MasukNabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi.
Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali. Sebetulnya setiap hari Nabila bertemu dengan Fahmi, namun kali ini pertemuannya beda konteks. Nabila membalas singkat pesan tersebut. Kepalanya lebih memikirkan bagaimana pertemuan itu akan berlangsung, ia harus bersikap sopan dan berpenampilan yang baik. Ponsel pintarnya kembali ia simpan di saku scrubnya, kecanggungan dari tatapan tak sengaja itu masih terasa. Mata Nabila melirik atasannya itu yang tengah sibuk dengan layar tablet, lalu seketika beralih menatapnya. Nabila buru-buru membuang lirikannya pada sudut lain. “Na–” “Dok–” Fahmi dan Nabila berbarengan saling memanggil, membuat Nabila langsung menunduk malu. Entah, Nabila sendiri bingung dengan perasaannya. Padahal, sebelumnya ia tidak seperti ini. Tapi, setelah mengetahui perjodohan itu, rasanya semua serba memalukan. “Kamu duluan saja,” ucap Fahmi halus, mempersilakan Nabila untuk berkata lebih dulu. Nabila tersenyum kecil, ia tak kuasa melihat Fahmi yang selalu bertutur dengan lembut. “Sa–saya, mau permisi kembali ke ruang jaga,” kata Nabila sedikit terbata. “Tunggu sebentar.” Fahmi mengambil sebuah tas kertas berisi buah-buahan potong yang ia siapkan sendiri dari rumah. “Ini untuk kamu, terima kasih sudah membantu saya di sini.” Nabila menerima pemberian atasannya itu. Ini adalah pertama kalinya Fahmi memberinya sesuatu, namun ia tak pernah melabelinya pelit. “Sama-sama, Dok. Saya juga terima kasih,” balas Nabila sopan. Fahmi hanya mengangguk, Nabila memberi isyarat berpamitan. Gadis itu berjalan keluar ruangan. Dari sudut mejanya, Fahmi memperhatikan langkah Nabila hingga pintu tertutup menyisakan dirinya seorang. Nabila melangkah dengan ringan, di pundaknya ada ransel berisi laptop beserta catatan rekam medis pasien, sedangkan tangannya membawa pemberian Fahmi. Dadanya semakin berdebar, perasaannya seperti sulit digambarkan, namun intinya ia bahagia. Setiba di ruang jaga instalasi, Nabila meletakkan tasnya di atas meja, lalu membuka barang pemberian Fahmi tadi. Ada bunga-bunga kecil diam-diam bertaburan di hatinya. “Bawa bekal buah, Nab?” tanya Merina–rekan kerja Nabila yang lebih senior, membuat Nabila sedikit terperanjat. “Eh, nggak, Kak Mer. Ini tadi dikasih sama Dokter Fahmi,” jawab Nabila kalem. Jawaban Nabila ternyata mengundang atensi rekan-rekan yang lain, mereka langsung mendekat, melihat ingin tahu. “Wah… Nabila, enak banget dia. Udah tiap hari sama-sama Dokter Fahmi, eh ini dikasih makanan pula.” Sahut yang lain spontan. “Nab, kalo kamu udah bosen jadi asistennya beliau, bilang-bilang ya. Kakak siap gantiin,” ujar Merina sangat percaya diri. “Kita-kita juga pada mau kali, Kak…” timpal Lili tak mau kalah. Nabila hanya tertawa renyah menanggapi rekan-rekannya. Pernyataan seperti itu sudah sering ia dengar, bahkan hampir tiap hari. Sepertinya pengunduran dirinya menjadi asisten Fahmi sangat ditunggu-tunggu. Nabila membuka wadah makanan berisi buah-buahan potong pemberian Fahmi tadi, ia letakkan di atas meja. “Nih, kita makan sama-sama, ya,” ucap Nabila. Ajakannya ini tentu saja disambut sukacita oleh rekan-rekannya. Mereka menyantap buah-buahan tersebut diiringi tawa canda, senangnya bisa kebagian pemberian dokter favorit itu. *** Sore sudah datang, jam kerja Nabila sudah berakhir. Dilihatnya mobil Fahmi tidak ada di parkiran, laki-laki dengan cambang tipis di wajah tampannya itu, sedari siang tadi praktik di rumah sakit swasta lainnya. Sejenak Nabila terpaku menatapi ruang kosong yang biasa diisi mobil Fahmi, ia pun tersadar kembali. Dengan motor kesayangannya, Nabila pulang ke rumah. Cukup beberapa belas menit, ia sudah tiba. Farida melihat anak bungsunya yang baru pulang itu, sedangkan dirinya sendiri tengah menyiapkan jamuan untuk tamu spesial malam ini. “Nabila, langsung mandi ya, pake pakaian yang rapi,” ujar Farida. “Bentar lagi deh, Ma, aku bantuin Mama dulu, ya,” balas Nabila halus. Pikirnya sekarang masih sore. “Nggak usah, ini udah mau selesai kok. Kamu mandi dan siap-siap aja ya,” tolak Farida halus. Ia mau anak gadisnya tampil dengan penampilan yang terbaik. Nabila hanya tersenyum menyetujui perintah ibunya, ia menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setiba di ruang pribadinya itu, sesuai dengan perintah, ia langsung membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang bagus. Waktu salat Maghrib sudah berlalu, suara mobil milik keluarga Fahmi terdengar masuk ke halaman rumah. Khairul dan Farida langsung menyambut tamu istimewa mereka itu, sedangkan Nabila berdiri agak di belakang orang tuanya. Debar jantung Nabila semakin riuh, ia mengatur napasnya agar tenang. Rasa gugup mendominasinya, gugupnya lebih dari saat ujian komprehensif. Orang tua Nabila bersalaman dengan Abdul dan Halimah. Nampak dua pasang orang tua itu sama-sama ramah, lalu Nabila turut menyalami orang tua atasannya itu. Nabila sudah mengenal sosok Abdul dan Halimah, keduanya adalah pasangan dokter pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun, di malam ini status keduanya adalah calon mertua Nabila. Di belakang Abdul dan Halimah, ada anak sulung mereka, siapa lagi, yaitu Fahmi. Senyum ramah Fahmi berikan pada Khairul dan Farida, sampai-sampai membuat mamanya Nabila tersihir, lalu langsung tersadar. Setiap harinya bertemu dengan Fahmi, tetap saja malam ini laki-laki itu nampak berbeda. Nabila tertegun seperti membeku, senyum kecil yang hangat terbit di wajah tampan itu. Nabila tersadar, lalu segera membalas senyuman Fahmi. “Ternyata Fahmi sama Nabila sudah kenal lama, ya,” ujar Halimah ramah. Kini mereka sudah duduk di ruang tamu. Nabila mengangguk. “Iya, Bu. Saya asistennya Dokter Fahmi di poli.” “Jadi, gimana Nabila?” tanya Abdul pertanyaannya mengarah ke rencana perjodohan. Khairul dan Farida kompak menoleh pada anak gadisnya. Keduanya tiba-tiba sedikit deg-degan menunggu jawaban Nabila. Ditanya seperti itu membuat Nabila bingung, ia menunduk, lalu wajahnya sedikit terangkat. Mata Nabila bertemu pandang dengan Fahmi, senyum tulus itu tertuju padanya. Sebuah keyakinan perlahan tumbuh. Lidah Nabila terasa kelu, ia tak sanggup berkata-kata. Jawaban yang mampu ia berikan hanyalah sebuah anggukan. Perasaan lega terpancar dari paras khas Timur Tengah ketiga beranak itu, begitu pula dengan orang tua Nabila. “Alhamdulillah…” Desis Halimah lega. Fahmi tersenyum tipis ketika menatap Nabila yang tengah menunduk dengan wajah memerah. “Bagaimana kalau akad nikahnya minggu depan?” di tengah kelegaan itu, Abdul, ayah Fahmi, memberikan usulan yang mengagetkan. Mendengar ide tersebut membuat Nabila melongo, apakah ia salah dengar. Ia menatap Fahmi, seolah mencari keyakinan bahwa bukan hanya dirinya yang terkejut. Namun, Fahmi justru tampak begitu tenang. ‘D–dia kenapa setenang itu? Apa jangan-jangan dia udah tahu rencana ini?’ gumam Nabila dalam hatinya.Kemarin sudah berganti hari ini. Beberapa hal terjadi yang membuat kaget, sampai ketakutan. Sampai detik ini, di kepala Nabila masih terbayang, bagaimana benda itu bisa masuk ke dalam tasnya. Memikirkannya tentu saja membuat merinding. Fahmi dan Nabila sudah berangkat bekerja, mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Pagi ini, isi kepala Nabila sudah dipenuhi oleh bayang-bayang bagaimana nanti Gladys—mahasiswa PKL—yang akan bekerja dengannya dan Fahmi di poli. Nabila menghela napasnya, mencoba untuk berpikir positif. Ia khawatir sekali dengan janinnya yang akan ikut berpikir keras, karena selama hamil ini menjadi lebih sensitif. Mobil yang dikendarai oleh Fahmi, kini sudah tiba di area parkir rumah sakit. Sebelum turun, Nabila sempat memperhatikan pohon nangka yang tumbuh di dekat parkiran khusus mobil. Tak ada keanehan pada pohon tersebut, buahnya yang lebat justru memberikan kesan yang subur pada tumbuhan itu. “Nangkanya udah ada yang mata
“Aaarrrghhh…” Teriakan dari dalam kamar langsung membuat Fahmi spontan menaruh gelas yang sedang dipakainya minum air es. Ia berlari menuju kamar, teriakan sang istri begitu mengagetkannnya dan khawatir sesuatu yang membahayakan terjadi. Fahmi menemukan Nabila yang masih berbalut handuk sehabis mandi. Wajah cantiknya ketakutan, tubuhnya bergetar. Saat masuk ke kamar, ia memang tak menemukan kejanggalan, namun sang istri mengatakan ada suatu benda di dalam tasnya. Benda itu sudah berada di tangan Fahmi, dengan runut walaupun agak tersengal, Nabila menceritakan kejadian yang menimpa dirinya saat siang tadi. Entah apapun namanya, jimat atau mungkin media untuk mencelakai, benda ini harus dimusnahkan segera. Fahmi menghela napasnya dengan berat dan gusar. Ia geram sekali saat mendapati benda itu tiba-tiba di dalam tas istrinya. “Aku kaget banget, pas mau ambil HP, tahu-tahu udah ada aja barang itu,
