Share

Bab 14

Author: Liazta
last update publish date: 2025-12-07 07:30:27

Wanita paruh baya itu menatap wajah Alicia dalam-dalam.

Matanya memerah, tapi ada ketegasan seorang ibu yang baru menemukan anaknya di tengah badai besar.

“Nak…” suara Rika lirih, hampir pecah.

“Tuan Jerry itu… bukan laki-laki yang baik. Kalau dia memilih Charlotte dan meninggalkan kamu, itu bukan salahmu. Itu karena dia tidak pernah cukup baik untuk mencintai kamu.”

Alicia tersenyum tipis. Senyum yang penuh luka, tapi juga penuh penerimaan yang dipaksa. Ia mengusap pipi wanita yang baru menjadi Ibunya.

“Aku tahu, Bu… jujur, kalau ditanya sakit… rasanya sakit sekali. Rasanya seperti ada yang ditarik dari dalam dadaku. Tapi aku sudah biasa mengobati semua lukaku sendiri.”

Suaranya terdengar kuat, tapi matanya penuh air.

“Dan rasa sakit itu akan cepat hilang. Sangat cepat,” lanjut Alicia. “Kadang aku tidur… dan pas bangun, rasanya sudah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”

Air mata Rika jatuh deras. Bukan karena ucapan Alicia… tapi karena bagaimana Alicia mengatakannya. Terlalu tenang, terlalu biasa, terlalu sering menerima luka.

“Nak…” Rika menggenggam kedua pipi Alicia. “Cara kamu bicara itu… justru yang membuat Ibu paling takut.”

Alicia terkejut, menatap Rika dengan bingung.

Rika menggeleng sambil menangis.

“Anak yang baik-baik saja… tidak pernah bilang ‘aku cepat sembuh’ seperti itu.”

Suaranya parau, penuh rasa pedih.

“Anak yang benar-benar bahagia… tidak terbiasa menyembuhkan dirinya sendirian.”

Alicia menunduk, bahunya bergetar halus.

Rika melanjutkan sambil memeluk Alicia.

“Nak… kamu masih sangat muda. Kamu boleh menangis. Kamu boleh marah. Kamu boleh hancur. Kamu tidak perlu pura-pura kuat di depan Ibu.”

Alicia menggenggam pakaian Rika erat-erat, seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk meruntuhkan dirinya.

“Aku hanya…” suara Alicia pecah, “aku hanya tidak ingin terlihat lemah.”

“Licia…” Rika mencium kepala gadis itu.

“Lemah itu bukan dosa. Yang dosa itu… adalah dunia yang membuat kamu harus tumbuh tanpa bahu untuk bersandar. Tapi ibu sangat bangga, kamu hebat. Kamu membuktikan bahwa kamu tidak bisa di injak dengan mudah."

Alicia terisak, pertama kali dalam waktu yang sangat lama.

“Aku… aku sering berharap ada yang memeluk aku seperti ini,” bisik Alicia dengan suara hampir hilang.

“Tapi tidak pernah ada…”

Rika memeluknya lebih erat, seolah ingin menutup semua luka yang pernah dibuka dunia.

“Mulai sekarang,” bisik Rika penuh keyakinan, “kamu tidak sendirian lagi. Apa pun yang terjadi… Ibu ada di sini. Kamu jatuh, Ibu tangkap. Kamu sakit, Ibu obati. Kamu hancur, Ibu rangkul sampai kamu utuh lagi.”

Alicia menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa menahan apa pun.

“Ibu…” suaranya bergetar kuat, “terima kasih karena mau mencintaiku… ketika orang yang melahirkanku justru membuangku.”

Rika meremas tubuh Alicia seperti hendak melindunginya dari seluruh dunia.

“Tidak, Nak…

Bukan Ibu yang memilihmu.

Kamulah yang menyelamatkan hati Ibu yang sepi selama ini. Mereka akan menyesal karena menyia-nyiakan anak sebaik kamu.”

Pelukan itu lama, hangat, dan penuh luka yang akhirnya dilepas.

Setelah menenangkan Alice, Rika keluar dari dalam kamar dan menutup pintu, kamar itu kembali sunyi.

Alicia merebahkan tubuhnya perlahan, menatap langit-langit.

Lalu… tatapannya kembali pada paperbag berisi pakaian dan sepatu itu. Hadiah yang seharusnya membahagiakan, namun justru meninggalkan luka.

Alicia menarik napas panjang, mencoba memejamkan mata untuk beristirahat.

