Mag-log inBibi Rika menunduk pelan, jemarinya yang keriput meremas ujung apron lusuhnya. Suaranya bergetar ketika ia mulai bicara.
“Bibi sangat bersyukur bisa bekerja di sini… dan bibi sangat bahagia bisa mengenal nona Alicia…” katanya terisak, napasnya patah-patah. Alicia menatap wajah tua itu, wajah yang jauh lebih hangat dibanding siapa pun di rumah ini. Dan kata-kata yang baru saja ia ucapkan sebelumnya… bukan main-main. Itu adalah isi hatinya yang paling dalam. Hatinya yang selama ini penuh luka. Bibi Rika selalu bisa membaca semuanya. Karena tidak ada yang bisa berbohong lewat tatapan mata. Jika seorang anak sampai berkata ia tidak ingin memiliki orang tua seperti orang tuanya, itu berarti anak itu… sudah benar-benar berada di titik terendah. Sudah terlalu kecewa… terlalu sakit. Wanita paruh baya itu paham dan ikut merasakan sakit yang Alicia rasakan. Alicia menunduk, bibirnya bergetar. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. “Bibi tahu seperti apa perasaan nona. Nona harus kuat," katanya lirih. “Mata nona selalu berusaha terlihat kuat… padahal setiap hari nona menahan luka.” Alicia menutup wajahnya sebentar, menenangkan diri. Lalu menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan-lahan. Ia meraih tangan Bibi Rika sambil berusaha untuk tersenyum “Bibi…” Suaranya lembut, namun penuh tekad. “Kalau aku nanti sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit, kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku akan membawa Bibi pergi bersamaku. Kita tinggal berdua saja. Aku tidak butuh siapa pun. Bersama Bibi, aku sudah bahagia.” Bibi Rika tertegun. Lalu tanpa sadar ia mengangguk cepat, hampir gugup. “Bibi janda… bibi tidak punya anak…” katanya sambil terisak, “kalau nona ingin pergi, bibi akan ikut. Bibi tidak perlu digaji, bibi masih punya uang tabungan… kalau nona butuh untuk pergi dari rumah ini, pakai saja uang bibi…” Alicia langsung menggeleng cepat sambil memegang kedua pipi Bibi Rika. “Tidak, Bi… kalau nanti Bibi ikut denganku, Bibi bukan lagi pembantu…” Matanya berkaca-kaca. “Bibi akan jadi ibuku.” Tubuh Bibi Rika langsung bergetar hebat. Air mata mengalir tanpa henti. “Aku akan berbakti seperti seorang anak,” lanjut Alicia. “Kalau Bibi sakit, aku rawat. Aku cuma nggak pandai masak… nanti Bibi ajarin ya, supaya aku bisa masak yang enak untuk Bibi…” Bibi Rika menutup mulutnya, menahan tangisnya agar tidak pecah lebih keras. Hatinya hangat… hancur… bahagia… semuanya bercampur menjadi satu. “Nona…” suaranya parau. Alicia mengusap pipi wanita itu pelan. “Kalau semua barang daganganku laku… kita pergi dari sini, Bi. Aku janji. Kita akan hidup tenang tanpa mereka.” Bibi mengangguk. “Bibi tunggu… bibi tunggu masa itu…” Tiba-tiba, wajah Bibi Rika berubah sedikit muram. Ia teringat pembicaraan lirih antara Tonny dan Sofia beberapa hari sebelumnya. “Nona…” bisiknya hati-hati. “Apa nona… menerima perjodohan itu?” Alicia langsung menggeleng cepat, ekspresinya tegas namun penuh luka. “Mereka kasih aku makanan sisa. Pakaian bekas. Bahkan semua yang melekat di tubuhku… semuanya barang bekas Charlotte,” ujarnya lirih namun jelas. “Apa pantas aku balas semua itu dengan memberikan kebahagiaanku seumur hidup?” Bibi Rika menutup mata, menahan napas lega. “Bibi takut nona menurut perintah mereka…” “Mereka cuma menyuruh aku mendengar,” kata Alicia pelan. “Dan aku sudah melakukannya.” Alicia tertawa kecil. Seakan ia sudah berhasil menipu keempat orang itu. Hening sejenak. Hening yang sangat lembut namun penuh makna. Lalu Alicia memegang tangan Bibi erat-erat. “Bibi… mulai sekarang aku nggak mau panggil Bibi lagi.” Bibi mengerjap. “Lalu… panggil apa, nona?” Alicia tersenyum kecil, senyum rapuh yang penuh cinta. “Ibu.” Tangis Bibi Rika pecah sepenuhnya. Ia memeluk Alicia dengan erat—erat sekali, seolah takut kehilangan. “Nons A-alicia…” suaranya putus-putus. “Boleh… boleh nak… Ibu panggil kamu Licia, ya? Bukan nona lagi…” Alicia menutup mata, memeluk balik wanita yang kini menjadi sandaran hatinya. “Mulai saat ini… Ibu adalah ibuku. Bagi ku hubungan darah, tidaklah penting.” Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia kecil, Alicia merasakan pelukan yang benar-benar tulus. Pelukan seorang ibu. ---“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







