로그인"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya.
Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asistennya di poli, Pa,” jawab Nabila. Wajah kedua orang tua Nabila nampak berseri-seri, karena anaknya sudah tahu dengan si calon. “Wah, bagus dong, kalau begitu. Sudah saling kenal, berarti nggak canggung lagi, ya kan, Pa?” ujar Farida. Nabila tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya. Memang betul antara dirinya dan Fahmi sudah saling mengenal, namun mengingat suasana di ruang poli yang kaku tentu saja terasa canggung. Apalagi komunikasi antara ia dan Fahmi hanya sekadar rekan kerja saja, tak lebih dari itu. “Iya, betul itu, Ma.” Khairul sependapat dengan istrinya. Nabila bingung harus bagaimana menanggapi kedua orang tuanya, ia lebih memilih fokus pada CV yang terdiri dari beberapa lembar tersebut. Dengan saksama Nabila membaca tentang diri pribadi seorang Fahmi Ibrahim yang tertuang di sana. Sebuah setengah lingkaran terbit di wajah Nabila, ada rasa tidak menyangka akan mengetahui lebih dalam tentang sosok Fahmi. Ia sendiri juga mengagumi atasannya itu, namun tak berlebihan seperti rekan-rekannya. “Gimana, kamu mau kan dijodohin sama anaknya temen Papa?” tanya Khairul semangat sekali berharap anak gadisnya mengiyakan pertanyaannya itu. Nabila menutup map CV yang tengah dipegangnya itu. “Memangnya Dokter Fahmi mau dijodohin kayak gini?” tiba-tiba Nabila berpikir demikian. Ia khawatir jika Fahmi seperti terpaksa mengikuti kehendak orang tua. Khairul mengerti maksud dari pertanyaan anaknya ini. “Tenang aja, rencana ini bukan dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Dokter Fahmi. Kata temen Papa, anaknya itu memang sedang ikhtiar cari calon istri, mungkin aja ini jalannya untuk berjodoh sama kamu.” Jelas Khairul nada bicaranya terasa menenangkan. Kekhawatiran Nabila sedikit memudar mendengar apa yang dikatakan papanya barusan. “Tapi… jarak usianya sama aku lumayan jauh, 10 tahun loh,” ucap Nabila. Sebelum persoalan jarak usia menjadi masalah, lebih baik ia suarakan terlebih dahulu. Mama mengibas pelan tangannya ke udara. “Nggak masalah, Sayang, ada yang lebih dari itu. Belasan tahun, bahkan puluhan.” “Kamu pertimbangkan lagi soal perjodohan ini. Insya Allah Dokter Fahmi ini orangnya baik untuk jadi suami kamu. Di zaman sekarang ini sulit cari pasangan yang kriterianya seperti dia.” Timpal Khairul meyakinkan putrinya. Nabila setuju dengan pendapat papanya yang mengatakan bahwa Fahmi adalah orang yang baik. Sedikit yang ia tahu tentang atasannya itu memang dikenal sebagai sosok laki-laki yang baik dan religius. Khairul dan Farida menatap anak gadisnya, keduanya menanti jawaban persetujuan. Ditatap seperti itu membuat Nabila malah jadi salah tingkah. Ia menutupi wajahnya dengan map CV tersebut. Wajah yang berbingkai hijab itu terasa panas, Nabila yakin pipinya pasti sedang bersemu merah muda. Tingkah Nabila mengundang tawa dari orang tuanya. Anak gadis mereka ini tak pernah bersikap seperti itu. Hal ini menandakan bahwa Nabila tak menolak mentah-mentah rencana tersebut. “Pa, Ma, aku ke kamar dulu,” ucap Nabila kikuk. Ia masih salah tingkah. Dengan langkah yang agak tergesa, Nabila berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia pun tidak sadar tangannya membawa map CV milik