LOGINAndin melepas tali tasnya lagi, lalu membungkuk ke arah celah laci tanpa berani menyentuh gagangnya. Di layar yang masih terkunci itu, pratinjau pesan terbaca jelas dari kontak bernama "Bu Ratna Psikologi".Saat dibaca, isinya hanya sebuah pesan. ‘Foto dan scan buku nikahnya sudah saya terima, simpan file aslinya, dan jangan dihapus sampai saya minta.’Ujung jari Andin mendadak dingin. Artinya, foto dirinya yang digandeng masuk ke tangga privat klinik sekaligus salinan buku nikah palsu itu sudah berpindah ke tangan dosen pembimbingnya sendiri."Sidangnya kan besok pagi. Kalau buktinya sudah cukup, ke-kenapa Bu Ratna masih butuh file aslinya disimpan? Buat apa lagi fotoku itu?"Belum sempat pertanyaan itu terjawab, bunyi langkah kaki terdengar dari ta
Mata Andin bertahan di mata Javier selama lima detik pertama. Begitu ibu jari pria itu menyentuh garis bawah bukit kenyal di sisi kanan, kelopak mata Andin jatuh menutup dan dagunya turun ke dada.Tangan Javier berhenti lagi, sebelum sesi 2 puncak ketika jemarinya menyentuh pucuk milik Andin."Ke-kenapa, Dok?" tanya Andin sambil membuka mata, bingung dengan tangan yang mendadak diam."Kamu menunduk. Angkat wajahmu, lalu kita ulang dari bahu!" jawab Dokter Javier tanpa menggerakkan jemarinya.Kedua telapak itu kembali ke bahu Andin, mengulangi jalur yang sama, lebih lambat lagi.Percobaan kedua bertahan lebih lama. Telapak tangan Javier menangkup penuh, memberi tekanan yang diatur, sedangkan ibu jarinya memutar satu lingkaran
Andin mengapitkan kedua lututnya rapat-rapat mendengar pujian itu. Selama bersama Bagas, tak ada satupun pujian tulus dari mulutnya. Hanya ada cemoohan bahwa Andin terlalu kaku dan tidak layak menjadi seorang istri. Dingin, juga hambar, tak selayaknya perempuan yang memang mendahulukan perasaan.Tapi kali ini, rasanya jauh berbeda, bahkan hanya dengan pujian itu, bulu kuduk Andin meremang."Do-Dok..." panggil Andin dengan suara yang tersangkut di tenggorokan.Dokter Javier yang sadar bahwa Andin merespon nafasnya barusan, buru-buru menarik tangan gadis itu, lalu mengajaknya duduk. Javier kemudian menyandarkan kepala Andin di tepian ranjang.Andin pun duduk, memeluk lututnya, sedangkan napasnya justru memburu lebih cepat daripada waktu tangan pria itu masih menempel.
Andin menoleh setengah, sedangkan jemarinya berhenti di kenop pintu yang dingin."Besok pagi, kamu duduk di depan orang-orang yang belum pernah mengukurmu sedekat itu. Kalau bahumu masih naik tiap kali ada mata asing menatap, Ratna akan menghetahui kebohonganmu sebelum kamu sempat membela diri," lanjut Dokter Javier dengan nada yang sama datarnya seperti waktu dia menunjuk kolom tanggal.Tengkuk Andin menghangat lebih dulu, sedangkan kepalanya belum menyusun jawaban apa pun."Urusan modul besok pagi setelah sidang. Istirahat dulu!" ucap Dokter Javier sambil mendorong daun pintu itu terbuka penuh.Lampu kamar menyala otomatis dari sensor di plafon.Ruangan itu berisi satu ranjang besi berlapis sprei abu-abu, satu sofa pendek d
Tanpa membuang waktu, Andin bangkit dari lantai lalu menekan gagang logam itu ke bawah memakai dua telapak tangan. Telapak kirinya berpindah ke mulutnya sendiri, membekap embusan napas yang berebut keluar lewat sela jari.Gagang tersebut ditarik sekali lagi dari luar, lebih panjang daripada tarikan pertama.Kedua tumit Andin menekan lantai, menahan berat tubuhnya rapat ke daun pintu kayu yang dingin."Ruangan itu isinya berkas rekam medis pasien saya," ucap Dokter Javier dari sisi lain pintu dengan suara yang tidak dinaikkan.Begitu kalimat itu selesai, bunyi ketukan kuku terdengar di permukaan kayu, tepat di atas kepala Andin."Buka lemari arsipnya sekarang, Javier," desak Bu Ratna seraya menekan gagang itu untuk ketiga kali
Dokter Javier menarik kedua tangannya dari tubuh Andin dalam satu gerakan. Tanpa membuang waktu, telapak tangannya menekan tombol pengendali di meja kerja sampai lampu merah kamera di plafon padam.Andin justru diam beberapa detik sebelum bergerak, sedangkan napasnya masih berantakan dan kedua kakinya menolak turun dari matras.Bel itu berbunyi lagi, lebih panjang daripada yang pertama."Le-lega… aku lega ada yang menghentikan semuanya sebelum kelewatan. Tapi kenapa ada bagian dari dadaku yang malah keberatan? Argh… kenapa aku sempat kecewa, terus kenapa sekarang aku jijik sama diriku sendiri gara-gara pernah kecewa?" batin Andin sambil meremas ujung selimut di pangkuannya.Tiga perasaan itu datang berbarengan dalam satu tarikan napas. Lalu, yang mana yang harus Andin percaya?Dokter Javier memungut blus putih dari sisi matras, melemparkannya ke pangkuan Andin, kemudian berbalik memunggungi gadis itu."Pakai sekarang! Jangan buru-buru, nanti kancingmu salah lubang," perintahnya tanpa







