共有

Bab 3 Pertemuan

作者: Nisa Hikaru
last update 公開日: 2026-06-02 16:21:50

Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi.

Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget.

“Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.

Sebetulnya setiap hari Nabila bertemu dengan Fahmi, namun kali ini pertemuannya beda konteks.

Nabila membalas singkat pesan tersebut. Kepalanya lebih memikirkan bagaimana pertemuan itu akan berlangsung, ia harus bersikap sopan dan berpenampilan yang baik. Ponsel pintarnya kembali ia simpan di saku scrubnya, kecanggungan dari tatapan tak sengaja itu masih terasa.

Mata Nabila melirik atasannya itu yang tengah sibuk dengan layar tablet, lalu seketika beralih menatapnya. Nabila buru-buru membuang lirikannya pada sudut lain.

“Na–”

“Dok–”

Fahmi dan Nabila berbarengan saling memanggil, membuat Nabila langsung menunduk malu. Entah, Nabila sendiri bingung dengan perasaannya. Padahal, sebelumnya ia tidak seperti ini. Tapi, setelah mengetahui perjodohan itu, rasanya semua serba memalukan.

“Kamu duluan saja,” ucap Fahmi halus, mempersilakan Nabila untuk berkata lebih dulu.

Nabila tersenyum kecil, ia tak kuasa melihat Fahmi yang selalu bertutur dengan lembut.

“Sa–saya, mau permisi kembali ke ruang jaga,” kata Nabila sedikit terbata.

“Tunggu sebentar.” Fahmi mengambil sebuah tas kertas berisi buah-buahan potong yang ia siapkan sendiri dari rumah. “Ini untuk kamu, terima kasih sudah membantu saya di sini.”

Nabila menerima pemberian atasannya itu. Ini adalah pertama kalinya Fahmi memberinya sesuatu, namun ia tak pernah melabelinya pelit.

“Sama-sama, Dok. Saya juga terima kasih,” balas Nabila sopan.

Fahmi hanya mengangguk, Nabila memberi isyarat berpamitan. Gadis itu berjalan keluar ruangan. Dari sudut mejanya, Fahmi memperhatikan langkah Nabila hingga pintu tertutup menyisakan dirinya seorang.

Nabila melangkah dengan ringan, di pundaknya ada ransel berisi laptop beserta catatan rekam medis pasien, sedangkan tangannya membawa pemberian Fahmi. Dadanya semakin berdebar, perasaannya seperti sulit digambarkan, namun intinya ia bahagia.

Setiba di ruang jaga instalasi, Nabila meletakkan tasnya di atas meja, lalu membuka barang pemberian Fahmi tadi. Ada bunga-bunga kecil diam-diam bertaburan di hatinya.

“Bawa bekal buah, Nab?” tanya Merina–rekan kerja Nabila yang lebih senior, membuat Nabila sedikit terperanjat.

“Eh, nggak, Kak Mer. Ini tadi dikasih sama Dokter Fahmi,” jawab Nabila kalem.

Jawaban Nabila ternyata mengundang atensi rekan-rekan yang lain, mereka langsung mendekat, melihat ingin tahu.

“Wah… Nabila, enak banget dia. Udah tiap hari sama-sama Dokter Fahmi, eh ini dikasih makanan pula.” Sahut yang lain spontan.

“Nab, kalo kamu udah bosen jadi asistennya beliau, bilang-bilang ya. Kakak siap gantiin,” ujar Merina sangat percaya diri.

“Kita-kita juga pada mau kali, Kak…” timpal Lili tak mau kalah.

Nabila hanya tertawa renyah menanggapi rekan-rekannya. Pernyataan seperti itu sudah sering ia dengar, bahkan hampir tiap hari. Sepertinya pengunduran dirinya menjadi asisten Fahmi sangat ditunggu-tunggu.

Nabila membuka wadah makanan berisi buah-buahan potong pemberian Fahmi tadi, ia letakkan di atas meja.

