MasukWanita paruh baya itu menatap wajah Alicia dalam-dalam.
Matanya memerah, tapi ada ketegasan seorang ibu yang baru menemukan anaknya di tengah badai besar. “Nak…” suara Rika lirih, hampir pecah. “Tuan Jerry itu… bukan laki-laki yang baik. Kalau dia memilih Charlotte dan meninggalkan kamu, itu bukan salahmu. Itu karena dia tidak pernah cukup baik untuk mencintai kamu.” Alicia tersenyum tipis. Senyum yang penuh luka, tapi juga penuh penerimaan yang dipaksa. Ia mengusap pipi wanita yang baru menjadi Ibunya. “Aku tahu, Bu… jujur, kalau ditanya sakit… rasanya sakit sekali. Rasanya seperti ada yang ditarik dari dalam dadaku. Tapi aku sudah biasa mengobati semua lukaku sendiri.” Suaranya terdengar kuat, tapi matanya penuh air. “Dan rasa sakit itu akan cepat hilang. Sangat cepat,” lanjut Alicia. “Kadang aku tidur… dan pas bangun, rasanya sudah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.” Air mata Rika jatuh deras. Bukan karena ucapan Alicia… tapi karena bagaimana Alicia mengatakannya. Terlalu tenang, terlalu biasa, terlalu sering menerima luka. “Nak…” Rika menggenggam kedua pipi Alicia. “Cara kamu bicara itu… justru yang membuat Ibu paling takut.” Alicia terkejut, menatap Rika dengan bingung. Rika menggeleng sambil menangis. “Anak yang baik-baik saja… tidak pernah bilang ‘aku cepat sembuh’ seperti itu.” Suaranya parau, penuh rasa pedih. “Anak yang benar-benar bahagia… tidak terbiasa menyembuhkan dirinya sendirian.” Alicia menunduk, bahunya bergetar halus. Rika melanjutkan sambil memeluk Alicia. “Nak… kamu masih sangat muda. Kamu boleh menangis. Kamu boleh marah. Kamu boleh hancur. Kamu tidak perlu pura-pura kuat di depan Ibu.” Alicia menggenggam pakaian Rika erat-erat, seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk meruntuhkan dirinya. “Aku hanya…” suara Alicia pecah, “aku hanya tidak ingin terlihat lemah.” “Licia…” Rika mencium kepala gadis itu. “Lemah itu bukan dosa. Yang dosa itu… adalah dunia yang membuat kamu harus tumbuh tanpa bahu untuk bersandar. Tapi ibu sangat bangga, kamu hebat. Kamu membuktikan bahwa kamu tidak bisa di injak dengan mudah." Alicia terisak, pertama kali dalam waktu yang sangat lama. “Aku… aku sering berharap ada yang memeluk aku seperti ini,” bisik Alicia dengan suara hampir hilang. “Tapi tidak pernah ada…” Rika memeluknya lebih erat, seolah ingin menutup semua luka yang pernah dibuka dunia. “Mulai sekarang,” bisik Rika penuh keyakinan, “kamu tidak sendirian lagi. Apa pun yang terjadi… Ibu ada di sini. Kamu jatuh, Ibu tangkap. Kamu sakit, Ibu obati. Kamu hancur, Ibu rangkul sampai kamu utuh lagi.” Alicia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa menahan apa pun. “Ibu…” suaranya bergetar kuat, “terima kasih karena mau mencintaiku… ketika orang yang melahirkanku justru membuangku.” Rika meremas tubuh Alicia seperti hendak melindunginya dari seluruh dunia. “Tidak, Nak… Bukan Ibu yang memilihmu. Kamulah yang menyelamatkan hati Ibu yang sepi selama ini. Mereka akan menyesal karena menyia-nyiakan anak sebaik kamu.” Pelukan itu lama, hangat, dan penuh luka yang akhirnya dilepas. Setelah menenangkan Alice, Rika keluar dari dalam kamar dan menutup pintu, kamar itu kembali sunyi. Alicia merebahkan tubuhnya perlahan, menatap langit-langit. Lalu… tatapannya kembali pada paperbag berisi pakaian dan sepatu itu. Hadiah yang seharusnya membahagiakan, namun justru meninggalkan luka. Alicia menarik napas panjang, mencoba memejamkan mata untuk beristirahat. Namun sebelum itu, sebuah pikiran