Share

Bab 2 Berdebar

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-02 16:06:07

Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya.

Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya.

“Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias.

Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asistennya di poli, Pa,” jawab Nabila.

Wajah kedua orang tua Nabila nampak berseri-seri, karena anaknya sudah tahu dengan si calon.

“Wah, bagus dong, kalau begitu. Sudah saling kenal, berarti nggak canggung lagi, ya kan, Pa?” ujar Farida.

Nabila tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya. Memang betul antara dirinya dan Fahmi sudah saling mengenal, namun mengingat suasana di ruang poli yang kaku tentu saja terasa canggung. Apalagi komunikasi antara ia dan Fahmi hanya sekadar rekan kerja saja, tak lebih dari itu.

“Iya, betul itu, Ma.” Khairul sependapat dengan istrinya.

Nabila bingung harus bagaimana menanggapi kedua orang tuanya, ia lebih memilih fokus pada CV yang terdiri dari beberapa lembar tersebut. Dengan saksama Nabila membaca tentang diri pribadi seorang Fahmi Ibrahim yang tertuang di sana.

Sebuah setengah lingkaran terbit di wajah Nabila, ada rasa tidak menyangka akan mengetahui lebih dalam tentang sosok Fahmi. Ia sendiri juga mengagumi atasannya itu, namun tak berlebihan seperti rekan-rekannya.

“Gimana, kamu mau kan dijodohin sama anaknya temen Papa?” tanya Khairul semangat sekali berharap anak gadisnya mengiyakan pertanyaannya itu.

Nabila menutup map CV yang tengah dipegangnya itu.

“Memangnya Dokter Fahmi mau dijodohin kayak gini?” tiba-tiba Nabila berpikir demikian. Ia khawatir jika Fahmi seperti terpaksa mengikuti kehendak orang tua.

Khairul mengerti maksud dari pertanyaan anaknya ini.

“Tenang aja, rencana ini bukan dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Dokter Fahmi. Kata temen Papa, anaknya itu memang sedang ikhtiar cari calon istri, mungkin aja ini jalannya untuk berjodoh sama kamu.” Jelas Khairul nada bicaranya terasa menenangkan.

Kekhawatiran Nabila sedikit memudar mendengar apa yang dikatakan papanya barusan.

“Tapi… jarak usianya sama aku lumayan jauh, 10 tahun loh,” ucap Nabila. Sebelum persoalan jarak usia menjadi masalah, lebih baik ia suarakan terlebih dahulu.

Mama mengibas pelan tangannya ke udara. “Nggak masalah, Sayang, ada yang lebih dari itu. Belasan tahun, bahkan puluhan.”

“Kamu pertimbangkan lagi soal perjodohan ini. Insya Allah Dokter Fahmi ini orangnya baik untuk jadi suami kamu. Di zaman sekarang ini sulit cari pasangan yang kriterianya seperti dia.” Timpal Khairul meyakinkan putrinya.

Nabila setuju dengan pendapat papanya yang mengatakan bahwa Fahmi adalah orang yang baik. Sedikit yang ia tahu tentang atasannya itu memang dikenal sebagai sosok laki-laki yang baik dan religius.

Khairul dan Farida menatap anak gadisnya, keduanya menanti jawaban persetujuan. Ditatap seperti itu membuat Nabila malah jadi salah tingkah. Ia menutupi wajahnya dengan map CV tersebut. Wajah yang berbingkai hijab itu terasa panas, Nabila yakin pipinya pasti sedang bersemu merah muda.

Tingkah Nabila mengundang tawa dari orang tuanya. Anak gadis mereka ini tak pernah bersikap seperti itu. Hal ini menandakan bahwa Nabila tak menolak mentah-mentah rencana tersebut.

“Pa, Ma, aku ke kamar dulu,” ucap Nabila kikuk. Ia masih salah tingkah.

Dengan langkah yang agak tergesa, Nabila berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia pun tidak sadar tangannya membawa map CV milik Fahmi.

Nabila tak pernah menyangka sepulang bekerja mendapatkan hal yang amat mengejutkan seperti ini. Perasaannya senang, tapi campur aduk. Hingga malam tiba dan waktu semakin naik, matanya enggan terpejam. Memikirkan rencana perjodohan itu membuatnya susah tidur.

***

Pagi ini Nabila sudah rapi dengan scrub dan hijab warna senada, ia siap berangkat bekerja, walaupun kepalanya terasa sedikit berat. Setelah menyelesaikan sarapan, ia berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sedari semalam, ada yang tidak biasa ia rasakan. Dadanya masih terus berdebar.

Bersama motor maticnya, Nabila sudah tiba di halaman parkir rumah sakit. Saat melepas helm, mobil yang sudah ia hafal, melintas menuju area parkir kendaraan roda empat. Untuk sesaat Nabila tertegun, si empunya mobil turun.

Setelan scrub serta sepatu kets, membuat Fahmi semakin terlihat mengagumkan sekali. Ia berjalan dengan langkah yang tegap dan gagah menuju gedung rumah sakit.

