Share

Bab 341

Author: Liazta
last update publish date: 2026-05-08 22:11:05

Belum lama Thomas mengirim pesan singkat, ia mengatakan makan siang bersama klien. Sofia tidak menyangka bahwa pria itu juga ke restoran ini. Sama dengannya.

"Kenapa harus ketemu di sini?!" Batin Sofia

Rayan yang duduk di sebelah Sofia akhirnya ikut menoleh ke belakang.

Dan pria itu langsung sedikit mengernyit.

Karena tentu saja—

ia mengenali Thomas.

Salah satu pengusaha besar yang namanya sangat terkenal.

Namun yang membuatnya heran—

kenapa pria itu terus melihat ke arah meja mereka?

Sementar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 372

    Devan mengalihkan tatapannya dari panggung, menatap Bara dengan sorot mata yang teramat dalam. "Karena wanita yang akan berdiri di sana bersamaku adalah Alicia."Jawaban ringkas itu sukses membuat Bara bungkam seribu bahasa. Ia tahu persis apa arti di balik kalimat itu. Selama bertahun-tahun mengabdi sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Devan, ia belum pernah melihat sisi rapuh dan manusiawi dari pria ini.Biasanya, Devan selalu tampil sebagai sosok yang tenang, rasional, penuh perhitungan, dan memegang kendali penuh atas emosinya. Namun, begitu nama Alicia masuk ke dalam persamaan hidupnya... semua kemampuan defensif itu seolah meleleh tak bersisa."Aku bahkan merasa jauh lebih tenang saat harus menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah di depan para konglomerat, daripada harus mempersiapkan acara pertunangan ini," gumam Devan sembari terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.Bara ikut tertawa rendah, mencoba mencairkan ketegangan bosnya. "Kalau Nona

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 371

    Hari itu benar-benar menguras seluruh sisa energi Devan.Sejak fajar menyingsing, ia sudah harus berada di bandara untuk mengejar penerbangan luar kota paling awal. Salah satu perusahaan cabang miliknya mengalami badai operasional yang cukup fatal—jenis masalah pelik yang tidak akan bisa selesai hanya dengan membaca tumpukan laporan di atas meja kerja, atau sekadar melakukan rapat daring lintas layar. Sebagai pemimpin tertinggi, Devan tahu ia harus turun langsung melempar tubuhnya ke medan laga.Dari satu ruang rapat pengap ke ruang rapat lainnya. Dari meneliti ratusan lembar audit hingga melakukan inspeksi mendadak ke lapangan di bawah terik matahari. Dari siang yang memanggang hingga malam yang mendingin.Jadwalnya begitu padat merayap, bahkan waktu makan siangnya pun terlewat begitu saja tanpa sempat ia pusingkan.Namun, bagi Devan, yang paling menyiksa hari itu sama sekali bukan beban pekerjaan yang menumpuk. Melainkan fakta tak kasatmata bahwa sejak pagi buta, ia belum bertemu de

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 370

    "Jadi, apa ada tempat yang ingin kalian kunjungi lagi setelah ini?" tanya Thomas menawarkan.Sofia menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di bantalan kursi. "Sepertinya tidak ada. Aku ingin langsung pulang ke rumah.""Aku juga ingin langsung pulang," sahut Alicia membenarkan."Sama, aku juga," timpal Rayan ikut menimpali.Ada rasa lega setelah bertemu dengan Tonny. Namun tetap saja ia tidak puas, karena melihat Tonny masih bernapas.Thomas mengangguk paham. "Baiklah, kita langsung pulang."Mobil bergerak mulus meninggalkan area luar lapas yang semakin menjauh di spion. Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan yang teramat nyaman dan menenangkan. Sampai tiba-tiba, di tengah lampu merah, Thomas melirik ke arah Sofia yang sedang sibuk membuka botol air mineral."Ayo nonton bioskop malam ini," ajak Thomas tiba-tiba dengan nada kasual.Uhuk!Sofia yang baru saja meneguk airnya seketika tersedak ringan. Ia buru-buru menyeka bibirnya dengan tisu, menatap Thomas dengan mata membelala

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 369

    Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu ruang kunjungan lapas, Sofia langsung menarik napas panjang. Ia mengembuskan udara pengap dari dalam sana perlahan-lahan.Entah kenapa, dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang. Plong, seolah beban berat yang selama bertahun-tahun ini menggelayuti pundaknya mendadak menguap tanpa sisa. Mungkin karena akhirnya ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa mengenaskannya keadaan Tonny sekarang. Atau mungkin juga, karena untuk pertama kalinya ia benar-benar tersadar bahwa rasa cintanya pada pria itu sudah mati total. Yang tersisa hanyalah rasa hambar.Sofia, Alicia, dan Rayan sudah duduk di dalam mobil, sementara Thomas masih tertinggal di belakang. Mereka menunggu hampir sepuluh menit di bawah terik matahari halaman parkir lapas. Barulah sosok pria matang itu muncul dari pintu utama dengan langkah tegap dan santai seperti biasa, seolah tidak baru saja melempar bom mental pada narapidana di dalam sana.Begitu Thomas membuka pintu mobil dan mendu

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 368

    Ruangan mendadak sunyi senyap seketika.Lima detik. Sepuluh detik. Thomas hanya diam menatap Tonny dengan pandangan yang sulit diartikan.Lalu..."Hahahahahahaha!"Thomas meledak dalam tawa. Bukan sekadar tawa kecil, melainkan tawa lepas yang menggema di seluruh ruang kunjungan. Bahunya bergerak-gerak naik turun, bahkan sudut matanya sampai sedikit berair karena terlalu geli mendengarkan teori konspirasi picik dari pria di depannya.Tonny membeku di tempatnya. Rasa percaya dirinya runtuh seketika saat melihat reaksi Thomas yang sama sekali di luar dugaannya. Ia tidak mengerti apa yang lucu dari tuduhannya.Setelah puas tertawa, Thomas akhirnya menyeka sudut matanya, menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa senyuman di wajahnya. "Tonny... Oh, Tonny. Kau benar-benar makhluk yang menarik.""Apa yang lucu?!" bentak Tonny, merasa sangat dihinakan.Thomas kembali terkekeh pelan, memperbaiki posisi duduknya. "Kau pikir pria sepertiku perlu melakukan taktik murahan seperti balas dendam hanya k

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 367

    "Sofia, maafkan aku. Aku mohon, beri aku kesempatan satu kali lagi." Tonny berusaha mengeraskan suaranya agar Sofia tidak pergi dan mendengar ucapannya. Namun nyatanya, wanita itu tidak menghentikan langkah kakinya. Ia tetap saja berjalan meninggalkan ruangan. "Rayan, Alicia, maafkan papi. Papi mohon, beri papi kesempatan satu kali lagi."Tonny memanggil kedua anaknya. Rayan dan Alicia, berjalan di belakang Sofia sambil berpegangan tangan. "Rayan, tolong bebaskan papi dari sini. Papi tidak sanggup di sini nak. Papi mohon, papi ingin keluar dari sini." Tonny memanggil putra sulungnya. Namun sayang Rayan tidak menoleh. Melihat sikap Rayan yang seperti ini, ia sangat kecewa. "Rayan, papi sangat menyayangimu. Papi selalu memberikan yang terbaik untuk mu. Papi mohon, bebaskan papi dari sini." Rayan menoleh ke belakang dan kemudian tersenyum. "Bersyukur kau ada di sini, jika kau keluar dari tahanan, aku yakin, kau tidak akan bisa hidup lama." Bulu kuduk Tonny merinding saat melihat s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status