Fahmi. Nabila tak pernah menyangka sepulang bekerja mendapatkan hal yang amat mengejutkan seperti ini. Perasaannya senang, tapi campur aduk. Hingga malam tiba dan waktu semakin naik, matanya enggan terpejam. Memikirkan rencana perjodohan itu membuatnya susah tidur. *** Pagi ini Nabila sudah rapi dengan scrub dan hijab warna senada, ia siap berangkat bekerja, walaupun kepalanya terasa sedikit berat. Setelah menyelesaikan sarapan, ia berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sedari semalam, ada yang tidak biasa ia rasakan. Dadanya masih terus berdebar. Bersama motor maticnya, Nabila sudah tiba di halaman parkir rumah sakit. Saat melepas helm, mobil yang sudah ia hafal, melintas menuju area parkir kendaraan roda empat. Untuk sesaat Nabila tertegun, si empunya mobil turun. Setelan scrub serta sepatu kets, membuat Fahmi semakin terlihat mengagumkan sekali. Ia berjalan dengan langkah yang tegap dan gagah menuju gedung rumah sakit. Nabila membiarkan atasannya itu lewat terlebih dahulu, lalu barulah ia berjalan langsung menuju instalasi kebidanan dan kandungan. “Nabila,” panggil Lili. Keduanya bertemu di koridor. "Apa? Baru nyampe juga, Li?” tanya Nabila. “Iya, nih, baru nyampe. Eh, Dokter Fahmi udah dateng kayaknya, ya? Tuh, mobilnya udah mejeng aja di parkiran,” jawab Lili. “Iya, beliau udah dateng, abis absen aku mau langsung ke poli. Siap-siap sebelum mulai praktik,” balas Nabila. Ia mencoba mengatur ritme napasnya, menyingkirkan kegugupan. Nabila berharap, semoga pekerjaannya tak terganggu karena kondisi hatinya yang terasa seperti cenat-cenut. “Enak banget sih, Nab, tiap hari ketemu sama Dokter Fahmi. Gantian dong, aku mau juga sehari aja jadi asistennya,” ujar Lili dengan nada memohon. “Dih, minta aja sana sama Pak Direktur,” balas Nabila diiringi tawa kecil. Lili pun turut tertawa, ia tahu takkan bisa menjadi asisten Fahmi, kecuali Nabila mengundurkan diri. Setiba di instalasi kebidanan dan kandungan, Nabila langsung mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Setelah itu bergegas menuju ruang poli. Fahmi sudah berada di ruangannya sekitar 15 menit yang lalu, Nabila yang baru saja masuk langsung menyiapkan kumpulan data pasien. Dari raut wajah Fahmi nampak biasa saja, sedangkan Nabila berusaha menyembunyikan debar di dada. Dengan cekatan tangan Fahmi melakukan pemeriksaan pada pasien ibu hamil. “Janinnya sehat, ya, Bu. Semuanya oke, tinggal kita jadwalkan operasinya.” Ujar Fahmi ramah, lalu ia kembali duduk di belakang mejanya. Nabila membantu pasien beranjak dari ranjang periksa, dan duduk di hadapan Fahmi. “Bu Dewi, sekarang usia kehamilannya 35 minggu, dua minggu lagi kita akan operasi caesarnya. Mohon persiapkan dirinya, ya, Bu. Ini saya kasih memo, nanti datang lagi ke rumah sakit di tanggal jadwal operasinya. Prosedurnya seperti biasa, daftar dulu, lalu ke poli, nanti diarahkan lagi sama bidan dan perawat di sini.” Jelas Fahmi dengan lugas. “Baik, Dok. Oh iya, mau tanya, Dokter udah nikah belum, ya? Kebetulan ada adik saya lagi cari jodoh, dia perawat di RSUD,” ucap pasien terdengar sedikit malu-malu. Fahmi tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, sedangkan Nabila malah deg-degan menunggu bagaimana atasannya menjawab. “Belum, tapi saya sudah punya calon,” jawab Fahmi halus tapi