“Nih, kita makan sama-sama, ya,” ucap Nabila. Ajakannya ini tentu saja disambut sukacita oleh rekan-rekannya. Mereka menyantap buah-buahan tersebut diiringi tawa canda, senangnya bisa kebagian pemberian dokter favorit itu.

***

Sore sudah datang, jam kerja Nabila sudah berakhir. Dilihatnya mobil Fahmi tidak ada di parkiran, laki-laki dengan cambang tipis di wajah tampannya itu, sedari siang tadi praktik di rumah sakit swasta lainnya. Sejenak Nabila terpaku menatapi ruang kosong yang biasa diisi mobil Fahmi, ia pun tersadar kembali.

Dengan motor kesayangannya, Nabila pulang ke rumah. Cukup beberapa belas menit, ia sudah tiba.

Farida melihat anak bungsunya yang baru pulang itu, sedangkan dirinya sendiri tengah menyiapkan jamuan untuk tamu spesial malam ini.

“Nabila, langsung mandi ya, pake pakaian yang rapi,” ujar Farida.

“Bentar lagi deh, Ma, aku bantuin Mama dulu, ya,” balas Nabila halus. Pikirnya sekarang masih sore.

“Nggak usah, ini udah mau selesai kok. Kamu mandi dan siap-siap aja ya,” tolak Farida halus. Ia mau anak gadisnya tampil dengan penampilan yang terbaik.

Nabila hanya tersenyum menyetujui perintah ibunya, ia menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setiba di ruang pribadinya itu, sesuai dengan perintah, ia langsung membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang bagus.

Waktu salat Maghrib sudah berlalu, suara mobil milik keluarga Fahmi terdengar masuk ke halaman rumah. Khairul dan Farida langsung menyambut tamu istimewa mereka itu, sedangkan Nabila berdiri agak di belakang orang tuanya.

Debar jantung Nabila semakin riuh, ia mengatur napasnya agar tenang. Rasa gugup mendominasinya, gugupnya lebih dari saat ujian komprehensif.

Orang tua Nabila bersalaman dengan Abdul dan Halimah. Nampak dua pasang orang tua itu sama-sama ramah, lalu Nabila turut menyalami orang tua atasannya itu.

Nabila sudah mengenal sosok Abdul dan Halimah, keduanya adalah pasangan dokter pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun, di malam ini status keduanya adalah calon mertua Nabila.

Di belakang Abdul dan Halimah, ada anak sulung mereka, siapa lagi, yaitu Fahmi. Senyum ramah Fahmi berikan pada Khairul dan Farida, sampai-sampai membuat mamanya Nabila tersihir, lalu langsung tersadar.

Setiap harinya bertemu dengan Fahmi, tetap saja malam ini laki-laki itu nampak berbeda. Nabila tertegun seperti membeku, senyum kecil yang hangat terbit di wajah tampan itu. Nabila tersadar, lalu segera membalas senyuman Fahmi.

“Ternyata Fahmi sama Nabila sudah kenal lama, ya,” ujar Halimah ramah. Kini mereka sudah duduk di ruang tamu.

Nabila mengangguk. “Iya, Bu. Saya asistennya Dokter Fahmi di poli.”

“Jadi, gimana Nabila?” tanya Abdul pertanyaannya mengarah ke rencana perjodohan.

Khairul dan Farida kompak menoleh pada anak gadisnya. Keduanya tiba-tiba sedikit deg-degan menunggu jawaban Nabila.

Ditanya seperti itu membuat Nabila bingung, ia menunduk, lalu wajahnya sedikit terangkat. Mata Nabila bertemu pandang dengan Fahmi, senyum tulus itu tertuju padanya. Sebuah keyakinan perlahan tumbuh.

Lidah Nabila terasa kelu, ia tak sanggup berkata-kata. Jawaban yang mampu ia berikan hanyalah sebuah anggukan. Perasaan lega terpancar dari paras khas Timur Tengah ketiga beranak itu, begitu pula dengan orang tua Nabila.

“Alhamdulillah…” Desis Halimah lega.

