بيت / Romansa / Dokter Obgyn itu Suamiku / Bab 71 Percaya Diri

مشاركة

Bab 71 Percaya Diri

مؤلف: Nisa Hikaru
last update تاريخ النشر: 2026-07-26 09:47:50

Nabila langsung tidur, setelah menjelaskan pada Merina melalui pesan, bahwa foto itu tersebut hanyalah hasil rekayasa saja. Nabila juga sendiri mengonfirmasi pada pernikahannya tak ada bridesmaids.

Ternyata pelaku tersebut masih melanjutkan permainannya. Kali ini, Nabila tidak akan takut, ia akan menghadapinya langsung besok pagi.

Keesokan paginya, gadis itu sudah siap dengan setelan scrubnya. Penampilannya jauh lebih segar setelah beberapa hari sakit kemarin. Ia pun beran
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
si tukang rusuh datang. hih... gak sabar nunggu mereka sah. Fahmi dengan ngemongnya ke Nabila, Nabila dengan sifat manja n cemburuannya. ah pasti seru. meskipun pasti ada aja badai di kehidupan mereka, semoga mereka senantiasa diberi kekuatan dan saling percaya utk menghadapinya. makasih kakak syg:*
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 132 Berangkat Bekerja Bersama

    Sarapan sederhana yang sehat itu sudah habis disantap oleh Fahmi dan Nabila. Kini, keduanya bersiap berangkat menuju tempat kerja, aroma-aroma rumah sakit sudah sampai di hidung mereka. Tak dapat dipungkiri, ada kerinduan pada gedung yang telah menyatu dengan jiwa mereka berdua. Gedung rumah sakit dan nyawanya yang mengisi hari-hari Fahmi dan Nabila. Rasanya sudah seperti mendarah-daging. Nabila membawakan snelli suaminya ke dalam mobil, jas putih itu habis dicuci di binatu beberapa hari yang lalu. Sebetulnya, Fahmi ingin membawa benda itu dengan tangannya sendiri, namun sang istri dengan halus dan tulus mau membawakannya. “Mas, aku juga mau melayani suami seperti ini, bukan hanya di ranjang,” ucap Nabila halus. Ia menatap lekat wajah tampan suaminya. Fahmi tersenyum tipis yang manis. Ia senang juga diperlakukan seperti ini. “Terima kasih, ya…” ucapnya lembut. Nabila mengerling manja, lalu ia berjalan menuju mobil yang sedang dipanas

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 131 Kembali Bekerja

    Omongan asal bunyi dari mulut Anita selalu membuat orang-orang kesal. Nabila ingat sekali saat pertama kali berjumpa dengan sepupu Fahmi tersebut di toilet mal. Anita dengan sengaja mendorong Nabila di wastafel, sehingga membuat pakaian dan hijabnya basah. Entah apa yang ada di pikiran Anita saat dengan sengaja melakukan hal tersebut. Kini, saat acara syukuran rumah baru Fahmi dan Nabila, Anita kembali berulah lagi. Mulutnya dengan santai mengucap kata yang tidak enak didengar, apalagi tadi Farida—mama Nabila—turut mendengarnya langsung. Hampir saja Farida emosi mendengar omongan tersebut, namun ia langsung ditahan oleh sang suami. Waktu acara pernikahan Fahmi dan Nabila, Anita dan Ayub berhalangan hadir, karena suaminya sedang sibuk PPDS. Beruntung sekali, jika tidak, entah apa yang akan diperbuat oleh Anita. Ada saja kata-kata tak mengenakkan yang meluncur dari mulutnya dengan santainya. “Dibius aja si Anita tuh sama Ayub, biar diem,” ujar Bibi Fatmah

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 130 Acara Syukuran Rumah

    Sudah hampir 12 jam Nabila dan Fahmi berada di rumah baru mereka. Ibu mereka sudah kembali ke rumah masing-masing, tinggal keduanya saja di sini. Koper dan kotak yang memuat barang-barang milik keduanya masih berada di ruang keluarga, belum bergeser sedikit pun. Pasangan pengantin baru ini masih santai menikmati waktu berdua di rumah mereka. Nabila menyandarkan kepalanya di dada sang suami, sesekali ia menyentuh janggut tipis yang bergelayut di dagu Fahmi. Fahmi hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, sedangkan sang istri terusan di atas lutut dengan tali bertaut di pundak. Aroma harum menguar dari kepala Nabila yang tepat berada di bawah wajah Fahmi. Dokter obgyn ini menikmati wangi tersebut, sungguh membuatnya terlena. Mata Fahmi melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 17.03, masih ada waktu kurang lebih satu jam lagi menuju maghrib. Sepertinya waktu seperti ini bisa dimanfaatkan untuk…“Mas…” Nabila menoleh menatap s

