LOGINSofia menaikkan alis, lalu mengangguk.
“Apa itu sayang?” Apapun permintaan Alicia, pasti diturutinya, yang terpenting Alicia menyetujui pernikahan ini. “Charlotte harus menikah setelah aku. Sebagai kakak, aku harus menikah lebih dulu. Dia tidak boleh melampauiku.” “Kok gitu sih, Mi!” protes Charlotte spontan, wajahnya langsung berubah masam. Sofia menoleh padanya. “Memang begitu aturan yang benar. Kakak harus menikah duluan. Jadi pernikahan kamu dan Jerry akan kita langsungkan setelah pernikahan kakakmu. Lagi pula, acara besar tidak bisa direncanakan dalam waktu singkat.” Jerry hanya diam. Ingin bicara, tapi lidahnya seperti terkunci. Ada luka aneh di dadanya ketika mendengar Alicia menerima perjodohannya begitu mudah—seakan hubungan mereka tidak pernah berarti apa pun. Mata Alicia bergerak menatap meja makan. Piring Sofia, Tonny, Charlotte, dan Jerry sudah kosong licin. Tidak ada sisa. Tidak ada kursi ditarik untuknya. Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah ingat untuk mengajaknya makan bersama. Alicia menarik napas panjang. Tidak apa-apa… Rika sudah memasakkan makanan yang jauh lebih enak. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tetap berharap. Hanya satu kalimat sederhana: Alicia, duduk sini makan bersama kami. Namun tidak. Kalimat itu tidak akan pernah muncul. Dan saat ia hendak berbalik pergi— “Alicia, kamu mau makan?” Suara Jerry terdengar, berat dan ragu. Alicia menoleh sekilas. . Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya memastikan waktu di jam tangannya, lalu berkata pelan namun tegas: “Tidak, adik ipar. Aku harus pergi. Taksi yang kupesan sudah datang.” Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Alicia berbalik dan berjalan menuju pintu. Langkahnya tidak ragu, tidak goyah. Ia tidak menoleh. Ia pergi. Begitu saja. Jerry menatap punggung itu semakin jauh… sampai menghilang. Dadanya mendadak terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tercabut dari tempatnya. Kemana perginya Alicia yang selalu tersenyum lembut setiap kali melihatnya? Alicia yang dulu selalu ceria. Selama ini ia mendekati Alicia hanya karena perintah Charlotte. Charlotte hanya mau menerima cintanya jika ia berhasil membuat Alicia jatuh cinta padanya. Dan ketika misi itu berhasil… ketika Alicia benar-benar jatuh… Jerry membuangnya begitu saja. Ia menginginkan Charlotte. Ia ingin bahagia bersama wanita yang ia cintai. Tapi melihat Alicia kini begitu tenang, begitu acuh, seolah ia hanyalah nama asing di hidupnya… Sakit itu muncul. Tiba-tiba. Tajam. Menghantam dadanya tanpa peringatan. Untuk pertama kalinya— Jerry merasakan kehilangan. Bukan karena cinta. Tapi karena ia baru sadar… Alicia tidak lagi memandangnya. Tidak lagi berharap padanya. Tidak lagi memikirkannya. Dan itu… lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Bukan karena cinta. Tapi karena ego seorang pria yang merasa kehilangan sesuatu yang dulu ia ambil mudah… namun kini tak lagi bisa ia sentuh. Charlotte menggenggam tangannya. Genggaman itu memaksa Jerry kembali menoleh. “Dia sudah pergi, sayang,” bisik Charlotte. Jerry menatap perempuan yang akan menjadi istrinya. Namun tidak ada senyum. Tidak ada kebahagiaan. Hanya kekosongan. Seolah untuk pertama kalinya dalam hidupnya… dia menyesal. Mungkin bukan karena kehilangan Alicia, tapi karena dia baru sadar bahwa perempuan itu lebih kuat dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Dan rasa kehilangan itu menamparnya keras. Charlotte tersenyum kecil, namun matanya menangkap sesuatu di wajah Jerry. Dia sadar. Dan dia tidak suka. Karena di detik itu juga… Charlotte tahu: Bayangan Alicia akan menghantui Jerry, bahkan setelah dia menjadi istrinya sendiri. Rika terdiam. Ia memandang Alicia yang sudah menjauh dengan mata berkaca-kaca. Apakah Alicia benar-benar menerima pernikahan itu? "Alicia, ibu mohon jangan menerima pernikahan ini. Ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya namun ini adalah bukti bahwa kedua orang tuamu menjual kamu nak." Kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Terkadang melihat Tonny dan juga Sofia memperlakukan Alicia, membuat wanita tua itu bertanya? apakah sebenarnya ada manusia yang seperti ini kejamnya terhadap darah dagingnya sendiri ? dan yang lebih buruk lagi dia justru memperlakukan anak pungut seperti Tuan Putri. "Mami, aku nggak mau kalau pernikahan aku ditunda sampai setelah Kakak menikah." Charlote berkata dengan manja. Padahal wanita itu sudah bermimpi menikah dengan Jerry. Pria yang begitu sangat tulus mencintainya dan bahkan rela menjilat telapak kakinya. Namun mengapa pernikahan itu harus ditunda hanya karena permintaan dari Alicia? "Sayang, pernikahan yang dilangsungkan secara tergesa-gesa itu sangat tidak baik. Nanti gosip miring tentang kamu dan juga Jerry akan tersebar. Lagipula jika Alicia yang duluan menikah, hubungannya dengan Jerry yang dulu, orang beranggapan bahwa dialah yang berkhianat." "Kita akan gelar pertunangan untuk kalian. Jadi walaupun acara pernikahan belum berlangsung, orang-orang sudah tahu bahwa kalian akan menikah," kata Tonny. Jadi tidak menjawab apa-apa. Dia bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas karena saat ini pikirannya hanya tertuju kepada Alicia. ---Wajah Alicia seketika memerah.“Aku tidak membuatmu tersiksa!” bantahnya cepat. “Aku merawatmu!”“Merawat?”Devan mengangkat sebelah alis.“Jangan pura-pura polos, Alicia.”Jemarinya menyelip lembut di antara rambut Alicia, lalu menyingkirkan beberapa helai yang jatuh di wajah istrinya.“Aku masih ingat bagaimana matamu tidak pernah benar-benar bisa berpaling setiap kali kamu harus membantuku membersihkan tubuh.”“Devan!”Alicia langsung memukul pelan dada suaminya.“Itu karena kamu belum bisa mandi sendiri!”“Aku tahu.”Devan justru semakin menikmati kegugupan istrinya.“Tapi kamu selalu melakukannya dengan sangat hati-hati.”“Ya memang harus hati-hati! Punggungmu waktu itu masih cedera.”“Benarkah?”“Benar.”“Bukan karena kamu diam-diam menikmati kesempatan merawat calon suamimu?”Alicia terdiam.Devan tersenyum puas.“Nah.”Ia mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.“Diam begini biasanya berarti aku benar.”“Tidak!”Alicia buru-buru memalingkan wajah, tetapi Devan
Waktu akhirnya merayap tepat ke pukul lima sore.Musik penutup resepsi baru saja berhenti mengalun. Namun, sebelum pembawa acara sempat menyampaikan kalimat penutup secara resmi, panggung pelaminan yang sejak siang menjadi pusat perhatian itu sudah kosong.Bukan hanya Devan yang mendadak menghilang bersama Alicia.Thomas dan Rayan rupanya melakukan hal yang sama.Melihat kekompakan para pria dalam keluarga itu yang seolah telah bersekongkol melakukan aksi kabur massal, Luna hanya bisa berdiri di sudut ballroom sambil menggeleng-gelengkan kepala.Namun, alasan di balik kekompakan mereka sebenarnya sangat sederhana.Kondisi istri masing-masing.Di dalam lift khusus yang membawa mereka menuju lantai suite, Thomas berdiri di sisi Sofia. Satu lengannya merangkul pinggang istrinya dengan erat, sementara tangan yang lain sesekali mengusap punggung wanita itu.Wajah Sofia tampak pucat. Tubuhnya bersandar lelah pada dada bidang Thomas.“Masih sakit pinggangnya, hm?” bisik Thomas lembut.Telapa