Fahmi tersenyum tipis ketika menatap Nabila yang tengah menunduk dengan wajah memerah.

“Bagaimana kalau akad nikahnya minggu depan?” di tengah kelegaan itu, Abdul, ayah Fahmi, memberikan usulan yang mengagetkan.

Mendengar ide tersebut membuat Nabila melongo, apakah ia salah dengar. Ia menatap Fahmi, seolah mencari keyakinan bahwa bukan hanya dirinya yang terkejut. Namun, Fahmi justru tampak begitu tenang.

‘D–dia kenapa setenang itu? Apa jangan-jangan dia udah tahu rencana ini?’ gumam Nabila dalam hatinya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Manissss
tiba2 aja akad..
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
wahhh. terkejut lah yaa.. ...
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 127 Rencana Pindah Rumah

    “Jadi, apa agenda kalian untuk mengisi beberapa hari sisa cuti ini?” tanya Halimah pada anak dan menantunya saat sedang sarapan bersama di meja makan. Nabila melirik sang suami yang sedang memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya. Kemudian, ia melihat ke arah ibu mertuanya, dan wanita berusia 60an itu tersenyum pada menantunya. Sebetulnya, Nabila merasa agak tidak enak hati pada keluarga sang suami, karena bulan madunya dengan Fahmi batal. Orang tua Fahmi sudah mengeluarkan banyak biaya dari pernikahan hingga ke bulan madu yang tak pernah terlintas di pikirannya itu. Saat tiba di rumah semalam pun, Nabila harap-harap cemas mertuanya akan marah, namun ternyata tak seperti pikirannya. “Nabila, kamu nggak apa-apa kan, bulan madunya batal?” tanya Halimah dengan lembut. Pertanyaan tersebut mengundang atensi kedua adik perempuan Fahmi. Mereka melirik pada istri sang kakak, bagi keduanya, pasti ada rasa kecewa momen yang ditunggu-tunggu m

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 126 Hikmah yang Kedua

    Marsha menaruh kembali sendok dan garpunya di pinggir piring, selera makannya sudah benar-benar hilang. Semestinya, pembicaraan ini dilakulan di cafe atau coffee shop saja, seporsi mie tektek yang cukup banyak itu jadi tak termakan. Sedangkan, di coffee shop, Marsha bisa memesan segelas americano hangat dengan sepotong brownies atau cream puff. Perempuan dengan tinggi badan 170 cm itu, menghela napasnya. Hanya itulah yang dapat ia lakukan, mau marah bagaimana, cuma buang-buang energi saja. Dengan helaan napas itulah, Marsha mengikhlaskan hal itu terjadi padanya. Miris memang. Padahal ia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari Rafli, namun rasa cintanya yang begitu dalam, membuat logikanya sedikit buntu. “Makasih sudah menjelaskan semuanya, aku mau pulang…” Marsha mengatakan kalimat itu dengan lirih dan pelan. Ia beranjak dari duduknya, matanya tak lagi menoleh ke arah Rafli, ia berjalan melewati Fahmi dan Nabila. “Fahmi, makasih sudah mengawasi kami, tenang aj

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 125 Pengakuan Rafli

    Dengan perlahan, Nabila menikmati mie tektek miliknya, sang suami pun begitu. Fahmi berusaha menelan makanannya, meskipun di depannya ada dua orang yang sudah membuatnya sebal. Pegawai warung tenda itu berjalan membawa pesanan Marsha, lalu menaruhnya di atas meja. Dengan senyum ramah, ia mempersilakan pembelinya untuk makan. “Makasih, ya, Mas…” ucap Marsha ramah. Si pegawai mengangguk, lalu berjalan kembali ke arah gerobak. Marsha memandangi mie tektek yang tersaji di hadapannya. Semangkuk mie dengan topping sayur sawi dan sebutir telur yang diorak-arik, aromanya memang sedap, uap-uap panas mengepul di atasnya. “Kenapa dilihatin aja? Kamu masih nggak suka makanan kaki lima kayak gini?” tanya Rafli. Nada pertanyaannya terdengar serius, ia masih ingat bahwa mantan kekasihnya ini tak begitu suka makan di tempat makan seperti ini. Marsha diam, ia tak menjawab pertanyaan Rafli. Untuk beberapa saat Marsha masih dalam diamnya ters

