Share

Bab 2

Penulis: Liazta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-18 20:57:28

"Santai saja jika bersama dengan dokter. Saya melakukan segala sesuatu sesuai dengan SOP."

Ia mengenakan sarung tangan lateks.

Lampu pemeriksaan ia tarik ke arah depan.

Detik berikutnya, Alicia mulai melakukan pemeriksaan medis standar, sesuai teknis, klinis, terfokus.

Bukan sensual, bukan menggoda.

Murni prosedural.

Ia memeriksa dengan sangat detail.

"Tidak adanya pembengkakan,

Tidak tanda-tanda infeksi,

Tidak ada iritasi kulit,

Tidak ada kelainan bentuk,

dan tanda-tanda trauma.

Wajah pria itu merah padam. Meskipun ia sudah dilecehkan oleh Alicia, namun mengapa bagian kejantanan nya tidak bisa diajak bekerja sama. Pentungan nya justru berdiri dengan gagah.

"Bentuk Ok, ukuran besar, untuk standar pria dewasa. Ini juga tidak bengkok. Sedikit dipegang saja, sudah berdiri kokoh. Kemudian bagian biji, ada dua dengan bola yang besar-besar." Alicia berkata dengan sedikit tersenyum. Namun bulir bening di dahinya, menjadi pertanda bahwa dia s

Semuanya dilakukan dengan keseriusan seorang dokter yang terlatih…

…pada pasien yang salah.

Devan menegang.

Secara harfiah dan emosional.

“Dokter… tolong hentikan sebentar…” suaranya serak, mencoba tetap sopan meski situasinya absurd.

Alicia menatap dengan mata lelah tapi fokus. “Tolong jangan tegang. Ini hanya pemeriksaan fisik. Normal."

“Normal bagi siapa?” Devan hampir kehilangan sabar. “Aku bukan—”

“Sst.” Alicia mengangkat satu tangan, menyuruhnya diam seperti menyuruh anak kecil.

Devan terdiam… antara kesal dan tak percaya.

Alicia kembali memeriksa dengan sangat teliti. Ia mencatat kondisi kulit, memiringkan sedikit tubuh pria itu untuk memeriksa sisi lain, bahkan menyinari area yang menurutnya bermasalah.

“Hmm… tidak ada tanda infeksi,” gumam Alicia tulus dan profesional. “Kenapa tadi perawat bilang kemungkinan peradangan ya? Atau mungkin kamu baru selesai sun—”

“Dokter!” Devan akhirnya menghentikan.

Alicia mengangkat kepala, menatapnya dengan mata benar-benar lelah.

“Ada keluhan lain?”

Devan memejamkan mata, mencoba mengumpulkan kesabaran.

“Aku datang karena luka di pinggul, bukan untuk pemeriksaan… ini.”

Alicia berkedip.

Sekali. Dua kali.

Kemudian…

“…oh.”

Hanya itu kata yang keluar. Pelan.

Wajahnya memucat.

Kelelahannya seperti menampar dirinya kembali ke realitas.

Ia baru sadar, pria ini bukan pasien anak, bukan kasus infeksi kelamin, dan ia baru saja melakukan pemeriksaan yang tidak perlu… pada salah satu pengusaha muda paling terkenal di kota ini.

Alicia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan… apa yang telah aku lakukan?”

Devan hanya menatapnya.

Ada kesal.

Ada bingung.

“Dokter,” katanya pelan. “Kamu… selalu begini?” Wajah Devan sudah sangat marah. Ia merasa di lecehkan.

"Kau sudah terbiasa melakukan pencabulan terhadap pasien laki-laki?"

Alicia terdiam membatu.

Otaknya seperti baru menyala setelah konslet parah selama lima menit terakhir.

“A-aku…”

Suara Alicia bergetar. Ia menunduk, telinganya panas menahan malu.

Sementara itu Devan akhirnya menarik napas panjang untuk menahan emosi. Ia berdiri sambil memeluk pinggulnya. Ia benar-benar lupa soal celananya yang tergeletak di lantai. Rasa malu, marah, dan tidak percaya campur menjadi satu.

