Share

7. Sesi Pertama

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-20 15:10:42

Dokter Javier melangkah cepat dari balik sorot lampu itu dengan wajah gelap dan rahang mengeras kaku.

Tanpa membuang waktu, tangan kanannya menyambar pergelangan Bagas yang sedang mencengkeram tas Andin, lalu memelintirnya ke belakang dengan kuncian persendian yang rapi dan bertenaga.

Bagas memekik kesakitan. Tulang lengannya dipaksa menekuk ke atas, sehingga cengkeramannya terlepas dan tas kanvas itu jatuh ke lantai semen.

Pada detik yang sama, ponsel dalam saku rok Andin bergetar. Layarnya menampilkan pesan teks bertanda seru ganda dari Bu Ratna, yaitu perintah agar Andin datang ke ruang sidang dewan etik dekanat besok pagi pukul 08.00 WIB.

Ternyata, Bagas sudah mengirim laporan itu ke Bu Ratna!

Dengan cepat, Dokter Javier marampas ponsel Bagas.

Andin yang ketakutan, segera bersembunyi di balik tubuh Dokter Javier, lalu merangkul pinggangnya kuat-kuat.

"Dua petugas keamanan klinik saya sudah mencatat nomor pelat motormu, dan rekaman kamera pengawas area parkir sudah merekam aksi pemerasanmu sejak sore tadi," ucap Dokter Javier sambil menekan kuncian Bagas, lebih kuat lagi.

"A-aduh! Lepas, sialan!" rintih Bagas, giginya gemertak menahan sakit.

"Satu langkah lagi kamu menyentuh dia, berkas pidana pemerasan dengan ancaman kekerasan fisik akan masuk ke meja penyidik kepolisian!"

Kuncian itu dilepas, dan Bagas terhuyung dua langkah ke belakang.

Bagas memegangi lengannya yang ngilu, menatap Dokter Javier dengan nyali yang runtuh seketika. Mengetahui ancaman hukum itu lebih dari gertakan kosong, Bagas melangkah mundur terbirit-birit menuju sepeda motornya di ujung gang, lalu tancap gas meninggalkan kepulan asap knalpot.

Dua tahun lamanya nama Bagas cukup untuk membuat Andin menunduk dan menurut. Malam ini, pemuda itu lari dalam hitungan belasan detik.

Lalu kenapa dada Andin justru berdebar lebih keras sesudah penolongnya yang datang?

Dokter Javier memungut tas kanvas Andin dari tanah, kemudian menarik pergelangan tangannya tanpa banyak bicara. Pintu depan sedan hitam itu dibuka, tubuh Andin didudukkan di kursi penumpang, dan pintu otomatis terkunci dari dalam.

Hawa kabin terasa dingin, beraroma kulit jok mewah bercampur wangi sabun cendana yang sudah Andin kenali sejak sore tadi.

Di samping kemudi, Dokter Javier mengambil ponsel Andin yang layarnya masih menyala terang, menampilkan pesan panggilan sidang dari Bu Ratna. Rahang pria itu mengeras sepanjang dia membaca pesan singkat mantan istrinya tersebut.

Ponsel dilempar kembali ke pangkuan Andin, lalu kepalanya menoleh ke arah gadis yang duduk membeku dengan napas memburu.

"Ratna sudah mencium ketidakberesan pendaftaran kelas saya. Dia sengaja memanfaatkan namamu untuk menjatuhkan lisensi klinik saya di depan komite etik besok pagi," terang Dokter Javier dengan nada tajam.

"Ta-tapi saya tidak pernah bilang apa-apa ke Bu Ratna. Saya hanya menyebut nama Dokter satu kali di ruangannya, itu pun karena beliau yang bertanya lebih dulu, dan saya..."

"Saya tahu. Wajahmu itu familier. Pasti, kejadian kemaren membuat dia curiga."

"Maksud Dokter?"

"Hadir dalam acara saya, sama saja menunjukkan kalau kamu itu punya suami. Viralnya acara kemaren, tentu membuat dia tahu kalau kamu ikut. Lalu, kalau besok kamu duduk di kursi sidang dengan wajah ketakutan dan napas gemetar seperti sekarang, Ratna akan tahu dalam tiga detik bahwa kamu sengaja memalsukan berkas, belum lagi, skripsimu juga belum selesai."

Andin meremas tali sabuk pengaman, menatap Dokter Javier dengan mata berkaca-kaca. "Lalu saya harus bagaimana, Dok? Saya tidak bisa membatalkan sidang itu. Bu Ratna memegang tanda tangan kelulusan saya."

