Share

Bab 13

Author: Liazta
last update publish date: 2025-12-06 23:56:53

Bibi Rika menunduk pelan, jemarinya yang keriput meremas ujung apron lusuhnya. Suaranya bergetar ketika ia mulai bicara.

“Bibi sangat bersyukur bisa bekerja di sini… dan bibi sangat bahagia bisa mengenal nona Alicia…” katanya terisak, napasnya patah-patah.

Alicia menatap wajah tua itu, wajah yang jauh lebih hangat dibanding siapa pun di rumah ini. Dan kata-kata yang baru saja ia ucapkan sebelumnya… bukan main-main. Itu adalah isi hatinya yang paling dalam. Hatinya yang selama ini penuh luka.

Bibi Rika selalu bisa membaca semuanya.

Karena tidak ada yang bisa berbohong lewat tatapan mata.

Jika seorang anak sampai berkata ia tidak ingin memiliki orang tua seperti orang tuanya, itu berarti anak itu… sudah benar-benar berada di titik terendah. Sudah terlalu kecewa… terlalu sakit.

Wanita paruh baya itu paham dan ikut merasakan sakit yang Alicia rasakan.

Alicia menunduk, bibirnya bergetar. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.

“Bibi tahu seperti apa perasaan nona. Nona harus kuat," katanya lirih. “Mata nona selalu berusaha terlihat kuat… padahal setiap hari nona menahan luka.”

Alicia menutup wajahnya sebentar, menenangkan diri. Lalu menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan-lahan. Ia meraih tangan Bibi Rika sambil berusaha untuk tersenyum

“Bibi…”

Suaranya lembut, namun penuh tekad.

“Kalau aku nanti sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit, kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku akan membawa Bibi pergi bersamaku. Kita tinggal berdua saja. Aku tidak butuh siapa pun. Bersama Bibi, aku sudah bahagia.”

Bibi Rika tertegun. Lalu tanpa sadar ia mengangguk cepat, hampir gugup.

“Bibi janda… bibi tidak punya anak…” katanya sambil terisak, “kalau nona ingin pergi, bibi akan ikut. Bibi tidak perlu digaji, bibi masih punya uang tabungan… kalau nona butuh untuk pergi dari rumah ini, pakai saja uang bibi…”

Alicia langsung menggeleng cepat sambil memegang kedua pipi Bibi Rika.

“Tidak, Bi… kalau nanti Bibi ikut denganku, Bibi bukan lagi pembantu…”

Matanya berkaca-kaca.

“Bibi akan jadi ibuku.”

Tubuh Bibi Rika langsung bergetar hebat. Air mata mengalir tanpa henti.

“Aku akan berbakti seperti seorang anak,” lanjut Alicia. “Kalau Bibi sakit, aku rawat. Aku cuma nggak pandai masak… nanti Bibi ajarin ya, supaya aku bisa masak yang enak untuk Bibi…”

Bibi Rika menutup mulutnya, menahan tangisnya agar tidak pecah lebih keras.

Hatinya hangat… hancur… bahagia… semuanya bercampur menjadi satu.

“Nona…” suaranya parau.

Alicia mengusap pipi wanita itu pelan.

“Kalau semua barang daganganku laku… kita pergi dari sini, Bi. Aku janji. Kita akan hidup tenang tanpa mereka.”

Bibi mengangguk. “Bibi tunggu… bibi tunggu masa itu…”

Tiba-tiba, wajah Bibi Rika berubah sedikit muram.

Ia teringat pembicaraan lirih antara Tonny dan Sofia beberapa hari sebelumnya.

“Nona…” bisiknya hati-hati. “Apa nona… menerima perjodohan itu?”

Alicia langsung menggeleng cepat, ekspresinya tegas namun penuh luka.

“Mereka kasih aku makanan sisa. Pakaian bekas. Bahkan semua yang melekat di tubuhku… semuanya barang bekas Charlotte,” ujarnya lirih namun jelas. “Apa pantas aku balas semua itu dengan memberikan kebahagiaanku seumur hidup?”

Bibi Rika menutup mata, menahan napas lega. “Bibi takut nona menurut perintah mereka…”

“Mereka cuma menyuruh aku mendengar,” kata Alicia pelan. “Dan aku sudah melakukannya.” Alicia tertawa kecil. Seakan ia sudah berhasil menipu keempat orang itu.

Hening sejenak.

Hening yang sangat lembut namun penuh makna.

Lalu Alicia memegang tangan Bibi erat-erat.

“Bibi… mulai sekarang aku nggak mau panggil Bibi lagi.”

Bibi mengerjap. “Lalu… panggil apa, nona?”

Alicia tersenyum kecil, senyum rapuh yang penuh cinta.

“Ibu.”

Tangis Bibi Rika pecah sepenuhnya.

Ia memeluk Alicia dengan erat—erat sekali, seolah takut kehilangan.

“Nons A-alicia…” suaranya putus-putus.

“Boleh… boleh nak… Ibu panggil kamu Licia, ya? Bukan nona lagi…”

Alicia menutup mata, memeluk balik wanita yang kini menjadi sandaran hatinya.

“Mulai saat ini… Ibu adalah ibuku. Bagi ku hubungan darah, tidaklah penting.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia kecil, Alicia merasakan pelukan yang benar-benar tulus.

Pelukan seorang ibu.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
ZAHRAN_ GNS
masak itu beneran anak kandung??
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
kasian banget Alicia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 516

    Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 515

    Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 514

    Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 513

    Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 512

    "Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 511

    Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status