Share

Bab 5

Author: Liazta
last update Last Updated: 2025-11-25 11:04:03

Devan kembali ke mansion, dengan langkah berat. Bukan karena lelah, tapi karena setiap gerakan kecil membuat pinggulnya seperti disayat. Luka akibat hantaman besi treadmill itu masih terasa berdenyut, panas, dan memar. Hari yang seharusnya dimulai dengan olahraga pagi… malah berubah menjadi bencana.

Dokter mesum itu.

Alicia.

Nama itu terus muncul di kepalanya, membuat sarafnya menegang setiap kali ia mengingat wajah polos dan bodoh wanita itu.

Begitu sampai di ruang kerja, ia langsung duduk, menghidupkan laptop, dan mengikuti tiga rapat virtual tanpa jeda. Meski tubuhnya ingin berbaring, Devan tetap fokus, suaranya tegas seperti biasa. Tidak ada satu pun asistennya yang berani mempertanyakan kondisinya.

Namun begitu layar rapat tertutup, ia menegakkan punggung sambil menahan desis pelan.

“Sial…” desisnya rendah. “Hari ini benar-benar sial.”

Ia memijat pelipisnya. Rasa frustrasi sudah menumpuk sejak pagi. Diserang treadmill, dipermalukan seorang dokter yang bahkan salah ruangan, sampai disentuh dan diperiksa seperti objek penelitian.

Bukan hanya itu saja, dokter itu menyentuh, memainkan dua bola pompong nya. Benar-benar mempermalukan dirinya.

“Dokter gila,” gumamnya sambil mendengus keras.

Kepalanya miring sedikit, wajahnya memerah kesal setiap kali ingatan itu muncul. Betapa wanita itu berani, tanpa malu, menarik celananya, menahan kakinya, memeriksa bagian yang bahkan istrinya tidak se-detal itu.

Devan mengetukkan jarinya di meja, sedang satu tangan lagi, memegang bagian yang terasa nyeri.

Tepat saat itu, ponselnya berbunyi.

Layar menyala.

Nama yang muncul, Istriku.

Devan menarik napas panjang.Ia menatap layar itu beberapa detik, bibirnya menegang. Luka, rapat, dokter mesum… dan sekarang istrinya.

Hari ini benar-benar menguji kesabarannya.

Dengan tangan yang menegang, ia akhirnya menggeser layar dan menerima telepon.

“Ya,” jawabnya pendek.

"Halo sayang." Vivian tersenyum lebar saat melihat wajah Devan di layar handphone nya.

“Ada apa?"

Suaranya datar, lelah, dan tidak terlalu bersemangat.

"Aku merindukan mu," jawab Vivian dengan suara lembut.

Vivian merupakan sosok wanita yang lembut namun tegas. Cara bicaranya sangat tersusun rapi, layaknya artis terkenal yang sudah biasa tampil di depan publik. Siapa yang tidak mengenal Vivian, artis yang sedang populer dan dikagumi banyak orang.

Devan hanya diam.

“Devan, aku dengar kamu jatuh dari treadmill? Manager ku mendengar berita dari satpam mansion. Kamu baik-baik saja kan?”

Devan menyandarkan tubuhnya, meringis kecil.

“Itu bukan jatuh…” gumamnya. “Aku terseret.”

“Hah?”

Vivienne terdengar tercengang. “Terseret treadmill? Devan… kok bisa?”

Devan memejamkan mata, merasa harga dirinya kembali diinjak.

“Aku sedang lari cepat. Lalu telepon dari kantor masuk. Aku pegang sebentar, keseimbanganku hilang. Kakiku terpeleset dan aku terseret ke belakang.”

Vivienne menghela napas panjang, sambil menatap Devan.

“Aku sudah bilang berkali-kali, jangan angkat telepon saat olahraga. Kamu itu bukan atlet, Dev.”

Devan tersenyum samar. " Kapan kamu mengatakan hal itu? Kapan kamu memperhatikan suamimu ini? "

Vivian terdiam mendengar pertanyaan Devan. Wanita itu kemudian melanjutkan, suaranya lebih lembut sekarang,

“Lukanya parah? Kamu sudah ke dokter?”

