Accueil / Romansa / Dokter Obgyn itu Suamiku / Bab 1 Parfum dan Perjodohan

Partager

Dokter Obgyn itu Suamiku
Dokter Obgyn itu Suamiku
Auteur: Nisa Hikaru

Bab 1 Parfum dan Perjodohan

Auteur: Nisa Hikaru
last update Date de publication: 2026-06-02 15:54:02

“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.

“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.

Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kikuk. Ia hanyalah seorang bidan yang kebetulan menjadi asisten Fahmi, dokter obgyn yang terkenal ramah, lembut, gagah, dan tampan, di poli kandungan.

“Hus kalian ini,” ujar Nabila sambil memberi isyarat kepada rekannya untuk tidak melanjutkan obrolan itu.

“Nab, tanyain dong sama dokter Fahmi, beliau pakai parfum merk apa, kok wanginya bisa bikin semua orang jatuh cinta,” sahut Isti, salah satu rekan bidan Nabila.

“Eh, nggak berani aku, itu kan privasi. Gak ada urusannya sama pekerjaan,” tolak Nabila sambil menggelengkan kepalanya.

“Ayolah, Nab. Cuma kamu nih yang paling dekat sama dokter Fahmi,” pinta Isti lagi, ia bahkan memasang wajah memelas. “Kan kalau gak bisa dapetin dokter Fahmi, seenggaknya bisa dapet wanginya tiap hari kalau tahu parfumnya.”

“Ih iya, Nab … coba tanyain dong,” pinta perawat yang lain.

Nabila menghela napas. Selama ini, ia sama sekali tak pernah mengobrol masalah lain di luar urusan pekerjaan dengan Fahmi. Bukan hanya karena merasa sungkan, tapi juga karena Nabila ingin menjaga batasan profesional.

Pun dengan Fahmi. Dokter Obgyn menawan itu bahkan juga termasuk dokter yang sangat menjaga batasan, apalagi dengan wanita.

Sebenarnya, sudah banyak yang menanyakan merk parfum milik dokter tampan itu. Hanya saja, Fahmi selalu menjawab dengan kalimat yang sama, yaitu ‘Umroh dulu dengan Malik Tour supaya bisa beli parfumnya’.

Itu adalah salah satu trik marketing sang dokter juga untuk bisnis travel yang ia miliki.

Sudah tampan, mapan, menawan, dan kuat iman pula. Pantas saja semua orang jatuh hati padanya.

“Ish, iya … iya, nanti kalau ada kesempatan aku tanyain,” jawab Nabila dengan pasrah.

Beberapa menit berlalu dengan obrolan panjang lebar mereka. Sampai akhirnya, pintu ruang jaga dibuka. Ketika semua orang menatap ke arah pintu, mereka langsung sigap penuh hormat.

Di sana, Fahmi yang sedari tadi mereka bicarakan berdiri dengan jas dokter yang membalut tubuh tegapnya.

“Pagi, Dok,” sapa para perawat dan bidan.

“Pagi,” balas Fahmi singkat dengan senyum ramahnya, lalu pandangannya beralih pada Nabila yang berdiri di dekat meja kerja paling ujung. “Nabila, ikut saya visit.”

Mendapati instruksi dari atasannya yang tiba-tiba itu membuat Nabila kaget. Pekerjaan belum selesai masih cukup banyak data yang menumpuk di sebelah laptopnya.

Lagi pula tumben sekali Fahmi mengajaknya visit, biasanya cukup dengan bidan dan perawat yang berjaga di instalasi saja.

“B–Baik, Dok,” jawab Nabila akhirnya.

Melihat Fahmi yang sudah menarik handle pintu, buru-buru Nabila mengklik tombol simpan dan berjalan mengekori atasannya.

Ketika mereka berjalan beriringan di koridor, jelas langsung mencuri perhatian. Pesona Fahmi benar-benar tidak bisa diragukan.