Tubuh Dokter Javier mencondong ke arahnya.

Jarak udara di antara mereka habis sedikit demi sedikit, sampai embusan napas pria itu menyapu pipi kanan Andin dengan suhu yang hangat dan teratur. Ujung jari telunjuknya menyentuh pangkal rahang Andin, menekan pelan, lalu mengangkat wajah gadis itu agar menatap lurus ke matanya yang gelap.

Kulit di bawah jari itu menghangat duluan. Panasnya turun menyusuri leher, berhenti sebentar di tulang selangka, kemudian merembet ke dada Andin yang naik turun tidak beraturan.

Sabuk pengaman di genggaman Andin makin kusut.

"Kita selesaikan modul kedua malam ini di klinik," ucap Dokter Javier tanpa menarik jarinya. "Kamu harus terbiasa menatap mata saya saat pakaianmu ditanggalkan, supaya besok pagi kamu tidak gemetar di depan tatapan mantan istri saya."

"Ma-malam ini? Sekarang, Dok?"

"Sekarang."

"Tapi jam praktik Dokter sudah lewat, terus saya juga belum mandi, belum makan, dan besok saya harus bangun pagi sekali karena sidangnya pukul 08.00 WIB, jadi saya pikir mungkin lebih baik kalau..."

Jari Andin ditarik, seraya Dokter Javier menatap mata Andin dalam-dalam.

Tatapan itu… kenapa Andin merasa, Dokter Javier ingin melindunginya? Meski pria itu terlihat kejam, tapi Andin justru malah merasa aman di dekatnya?

Punggung Dokter Javier kembali bersandar ke kursi kemudi, memberi Andin ruang seluas dua kepalan tangan yang mendadak terasa kosong.

"Kalau kamu berkata tidak, saya antar kamu pulang ke kos sekarang juga. Tenang, saya tidak memotong honor 5 juta kamu," ucap Dokter Javier sambil menyalakan mesin.

Kerongkongan Andin terasa penuh.

Bayangan kursi sidang dewan etik besok pagi berputar cepat di kepalanya, berganti wajah Bu Ratna, berganti tanda tangan kelulusan, lalu berhenti di sesuatu yang tidak berani dia akui sendiri, yaitu sensasi hangat di garis pinggangnya beberapa jam lalu.

"Aku tinggal bilang tidak, dan semuanya selesai malam ini. Mulutku sudah siap mengucapkannya, tanganku sudah memegang gagang pintu, cuma kenapa aku malah ingat cara tangannya berhenti di punggungku tadi? Ya Tuhan, Andin, kamu kenapa?" batin Andin sambil menunduk dalam-dalam.

"Sa-saya mau, Dok. Saya mau ikut ke klinik malam ini." Gadis itu pun pasrah, diikuti senyuman Dokter Javier yang penuh misteri.

"Bagus. Pasang sabuk pengamanmu!"

Andin memasang sabuk itu dengan jemari yang masih gemetar, lalu menempelkan punggung tangannya ke pipi sendiri demi meredam panas yang belum juga turun.

Sesi pertama saja sudah membuat Andin merinding, lalu apakah sesi kedua ini, Andin harus membuka blusnya, terlebih branya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 15 Bareng Dokter 

    Andin melepas tali tasnya lagi, lalu membungkuk ke arah celah laci tanpa berani menyentuh gagangnya. Di layar yang masih terkunci itu, pratinjau pesan terbaca jelas dari kontak bernama "Bu Ratna Psikologi".Saat dibaca, isinya hanya sebuah pesan. ‘Foto dan scan buku nikahnya sudah saya terima, simpan file aslinya, dan jangan dihapus sampai saya minta.’Ujung jari Andin mendadak dingin. Artinya, foto dirinya yang digandeng masuk ke tangga privat klinik sekaligus salinan buku nikah palsu itu sudah berpindah ke tangan dosen pembimbingnya sendiri."Sidangnya kan besok pagi. Kalau buktinya sudah cukup, ke-kenapa Bu Ratna masih butuh file aslinya disimpan? Buat apa lagi fotoku itu?"Belum sempat pertanyaan itu terjawab, bunyi langkah kaki terdengar dari ta