Waktu di dinding ballroom baru menunjukkan pukul 01.00 siang. Musik instrumental masih mengalun lembut mengiringi ribuan tamu undangan kelas atas yang saling berbaur menikmati hidangan. Acara resepsi megah itu masih berjalan sangat meriah, namun sang pengantin pria justru sudah tidak bisa duduk tenang.Devan berkali-kali mengubah posisi duduknya, melirik jam tangan mewahnya setiap tiga menit sekali, lalu menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang makin ditekuk. Baginya, menunggu sekitar empat jam lagi sampai acara ini selesai terasa bagaikan menjalani hukuman bertahun-tahun!"Kenapa kamu dari tadi kelihatan gelisah sekali?" tanya Alicia memiringkan kepalanya, menatap Devan heran."Mengapa acara ini lama sekali selesainya, sih?" sungut Devan blak-blakan dengan wajah kesal. Matanya menatap horor ke arah antrean tamu undangan yang bukannya makin berkurang, malah makin mengular panjang."Ya ampun, Devan... Acara kan memang dimulai jam 11.00 setelah akad nikah, dan baru selesai jam
Genggaman Devan pada jemari Alicia tak pernah terlepas, bahkan setelah keduanya kembali duduk berdampingan di meja akad.Alicia menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Pipinya merona setiap kali Devan meliriknya dengan tatapan penuh kekaguman, seolah-olah hingga detik ini pun pria itu masih belum percaya bahwa wanita yang dicintainya kini benar-benar telah menjadi istrinya.“Kenapa menunduk terus, hm?” bisik Devan tepat di telinganya. “Suamimu yang tampan ini ada di sebelahmu, lho.”Bulu kuduk Alicia seketika meremang. Ia menahan tawa, lalu menyenggol lengan Devan dengan sikunya.“Devan, malu dilihat orang banyak...”“Biarkan saja. Kita sudah sah.”Devan menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum mengangkat tangan Alicia dan mengecup lembut punggung tangannya.Alicia semakin salah tingkah.Prosesi penandatanganan buku nikah dan pemasangan cincin pun akhirnya selesai. Tak lama kemudian, keluarga besar mulai berkumpul mengelilingi kedua pengantin baru itu.Ada Luna, Thomas, Sofia, Ra
Pintu utama ballroom perlahan terbuka.Alunan musik lembut mengiringi langkah Alicia yang memasuki ruangan. Gaun pengantin putihnya menjuntai anggun di atas karpet merah, sementara veil tipis yang membingkai wajahnya membuat kecantikannya tampak semakin memukau.Ratusan pasang mata sontak tertuju kepadanya.Namun, di antara seluruh tatapan yang menyambutnya, hanya ada sepasang mata yang benar-benar dicari Alicia.Mata Devan.Pria itu seketika terdiam.Ia bahkan lupa berkedip.Untuk beberapa saat, Devan hanya memandang wanita yang berjalan perlahan ke arahnya dengan tatapan penuh kekaguman.Alicia tampak begitu cantik.Riasan lembut menyempurnakan wajahnya. Bibirnya yang dipoles indah membentuk senyum malu-malu, sementara kelembutan yang terpancar dari seluruh dirinya membuat dada Devan terasa sesak.Hampir dua minggu.Selama itulah ia harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.Dan sekarang, setelah penantian panjang itu, Alicia akhirny
Suasana di dalam ballroom utama yang penuh dengan tatanan bunga melati segar seketika hening mencekam. Ratusan pasang mata tamu undangan serta jajaran saksi tertuju lurus pada meja akad nikah.Mahar pernikahan disusun di atas meja. Pengawalan juga sangat ketat.Jika sultan yang menikah, mahar pasti tidak kaleng-kaleng.Di sana, Devan duduk tegap dalam balutan beskap putih berhias payet perak nan megah. Wajahnya yang tampan tampak begitu tenang, namun di dalam dadanya, detak jantungnya bergemuruh hebat. Di hadapannya, Rayan—abang kandung Alicia yang kini bertindak sebagai wali nikah menggantikan posisi sang ayah—duduk dengan raut wajah sarat emosi.Sesuai surat kuasa wali yang telah ditandatangani, Rayan mengambil alih tugas sakral ini. Ayah mereka, Tonny Usman, pria bajingan yang telah menghancurkan masa kecil Alicia, kini meringkuk dingin di balik jeruji besi tahanan. Tak ada tempat bagi pria itu di hari paling bahagia putri bungsunya.Rayan mengulurkan tangannya. Devan menyambut dan