“Kau…” Devan menunjuk wajah Alicia dengan jari gemetar karena menahan amarah.

“Kau benar-benar… benar-benar—”

Kata-katanya tertahan.

Entah karena terlalu kesal… atau terlalu malu mengulang apa yang baru saja terjadi.

Alicia langsung berdiri tegak, seperti prajurit yang baru dipergoki melakukan kesalahan fatal.

“Tuan, tolong maafkan saya.”

Nada suaranya berubah lembut sekali, seperti anak kucing takut dimarahi.

Devan tak menjawab.

Ia hanya menunduk mencari celananya, sampai Alicia mendadak memungut celana itu lebih dulu.

Dan bukannya memberikan dengan baik-baik…

Alicia justru memegangi celana itu erat-erat sambil menahannya dari tangan Devan.

“Kembalikan celana saya!” Devan berkata dengan rahang mengeras.

“Aku tahu,” Alicia menggenggam celana itu semakin kuat. “Tapi tolong maafkan saya dulu.”

“Aku ingin pakai celanaku dulu.”

“Tapi aku mau minta maaf dulu!!”

Keduanya saling tarik menarik celana training tersebut.

Tubuh Devan tidak baik-baik saja. Ia bahkan melepaskan celananya karena kalah kuat dari Alicia.

Devan menatapnya dengan mata tajam.

Alicia menatap balik dengan mata berkaca-kaca.

“Tolong maafkan saya…” suara Alicia melemah lagi, kecil, gemetar, penuh penyesalan.

Devan menghela napas berat.

Bukan karena luluh.

Tapi karena kesal sampai tidak tahu harus berkata apa. Baru kali ini ia bertemu dengan dokter mesum seperti ini.

“Alicia.” Suara Devan tegas, dingin. “…kau benar-benar mencari masalah denganku.”

Alicia langsung memucat.

Jantungnya terasa jatuh ke lantai.

“T-tapi saya dokter! Saya hanya… saya hanya menjalankan SOP!” katanya panik, walau malah makin menunjukkan kepolosannya.

“SOP apa?” Devan menyipitkan mata.

“Tunjuk celana orang dan langsung membukanya?”

Alicia terdiam.

Mulutnya terbuka… tapi tak ada satu pun jawaban yang masuk akal keluar.

Devan akhirnya merampas celananya dengan kasar.

Alicia refleks terlonjak, tapi tidak melawan.

“Tuan Devan, tolong maafkan saya…” ulang Alicia, kali ini suaranya lirih sekali.

Ia meremas jarinya, gugup, takut, sekaligus merasa sangat bersalah.

Devan perlahan memakai celananya.

Gerakannya napas naik turun karena marah.

Alicia menunduk, tidak berani melihat.

“Kalau… kalau Tuan mau laporkan saya ke bagian HRD juga boleh. Tapi jangan laporkan ke direktur, nanti saya nggak lulus training…”

Devan menghentikan gerakannya.

Ia menatap Alicia lama.

Dokter muda itu menggigit bibir, menahan tangis.

Wajahnya merah dan pucat bersamaan.

“Kau ini…” Devan mengusap wajahnya sendiri.

“…dokter paling menyebalkan yang pernah kutemui.”

Alicia mengangguk cepat, seperti anak kecil.

“Saya tahu. Saya sadar. Saya menyesal. Tolong jangan laporkan saya. Saya tidak mau dipecat.”

Devan hendak menjawab marah tapi kalimat itu tertahan lagi di tenggorokan.

Karena entah kenapa…

Melihat dokter kecil itu hampir menangis, dengan mata merah kelelahan, rambut acak-acakan, dan suara yang gemetar.

Marahnya pelan-pelan mereda. "Kenapa kau ceroboh sekali?!"

Tapi dia tetap Devan.

Harga dirinya terlalu tinggi untuk luluh dalam satu menit.

“Aku belum tentu memaafkanmu,” katanya dingin.

Alicia langsung menunduk makin dalam.

“Tapi…” Devan menambahkan, suaranya lebih pelan.

“Aku akan memutuskan setelah kau perban lukaku dulu.”

Alicia langsung mengangkat kepala cepat-cepat. “Jadi… jadi masih ada kesempatan saya tidak dipecat?”

Devan mendesah frustrasi.

“Perban dulu lukaku. Setelah itu baru kita bicara soal yang lainnya.”

Alicia tersenyum canggung.

“Baik, Tuan. Tapi… tolong jangan marah lagi ya.”

Devan hanya diam sambil memejamkan matanya. Menahan rasa sakit dan kesal secara bersamaan.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Farah Fa
awalnya lucu...semoga selanjutnya LBH seru lg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 95

    Sofia berdiri. Sisa air matanya mengering, digantikan oleh tatapan sedingin es.“Karena aku ingin tahu,” ucapnya perlahan, setiap kata terukur, “apakah suamiku hanya seorang pengkhianat… ataukah dia juga seorang penipu yang bekerja sama dengan asistennya untuk memalsukan kenyataan.”Tonny membeku. Untuk sepersekian detik, otot rahangnya mengeras. Senyum puas yang tadi menghiasi wajahnya kini retak di sudut bibir.Sofia meraih amplop cokelat yang sejak tadi hanya ia pandangi. Tangannya mantap—tidak gemetar, tidak ragu. Seolah seluruh kesedihan barusan hanyalah akting atau fase yang sudah ia lewati. Di ambang pintu yang sedikit terbuka, langkah kaki Sinta terhenti. Wanita itu mematung. Detik itu juga, instingnya berteriak: ini bukan amplop yang sama.Sinta menelan ludah. Pikirannya berputar liar. Ia yakin rambut yang disimpan Sofia sudah diganti. Ia yakin laporan itu aman. Ia yakin segalanya terkendali.Kakinya gemetar dan ingin pergi. Namun entah mengapa kaki itu terpahat tanpa bisa be

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 94

    Bahagia.Bukan lega yang penuh haru, melainkan kebahagiaan yang mentah, kasar, dan egois.“Sayang!” serunya cepat, suaranya dipenuhi nada kemenangan. “Kamu lihat? Aku tidak membohongimu!”Ia menoleh ke arah Sofia dengan senyum lebar yang mengerikan di tengah tangis istrinya. “Aku tidak pernah mengkhianatimu. Charlotte bukan anakku!”Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa jeda, tanpa sedikit pun empati bagi perasaan Sofia yang sedang hancur. Bagi Tonny, yang terpenting adalah dirinya bersih.Ia benar-benar artis yang sangat berbakat dan profesional. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun diraut wajahnya.Sinta berdiri di belakang mereka, tersenyum kecil—senyum kemenangan yang tersembunyi. “Syukurlah,” ucapnya pelan. “Saya selalu tahu Pak Tonny adalah orang baik. Pak Tonny benar-benar pria setia dan sangat menyayangi anda. Disaat anda sakit dan mengalami depresi berat, dia tidak pernah meninggalkan anda. Bahkan pak Tonny dengan sangat sabar merawat anda. Disaat anda mengamuk, memukulnya bah

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 93

    Tonny melangkah masuk ke kantor dengan wajah berseri-seri—tipikal wajah pria yang baru saja merayakan kemenangan kecil. Kemejanya tersetrika rapi, langkahnya ringan, dan ada kepuasan murahan yang belum sepenuhnya pudar dari sorot matanya. Tidak ada yang tahu, dan ia memastikan tidak akan ada yang perlu tahu, bahwa pagi itu ia baru menikmati tubuh sintal Sinta.Ia menutup pintu ruangannya perlahan. Namun, suasana cerah yang ia bawa mendadak terbentur pada kesunyian yang dingin.Di sudut ruangan, Sofia duduk membatu.Wanita itu menatap sebuah amplop cokelat di atas meja kerjanya. Amplop itu diam, tak bergerak, namun seolah memiliki detak jantung yang mengancam. Tangan yang biasanya tampak kuat dan cekatan—kini bergetar hebat setiap kali jemarinya mencoba mendekat. Beberapa kali ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian, namun selalu berakhir dengan keraguan yang menyakitkan.32 tahun, bukanlah waktu yang singkat. Selama 32 tahun ia menjadi istri dari Tonny. Rasanya sangat

