Share

Bab 15

Penulis: Liazta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-08 12:07:11

Sofia tampak berpikir.

Apa yang dikatakan Alicia memang masuk akal. Dan pria yang hendak dinikahkan dengan Alicia pun tidak akan mempersoalkan hal itu yang terpenting uang hantarannya sudah masuk ke rekening mereka.

Begitu banyak wanita yang menginginkan Thomas, si duda kaya. Pria yang sudah sangat matang, dan menjadi penguasa sukses. Namun entah mengapa pria itu justru memilih putri dari keluarga Kurniawan?

“Baiklah, tidak masalah. Mami akan memberitahu calon suamimu. Dia pasti mengerti.”

Alicia mengangguk.

“Tapi aku ada satu permintaan lagi.”

Alicia keluar dari kamar dengan langkah pelan namun mantap.

Ia mengenakan celana kain sederhana, kemeja putih lembut yang jatuh rapi di tubuhnya, dan sebuah tas kecil tersampir di pundaknya. Meski pakaiannya bukan yang mewah, Alicia terlihat bersih dan anggun, sesuatu yang tidak pernah disadari Sofia dan Charlotte selama ini.

Setelah berbicara dengan Rika, hatinya sedikit lebih tenang. Perkataan perempuan tua itu seperti tamparan lembut, bahwa dia pantas dihargai, pantas disayangi, dan pantas diperlakukan layak.

Dengan napas yang lebih stabil, Alicia melangkah menuju ke pintu utama. Namun begitu tiba di ruang makan, langkahnya terhenti.

Di sana, di meja makan besar yang biasanya menjadi simbol kebersamaan Sofia, Tonny, Charlotte, terdengar tertawa keras. Mereka menyantap hidangan mewah yang sudah hampir habis. Wajah-wajah penuh bahagia sambil menikmati makanan, terlihat jelas.

Tidak ada yang mengingat Alicia, terkecuali Jerry. Pria itu tampak hanya tersenyum sekali-sekali saja. Berkata seadanya.

Sementara Rika berdiri tegak di dekat tembok, menunggu perintah layaknya pelayan rendahan. Mendengar suara sendok dan gelak tawa itu, hati Alicia terasa perih.

Apakah memperlakukan pembantu seperti ini wajar?

Mereka makan enak sambil tertawa lepas. Sedangkan seorang pembantu, berdiri sambil menonton mereka makan. Apakah hal seperti ini pantas dan wajar?

Apakah keluarganya memang suka merendahkan dan menginjak-injak harga diri orang lain?

Alicia terbiasa hidup di panti asuhan. Ia tidak begitu tahu seperti apa kehidupan orang yang kaya raya pada umumnya. Apakah semua orang yang kaya raya, akan bersikap seperti keluarganya?

Sofia tiba-tiba menoleh dan tersenyum lembut.

“Sayang, kamu mau ke mana?”

Nada itu lembut.

Manis.

Dan palsu.

Meskipun tahu bahwa putrinya itu belum makan, namun wanita itu tidak mengajarkan untuk ikut bergabung. Bahkan piring untuk Alicia, tidak disediakan.

Seharusnya Alicia senang.

Seharusnya ia merasa dicintai.

Tapi sekarang dada Alicia terasa sesak.

Ia merasa jijik mendengar suara Sofia yang berpura-pura penuh kasih sayang.

Ia tidak menjawab.

Ia hanya menatap Sofia dengan tenang, menunggu apa yang sebenarnya ingin dikatakan ibunya itu.

Benar saja.

“Alicia,” Sofia mulai bicara sambil tersenyum bangga, “calon suamimu itu baik sekali loh. Dia memberikan mahar 1 miliar untuk kamu. Dan uang hantaran 1 miliar. Ternyata calon suamimu sangat royal.”

Rika yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengangkat kepala.

Matanya membelalak.

Ia mendengar langsung bahwa mahar sebenarnya 5 miliar dan uang hantaran 5 miliar, nyaris tidak percaya Sofia bisa memotong angka itu begitu saja.

Dari 10 miliar menjadi 2 miliar.

Ada bara yang menyala di mata Rika.

Wajahnya menegang, namun ia menahan diri. Ia mengepalkan tangan begitu kuat sampai buku jarinya memutih.

Alicia hanya mengeluarkan satu kata.

“Oh.”

Charlotte menyeringai.

“Kamu pasti senang dong. Uang segitu besar sekali untuk calon pengantin seperti kamu.”

Alicia menoleh, memberikan senyum halus.

“Kapan uang itu diberikan?” tanyanya singkat.

“Ya tentu saja pas acara pernikahan nanti,” jawab Sofia cepat, tampak sangat bersemangat. “Eh, tapi untuk mahar dan uang hantaran, dia akan berikan duluan. Jadi sebelum acara semuanya sudah lunas.”

Alicia mengangguk pelan.

“Baik. Aku mengerti.”

“Pernikahan kamu dengan Tuan Thomas akan dilakukan bulan depan. Menurut Papi, lebih cepat itu lebih baik.” Tonny berkata dengan wajah tenang. Bahkan pria itu tersenyum hangat. Senyum yang tidak pernah diberikannya untuk Alicia.

“Kayaknya acara aku lebih dulu,” sela Charlotte sambil tersenyum manis.

Alicia menatapnya sebentar sebelum bicara.

“Aku tidak bisa melangsungkan pernikahan bulan depan. Masa training-ku selesai sekitar satu setengah bulan lagi. Dan aku ingin acara pernikahanku dilangsungkan enam bulan ke depan. Pernikahanku harus

digelar sangat mewah. Apalagi mahar yang diberikan oleh calon suamiku sangat besar. Aku juga baru bekerja di rumah sakit… tidak mungkin langsung mengambil cuti untuk menikah.”

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Teti Fatimah
kenapa udah 2x nonton iklan kok kunci nya gak kebuka gak jelas banget
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 203

    “Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 202

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 201

    Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 199

    Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 198

    Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 197

    Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status