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 124 Pertemuan Tak Sengaja (2)

    Rafli menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Perutnya yang masih terasa belum kenyang, dan berencana untuk menambah satu porsi mie tektek lagi, tiba-tiba mendadak kenyang saat bertemu dengan Fahmi. Suami dari ners Kania itu tersenyum kikuk memandang teman satu lingkarannya. Bagai dijebak perangkap, bersua dengan Fahmi secara tak sengaja ini benar-benar membuatnya cukup malu. “Kalian nggak bulan madu?” tanya Rafli langsung. Takut Fahmi yang malah menanyainya lebih dulu. “Nanti bulan depan,” jawab Fahmi lugas tanpa ragu. Bahkan, jawabannya itu spontan membuat sang istri menoleh menatapnya kaget. Nabila terkejut dengan jawaban Fahmi, namun ia langsung berpikir, sepertinya sang suami hanya menjawab secara spontan saja agar Rafli tak banyak bertanya. “Oh…” Rafli mengangguk-angguk. Ia pun duduk kembali, tangannya meraih botol air mineral dan meneguk isinya yang tinggal seperempat itu. “Kamu sendiri ngapain di sini sendir

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 123 Pertemuan Tak Sengaja

    Air wudhu sudah terbasuh pada bagian-bagian tubuh, hal wajib membersihkan diri sebelum menghadap yang Maha Segalanya. Fahmi merapikan celananya yang tergulung saat mengambil wudhu tadi, lalu berjalan menuju shaf yang sudah terisi, tersisa beberapa yang kosong. Cukup banyak jamaah salat maghrib yang didominasi oleh pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis. Sebagian dari jamaah yang sadar akan kehadiran Fahmi langsung menyapa dengan ramah dan sopan. Kehadirannya pun tak luput dari pandangan ketua masjid yang hendak melangkah menuju posisi imam, namun segera berbalik. “Masya Allah, ada pengantin baru…” ucap ketua masjid ramah. Ia lalu menyalami Fahmi. Fahmi membalas dengan senyum ramah dan menyambut jabatan tangan tersebut. “Silakan, Dok…” ketua masjid mempersilakan Fahmi untuk memimpin ibadah salat maghrib. “Bapak saja,” tolak Fahmi halus. Ketua masjid tersenyum. “Mari, Dok, sudah lama nggak diimamin sama Dokt

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 122 Hikmah

    Lega. Itulah perasaan yang tergambar dari raut wajah Kania. Prasangka buruk yang sempat ia tujukan pada Fahmi, kini sudah terbuang. Saat mengetahui fakta soal percintaan masa lalu sang suami, kaget bercampur sakit hati menjadi satu. Kania lebih memilih diam, ia masih bersikap seperti biasa terhadap Rafli, namu diam-diam ia mencari tahu hingga bisa menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Dalam rencananya, ia belum akan menemui Fahmi, karena berdasarkan info yang ia tahu, teman suaminya itu sedang berbulan madu. Akan tetapi, rencana Tuhan menjadikan teka-teki itu terjawab di hari ini. Pertemuannya dengan Marsha tadi berlangsung baik-baik saja. Ia berbicara dan berusaha untuk mengontrol emosi dengan baik. Begitu pula dengan Marsha yang menyambut baik ajakan Kania. Di usia yang sudah kepala tiga lebih ini, mereka lebih memilih untuk berbicara dengan kepala dingin. Marsha sendiri ingin semuanya jelas dari sudut pandang masing-masing. Argumen demi arg

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 4 Pemberian Perempuan Lain

    ‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 2 Berdebar

    "Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 1 Parfum dan Perjodohan

    “Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status