Devan menegang.

Ingatan tentang Alicia langsung muncul, dokter polos, ceroboh, konyol, mesum dan sangat menyebalkan itu.

“Sudah,” jawab Devan singkat.

“Dokternya laki-laki atau perempuan?” Nada Vivienne tiba-tiba berubah curiga. Naluri seorang istri terkenal yang selalu diawasi publik.

Namun apakah benar seorang Vivian Astra akan cemburu seperti ini?

Devan mengusap wajahnya, frustasi.

“Perempuan.”

“Hm.”

Vivienne terdengar tidak suka, tapi mencoba tetap elegan.

“Baiklah. Yang penting sekarang istirahat. Aku nggak bisa pulang, ada tapping acara. Tapi aku telepon lagi nanti. Jangan banyak gerak, Dev.”

"Berapa lama lagi kamu di sana?" Wajah Devan mengeras Ketika menanyakan hal itu kepada istrinya.

"Aku di sini sekitar dua minggu lagi deh. Syuting ini sudah hampir selesai."

Devan langsung mengerutkan kening.

“Jadi kamu… tetap di sana? Padahal kamu sudah tahu aku terluka?”

Vivienne mendesah pelan, nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah capek membahas hal yang sama.

“Dev, ini pekerjaan penting. Aku syuting iklan untuk Brand besar. Aku juga syuting untuk film layar lebar. Jika film ini meledak di pasaran, maka namaku akan semakin terkenal, jadwal ketat. Aku bukan bisa seenaknya kabur dari sini. Ada puluhan orang yang bekerja, dan aku bagian dari mereka jika aku pergi, maka syuting tidak bisa dilanjutkan. Begitu juga dengan shooting.”

“Profesionalitas,” gumam Devan sinis.

Nada dinginnya langsung menegang.

“Berapa uang yang harus aku keluarkan, Vivi?” suaranya turun lebih rendah, tajam.

“Berapa kerugian yang harus kubayar supaya kamu bisa berhenti syuting dan pulang?”

Vivienne terdiam beberapa detik, hening yang membuat ombak di belakangnya terdengar lebih keras.

“Devan…”

Nada suaranya berubah dingin.

“Masalah ini bukan tentang uang. Ini tentang profesionalitas. Aku bertanggung jawab pada pekerjaanku. Kamu tahu kerjaanku bukan sekedar…” Ia menarik napas.

"Bukan sekedar ‘pose di depan kamera. Aku serius bekerja di sini.”

“Aku sanggup bayar gajimu sepuluh kali lipat.” Devan membalas cepat dan kasar.

“Kalau itu membuatmu pulang.”

“Uang bukan segalanya, Devan.”

Kali ini nada Vivienne menusuk, bukan marah, tapi kecewa.

“Berapa lama aku harus mengulanginya padamu? Semua hal di hidupku tidak bisa kamu beli. Ini cita-citaku. Ini yang membuat aku merasa hidup. Dan kamu tahu itu.”

Devan mengepal tangan. “Jadi kamu memilih pekerjaanmu daripada suamimu yang sedang terluka?”

“Jangan dramatis.”

Vivienne memotong tegas.

“Aku peduli sama kamu. Tapi aku tidak bisa menghentikan syuting hanya karena kamu tergores treadmill.”

“Itu bukan gores—”

“Devan.”

Nada Vivienne berubah lebih keras.

“Aku akan menelepon lagi nanti.”

Tanpa menunggu balasan…

tanpa ada ruang kompromi…

Klik.

Sambungan terputus.

Devan menatap layar ponsel yang kini gelap.

Rahangnya mengeras.

Dadanya naik turun cepat.

Hari ini benar-benar hari paling sial dalam hidupnya.

Terseret treadmill.

Dipermalukan dokter mesum.

Dan istrinya, memilih pantai Bali daripada dirinya.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 203

    “Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 202

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 201

    Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 199

    Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 198

    Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 197

    Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status