tegas. Mendengar jawaban Fahmi, jantung Nabila seperti mau melompat. Tiba-tiba ia merasa GR, lalu sisi lain hatinya mengatakan bisa jadi bukan dirinya. Si pasien hanya tersenyum tidak enak setelah mendengar jawaban Fahmi, lalu ia berpamitan keluar ruangan diantar oleh Nabila. Pintu ruangan poli sudah tertutup kembali, Nabila membalikkan badannya, matanya tak sengaja bertemu tatap dengan milik Fahmi. Sepersekian detik keduanya diam saling tatap, lalu tersadarkan. Fahmi langsung membuang pandangannya ke arah lain, sedangkan Nabila langsung bersibuk ria membereskan data rekam medis. Ponsel Nabila berdenting, sebuah pesan masuk. Dari notifikasi terbaca isi pesan tersebut yang membuat matanya terbelalak lagi. “Apa? Malam ini?” desisnya dengan perasaan campur aduk.Akhirnya, hari itu tiba juga. Hari yang telah dinantikan, setelah melewati berbagai batu yang cukup tajam menusuk di telapak kaki. Dua minggu yang singkat, namun cukup berat. Sebelum azan Subuh berkumandang, Nabila sudah terbangun. Perasaan antusias dan berdebar menyelimuti dirinya. Relung dadanya terasa hangat, bahkan pipinya sudah merona sebelum dipoles oleh riasan. Kedua telapak tangannya dingin, ia juga merasa gugup. Selesai mandi, make up artist sudah datang bersiap untuk merias wajahnya serta membantu memasangkan hijab dan baju akad. Semuanya mulai dari make up hingga gaun resepsi ditangani oleh Halimah. Berbekal koneksinya yang luas, ia bisa mendapatkan jadwal dan porsi untuk pernikahan anak sulungnya yang waktu persiapannya sangat mepet ini. “Nabila, sudah ambil wudhu?” tanya make up artist bernama Nina. “Udah, Mbak,” jawab Nabila ramah. “Jaga wudhunya, ya, kita mau mulai make up sekarang sebelum waktu Subuh masuk,” ujar Nina
“Pada akhirnya, aku juga yang kalah. Aku yang harus patah hati, Rafli ninggalin aku tanpa kejelasan, bahkan menikah dengan perempuan lain. Setelah selesai PPDS, aku sempat mengharapkan kamu, tapi aku tahu diri. Aku nggak pantas buat kamu,” ucap Marsha lagi dalam tangisnya. Setelah mendengar ucapan Marsha barusan, akhirnya mata Fahmi memilih untuk melihat ke arah perempuan itu. Benar, apa yang diucapkannya barusan. Marsha harus menanggung semuanya sendirian, karena ulahnya sendiri. Rafli meninggalkannya, memilih perempuan lain, dan Fahmi yang memutuskan komunikasi dengannya. “Maafkan aku, Fahmi. Tolong…” desis Marsha lirih dan tercekat. Suara dan tatapannya penuh dengan harapan. Fahmi menatap Marsha yang tengah terisak. Terdengar nada suara dan isak tangisnya yang tersirat akan penyesalan. Ia mengembuskan napas perlahan, ingatannya kembali mengelana pada masa-masa dahulu. Betapa hebatnya Marsha bersandiwara bersama Rafli di depan teman-teman satu lingkar
Selesai makan siang, Nabila keluar dari ruang poli, ia hendak menuju toilet. Langkahnya terasa ringan, tak ada keraguan atau kekhawatiran dalam setiap gerakannya. Kini, langkah itu sudah tiba di ruangan yang kemarin baru saja memberinya sebuah pengalaman yang cukup gila. Nabila teringat dengan kejadian kemarin yang cukup membuatnya takut, namun akhirnya memberanikan diri untuk melawan. Kaki kirinya masuk terlebih dahulu ke dalam toilet, di dalam sana ada rekan tenaga kesehatan lainnya yang sedang merapikan scrub dan hijabnya, ada juga yang sedang mencuci tangan. Sebuah senyum ramah Nabila berikan pada dua rekan tersebut, lalu ia masuk ke dalam salah satu bilik untuk menuntaskan panggilan alam yang sudah terasa sejak Fahmi bercerita soal Marsha. Dari awal masuk ke bilik toilet, hingga selesai, ia keluar mencuci tangan dan merapikan hijab di kaca wastafel, semuanya aman terkendali tak ada yang mengerjainya lagi. Setelah selesai urusan di toilet, Nabila be
