LOGINCandaan hangat di dalam kamar hotel itu berhenti sejenak ketika ponsel milik Sofia yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Di layarnya, tertera nama sang putri yang melakukan panggilan video call."Siapa, Sayang?" tanya Thomas seraya melangkah mendekat, memandang layar ponsel Sofia.Sofia tersenyum nyengir. "Alicia.""Aku rindu Kakak Alicia!" seru Arabella seketika dengan mata berbinar-binar penuh semangat saat mendengar nama kakak bersambungnya disebut.Tanpa mengulur waktu lagi, Sofia langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat sambungan telepon tersebut."Halo Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Sofia penuh kehangatan."Mami... Mami kapan pulang?" Wajah Alicia langsung memenuhi layar ponsel Sofia. Raut wajah cemberut dari putri cantiknya itu terpampang jelas, memancarkan rasa rindu yang teramat sangat.Sofia terkekeh pelan. "Ya... dalam waktu dekat ini, Sayang."Jujur saja, Sofia belum bisa menentukan tanggal pasti kepulangan mereka. Thomas masih sangat e
"Aduhh... pinggangku sakit sekali," keluh Sofia pelan sambil terbangun di pagi hari, sebelah tangannya meraba dan memijat pinggang belakangnya yang terasa pegal luar biasa.Thomas, yang baru saja terbangun dan bersandar di kepala ranjang hotel mewah tempat mereka menginap di Eropa, melirik istrinya dengan senyum usil. "Kenapa, Sayang? Apa mungkin karena salah posisi tidur tadi malam?"Sofia langsung memutar bola matanya dan menatap Thomas dengan sorotan penuh rasa kesal."Thomas, kamu tahu kalau usiaku sudah tidak muda lagi," omel Sofia dengan pipi yang memerah. "Tapi mengapa kamu tidak bisa menahan diri sedikit saja? Seharusnya kamu jangan terlalu—" Sofia menghentikan ucapannya, mendadak salah tingkah sendiri."Jangan terlalu apa, hm?" goda Thomas, menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah itu semua atas inisiatifmu sendiri semalam?""Inisiatif apanya?! Kamu yang menyuruhku, aku kan hanya menuruti!" kilah Sofia membela diri, wajahnya kian merona.Thomas tersenyum geli memandang waj
"Jika kamu memang tidak bisa... tidak apa-apa, Nak," bisik Sinta dengan napas yang makin tersengal di balik selang oksigennya. "Hanya saja... pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti ini... rasanya sangat berat bagi Mami..." Charlotte hanya diam mematung. Matanya menatap lurus ke arah dinding kamar RS Bhayangkara yang bernuansa dingin. Tidak ada riak emosi lagi di wajah cantiknya yang lelah, hanya ada kekosongan yang teramat dalam. "Aku sangat lelah, Mi," ucap Charlotte pelan namun tegas. "Aku ingin pulang dan beristirahat. Nanti jam sepuluh aku harus bekerja lagi di restoran. Jika aku ada waktu... dan disaat hari liburku nanti, aku akan datang ke sini menjenguk Mami lagi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Charlotte membalikkan badannya. Ia merapikan tas kecilnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu keluar. Meskipun logika dan batinnya sudah berusaha menerima keadaan pahit ini, tetap saja... rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk dadanya di setiap helaan napas. Langk
"Waktu itu, aku sangat berharap... andaikan tidak boleh masuk ke dalam ruangan, diizinkan untuk melihat dari jauh saja aku sudah senang. Namun sayangnya kesempatan itu tidak pernah aku dapatkan. Aku bahkan ingin mengintip ke dalam. Melihat dari celah kecil pun aku sudah bahagia. Tapi ternyata, pintu penjagaan mereka sangat rapat. Aku tidak bisa melihat sedikit pun ke dalam."Suara Charlotte mulai parau, sarat akan keputusasaan yang teramat dalam. "Hanya seketika ketika pintu dibuka sebentar, aku berusaha untuk mengintip. Namun tetap saja, aku tidak bisa melihat dengan jelas... tertutup oleh kemewahan mereka."Sinta menangis tersedu-sedu mendengar cerita putrinya, menyadari betapa kejam dunia memperlakukan anak yang dulu ia jadikan alat untuk merebut suami orang."Bagaimana cara aku memohon... jika untuk sekadar mendekat saja aku sudah ditolak mentah-mentah?"Charlotte kemudian tertawa kecil—sebuah tawa sumbang yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan."Meskipun usia Mam
"Padahal wajahmu sangat cantik!" bentak Charlotte dengan air mata yang akhirnya pecah membasahi pipinya. "Tapi kenapa Mami tidak bisa mencari pria lain selain Tonny?! Padahal Mami bisa mendapatkan pilihan pria yang jauh lebih baik daripada dia!"Charlotte mencengkeram besi ranjang dengan sangat erat, menyuarakan amarahnya yang memuncak. "Lihat Mami Sofia! Sekarang dia sudah menikah dengan Thomas! Dia mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dan jauh lebih baik daripada Tonny! Sedangkan Mami?!""Charlotte... maafkan Mami, Nak..." ratap Sinta tak berdaya."Andaikan aku boleh memilih orang tua..." desis Charlotte dengan tatapan mata sarat akan kebencian dan kekecewaan, "aku lebih memilih terlahir dari wanita miskin dan ayah yang miskin tapi menyayangiku! Daripada harus terlahir menjadi anak haram dari skenario busuk kalian seperti ini! Hidupku benar-benar hancur!"Sinta tidak dapat lagi bersuara. Pria yang dulu ia agung-agungkan sebagai cinta pertamanya, kini hanya menyisakan derita tak ber
Jam 6 pagi, ia baru bisa pulang ke apartemen yang ditingkatkan Tonny. Satu-satunya harta warisan yang tersisa. Namun biaya tinggal di apartemen ini cukup tinggi.Tubuhnya terasa sangat lelah. Langkah kaki Charlotte terasa begitu berat menyeret high heels-nya menyusuri jalanan malam. Penolakan Jerry, tawa merendahkan kekasih barunya, serta deretan utang yang menumpuk seolah menjadi tembok tebal yang mengurungnya di neraka. Kini Charlotte benar-benar sadar... di dunia yang kejam ini, tidak ada satu pun orang yang akan sudi mendekat jika ia tak lagi memiliki harta dan tahta.Kringgg! Kringgg!Getaran dan dering ponsel di dalam tasnya memecah keheningan pagi itu. Dengan jemari yang gemetar, Charlotte meraih ponselnya. Sebuah nomor asing tertera di layar."Hallo?" sapa Charlotte dengan suara serak."Apakah ini benar dengan Nona Charlotte, putri dari Nyonya Sinta?" tanya suara wanita di seberang sana dengan nada formal."I-iya, benar. Saya anaknya. Ini siapa, ya?""Kami dari Rumah Tahanan







