MasukPintu ruang pemeriksaan tertutup pelan.
Devan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Alicia yang berdiri kaku layaknya patung. Semua ketegangan yang Alicia tahan sejak tadi, meledak. “Aaakh…” teriak Alicia. Ia langsung jatuh berlutut. Seakan kehabisan tenaga. Napasnya tak beraturan dan bahunya bergetar kecil. “Ya Tuhann, kenapa... kenapa harus seperti ini…” Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecilnya, tapi itu sama sekali tidak membantu. Tangisnya malah semakin pecah. Ia benar-benar marah terhadap dirinya sendiri. “Aku bodoh… aku terlalu lelah… kenapa aku nggak cek datanya dulu…” “Kenapa aku malah buka celananya? Kenapa aku sentuh semuanya tanpa mikir?” Suaranya tenggelam di balik tangisan. Ia menggigit bibirnya sampai terasa perih. Ia tahu betul aturan rumah sakit ini seketat ujian masuk kampus impian. Sedikit saja salah prosedur… sedikit saja laporan masuk… Kariernya tamat. Semua perjuangannya selama berbulan-bulan… Shift panjang tanpa tidur… Belajar sampai pingsan di meja… Semua itu bisa hilang cuma gara-gara satu pasien yang salah penanganan. Ia memeluk lututnya, kepalanya menyentuh pahanya sendiri. Tubuh mungilnya berguncang hebat. “Duh, Licia… Licia… kamu tuh dokter atau satpam pasar… kenapa asal grepe begitu…” Ia menepuk kepalanya pelan, kesal pada dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba. flaaash! Satu nama muncul jelas di kepalanya. Devan Alexander. Alicia langsung mematung. Bibirnya terbuka sedikit. “Itu tadi… miliarder yang sering muncul di berita…?” Ia langsung memukul pelan lantai. “Ya ampun Liciaaaa, kenapa dari semua pasien, harus itu orang!?” Wajahnya semakin merah, antara malu, takut, dan ingin menguap karena kurang tidur. Tapi lalu ia mengingat satu hal penting. Devan… pria itu berjanji tidak akan melaporkannya. Alicia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. “Dia udah janji…” gumamnya lirih. “Aku pasti aman, iya kan? Iya kan, Licia? Ini cuma salah paham kecil, kecil banget, ya ampun tapi aku buka celananya…” Matanya kembali melebar panik. “Aku bukan cuma buka… aku megang…” Wajahnya memerah sampai telinga. “Dan aku PERIKSA semuanya…” Ia menutup wajah dengan kedua tangan lagi. “Oke, itu tidak kecil. Itu super besar.” Ia hampir pingsan sendiri oleh pikirannya. Dan seakan belum cukup, otaknya memutar ulang adegan paling memalukan itu. Ketika ia memeriksa lubang saluran kencing dan bagian lain… dengan sangat teliti. Alicia memukul dahinya sendiri tiga kali. “Aku bakal masuk berita besok kalau dia berubah pikiran…” Air mata kembali menetes. Devan, orang berpengaruh, miliarder, bukan tipikal orang yang bisa didekati, apalagi salah sentuh. Alicia terisak pelan. “Tolong jangan laporkan aku…” bisiknya memohon pada udara, seolah tuan miliarder itu masih di sana. Di dalam ruangan yang sunyi dan dingin itu, Alicia menangis sendirian… antara takut, malu, dan marah dengan kebodohan dirinya sendiri. --- Devan keluar dari ruang pemeriksaan dengan raut wajah suram. Wajahnya memerah, antara menahan sakit, malu, dan marah. Bram, pria tinggi berjas hitam yang selalu mengikuti di belakangnya, langsung menghampiri. “Bagaimana kondisi Anda, Tuan?” suara Bram hati-hati, melihat ekspresi bosnya yang seperti baru diledakkan granat. Devan tidak menjawab. Rahangnya mengeras, napasnya berat. “Apa Anda… baik-baik saja?” Bram mengulang, lebih pelan. Devan menatapnya tajam. “Menurutmu aku terlihat baik-baik saja?” Bram langsung diam. Benar saja, auranya benar-benar buruk. Tanpa diminta, Bram mengikuti langkah cepat Devan menyusuri koridor rumah sakit. “Luka di pinggul anda sangat parah?” Bram menunduk sedikit, mencoba tidak menyinggung perasaan bosnya. Devan menghela napas panjang, penuh frustrasi. “Sudut treadmill itu harusnya dibakar.” Bram menahan tawa. “Tuan… Anda sendiri yang—” “Jangan lanjutkan,” potong Devan cepat. Nada suaranya tajam, tapi ujungnya terdengar seperti seseorang yang sudah mengalami cukup banyak ‘kesialan hidup’ dalam sehari. Bram mengangguk cepat, takut membuatnya makin naik darah. Namun setelah beberapa langkah, ia akhirnya memberanikan diri bertanya lagi. “Maaf, Tuan… tapi mengapa pemeriksaannya tadi… memakan waktu cukup lama?” Devan berhenti. Matanya menyipit. Pipinya memanas lagi, entah karena marah, atau malu mengingat betapa polos atau bodohnya dokter tadi, membuka celananya tanpa ragu. “Itu dokter…,” Devan menahan diri, kedua pelipisnya berdenyut, “Dokter itu… bahkan tidak mengecek dataku." Devan berkata dengan dada turun naik. Bram menganga. “Lalu…?” Devan tidak melanjutkan ucapannya. Ini adalah aib, apa kata dunia jika tahu, bahwa celana Devan Alexander, dibuka paksa oleh seorang dokter, amatiran. "Dokter itu tidak melakukan hal yang senonoh kan, terhadap Anda?" tanya Bram dengan penasaran. jika hal itu benar, bisa di pastikan karier dokter itu akan selesai. Devan diam tanpa memberikan jawaban. Namun raut wajahnya jelas tidak baik. "Ah mana mungkin, dia pasti tidak akan berani." Bram berkata dengan yakin. "Untuk kontrol selanjutnya, aku tidak ingin dokter itu." ---Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi
Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem
Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.
Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan
"Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is
Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel







