LOGINPria itu sudah berbaik hati memberi Alicia kesempatan memperbaiki kesalahannya. Tanpa menunda, Alicia dengan cepat melepas kaos yang dikenakan Devan, gerakannya refleks, terlatih.
“Ternyata kamu memang mahir dalam buka-membuka, ya?” sindir Devan tajam. Alicia tertawa kecil, gugup. Wajahnya memerah sampai ke telinga, tapi beruntung masker menutup separuh wajahnya sehingga pria itu tidak melihat betapa malunya ia saat ini. “Dasar dokter mesum,” gumam Devan lagi. Alicia mendengarnya jelas, setiap kata menusuk, namun ia memilih diam. Memang kesalahan itu ada padanya. Ia menunduk, berada tepat di sisi tempat tidur. Devan kini berbaring menahan kesal, rahangnya mengeras. Luka di pinggulnya masih berdarah, dan setiap kali Alicia menyentuh sedikit saja, keningnya langsung berkerut tajam. “Pelan,” perintah Devan, dingin. Sorot matanya menatap Alicia seolah wanita itu adalah penyebab semua rasa sakitnya. Alicia langsung mengangguk, terlalu cepat. Bahkan hampir seperti takut membuatnya makin marah. “I-iya… maaf, tuan. Aku… aku hati-hati,” ujarnya pelan, menuang antiseptik dengan tangan yang sedikit gemetar. Devan mendengus pendek. “Kamu bilang hati-hati, tapi tanganmu gemetar begitu.” Alicia menelan ludah. Ia merunduk semakin dekat, tubuhnya membungkuk rendah, seperti seseorang yang rela merendahkan dirinya demi satu hal, mendapatkan maaf dari pria itu. “Aku cuma takut bikin kamu sakit lagi,” ucap Alicia lembut. “Aku tahu kamu marah, dan itu wajar. Kesalahan ini memang salahku. Tapi, biar aku yang rawat lukamu, ya?” Devan memalingkan wajah, garis rahangnya menegang. “Aku nggak butuh dikasihani.” “Aku bukan kasihan.” Alicia menggeleng pelan, matanya memohon. “Aku cuma ingin kamu memaafkanku. Sekali saja. Aku, bakal lakukan apa pun untuk menebusnya.” Devan kembali menatapnya tajam, marah, tapi ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan, keraguan. Dan sedikit tersentuh. Alicia melanjutkan merawat lukanya dengan gerakan jauh lebih halus, hampir seperti belaian ringan. Suaranya jatuh makin lembut. “Kalau sakit, bilang, ya? Aku… aku akan lebih pelan lagi.” Devan tetap diam. Namun napasnya berubah lebih berat, lebih cepat. Marah, ya. Tapi ada sesuatu yang mulai menggoyahkan kekesalannya dan ia sangat berusaha menutupinya. Alicia masih menunduk, merawat luka di pinggul Devan dengan gerakan pelan seperti menyentuh guci peninggalan kuno. Setiap kali ia menyentuh kulit pria itu, Devan mengerutkan kening… tapi dia tidak mengatakan apa pun. Tidak memarahi. Tidak menghardik. Hanya diam. Diam yang terasa berat. Alicia berusaha mengatur napas. “Maaf… kalau terasa sakit,” ucapnya lagi, sangat lirih, seolah takut suara sedikit keras saja bisa memicu kemarahan Devan. Devan tidak menjawab. Ia hanya memalingkan kepala sedikit lalu menatapnya lagi. Awalnya tatapan itu dingin. Marah. Menuntut. Namun beberapa detik kemudian, sesuatu berubah. Mata Alicia yang besar dan jernih itu memantulkan cahaya lampu ruangan. Indah. Terlalu indah untuk seorang pria yang sedang kesal. Ada ketulusan yang tidak ia mengerti, atau mungkin tidak ingin ia mengerti. Devan menatapnya tanpa kedip. Kesalnya masih ada, tapi seperti terhalang sesuatu yang lebih pelan, lebih lembut, yang merayap diam-diam ke dalam pikirannya. Alicia mendongak sedikit, menyadari tatapan itu. “A-ada yang salah?” bisiknya cemas. Devan tidak segera menjawab. Lama. Terlalu lama untuk sekadar tatapan marah. Hingga akhirnya ia membuka mulut, suaranya rendah dan dalam. “Lepas maskermu.” Alicia terkejut. “Hah?” Tatapan Devan tidak goyah. “Aku mau lihat wajahmu.” Alicia berkedip, gugup. “T-tapi… aku sedang bertugas…” “Di rumah sakit ini tidak ada aturan dokter wajib memakai masker. Tidak ada pula aturan yang mengatakan dokter tidak boleh memperlihatkan wajahnya kepada pasien,” potong Devan, nada dinginnya kembali, tapi ada sesuatu yang lain di baliknya, rasa ingin tahu yang aneh. “Aku ingin tahu, siapa sebenarnya dokter yang berani membuatku marah seperti ini.” Alicia terdiam. Jantungnya berdebar keras. Sementara Devan, untuk pertama kalinya sejak insiden tadi, tatapannya bukan hanya marah. Tapi juga penasaran. "Jika kau tidak mau membuka masker, maka aku akan melaporkan ke direktur rumah sakit ini!" Dengan tangan yang gemetar halus, Alicia menyentuh tali masker di telinganya. Dadanya naik turun cepat, antara takut dimarahi dan takut kehilangan pekerjaannya. Devan hanya menatap. Diam. Namun sorot matanya tajam, menuntut, sekaligus membuat punggung Alicia seperti ditusuk hawa dingin. Perlahan… masker itu terlepas. Alicia menunduk sedikit, tetapi tetap mengangkat wajah agar pria itu bisa melihatnya dengan jelas. Rambut kecil yang keluar dari ikatannya jatuh ke pipi, membuat wajahnya terlihat semakin muda. Wajah Alicia polos. Lembut. Tak ada riasan. Hanya mata bulat yang penuh cemas, dan bibir kecil yang tampak menggigit ketika gugup. Devan terpaku. Sekitar lima detik… lalu sepuluh detik… Alicia semakin gelisah. “J-jadi… apa saya sudah—” “Cukup.” Suara Devan memotongnya tegas. Pria itu mengambil ponsel dan kuncinya di meja kecil di samping ranjang. Gerakannya cepat, seolah ia mendadak ingin menjauh. Alicia langsung panik. “Tuan! Apa Anda masih akan melaporkan saya? Tadi Anda bilang—” “Aku katakan mempertimbangkan bukan tidak melaporkan.” Ia berdiri, masih tidak melihat Alicia secara langsung. Alicia sadar akan kesalahannya. Ia langsung bersimpuh di kaki Devan dan memeluk kaki pria tersebut. "Tuan, saya mohon, jangan laporkan saya. Saya janji untuk tidak nakal lagi. Saya janji akan menurut dengan anda." Alicia berkata dengan penuh rasa takut. "Lepas," kata Devan. Dengan cepat Alicia menggelengkan kepalanya. Devan menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya secara berlahan-lahan. "Baiklah." Hanya satu kalimat dari Devan, sudah membuat Alicia seakan lepas dari tali yang melilit tubuhnya. “Jangan lakukan kesalahan serupa lagi.” Nada suaranya dingin, tapi bukan marah—lebih seperti ia sedang menahan sesuatu. Entah apa. Alicia menelan ludah. Kepalanya menganggukkan dengan cepat. “T-terima kasih… terima kasih banyak.” Devan berjalan menuju pintu, namun sebelum membuka gagang, ia menoleh sedikit. Hanya dalam beberapa detik, sudah cukup untuk melihat wajah Alicia sekali lagi. “Dokter sepolos apa kamu sampai berani melakukan hal tadi?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Alicia tidak mengerti. Dan sebelum ia sempat bertanya, Devan sudah keluar dari ruangan, tanpa menunggu, tanpa memberi penjelasan apa-apa. ---Wajah Alicia seketika memerah.“Aku tidak membuatmu tersiksa!” bantahnya cepat. “Aku merawatmu!”“Merawat?”Devan mengangkat sebelah alis.“Jangan pura-pura polos, Alicia.”Jemarinya menyelip lembut di antara rambut Alicia, lalu menyingkirkan beberapa helai yang jatuh di wajah istrinya.“Aku masih ingat bagaimana matamu tidak pernah benar-benar bisa berpaling setiap kali kamu harus membantuku membersihkan tubuh.”“Devan!”Alicia langsung memukul pelan dada suaminya.“Itu karena kamu belum bisa mandi sendiri!”“Aku tahu.”Devan justru semakin menikmati kegugupan istrinya.“Tapi kamu selalu melakukannya dengan sangat hati-hati.”“Ya memang harus hati-hati! Punggungmu waktu itu masih cedera.”“Benarkah?”“Benar.”“Bukan karena kamu diam-diam menikmati kesempatan merawat calon suamimu?”Alicia terdiam.Devan tersenyum puas.“Nah.”Ia mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.“Diam begini biasanya berarti aku benar.”“Tidak!”Alicia buru-buru memalingkan wajah, tetapi Devan
Waktu akhirnya merayap tepat ke pukul lima sore.Musik penutup resepsi baru saja berhenti mengalun. Namun, sebelum pembawa acara sempat menyampaikan kalimat penutup secara resmi, panggung pelaminan yang sejak siang menjadi pusat perhatian itu sudah kosong.Bukan hanya Devan yang mendadak menghilang bersama Alicia.Thomas dan Rayan rupanya melakukan hal yang sama.Melihat kekompakan para pria dalam keluarga itu yang seolah telah bersekongkol melakukan aksi kabur massal, Luna hanya bisa berdiri di sudut ballroom sambil menggeleng-gelengkan kepala.Namun, alasan di balik kekompakan mereka sebenarnya sangat sederhana.Kondisi istri masing-masing.Di dalam lift khusus yang membawa mereka menuju lantai suite, Thomas berdiri di sisi Sofia. Satu lengannya merangkul pinggang istrinya dengan erat, sementara tangan yang lain sesekali mengusap punggung wanita itu.Wajah Sofia tampak pucat. Tubuhnya bersandar lelah pada dada bidang Thomas.“Masih sakit pinggangnya, hm?” bisik Thomas lembut.Telapa
Waktu di dinding ballroom baru menunjukkan pukul 01.00 siang. Musik instrumental masih mengalun lembut mengiringi ribuan tamu undangan kelas atas yang saling berbaur menikmati hidangan. Acara resepsi megah itu masih berjalan sangat meriah, namun sang pengantin pria justru sudah tidak bisa duduk tenang.Devan berkali-kali mengubah posisi duduknya, melirik jam tangan mewahnya setiap tiga menit sekali, lalu menghembuskan napas panjang dengan raut wajah yang makin ditekuk. Baginya, menunggu sekitar empat jam lagi sampai acara ini selesai terasa bagaikan menjalani hukuman bertahun-tahun!"Kenapa kamu dari tadi kelihatan gelisah sekali?" tanya Alicia memiringkan kepalanya, menatap Devan heran."Mengapa acara ini lama sekali selesainya, sih?" sungut Devan blak-blakan dengan wajah kesal. Matanya menatap horor ke arah antrean tamu undangan yang bukannya makin berkurang, malah makin mengular panjang."Ya ampun, Devan... Acara kan memang dimulai jam 11.00 setelah akad nikah, dan baru selesai jam
Genggaman Devan pada jemari Alicia tak pernah terlepas, bahkan setelah keduanya kembali duduk berdampingan di meja akad.Alicia menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Pipinya merona setiap kali Devan meliriknya dengan tatapan penuh kekaguman, seolah-olah hingga detik ini pun pria itu masih belum percaya bahwa wanita yang dicintainya kini benar-benar telah menjadi istrinya.“Kenapa menunduk terus, hm?” bisik Devan tepat di telinganya. “Suamimu yang tampan ini ada di sebelahmu, lho.”Bulu kuduk Alicia seketika meremang. Ia menahan tawa, lalu menyenggol lengan Devan dengan sikunya.“Devan, malu dilihat orang banyak...”“Biarkan saja. Kita sudah sah.”Devan menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum mengangkat tangan Alicia dan mengecup lembut punggung tangannya.Alicia semakin salah tingkah.Prosesi penandatanganan buku nikah dan pemasangan cincin pun akhirnya selesai. Tak lama kemudian, keluarga besar mulai berkumpul mengelilingi kedua pengantin baru itu.Ada Luna, Thomas, Sofia, Ra
Pintu utama ballroom perlahan terbuka.Alunan musik lembut mengiringi langkah Alicia yang memasuki ruangan. Gaun pengantin putihnya menjuntai anggun di atas karpet merah, sementara veil tipis yang membingkai wajahnya membuat kecantikannya tampak semakin memukau.Ratusan pasang mata sontak tertuju kepadanya.Namun, di antara seluruh tatapan yang menyambutnya, hanya ada sepasang mata yang benar-benar dicari Alicia.Mata Devan.Pria itu seketika terdiam.Ia bahkan lupa berkedip.Untuk beberapa saat, Devan hanya memandang wanita yang berjalan perlahan ke arahnya dengan tatapan penuh kekaguman.Alicia tampak begitu cantik.Riasan lembut menyempurnakan wajahnya. Bibirnya yang dipoles indah membentuk senyum malu-malu, sementara kelembutan yang terpancar dari seluruh dirinya membuat dada Devan terasa sesak.Hampir dua minggu.Selama itulah ia harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.Dan sekarang, setelah penantian panjang itu, Alicia akhirny
Suasana di dalam ballroom utama yang penuh dengan tatanan bunga melati segar seketika hening mencekam. Ratusan pasang mata tamu undangan serta jajaran saksi tertuju lurus pada meja akad nikah.Mahar pernikahan disusun di atas meja. Pengawalan juga sangat ketat.Jika sultan yang menikah, mahar pasti tidak kaleng-kaleng.Di sana, Devan duduk tegap dalam balutan beskap putih berhias payet perak nan megah. Wajahnya yang tampan tampak begitu tenang, namun di dalam dadanya, detak jantungnya bergemuruh hebat. Di hadapannya, Rayan—abang kandung Alicia yang kini bertindak sebagai wali nikah menggantikan posisi sang ayah—duduk dengan raut wajah sarat emosi.Sesuai surat kuasa wali yang telah ditandatangani, Rayan mengambil alih tugas sakral ini. Ayah mereka, Tonny Usman, pria bajingan yang telah menghancurkan masa kecil Alicia, kini meringkuk dingin di balik jeruji besi tahanan. Tak ada tempat bagi pria itu di hari paling bahagia putri bungsunya.Rayan mengulurkan tangannya. Devan menyambut dan