Namun sebelum itu, sebuah pikiran melintas.

Aku harus pergi dari rumah ini.

Bukan karena ingin…

Tapi karena harus menyelamatkan hati dan raga ini.

---

Tonny duduk di meja makan dengan wajah yang tampak puas.

Di sampingnya, Sofia tersenyum manis. Senyuman bahagia yang muncul setiap kali ada peluang keuntungan bagi dirinya.

Charlotte, seperti biasa, duduk di posisi yang dianggap paling penting di meja itu.

Piringnya disiapkan dengan lauk terbaik, porsinya paling besar, dan semua perhatian hanya tertuju padanya seorang.

Seakan rumah ini… hanya memiliki satu anak.

Sedangkan Jerry, duduk di samping Charlotte.

Tonny menyendokkan makanan sambil bersandar santai.

“Char, kamu harus bersyukur ya. Tidak semua perempuan muda bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Jerry itu pemilik perusahaan besar, perusahaannya masuk jajaran papan atas. Kamu sangat beruntung.”

Charlotte tersenyum manja.

Ia menikmati perhatian itu.

Menikmati peran sebagai putri sempurna.

Tanpa peduli ada seseorang di lantai atas yang sedang hancur menangis dan memilih memeluk seorang wanita tua yang sangat mencintainya.

Sofia menimpali dengan suara yang sangat lembut.

“Iya, sayang. Kamu nanti akan hidup nyaman. Rumah besar, mobil mewah… kamu tidak perlu bekerja. Kamu hanya tinggal menjadi istri yang baik. Ini kesempatan luar biasa.”

Tonny mengangguk setuju, bahkan terlihat bangga pada dirinya sendiri.

“Kita memang beruntung punya anak seperti Charlotte. Penurut, mau mendengar saran orang tua. Tidak kayak….”

Dia berhenti.

Tapi makna kalimat itu sudah jelas.

Alicia.

Anak yang bahkan tidak dihitung sebagai bagian dari keluarga.

Sofia tertawa kecil, lalu berkata tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Sudah, jangan bicarakan yang lain dulu. Yang penting sekarang Charlotte akan menikah dengan pria yang menjadi pilihannya. Itu langkah besar.”

Charlotte hanya menegakkan dagunya dan tersenyum puas.

Ia tidak bertanya di mana Alicia.

Tidak mengingat bahwa kakaknya itu belum makan apa-apa sejak pulang.

Dan lebih menyakitkan lagi,

tidak ada seorang pun dari mereka yang peduli.

Jerry hanya diam. Dia menatap makannya tanpa berkomentar apa-apa. Saat ini pikirannya tertuju ke pada Alicia.

Meja makan itu penuh suara gelak tawa, rencana masa depan, impian yang hanya mereka pandang dari sudut Charlotte.

Nama Alicia tidak disebut.

Tidak diingat.

Tidak dianggap penting.

Seakan Alicia…

tidak pernah menjadi bagian dari keluarga itu sejak awal.

Sofia bahkan menambahkan dengan nada ringan. “Besok kita harus siapkan pakaian terbaik untuk Charlotte. Kita belanja, Tonny. Charlotte harus tampil sempurna saat bertemu keluarga pak Herman.”

Tonny tersenyum bangga.

Tangan mereka bersentuhan, dan mereka berdua terlihat bahagia.

Bahagia…

karena putri kandung mereka mau menikah dengan seorang duda kaya.

Bahagia…

tanpa menyadari bahwa satu-satunya anak yang seharusnya paling mereka jaga,

sedang berusaha menyembuhkan lukanya sendiri.

Bahagia…

karena mereka tidak pernah menganggap Alicia ada.

Bibi Rika yang berdiri di dekat meja makan, akan bergerak cepat mengambilkan apapun yang diminta oleh majikannya tersebut.

Wanita tua itu hanya menundukkan kepalanya. Rasa sakit jelas menghujam jantungnya. Namun ia hanya bisa diam dan menyaksikan semuanya.

Kata-kata terakhir yang diucapkan Sofia, membuat tubuh bibi Rika bergetar.

"Pak Thomas bersedia memberikan uang hantaran 5 miliar dan mahar 5 miliar untuk Alicia. Anak kita itu sangat bernilai tinggi ya Pi," kata Sofia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yanrina Savitri
Namanya Lotte pula itu. Kek nama lotte mart
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
aneh ada orang tua lebih memilih anak pungut ketimbang anak kandung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 516

    Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 515

    Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 514

    Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 513

    Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 512

    "Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 511

    Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status