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 14 Ja-jangan Berhentii

    Mata Andin bertahan di mata Javier selama lima detik pertama. Begitu ibu jari pria itu menyentuh garis bawah bukit kenyal di sisi kanan, kelopak mata Andin jatuh menutup dan dagunya turun ke dada.Tangan Javier berhenti lagi, sebelum sesi 2 puncak ketika jemarinya menyentuh pucuk milik Andin."Ke-kenapa, Dok?" tanya Andin sambil membuka mata, bingung dengan tangan yang mendadak diam."Kamu menunduk. Angkat wajahmu, lalu kita ulang dari bahu!" jawab Dokter Javier tanpa menggerakkan jemarinya.Kedua telapak itu kembali ke bahu Andin, mengulangi jalur yang sama, lebih lambat lagi.Percobaan kedua bertahan lebih lama. Telapak tangan Javier menangkup penuh, memberi tekanan yang diatur, sedangkan ibu jarinya memutar satu lingkaran

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 13 Kamu Harus Bisa Nahann

    Andin mengapitkan kedua lututnya rapat-rapat mendengar pujian itu. Selama bersama Bagas, tak ada satupun pujian tulus dari mulutnya. Hanya ada cemoohan bahwa Andin terlalu kaku dan tidak layak menjadi seorang istri. Dingin, juga hambar, tak selayaknya perempuan yang memang mendahulukan perasaan.Tapi kali ini, rasanya jauh berbeda, bahkan hanya dengan pujian itu, bulu kuduk Andin meremang."Do-Dok..." panggil Andin dengan suara yang tersangkut di tenggorokan.Dokter Javier yang sadar bahwa Andin merespon nafasnya barusan, buru-buru menarik tangan gadis itu, lalu mengajaknya duduk. Javier kemudian menyandarkan kepala Andin di tepian ranjang.Andin pun duduk, memeluk lututnya, sedangkan napasnya justru memburu lebih cepat daripada waktu tangan pria itu masih menempel.

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 12 Seranjang Berdua

    Andin menoleh setengah, sedangkan jemarinya berhenti di kenop pintu yang dingin."Besok pagi, kamu duduk di depan orang-orang yang belum pernah mengukurmu sedekat itu. Kalau bahumu masih naik tiap kali ada mata asing menatap, Ratna akan menghetahui kebohonganmu sebelum kamu sempat membela diri," lanjut Dokter Javier dengan nada yang sama datarnya seperti waktu dia menunjuk kolom tanggal.Tengkuk Andin menghangat lebih dulu, sedangkan kepalanya belum menyusun jawaban apa pun."Urusan modul besok pagi setelah sidang. Istirahat dulu!" ucap Dokter Javier sambil mendorong daun pintu itu terbuka penuh.Lampu kamar menyala otomatis dari sensor di plafon.Ruangan itu berisi satu ranjang besi berlapis sprei abu-abu, satu sofa pendek d

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 11 Hampir Hilang

    Tanpa membuang waktu, Andin bangkit dari lantai lalu menekan gagang logam itu ke bawah memakai dua telapak tangan. Telapak kirinya berpindah ke mulutnya sendiri, membekap embusan napas yang berebut keluar lewat sela jari.Gagang tersebut ditarik sekali lagi dari luar, lebih panjang daripada tarikan pertama.Kedua tumit Andin menekan lantai, menahan berat tubuhnya rapat ke daun pintu kayu yang dingin."Ruangan itu isinya berkas rekam medis pasien saya," ucap Dokter Javier dari sisi lain pintu dengan suara yang tidak dinaikkan.Begitu kalimat itu selesai, bunyi ketukan kuku terdengar di permukaan kayu, tepat di atas kepala Andin."Buka lemari arsipnya sekarang, Javier," desak Bu Ratna seraya menekan gagang itu untuk ketiga kali

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 10 Praktik Kamu Diawasi

    Dokter Javier menarik kedua tangannya dari tubuh Andin dalam satu gerakan. Tanpa membuang waktu, telapak tangannya menekan tombol pengendali di meja kerja sampai lampu merah kamera di plafon padam.Andin justru diam beberapa detik sebelum bergerak, sedangkan napasnya masih berantakan dan kedua kakinya menolak turun dari matras.Bel itu berbunyi lagi, lebih panjang daripada yang pertama."Le-lega… aku lega ada yang menghentikan semuanya sebelum kelewatan. Tapi kenapa ada bagian dari dadaku yang malah keberatan? Argh… kenapa aku sempat kecewa, terus kenapa sekarang aku jijik sama diriku sendiri gara-gara pernah kecewa?" batin Andin sambil meremas ujung selimut di pangkuannya.Tiga perasaan itu datang berbarengan dalam satu tarikan napas. Lalu, yang mana yang harus Andin percaya?Dokter Javier memungut blus putih dari sisi matras, melemparkannya ke pangkuan Andin, kemudian berbalik memunggungi gadis itu."Pakai sekarang! Jangan buru-buru, nanti kancingmu salah lubang," perintahnya tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status