Seperti biasanya, Fahmi menjemput Nabila setelah selesai bertugas di rumah sakit lain. Pria 35 tahun itu menggandeng tangan sang istri sembari berjalan menuju mobil terparkir. Angin sore itu berembus cukup kencang, langit nampak agak gelap berselimut awan mendung. “Kayaknya mau hujan,” ujar Fahmi sambil menengok ke arah langit. Nabila agak terkesiap saat mendengar ujaran sang suami, ia sedang kurang fokus gara-gara dua hal yang menimpanya tadi. Pertama, soal mahluk halus dan benda pelindung alias jimat dari Murni tadi. Kedua, Gladys, mahasiswa PKL dengan penampilan agak mencolok yang akan membantunya asistensi di poli mulai besok. “Kenapa, Mas?” tanya Nabila bingung. “Mau hujan,” jawab Fahmi, lalu ia menoleh pada Nabila. “Kenapa, Sayang? Seperti ada sesuatu yang mengganjal,” selidiknya. Nabila tersenyum kecil. “Nggak kok, Mas,” jawabnya berusaha menutupi apa yang sedang berkeliling di dalam kepalanya. “Beneran?” Fahmi menco
Benar-benar di luar dugaan, tiba-tiba Nabila mau diberi jimat oleh salah seorang mahasiswa PKL di rumah sakit. Mahasiswa tersebut bernama Murniyati, ia berasal dari sebuah desa di kabupaten yang bertetanggaan dengan kota ini. Diketahui, Murni berkepribadian yang agak berbeda dari yang lain, ia lebih suka sendirian, dan terkadang kadang terlihat seperti berbicara sendiri. “Dia tuh kayak punya indra keenam gitu, Kak, bisa lihat-lihat hantu. Apa ya namanya itu?” ucap Julia—salah seorang mahasiswa PKL. Ia sengaja dipanggil oleh Nabila dan Isti untuk mengulik seperti apa sosok Murni. “Indigo,” jawab Isti.“Nah, iya itu!” balas Julia cepat. “Dia pernah kasih-kasih jimat sama kalian?” tanya Nabila penasaran. “Nggak pernah sih, Kak. Baru kali ini kita tahu dia punya barang begituan,” jawab Julia sembari mengingat-ingat apakah Murni pernah memberi atau memperlihatkan benda semacam jimat. Nabila menghela napasnya pelan. “Nggak enak ba
Saat sedang melakukan peregangan tipis-tipis, Nabila cukup kaget dengan kedatangan seorang mahasiswa PKL yang menurutnya tiba-tib langsung ada di depannya. Mahasiswa itu menanyai dirinya yang sedang mengandung, lalu menyodorkan sebuah benda kecil yang terlipat rapi. Entah benda apa itu, sebelumnya tak pernah Nabila jumpai. Benda itu masih berada di tangan mahasiswa tersebut, ia tersenyum menatap Nabila. Senyum yang terasa janggal. “Apa itu?” tanya Nabila ragu dan bingung. Dahinya pun mengerut. “Ini pelindung, biar Kakak dan janin terjaga dari hal-hal buruk,” jawab mahasiswa tersebut. “Misalnya?” Nabila penasaran mengulik kegunaan benda tersebut. “Dari gangguan mahluk halus. Kakak tahu sendiri kan, ibu hamil itu rentan sekali dengan gangguan-gangguan seperti itu,” jawab si mahasiswa, lalu matanya menyisir ke sekitar ruangan. “Di ruangan ini, di sekitar instalasi juga tidak aman untuk ibu hamil. Mereka senang dengan keberadaa
Dari posisi rebah di atas ranjang periksa, di hadapannya terpampang jelas layar LCD yang memperlihatkan apa yang sedang ditangkap oleh USG. Sedikit demi sedikit Nabila paham apa yang digambarkan di layar tersebut. Di layar itu menampakkan buah hatinya yang tumbuh sempurna, berat badannya pun normal. Banyak syukur Nabila panjatkan atas karunia ini. Suaminya masih terus memeriksa, rasanya tak ingin cepat-cepat mengakhiri sesi ini. Satu hal lagi yang membuat Fahmi sangat penasaran, begitu juga Nabila, yaitu soal jenis kelamin. Transduser yang dipegang Fahmi terus mencoba mencari celah untuk menemukan jenis kelamin buah hati mereka, namun ternyata tak semudah itu. Janinnya bergerak menutupi bagian sensitif tersebut. “Abi, si Adek ngajakin main tebak-tebakan nih,” ucap Nabila. Ia tahu apa yang sedang ditelusuri sang suami. Fahmi tersenyum. “Iya, nih, Bunda. Kayaknya kita belum boleh tahu nih, mau ngasih kejutan si adek,” balasnya. Keduany
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