Begitu tiba di instalasi kebidanan dan kandungan, Fahmi langsung mendatangi ranjang salah satu pasien yang baru saja melahirkan secara sesar. Nabila, jelas langsung mengikutinya.

“Selamat pagi, Bu. Pagi ini apa yang dirasa?” tanya Fahmi sambil mulai memeriksa si pasien.

“Pagi, Dok. Rasanya biasa aja, Dok. Gak ada yang sakit,” jawab si pasien sambil tersenyum ramah.

“Syukurlah kalau begitu. Obatnya jangan lupa diminum yaa.” Fahmi mengingatkan dengan ramah.

“Siap, Dokter. Ngomong-ngomong dokter Fahmi sama Bu Bidan ini kelihatan serasi ya ternyata. Apa jangan-jangan, kalian memang pasangan?”

Kalimat itu seketika membuat Nabila yang sejak tadi fokus pada catatan rekam medis di tangannya langsung membeku. Ia mengangkat wajahnya, lalu melirik Fahmi sekilas.

Namun, Fahmi hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih. Hal itu membuat Nabila pun ikut tersenyum kikuk kepada sang pasien.

Tak lama, usai berpamitan dari ruangan itu, Nabila dan Fahmi kembali ke ruang poli. Namun, mengingat ada titipan dari rekannya, Nabila akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Dok, maaf saya mau tanya sesuatu, tapi sebenarnya ini pertanyaan titipan dari teman-teman,” kata Nabila dengan sedikit keraguan.

“Tanya apa?” Fahmi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nabila.

“Anu … Ehm, parfum dokter mereknya apa ya?” Nabila memberanikan diri untuk menatap Fahmi sejenak.

Fahmi tersenyum tipis, lalu menjawab, “Parfum saya belinya di Mekah, nggak ada yang jual di sini. Kalau mau beli, ikut umroh sama Malik Tour aja, nanti diarahin ke tokonya.”

Sekali lagi, jawabannya dengan marketing terselubung. Tapi, justru ini yang membuat Fahmi tampak berbeda dengan dokter tampan lainnya.

Sifat Fahmi yang cenderung hangat dan kadang juga bisa sedikit diajak bercanda, tentu saja membuat semua betah dengannya. Namun bagi Nabila, justru hal itu yang membuat Fahmi terasa lebih sulit digapai.

“Ah begitu ya … Nanti saya sampaikan ke teman-teman yang lain ya, Dok. Kalau begitu, saya permisi, Dok. Saya ada jadwal konsultasi dengan pasien.”

Usai mengucapkan hal itu, Nabila langsung pergi meninggalkan Fahmi.

**

Tak terasa waktu berjalan cepat. Kini, Nabila baru saja tiba di rumah.

Namun, begitu menginjakkan kaki di ruang tengah, Nabila langsung disuguhkan dengan pemandangan kedua orang tuanya yang tampak sedang berdiskusi serius.

“Nah, pulang juga kamu. Sini, Papa mau ngobrol dulu,” ujar Khairul, papa Nabila.

“Ada apa, Pa?” Nabila yang masih menenteng tasnya di pundak langsung mengambil tempat di samping ibunya.

“Jadi, kemarin itu kan Papa habis reuni sama temen-temen SMA, terus Papa ketemu sama temen deket Papa itu, namanya Abdul,” kata Khairul dengan antusias. Lalu, ia melanjutkan, “Nah, terus dia ngajak besanan sama Papa.”

Mendengar penjelasan itu, Nabila sedikit terlonjak. “Aku dijodohin gitu maksudnya?”

Farida, mama Nabila langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Iya, kamu mau, kan? Anaknya Om Abdul itu dokter loh, ganteng pula. Nih, ada CV-nya.”

Nabila meraih map yang disodorkan oleh ibunya dengan perasaan aneh. Begitu ia membuka map itu dan melihat satu pas foto yang ada di lembar pertama, Nabila langsung membelalakkan matanya lebar-lebar.