melintas. Aku harus pergi dari rumah ini. Bukan karena ingin… Tapi karena harus menyelamatkan hati dan raga ini. --- Tonny duduk di meja makan dengan wajah yang tampak puas. Di sampingnya, Sofia tersenyum manis. Senyuman bahagia yang muncul setiap kali ada peluang keuntungan bagi dirinya. Charlotte, seperti biasa, duduk di posisi yang dianggap paling penting di meja itu. Piringnya disiapkan dengan lauk terbaik, porsinya paling besar, dan semua perhatian hanya tertuju padanya seorang. Seakan rumah ini… hanya memiliki satu anak. Sedangkan Jerry, duduk di samping Charlotte. Tonny menyendokkan makanan sambil bersandar santai. “Char, kamu harus bersyukur ya. Tidak semua perempuan muda bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Jerry itu pemilik perusahaan besar, perusahaannya masuk jajaran papan atas. Kamu sangat beruntung.” Charlotte tersenyum manja. Ia menikmati perhatian itu. Menikmati peran sebagai putri sempurna. Tanpa peduli ada seseorang di lantai atas yang sedang hancur menangis dan memilih memeluk seorang wanita tua yang sangat mencintainya. Sofia menimpali dengan suara yang sangat lembut. “Iya, sayang. Kamu nanti akan hidup nyaman. Rumah besar, mobil mewah… kamu tidak perlu bekerja. Kamu hanya tinggal menjadi istri yang baik. Ini kesempatan luar biasa.” Tonny mengangguk setuju, bahkan terlihat bangga pada dirinya sendiri. “Kita memang beruntung punya anak seperti Charlotte. Penurut, mau mendengar saran orang tua. Tidak kayak….” Dia berhenti. Tapi makna kalimat itu sudah jelas. Alicia. Anak yang bahkan tidak dihitung sebagai bagian dari keluarga. Sofia tertawa kecil, lalu berkata tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Sudah, jangan bicarakan yang lain dulu. Yang penting sekarang Charlotte akan menikah dengan pria yang menjadi pilihannya. Itu langkah besar.” Charlotte hanya menegakkan dagunya dan tersenyum puas. Ia tidak bertanya di mana Alicia. Tidak mengingat bahwa kakaknya itu belum makan apa-apa sejak pulang. Dan lebih menyakitkan lagi, tidak ada seorang pun dari mereka yang peduli. Jerry hanya diam. Dia menatap makannya tanpa berkomentar apa-apa. Saat ini pikirannya tertuju ke pada Alicia. Meja makan itu penuh suara gelak tawa, rencana masa depan, impian yang hanya mereka pandang dari sudut Charlotte. Nama Alicia tidak disebut. Tidak diingat. Tidak dianggap penting. Seakan Alicia… tidak pernah menjadi bagian dari keluarga itu sejak awal. Sofia bahkan menambahkan dengan nada ringan. “Besok kita harus siapkan pakaian terbaik untuk Charlotte. Kita belanja, Tonny. Charlotte harus tampil sempurna saat bertemu keluarga pak Herman.” Tonny tersenyum bangga. Tangan mereka bersentuhan, dan mereka berdua terlihat bahagia. Bahagia… karena putri kandung mereka mau menikah dengan seorang duda kaya. Bahagia… tanpa menyadari bahwa satu-satunya anak yang seharusnya paling mereka jaga, sedang berusaha menyembuhkan lukanya sendiri. Bahagia… karena mereka tidak pernah menganggap Alicia ada. Bibi Rika yang berdiri di dekat meja makan, akan bergerak cepat mengambilkan apapun yang diminta oleh majikannya tersebut. Wanita tua itu hanya menundukkan kepalanya. Rasa sakit jelas menghujam jantungnya. Namun ia hanya bisa diam dan menyaksikan semuanya. Kata-kata terakhir yang diucapkan Sofia, membuat tubuh bibi Rika bergetar. "Pak Thomas bersedia memberikan uang hantaran 5 miliar dan mahar 5 miliar untuk Alicia. Anak kita itu sangat bernilai tinggi ya Pi," kata Sofia.“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