Kedua tangan Marsha bergetar memegang erat undangan tersebut. Air matanya mengalir tanpa permisi melewati kedua pipi mulusnya. Fahmi menatapnya dengan bingung dan heran, apa yang sebenarnya terjadi dengan temannya ini. “Dia mau nikah?” tanya Marsha lirih dalam isak tangisnya. “Kamu kenapa? Kamu sedih dengan pernikahan Rafli?” tanya Fahmi betul-betul tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Marsha. Marsha menoleh pada Fahmi, ia masih terisak. Tangisannya amat sedih, seperti seseorang yang sedang patah hati. “Sesakit ini ternyata,” ucapnya lirih dan tercekat. Mendengar ucapan Marsha semakin membuat Fahmi tidak mengerti. Kenapa Marsha berkata demikian, kenapa pula juga ia malah bersedih atas pernikahan teman akrab mereka berdua. “Ada apa sih sebenarnya?” tanya Fahmi penasaran, bahkan ia sampai mengerutkan dahi. Marsha menghapus air matanya yang mengalir di wajah cantik itu. Netranya nampak memerah akibat menangis.
Pertemanan di lingkaran antara Fahmi, Marsha, dan Rafli tetap berjalan, namun beberapa dari mereka sering tidak muncul saat melakukan pertemuan. Begitu juga dengan Rafli yang kian sibuk akan pekerjaan dan soal asmaranya. Marsha sudah tahu, bahwa Rafli selingkuh darinya. Namun, teman-teman selingkarannya belum ada yang tahu soal ia dan Rafli yang juga berpacaran. Hubungan mereka berdua memang dilakukan secara diam-diam. Setahun sudah berlalu, Rafli menggantung hubungannya dengan Marsha. Padahal ia berjanji akan menikahi Marsha di tahun ini, namun itu hanya omong kosong belaka, bahkan ia seperti menghilang dari hadapan kekasihnya itu. Sebuah kabar pun datang, bahwa Rafli lolos sebagai PNS dan ditempatkan di kota lain, ia juga masih berpacaran dengan Kania. Hubungannya dengan Marsha masih menggantung. Marsha sendiri sudah lelah tak lagi mencari-cari Rafli untuk meminta kejelasan hubungan mereka. Hingga tiga tahun berlalu, Fahmi sudah menjadi
Marsha mendengus sebal melihat respon Rafli yang nampak bergidik ngeri, saat ia mengingatkan janji yang pernah laki-laki itu berikan padanya. Bukan sebuah janji biasa, namun janji untuk menikahinya di tahun depan. “Jangan marah gitu dong, Sayang…” ucap Rafli dengan nada memelas yang dibuat-buat. Marsha hanya meliriknya sekilas, lalu puk! Ia menepuk dashboard mobil, hingga membuat kekasihnya itu terkejut. “Ayo, jalan, anterin pulang. Nanti malem aku mau dinas,” ucap Marsha masih ketus seperti tadi. “Siap, Tuan Putri…” balas Rafli dengan nada seperti seorang prajurit. Marsha tertawa kecil. Inilah yang membuatnya jatuh hati pada Rafli. Bukan hanya candaannya saja yang lucu, menatap wajahnya pun sudah mengundang tawa bagi Marsha. Rafli menginjak pedal gas mobilnya, lalu mengarahkan kemudi keluar dari area parkir cafe. Bersama mobilnya, Rafli akan mengantar Marsha pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan Rafli menyalakan musik, ia mulai bernya
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te