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 92

    Pagi setelah tragedi semalam datang dengan cahaya yang terlalu terang—seolah dunia sengaja bersikap kejam dengan tetap berjalan normal, tanpa peduli ada satu orang yang nyaris tenggelam oleh rasa bersalahnya sendiri.Alicia berdiri mematung di dapur mansion keluarga Alexander. Secangkir teh di tangannya telah lama mendingin, tapi ia tak menyadarinya. Pikirannya berputar liar, kembali ke satu kenyataan pahit: ia tertidur di kantor Devan. Sebagai dokter pribadi yang dibayar mahal, itu bukan sekadar kelalaian; itu adalah cacat profesionalisme yang fatal.Ia seharusnya menjadi tameng medis Devan, waspada terhadap setiap perubahan ritme jantung atau napas pria itu. Namun semalam, di tengah kelelahan yang mencekik, ia justru luruh. Ia merasa seperti pengkhianat atas kepercayaan yang diberikan Nyonya Luna.“Kamu kenapa berdiri di situ dari tadi?”Suara berat itu membuat Alicia tersentak hingga tehnya sedikit tumpah. Ia menoleh dengan jantung berdegup kencang. Devan berdiri di ambang pintu, m

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 91

    Lift apartemen itu bergerak naik dalam keheningan yang senyap. Tonny berdiri di dalamnya dengan jas rapi dan wajah yang terkontrol sempurna—seolah ia baru saja menyelesaikan rapat penting, bukan sedang menuju pelarian yang ia sembunyikan lebih dari 25 tahun. Begitu pintu apartemen terbuka, Sinta sudah menantinya. Mengenakan gaun tipis dengan aroma parfum yang menyengat, ia menyambut Tonny dengan senyum yang dipaksakan—sebuah ekspresi yang lahir bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan.“Aku kira kamu tidak jadi datang,” bisik Sinta sambil mendekat, memangkas jarak hingga terlalu intim untuk sekadar sapaan.Tanpa menjawab, Tonny menutup pintu di belakangnya. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan Sinta. Tidak ada keraguan, apalagi rasa bersalah. Hanya ada desakan liar yang telah ia pendam terlalu lama. Dua minggu tanpa pelampiasan tidak membuatnya sadar; itu justru membuatnya semakin haus akan kendali.Apartemen itu sunyi, kedap suara, dan mahal. Sebuah ruang isolasi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 90

    Pagi itu, rumah Tonny terasa berbeda. Meski semuanya tampak "baik-baik saja", ada keheningan yang janggal—tidak ramai, tidak dingin, namun terlalu tenang hingga terasa menyesakkan.Meja makan tertata sempurna. Roti panggang masih mengepulkan uap tipis, bersanding dengan semangkuk sup bening di hadapan Sofia. Tonny meletakkan sendok dengan presisi: menghadap ke kanan, karena ia tahu Sofia kidal.“Kamu jangan minum kopi dulu,” ujar Tonny lembut sambil menarik cangkir itu menjauh. “Perutmu masih sensitif. Aku buatkan teh hangat saja.”Nada suaranya penuh perhatian. Terlalu penuh, seolah setiap kata telah diperhitungkan. Sofia tersenyum kecil dan mengangguk tanpa membantah. Sudah satu minggu ini Tonny berubah total: hadir, telaten, bahkan hangat.Sofia teringat malam sebelumnya, saat jari-jari Tonny memijat pundaknya dengan sabar, menekan titik-titik lelah di punggungnya.“Kamu capek,” bisik Tonny saat itu. “Aku tahu kamu terlalu sering memaksa diri.”Kalimat itu sederhana, namun cukup un

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status