Nabila membiarkan atasannya itu lewat terlebih dahulu, lalu barulah ia berjalan langsung menuju instalasi kebidanan dan kandungan.

“Nabila,” panggil Lili. Keduanya bertemu di koridor.

“Apa? Baru nyampe juga, Li?” tanya Nabila.

“Iya, nih, baru nyampe. Eh, Dokter Fahmi udah dateng kayaknya, ya? Tuh, mobilnya udah mejeng aja di parkiran,” jawab Lili.

“Iya, beliau udah dateng, abis absen aku mau langsung ke poli. Siap-siap sebelum mulai praktik,” balas Nabila. Ia mencoba mengatur ritme napasnya, menyingkirkan kegugupan. Nabila berharap, semoga pekerjaannya tak terganggu karena kondisi hatinya yang terasa seperti cenat-cenut.

“Enak banget sih, Nab, tiap hari ketemu sama Dokter Fahmi. Gantian dong, aku mau juga sehari aja jadi asistennya,” ujar Lili dengan nada memohon.

“Dih, minta aja sana sama Pak Direktur,” balas Nabila diiringi tawa kecil.

Lili pun turut tertawa, ia tahu takkan bisa menjadi asisten Fahmi, kecuali Nabila mengundurkan diri.

Setiba di instalasi kebidanan dan kandungan, Nabila langsung mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Setelah itu bergegas menuju ruang poli.

Fahmi sudah berada di ruangannya sekitar 15 menit yang lalu, Nabila yang baru saja masuk langsung menyiapkan kumpulan data pasien. Dari raut wajah Fahmi nampak biasa saja, sedangkan Nabila berusaha menyembunyikan debar di dada.

Dengan cekatan tangan Fahmi melakukan pemeriksaan pada pasien ibu hamil.

“Janinnya sehat, ya, Bu. Semuanya oke, tinggal kita jadwalkan operasinya.” Ujar Fahmi ramah, lalu ia kembali duduk di belakang mejanya.

Nabila membantu pasien beranjak dari ranjang periksa, dan duduk di hadapan Fahmi.

“Bu Dewi, sekarang usia kehamilannya 35 minggu, dua minggu lagi kita akan operasi caesarnya. Mohon persiapkan dirinya, ya, Bu. Ini saya kasih memo, nanti datang lagi ke rumah sakit di tanggal jadwal operasinya. Prosedurnya seperti biasa, daftar dulu, lalu ke poli, nanti diarahkan lagi sama bidan dan perawat di sini.” Jelas Fahmi dengan lugas.

“Baik, Dok. Oh iya, mau tanya, Dokter udah nikah belum, ya? Kebetulan ada adik saya lagi cari jodoh, dia perawat di RSUD,” ucap pasien terdengar sedikit malu-malu.

Fahmi tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, sedangkan Nabila malah deg-degan menunggu bagaimana atasannya menjawab.

“Belum, tapi saya sudah punya calon,” jawab Fahmi halus tapi tegas.

Mendengar jawaban Fahmi, jantung Nabila seperti mau melompat. Tiba-tiba ia merasa GR, lalu sisi lain hatinya mengatakan bisa jadi bukan dirinya.

Si pasien hanya tersenyum tidak enak setelah mendengar jawaban Fahmi, lalu ia berpamitan keluar ruangan diantar oleh Nabila.

Pintu ruangan poli sudah tertutup kembali, Nabila membalikkan badannya, matanya tak sengaja bertemu tatap dengan milik Fahmi. Sepersekian detik keduanya diam saling tatap, lalu tersadarkan. Fahmi langsung membuang pandangannya ke arah lain, sedangkan Nabila langsung bersibuk ria membereskan data rekam medis.

Ponsel Nabila berdenting, sebuah pesan masuk. Dari notifikasi terbaca isi pesan tersebut yang membuat matanya terbelalak lagi.

“Apa? Malam ini?” desisnya dengan perasaan campur aduk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 11 Es Cendol Penguat Mental

    Nabila masih tertegun. Ia menyandarkan bahu kirinya di dinding. Tubuhnya terasa lemah, padahal tadi baru saja makan siang bersama Fahmi. Ia bingung, tak tahu harus bagaimana. Mau masuk ke dalam ruang jaga instalasi, tapi tidak sanggup untuk bertemu rekan-rekannya. Mau pulang pun jam kerja belum selesai, tapi tadi Fahmi berkata, ia boleh pulang lebih cepat. Namun, tenaga dan pikirannya tak mampu mengendarai motor. Ia tak bisa fokus. Saat masih di poli tadi, Fahmi menanyakan dirinya, apakah yakin mau ke ruang jaga instalasi. Mungkin saja, kalau tadi Nabila memilih pulang atau tetap di ruangan Fahmi, ia tidak akan mendengar perkataan demi perkataan yang membuatnya terluka. Nabila menelan ludahnya. Ia masih terdiam terpaku di tempat. Seluruh tulangnya seperti dicopot satu persatu. Ingin rasanya ia kabur dari sini. “Nabila?” suara halus yang tak asing membuat tubuh Nabila bergerak sedikit. Ia agak terkejut saat tiba-tiba ada yang menyebut

