로그인Sofia tampak berpikir.
Apa yang dikatakan Alicia memang masuk akal. Dan pria yang hendak dinikahkan dengan Alicia pun tidak akan mempersoalkan hal itu yang terpenting uang hantarannya sudah masuk ke rekening mereka. Begitu banyak wanita yang menginginkan Thomas, si duda kaya. Pria yang sudah sangat matang, dan menjadi penguasa sukses. Namun entah mengapa pria itu justru memilih putri dari keluarga Kurniawan? “Baiklah, tidak masalah. Mami akan memberitahu calon suamimu. Dia pasti mengerti.” Alicia mengangguk. “Tapi aku ada satu permintaan lagi.” Alicia keluar dari kamar dengan langkah pelan namun mantap. Ia mengenakan celana kain sederhana, kemeja putih lembut yang jatuh rapi di tubuhnya, dan sebuah tas kecil tersampir di pundaknya. Meski pakaiannya bukan yang mewah, Alicia terlihat bersih dan anggun, sesuatu yang tidak pernah disadari Sofia dan Charlotte selama ini. Setelah berbicara dengan Rika, hatinya sedikit lebih tenang. Perkataan perempuan tua itu seperti tamparan lembut, bahwa dia pantas dihargai, pantas disayangi, dan pantas diperlakukan layak. Dengan napas yang lebih stabil, Alicia melangkah menuju ke pintu utama. Namun begitu tiba di ruang makan, langkahnya terhenti. Di sana, di meja makan besar yang biasanya menjadi simbol kebersamaan Sofia, Tonny, Charlotte, terdengar tertawa keras. Mereka menyantap hidangan mewah yang sudah hampir habis. Wajah-wajah penuh bahagia sambil menikmati makanan, terlihat jelas. Tidak ada yang mengingat Alicia, terkecuali Jerry. Pria itu tampak hanya tersenyum sekali-sekali saja. Berkata seadanya. Sementara Rika berdiri tegak di dekat tembok, menunggu perintah layaknya pelayan rendahan. Mendengar suara sendok dan gelak tawa itu, hati Alicia terasa perih. Apakah memperlakukan pembantu seperti ini wajar? Mereka makan enak sambil tertawa lepas. Sedangkan seorang pembantu, berdiri sambil menonton mereka makan. Apakah hal seperti ini pantas dan wajar? Apakah keluarganya memang suka merendahkan dan menginjak-injak harga diri orang lain? Alicia terbiasa hidup di panti asuhan. Ia tidak begitu tahu seperti apa kehidupan orang yang kaya raya pada umumnya. Apakah semua orang yang kaya raya, akan bersikap seperti keluarganya? Sofia tiba-tiba menoleh dan tersenyum lembut. “Sayang, kamu mau ke mana?” Nada itu lembut. Manis. Dan palsu. Meskipun tahu bahwa putrinya itu belum makan, namun wanita itu tidak mengajarkan untuk ikut bergabung. Bahkan piring untuk Alicia, tidak disediakan. Seharusnya Alicia senang. Seharusnya ia merasa dicintai. Tapi sekarang dada Alicia terasa sesak. Ia merasa jijik mendengar suara Sofia yang berpura-pura penuh kasih sayang. Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Sofia dengan tenang, menunggu apa yang sebenarnya ingin dikatakan ibunya itu. Benar saja. “Alicia,” Sofia mulai bicara sambil tersenyum bangga, “calon suamimu itu baik sekali loh. Dia memberikan mahar 1 miliar untuk kamu. Dan uang hantaran 1 miliar. Ternyata calon suamimu sangat royal.” Rika yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengangkat kepala. Matanya membelalak. Ia mendengar langsung bahwa mahar sebenarnya 5 miliar dan uang hantaran 5 miliar, nyaris tidak percaya Sofia bisa memotong angka itu begitu saja. Dari 10 miliar menjadi 2 miliar. Ada bara yang menyala di mata Rika. Wajahnya menegang, namun ia menahan diri. Ia mengepalkan tangan begitu kuat sampai buku jarinya memutih. Alicia hanya mengeluarkan satu kata. “Oh.” Charlotte menyeringai. “Kamu pasti senang dong. Uang segitu besar sekali untuk calon pengantin seperti kamu.” Alicia menoleh, memberikan senyum halus. “Kapan uang itu diberikan?” tanyanya singkat. “Ya tentu saja pas acara pernikahan nanti,” jawab Sofia cepat, tampak sangat bersemangat. “Eh, tapi untuk mahar dan uang hantaran, dia akan berikan duluan. Jadi sebelum acara semuanya sudah lunas.” Alicia mengangguk pelan. “Baik. Aku mengerti.” “Pernikahan kamu dengan Tuan Thomas akan dilakukan bulan depan. Menurut Papi, lebih cepat itu lebih baik.” Tonny berkata dengan wajah tenang. Bahkan pria itu tersenyum hangat. Senyum yang tidak pernah diberikannya untuk Alicia. “Kayaknya acara aku lebih dulu,” sela Charlotte sambil tersenyum manis. Alicia menatapnya sebentar sebelum bicara. “Aku tidak bisa melangsungkan pernikahan bulan depan. Masa training-ku selesai sekitar satu setengah bulan lagi. Dan aku ingin acara pernikahanku dilangsungkan enam bulan ke depan. Pernikahanku harus digelar sangat mewah. Apalagi mahar yang diberikan oleh calon suamiku sangat besar. Aku juga baru bekerja di rumah sakit… tidak mungkin langsung mengambil cuti untuk menikah.” ---Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi
Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem
Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.
Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan
"Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is
Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel







