Mag-log in
Bab 1
Alicia menutup berkas rekam medis terakhir hari itu, lalu memijat tengkuknya yang kaku. Shift hari ini benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena tidak tidur selama 24 jam saja, tapi juga karena telepon dari orang tuanya pagi tadi masih terngiang nyata di kepala. “Alicia, kamu sudah cukup umur. Charlotte juga sudah siap menikah dengan Jerry,” suara ibunya terdengar lembut… namun penuh tekanan. Alicia hanya terdiam waktu itu. Bagaimana ia bisa menjawab? Dadanya terasa sakit dan juga sesak saat mendengar nama Jerry di sebut Jerry adalah pacarnya. Bukan milik Charlotte. Bukan milik anak angkat orang tuanya. Yang lebih menyakitkan, mereka mengucapkannya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Kamu akan kami nikahkan dengan calon lain yang lebih cocok. Kamu harus mengalah terhadap adik mu. Ingat kondisi tubuh Charlotte lemah,” ucap ayahnya dingin sebelum telepon terputus sepihak. Alicia memejam lama. Napasnya berat. Ia menyandarkan punggungnya disandar kursi. Hal seperti ini sangat sering dilakukan oleh orang tuanya. 15 tahun Alicia mengalami hal menyakitkan seperti ini. Seharusnya ia sudah terbiasa. Namun nyatanya, rasa sakit tetap saja menusuk hingga uluh hati. "Lagi-lagi harus mengalah demi anak pungut." Alicia tersenyum sinis. Namun air mata tetap saja menetes. Dengan cepat ia menguap pipinya. Seperti biasa, yang harus mengalah adalah dia. Putri kandung. Yang tidak pernah dianggap ada oleh orang tuanya. Jika mereka tidak menginginkannya, lalu untuk apa menjemputnya di panti asuhan, lima belas tahun yang lalu. Lamunan Alicia buyar ketika seorang perawat mengetuk pintu dan memberitahu, “Dokter Alicia, ada satu pasien lagi di ruang VIP.” “Baik…” gumamnya, pasrah. --- Tubuh Alicia terasa seperti hendak rubuh. Sudah hampir 24 jam ia tidak tidur. Piket malam + pasien emergency yang datang bertubi-tubi hingga subuh. Kelopak matanya serasa dilem. Kepalanya berdenyut, dunia berputar. Hanya 15 hari lagi ia resmi menjadi dokter tetap di Citra Hospital. Karena itu, ia harus membuktikan diri agar diterima menjadi dokter tetap di rumah sakit ini. Ia ingin segera keluar dari keluarga Tonny Kurniawan. Dan menjalani hidup secara mandiri. Sikap profesional, tidak boleh terlihat rapuh. Ia menarik napas panjang, kemudian memakai masker hingga menutup sebagian wajahnya. dan mendorong pintu pelan. Ruang itu sunyi. Terlalu sunyi. Di atas ranjang pasien, duduk seorang pria dewasa bertubuh tegap. Kaki panjangnya menjuntai ke lantai, bahunya lebar. Wajahnya tampak menahan nyeri, namun sorot matanya tajam saat melihat Alicia. “Pasien… laki-laki dewasa?” gumam Alicia bingung. Ruangan VIP itu dingin menusuk, AC terpasang di 16°C. Namun punggung Alicia justru dipenuhi keringat dingin. Ia adalah dokter yang menangani area sensitif karena SOP. Dan pria di depannya, jelas bukan anak-anak. Namun ia harus profesional. Demi bisa mendapatkan status dokter tetap. Jika tidak bekerja dengan baik, maka masa kerja tidak di lanjutkan. Itu artinya ia harus mencari rumah sakit yang lain. “Halo,” Alicia memperkenalkan diri dengan suara serak. “Saya Alicia. Anda boleh panggil saya Dokter Licia.” Pria itu memperhatikannya dalam diam. Mata tajam itu menilai, seolah meragukan kelayakannya. Tidak tersenyum. Tidak bicara. Dan keheningan itu membuat Alicia semakin gugup. “Mengapa pasien dewasa tapi tetap diarahkan ke aku…” batinnya, otaknya terasa lambat karena lelah. "Ya sudah setengah melakukan pemeriksaan, jika penyakitnya berat dan aku tidak bisa menanganinya, tinggal di serahkan ke dokter Joko, Spesialis Urologi," batin Alicia. Bulu kuduk Alicia merinding ketika membayangkan benda yang akan ia lihat nanti. Devan mengerutkan keningnya saat memandang Alicia. “Ada apa?” tanyanya dalam suara rendah yang menggetarkan ruangan. Alicia tersentak. Ia segera kembali ke mode profesional. “Silakan buka, tuan," katanya sambil menunjuk tepat ke celana pria itu. Devan refleks menoleh cepat. “Maksudnya?” Alicia menelan ludah. “Iya… buka. Kalau tidak bisa, saya bantu bukakan.” Hening. Dua detik. Tiga detik. “Dokter Licia…” suara Devan rendah tapi sangat jelas, “Jangan mesum.” “Hah? Mesum dari mana?!” Alicia hampir tersedak napasnya sendiri. “Kamu nunjuk celana saya,” Devan mengangkat alis, tatapan menuduh. “Itu karena saya dokter, bebas melihat tubuh manusia dibagian manapun. Bagi saya, bagian tubuh manapun, hanya lah gumpalan daging, tanpa nafsu, tanpa ketertarikan. Mau sebesar ini atau sebesar ini sekalipun, tidak masalah!” Alicia berkata sambil menunjukkan jari telunjuk serta pergelangan tangannya. Tapi Devan menatapnya dengan penuh kemarahan. Alicia sudah terlalu lelah untuk debat. Saat ini ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali pulang ke rumah untuk beristirahat. “Silakan buka,” ulangnya tegas. “Tidak.” Devan menolak. “Apa kau tahu siapa aku? Aku Devan Alexander,” geramnya. Nama itu jelas penting. Siapa yang tidak kenal Devan Alexander. Mendengar namanya saja sudah membuat nyali nyali menciut. Namun berbeda dengan Alicia. Wanita itu terlihat tenang dan tidak peduli. Mode dokter otopilot aktif. Tanpa peringatan, ia maju dan menarik karet celana training Devan. “A—HEY!” Devan hampir terlompat dari ranjang. Alicia sudah setengah berjongkok. Profesional. Sangat cepat. “Tuan Devan, siapa pun Anda, saat ini Anda sedang sakit dan butuh pertolongan. Dan saya… akan bekerja sebaik mungkin.” Alicia berkata dengan wajah tegang. Devan ternganga tidak percaya. Alicia bahkan sempat bercanda. “Tidak pakai celana dalam ya? Wah, persiapan yang sangat baik…” Ia terkekeh gugup. “Atau… Anda tipikal tubles? Yang memang gak bakal dalaman.” Wajah Devan memerah padam. Ia memang tidak memakai celana dalam karena cedera pinggul dan sulit menunduk. Tapi dokter ini… tidak perlu terlalu jujur juga! “Kamu mencari masalah denganku,” geramnya. Ia hendak meraih celana itu kembali. Namun Alicia dengan refleks medis tiada banding, menendang celananya jauh ke belakang. Membuat Devan semakin ingin meledak. ---“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