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 10 Jadi Istri yang Baik

    “Bayarannya mahal.” Begitulah yang Fahmi ucapkan, saat Nabila bertanya lagi perihal bagaimana dan berapa gadis itu harus membayar semua kebaikan-kebaikan yang dilakukan Fahmi untuknya.Nabila membelalak. Ia tak salah dengar. Mentalnya yang masih terguncang akibat insiden kemarin, mendengar itu semakin membuatnya menciut. ‘Berarti semua yang dilakukan itu nggak tulus’, batin Nabila. Ada setitik kecewa menyusup hatinya. Nabila menunduk, ia memelintir ujung scrubnya. Di kepalanya berpikir, apakah gajinya cukup untuk membayar semua kebaikan Fahmi. Wajah manis berbingkai hijab itu nampak murung. Kemudian, ia perlahan beranjak dari hadapan atasan yang juga calon suaminya. Ia meraih tas, lalu memakainya di punggung. “Permisi, Dok…” ucap Nabila lirih berbalut kecewa. Namun, langkahnya terhenti, seperti ada yang menahan. Nabila kembali berbalik menghadap Fahmi. Ia menatap calon suaminya dengan tatapan kecewa, bingung, sedih, cam

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 9 Bayaran Mahal

    Tatapan tajam yang menusuk dari mata Fahmi, mampu membuat suami pasien itu takut. Semula, ia berani membalas tatapan Fahmi, lama-lama kalah juga. Pria besar tinggi itu, akhirnya berjalan angkuh keluar ruangan, meninggalkan istri dan anaknya. Dengan agak susah, pasien ibu hamil mencoba turun sendiri dari ranjang, setelah tadi Nabila dilarang membantu oleh suaminya. Walaupun masih dalam keadaan syok, Nabila masih bisa cepat tanggap menolong pasien tersebut. “Makasih, ya, Mbak,” ucap pasien dengan sopan dan halus. “Sama-sama, Bu,” balas Nabila. Pasien ibu hamil itu berdiri di hadapan Fahmi. Ia sedikit membungkuk, dengan kedua tangan tertangkup di dada. “Dokter, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ucapnya lirih. Fahmi mengangguk dengan sedikit senyum tersungging. Ia memaklumi hal itu, namun tetap bertindak tegas atas perlakuan kasar tersebut. Kemudian, pasien memutar tubuhnya menghadap Nabila. Ia melakuk

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya. “Kaget banget, ya, Nab? Sorry, sorry…” ujar Merina merasa tak enak hati. Nabila mengatur napasnya, lalu tersenyum getir. “Ngomong-ngomong, kamu kemarin gimana? Nggak apa-apa kan? Katanya, Dokter Fahmi nolongin kamu, ya? Wah… pasti keren banget beliau! Pasti kamu seneng banget ditolongin sama beliau kan?” cerocos Merina heboh sendiri. Nabila tak menjawab rentetan pertanyaan Merina. Ia masih tersenyum getir seperti sebelumnya. “Eh tahu nggak, Nab? Banyak banget yang ngomongin kamu. Pokoknya heboh banget deh, kamu jadi viral serumah sakit ini,” lanjut Merina. Ia pun sama hebohnya, tetap terus mengoceh meskipun lawannya sudah jengah. “Nabila,

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan napas dengan lega saat mendengar jawaban Fahmi. Ini adalah jawaban yang objektif. Siapa pun korban pelecehan, tak peduli itu pasangan, anak, keluarga, maupun orang lain, semuanya harus ditolong. “Terima kasih, Dok…” ucap Nabila masih dengan suara yang serak dan lirih. “Sama-sama,” balas Fahmi singkat tapi halus. Nabila menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kini, ia merasa cukup baikan. Aroma mobil Fahmi yang lembut terasa menenangkan jiwa dan pikirannya. Rasanya sedikit terkikis trauma dan jijik itu. Nabila menggerakkan tubuhnya ke belakang, hendak mengambil barangnya. Di saat yang bersamaan, Fahmi melakukan hal yang sam

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah tajam mengerikan.“Lepasin gue!” bentak pria itu, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Fahmi.Namun Fahmi justru mencengkeram lebih kuat.“Kamu pikir saya nggak lihat?” katanya pelan.Belum sempat pria itu bersuara, pintu lift terbuka. Semua orang langsung keluar, tapi tatapannya tak lepas dari Fahmi dan pria itu.BUG!Tinju pria itu melayang, tapi Fahmi berhasil menahannya dengan cepat. Penumpang lain langsung panik.“Ya Allah … dokter Fahmi kenapa?”“Apa yang terjadi?”Suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas di telinga Nabila, membuatnya semakin gemetar. Kepalanya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status