itu harus tahu diri.”

Ia menyilangkan tangan.

“Barang yang kamu pakai dulu, semuanya bekas Charlotte. Dan tidak pernah masalah. Sekarang kenapa kamu jadi pilih-pilih?”

Alicia mengepal jemari. Ada rasa panas di mata, tapi ia tahan. Menunjukkan sisi lemah, adalah hal yang memalukan. Ia justru malah tertawa ngakak, melihat kelucuan ayah serta ibunya. Entah mengapa Alicia menilai kedua orang tuanya bodoh.

Charlotte melangkah maju cepat, memainkan perannya sebagai “anak yang berhati lembut.”

“Mami… Papi… tolong jangan marah sama Kakak,” katanya lirih, suaranya penuh kepura-puraan.

“Ini salah aku. Aku kira kakak suka… aku tidak menyangka kakak salah paham.”

Ia memegang lengan Sofia, seolah menenangkan.

“Jangan salahkan Kak Alicia, ya Mi… tolong…”

Dan seperti biasa, Charlotte langsung mendapat aura “anak paling berbakti dan penyayang.”

Sofia memandang putrinya itu dengan sorot terenyuh.

Tonny pun mendengus kecil, emosinya mereda sedikit.

Alicia hanya berdiri di sana, merasa semakin jijik dan ingin muntah. Drama yang seperti ini sudah dia tonton ribuan kali, sangking tidak terhitungnya.

Charlotte sangat pandai memutar kata, seolah dialah yang bersalah. Alicia dianggap anak yang tidak tahu diri dan tidak bersyukur, berbeda dari Charlotte.

Bibi Rika, yang sedari tadi berdiri di belakang, tampak sangat ketakutan melihat kemarahan majikannya.

Ia buru-buru mendekat, merangkul bahu Alicia yang masih pucat.

“Nona Alicia… sudah, sini sama bibi.”

Ia menunduk, mengutip barang-barang yang tadi Alicia letakkan di lantai.

Wanita tua itu berbicara pelan, berusaha menenangkan.

“Nona… ini bagus sekali. Nanti bibi potong kaki celananya. Kerah bajunya juga bisa diubah. Bibi bisa, nona.”

Ia menepuk pundak Alicia lembut.

“Di kamar bibi ada mesin jahit. Bibi perbaiki sampai pas di badan nona, ya?”

Alicia menelan ludah, lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih, Bibi…”

Dan itu adalah satu-satunya kehangatan yang ia dapatkan hari itu.

Karena sejak dulu… setiap barang bekas Charlotte yang diberikan padanya,

Bibi Rika lah yang diam-diam mempermak, menjahit ulang, menyesuaikan ukuran,

agar Alicia tetap bisa memakainya, tanpa pernah meminta imbalan apa pun. Bahkan wanita tua itu dengan sengaja membeli mesin jahit bekas hanya untuk memperbaiki pakaian-pakaian tersebut. Namun kini Alicia sudah dewasa. Semuanya pasti akan berbeda.

Tonny akhirnya menarik napas panjang, mencoba meredakan kemarahan yang tadi sudah memuncak.

“Alicia,” panggilnya dengan suara berat namun tegas.

“Tolong duduk. Di sana.”

Ia menunjuk sofa tunggal di sisi ruangan. Sofa yang sengaja dibiarkan kosong, seakan sudah disiapkan khusus untuk Alicia. Jaraknya cukup jauh dari Sofia, Tonny, Charlotte, maupun Jerry.

Terlihat jelas… posisi ini menjadi bukti bahwa ia disisihkan oleh orang tuanya sendiri.

Alicia menoleh perlahan. Kepalanya sedikit berputar karena belum makan, tapi ia tetap berjalan pelan menuju sofa tersebut.

Ia duduk dengan rapi, menangkupkan kedua tangan di pangkuannya, menunggu dengan sabar.

Tonny duduk tegak di kursi utama, Sofia di sampingnya, Charlotte dan Jerry duduk di sofa untuk dia orang. Mereka berdua sudah tampak sangat mesra sambil berpegangan tangan.

Sofia berbicara duluan, menghela napas panjang seolah berusaha sabar.

“Alicia… sebenarnya kami memanggilmu hari ini bukan hanya untuk memberikan hadiah.”

Ia menatap Alicia tanpa senyum, sorot matanya penuh penilaian.

“Kami ingin membicarakan hal penting.”

Alicia menegakkan tubuh, meski wajahnya pucat.

“Bicara saja. Meskipun posisi dudukku cukup jauh, tapi telinga ku masih bisa mendengar dengan jelas…”

Tonny melanjutkan dengan suara yang dalam dan penuh tekanan.

“Kami berharap kamu bisa menerima dengan baik apa yang akan kami sampaikan. Karena… ini menyangkut masa depan keluarga kita.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 516

    Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 515

    Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 514

    Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 513

    Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 512

    "Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 511

    Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status