Teilen

Bab 16

last update Zuletzt aktualisiert: 08.12.2025 12:08:14

Sofia menaikkan alis, lalu mengangguk.

“Apa itu sayang?”

Apapun permintaan Alicia, pasti diturutinya, yang terpenting Alicia menyetujui pernikahan ini.

“Charlotte harus menikah setelah aku. Sebagai kakak, aku harus menikah lebih dulu. Dia tidak boleh melampauiku.”

“Kok gitu sih, Mi!” protes Charlotte spontan, wajahnya langsung berubah masam.

Sofia menoleh padanya.

“Memang begitu aturan yang benar. Kakak harus menikah duluan. Jadi pernikahan kamu dan Jerry akan kita langsungkan setelah pernikahan kakakmu. Lagi pula, acara besar tidak bisa direncanakan dalam waktu singkat.”

Jerry hanya diam.

Ingin bicara, tapi lidahnya seperti terkunci.

Ada luka aneh di dadanya ketika mendengar Alicia menerima perjodohannya begitu mudah—seakan hubungan mereka tidak pernah berarti apa pun.

Mata Alicia bergerak menatap meja makan.

Piring Sofia, Tonny, Charlotte, dan Jerry sudah kosong licin.

Tidak ada sisa.

Tidak ada kursi ditarik untuknya.

Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah ingat untuk mengajaknya makan bersama.

Alicia menarik napas panjang.

Tidak apa-apa… Rika sudah memasakkan makanan yang jauh lebih enak.

Tapi jauh di dalam hatinya, ia tetap berharap.

Hanya satu kalimat sederhana:

Alicia, duduk sini makan bersama kami.

Namun tidak.

Kalimat itu tidak akan pernah muncul.

Dan saat ia hendak berbalik pergi—

“Alicia, kamu mau makan?”

Suara Jerry terdengar, berat dan ragu.

Alicia menoleh sekilas.

.

Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya memastikan waktu di jam tangannya, lalu berkata pelan namun tegas:

“Tidak, adik ipar. Aku harus pergi. Taksi yang kupesan sudah datang.”

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Alicia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Langkahnya tidak ragu, tidak goyah.

Ia tidak menoleh.

Ia pergi.

Begitu saja.

Jerry menatap punggung itu semakin jauh… sampai menghilang.

Dadanya mendadak terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tercabut dari tempatnya.

Kemana perginya Alicia yang selalu tersenyum lembut setiap kali melihatnya?

Alicia yang dulu selalu ceria.

Selama ini ia mendekati Alicia hanya karena perintah Charlotte.

Charlotte hanya mau menerima cintanya jika ia berhasil membuat Alicia jatuh cinta padanya.

Dan ketika misi itu berhasil… ketika Alicia benar-benar jatuh…

Jerry membuangnya begitu saja.

Ia menginginkan Charlotte.

Ia ingin bahagia bersama wanita yang ia cintai.

Tapi melihat Alicia kini begitu tenang, begitu acuh, seolah ia hanyalah nama asing di hidupnya…

Sakit itu muncul.

Tiba-tiba.

Tajam.

Menghantam dadanya tanpa peringatan.

Untuk pertama kalinya—

Jerry merasakan kehilangan.

Bukan karena cinta.

Tapi karena ia baru sadar…

Alicia tidak lagi memandangnya.

Tidak lagi berharap padanya.

Tidak lagi memikirkannya.

Dan itu…

lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Bukan karena cinta.

Tapi karena ego seorang pria yang merasa kehilangan sesuatu yang dulu ia ambil mudah… namun kini tak lagi bisa ia sentuh.

Charlotte menggenggam tangannya.

Genggaman itu memaksa Jerry kembali menoleh.

“Dia sudah pergi, sayang,” bisik Charlotte.

Jerry menatap perempuan yang akan menjadi istrinya.

Namun tidak ada senyum.

Tidak ada kebahagiaan.

Hanya kekosongan.

Seolah untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

dia menyesal.

Mungkin bukan karena kehilangan Alicia, tapi karena dia baru sadar bahwa perempuan itu lebih kuat dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Dan rasa kehilangan itu menamparnya keras.

Charlotte tersenyum kecil, namun matanya menangkap sesuatu di wajah Jerry.

Dia sadar.

Dan dia tidak suka.

Karena di detik itu juga…

Charlotte tahu:

Bayangan Alicia akan menghantui Jerry,

bahkan setelah dia menjadi istrinya sendiri.

Rika terdiam. Ia memandang Alicia yang sudah menjauh dengan mata berkaca-kaca.

Apakah Alicia benar-benar menerima pernikahan itu?

"Alicia, ibu mohon jangan menerima pernikahan ini. Ini bukanlah pernikahan yang sesungguhnya namun ini adalah bukti bahwa kedua orang tuamu menjual kamu nak." Kalimat itu hanya terucap di dalam hati.

Terkadang melihat Tonny dan juga Sofia memperlakukan Alicia, membuat wanita tua itu bertanya? apakah sebenarnya ada manusia yang seperti ini kejamnya terhadap darah dagingnya sendiri ? dan yang lebih buruk lagi dia justru memperlakukan anak pungut seperti Tuan Putri.

"Mami, aku nggak mau kalau pernikahan aku ditunda sampai setelah Kakak menikah." Charlote berkata dengan manja. Padahal wanita itu sudah bermimpi menikah dengan Jerry. Pria yang begitu sangat tulus mencintainya dan bahkan rela menjilat telapak kakinya.

Namun mengapa pernikahan itu harus ditunda hanya karena permintaan dari Alicia?

"Sayang, pernikahan yang dilangsungkan secara tergesa-gesa itu sangat tidak baik. Nanti gosip miring tentang kamu dan juga Jerry akan tersebar. Lagipula jika Alicia yang duluan menikah, hubungannya dengan Jerry yang dulu, orang beranggapan bahwa dialah yang berkhianat."

"Kita akan gelar pertunangan untuk kalian. Jadi walaupun acara pernikahan belum berlangsung, orang-orang sudah tahu bahwa kalian akan menikah," kata Tonny.

Jadi tidak menjawab apa-apa. Dia bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas karena saat ini pikirannya hanya tertuju kepada Alicia.

---

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 203

    “Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 202

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 201

    Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 199

    Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 198

    Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 197

    Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status