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 129 Pindah Rumah (2)

    “Hayo… mikirin apa kamu?” Pertanyaan itu lantas langsung membuat Nabila tersipu malu. Wajahnya memerah menahan malu, bisa-bisanya ia terlena lupa mengendalikan ekspresinya. ‘Arrgghhh… malu banget!’ Seru Nabila dalam hatinya. Kedua tangannya spontan menutupi wajah. Gerakan ini justru membuatnya semakin terlihat jika sedang memikirkan hal yang mengarah ke… eh, bukan-bukan. Nabila menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah. Ia mencoba memandang sang suami yang sedang menatapnya dengan ekspresi menggoda dan iseng. “Nggak mikirin apa-apa kok,” jawabnya malu-malu. Fahmi tertawa renyah, ingin rasanya memeluk wanita mungil di sebelahnya itu. Ia menoleh ke belakang, tak ada siapa pun. Mamah dan ibu mertuanya ternyata masih berada di teras. Alih-alih memeluk, Fahmi mendaratkan kecupan hangat di pipi sang istri. Nabila tiba-tiba merasa membeku saat kecupan itu berhasil mendarat di pipinya. Ia kembali ke masa saat awal-awal dij

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 128 Pindah Rumah

    Barang-barang bawaan Nabila dan Fahmi sudah diturunkan dari mobil. Dibantu sopir mobil pick up yang merupakan karyawan catering milik Farida, dokter obgyn tampan itu membawa masuk semua barangnya. “Mama tadi bilang sama Andi, buat bantuin kalian angkut-angkutin barang,” ujar Farida. Ia, anak perempuannya, dan besan masih berada di teras rumah. “Oh iya, Ma, nanti Nabila titip sesuatu buat Bang Andi,” balas Nabila berniat untuk memberikan sesuatu seperti uang untuk beli kopi. “Nggak usah, udah Mama siapin untuk dia.” Farida mengibas pelan tangannya ke udara dengan senyum khas ibu-ibunya. Nabila tersenyum nyengir. “Makasih Mamaku yang cantik…” ucapnya manja. Farida tertawa. Kemarin ia masih terbaring di rumah sakit, sekarang kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik. Bahkan, ia bersikukuh untuk ikut anak dan menantunya pindah ke rumah baru. “Jangan lupa makan, Ma…” Nabila mengingatkan. Mamanya in

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 127 Rencana Pindah Rumah

    “Jadi, apa agenda kalian untuk mengisi beberapa hari sisa cuti ini?” tanya Halimah pada anak dan menantunya saat sedang sarapan bersama di meja makan. Nabila melirik sang suami yang sedang memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya. Kemudian, ia melihat ke arah ibu mertuanya, dan wanita berusia 60an itu tersenyum pada menantunya. Sebetulnya, Nabila merasa agak tidak enak hati pada keluarga sang suami, karena bulan madunya dengan Fahmi batal. Orang tua Fahmi sudah mengeluarkan banyak biaya dari pernikahan hingga ke bulan madu yang tak pernah terlintas di pikirannya itu. Saat tiba di rumah semalam pun, Nabila harap-harap cemas mertuanya akan marah, namun ternyata tak seperti pikirannya. “Nabila, kamu nggak apa-apa kan, bulan madunya batal?” tanya Halimah dengan lembut. Pertanyaan tersebut mengundang atensi kedua adik perempuan Fahmi. Mereka melirik pada istri sang kakak, bagi keduanya, pasti ada rasa kecewa momen yang ditunggu-tunggu m

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 4 Pemberian Perempuan Lain

    ‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 3 Pertemuan

    Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 2 Berdebar

    "Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 1 Parfum dan Perjodohan

    “Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status