LOGINSetelah kejadian tadi malam, Sofia sama sekali tidak memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang mulai memucat oleh cahaya subuh. Bukan karena marah. Bukan pula karena benci. Melainkan karena pikirannya terus dipenuhi potongan kenangan yang selama ini ia paksa terkubur.Tangannya meremas selimut tipis di pangkuannya. Obat-obatan yang sudah hampir 20 tahun ia konsumsi tergeletak rapi di laci samping ranjang.Setiap kali merasakan pikirannya yang tidak nyaman, atau ada masalah sedikit saja yang membuat emosinya terganggu, Tonny akan memintanya mengkonsumsi obat tersebut. Katanya obat itu dapat menenangkan, dan ternyata benar—dengan obat itu Sofia merasa jauh lebih tenang.Sofia membuka laci, menatap botol-botol kecil berlabel medis, lalu menghela napas panjang. Sejak beberapa bulan terakhir, setiap obat itu masuk ke telapak tangannya, ia tidak lagi menelannya. Ia membuangnya diam-diam dan menggantinya dengan vitamin kulit—alasan sederhana a
Pagi itu Alicia terbangun dengan wajah berseri-seri. Matanya langsung terbuka, bibirnya refleks tersenyum. Malam tadi… apa cuma mimpi?Ia bangkit setengah duduk, meraih ponsel di samping bantal. Jarinya gemetar kecil saat membuka notifikasi, dan detik berikutnya—matanya membelalak.Transfer masuk: 500.000.000Pengirim: RayanAlicia langsung menutup mulut. “Ya Allah… beneran,” gumamnya lirih, nyaris tidak percaya.Pandangannya bergeser ke nakas, di mana kado dari Luna dan Devan terletak rapi—tas mahal yang berkilau lembut, dan kotak jam tangan eksklusif yang bahkan belum ia buka sejak semalam.Bukan mimpi. Ini nyata.Baru saja ia menarik napas lega, ponsel bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk: Bibi Rika.Alicia tersenyum lebar dan langsung mengangkatnya. “Halo, Bu! Ibu gimana kabarnya?” sapanya ceria, suara ringan—jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.Di seberang sana, Rika tersenyum puas. Ia sengaja menelepon biasa, bukan panggilan video, agar lebih aman, bebas bicara. “Ibu baik,
Setelah kekacauan di kediaman Tonny, rumah megah itu berubah menjadi tempat yang mencekam. Lampu-lampu kristal masih menyala terang, suar musik terdengar keras dan memekakan. Para tamu undangan tampak sangat bahagia. Mereka tertawa dan kemudian menari bersama. Namun tawa dibibir Charlotte telah mati sepenuhnya. Yang tersisa hanya keheningan berat, seolah setiap sudut menyimpan gema pertengkaran. Ulang tahun yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan bagi Charlotte justru menjelma menjadi mimpi buruk.Charlotte mengurung diri di kamar. Pintu tertutup rapat, tirai jendela ditutup rapat. Gaun pesta mahal masih melekat di tubuhnya, rambut kusut, air mata terus menetes dan amarah. Ia duduk meringkuk di atas ranjang, memeluk lutut, menangis tanpa suara—namun dadanya terasa akan pecah. Setiap kata yang keluar dari mulut Sofia terus terngiang di kepalanya.Anak pungut.Bukan darah daging.Tidak seharusnya berbicara tentang anak kandungku.Kata-kata itu seperti pisau: menusuk, memutar,
Layar ponsel Alicia menggelap. Hening kembali menyelimuti. Ia menatap pantulan wajahnya di layar hitam—mata sembab, bibir bergetar, dada masih terasa penuh.Tangis itu akhirnya tumpah. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, menahan suara agar tak terdengar. Air mata menetes satu per satu, jatuh ke layar ponsel yang masih hangat di genggamannya.Dua puluh empat tahun. Selama itu pula ia merasa seperti bayangan—hadir, tapi tak pernah diperhitungkan. Ulang tahun selalu menjadi momen untuk tersenyum tanpa berharap. Tidak ada kado, tak ada pelukan, tak ada ucapan yang benar-benar untuknya.Dan malam ini… ada seseorang yang mengingatnya. Ada seseorang yang mengucapkan namanya dengan kebanggaan.“Adikku sayang…”Alicia menekan ponsel ke dadanya. Rasa sesak berubah menjadi hangat yang membuatnya gemetar.Tiba-tiba notifikasi masuk: Saldo bertambah. Matanya membelalak, lalu kembali berkaca-kaca.“Abang ini gila…” gumamnya lirih sambil tersenyum, tangis dan tawa bercampur jadi satu.Ia bukan
Seorang pelayan perempuan masuk ke ruang tamu dengan langkah ragu. Begitu matanya menangkap pemandangan di hadapan, ia membeku. Sinta terduduk di lantai, rambut kusut, bibir pecah dan masih mengeluarkan darah. Charlotte menangis tersedu-sedu di sudut, gaun berantakan, bekas tamparan jelas membekas di pipinya. sementara Tonny tergeletak setengah bersandar di sofa, wajah lebam, penuh luka cakaran, dasi terlepas, rambut acak-acakan seperti orang yang baru diseret keluar dari medan perang.Sebenarnya apa yang terjadi? Pertanyaan itu hanya ia ucapkan dalam hati.Pelayan menelan ludah, tangan gemetar namun tetap menunduk sopan. “Maaf, Tuan Tonny…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tuan Thomas masih menunggu Anda di depan.”Kalimat sederhana itu menghantam Tonny lebih keras dari pukulan Sofia sebelumnya. Jantungnya berdegup liar, keringat dingin mengalir di pelipis. Ia ingin menolak, bersembunyi, meminta waktu berhenti—namun tahu menghindar sama saja mengubur reputasinya hidup-hidup.Dengan s
Malam itu, Sofia tak lagi wanita lembut yang selalu tunduk pada suaminya. Tubuh mungilnya berubah menjadi singa betina. Rasa bersalah, bayangkan wajah Alicia yang menatapnya dengan dingin. Kata-kata Alicia, kata-kata Vina, semakin menusuk-nusuk jantungnya. Ia benar-benar terlihat seperti seorang singa betina, makhluk paling berbahaya. Ucapan Charlotte tadi seperti korek yang menyulut bensin.Sofia berbalik perlahan, matanya kemerahan, napas berat. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Charlotte.PLAK!Tamparan keras menggema di ruang tamu. Charlotte terhuyung, kepala berputar. Tangannya secara refleks memegangi pipi yang langsung panas dan perih. Ia menatap Sofia dengan mata membesar, penuh keterkejutan.“Mami…?” suaranya bergetar. “Kenapa Mami menampar aku?”Tangan Sofia sudah kram; telapaknya terasa perih, nyeri menjalar hingga pergelangan. Namun rasa sakit itu tak berarti apa-apa dibandingkan sesak yang menekan dadanya.“Kau hanya anak pungut,” desis Sofia dingin. “Tidak