“Dokter Fahmi?!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
langsung ya di bab pertama.... ternyata orang dikenal toh yang dijodohkan
goodnovel comment avatar
Manissss
jodoh gak ke mana shaayyyy..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 73 Terjebak di Toilet

    Nabila mengantarkan pasien terakhir keluar dari ruangan setelah melakukan pemeriksaan dan konsultasi. Tiga hari lagi, Fahmi akan cuti menikah, dan praktik di poli maupun di tempat lain akan libur juga. Dalam tiga hari ke depan pun, ia masih ada jadwal operasi caesar satu kali. Semua pekerjaan ia usahakan untuk selesai sebelum cuti menikah selama 10 hari. Praktik poli hari ini sudah selesai, Nabila membereskan semua alat yang dipakai untuk keperluan pemeriksaan. Setelah semuanya beres, tersisa pekerjaannya menginput data rekam medis pasien dari hasil pemeriksaan hari ini. Dari dalam dirinya terasa seperti ada yang harus dikeluarkan, Nabila hendak buang air kecil, jangan ditahan-tahan lagi. “Mas, aku mau toilet dulu,” ucap Nabila. Fahmi hanya mengangguk dengan senyum tipisnya yang menawan. Nabila berjalan keluar dari ruang poli, ia menyusuri koridor. Langkahnya sudah dekat dengan toilet, namun malah melambat. Seketika memorin

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 72 Saling Jaga

    Suasana haru menyelimuti ruangan ini, beberapa hari kemarin terasa dingin, apalagi bagi Nabila. Bahkan, sampai membuat fisiknya mencapai batasannya.Permintaan maaf yang terucap langsung padanya, juga maaf yang diterima, membuat damai antara kedua belah pihak. Nabila tulus memaafkan rekan-rekannya, tanpa ada embel-embel yang berisi ancaman. Rekan-rekannya pun sudah tahu, bahwa yang merancang skenario tersebut adalah salah satu orang dari mereka. Terakhir, persoalan bridesmaids, mereka tak langsung serta merta percaya. “Terima kasih, ya, Nabila…” ucap rekan-rekannya dengan haru bercampur sesal. Mereka juga merasa malu sekali telah bersikap demikian, dipikir-pikir lagi rasa seperti anak kecil saja. Nabila tersenyum hangat menanggapi ucapan terima kasih tersebut. Rekan-rekannya masih berada mengelilinginya, ia menjadi pusat perhatian. “Wah, ternyata ada catin di sini…” ujar Lili, kemunculannya tiba-tiba memecah rasa haru yang sedang berl

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 72 Saling Jaga

    Suasana haru menyelimuti ruangan ini, beberapa hari kemarin terasa dingin, apalagi bagi Nabila. Bahkan, sampai membuat fisiknya mencapai batasannya.Permintaan maaf yang terucap langsung padanya, juga maaf yang diterima, membuat damai antara kedua belah pihak. Nabila tulus memaafkan rekan-rekannya, tanpa ada embel-embel yang berisi ancaman. Rekan-rekannya pun sudah tahu, bahwa yang merancang skenario tersebut adalah salah satu orang dari mereka. Terakhir, persoalan bridesmaids, mereka tak langsung serta merta percaya. “Terima kasih, ya, Nabila…” ucap rekan-rekannya dengan haru bercampur sesal. Mereka juga merasa malu sekali telah bersikap demikian, dipikir-pikir lagi rasa seperti anak kecil saja. Nabila tersenyum hangat menanggapi ucapan terima kasih tersebut. Rekan-rekannya masih berada mengelilinginya, ia menjadi pusat perhatian. “Wah, ternyata ada catin di sini…” ujar Lili, kemunculannya tiba-tiba memecah rasa haru yang sedang berl

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 71 Percaya Diri

    Nabila langsung tidur, setelah menjelaskan pada Merina melalui pesan, bahwa foto itu tersebut hanyalah hasil rekayasa saja. Nabila juga sendiri mengonfirmasi pada pernikahannya tak ada bridesmaids. Ternyata pelaku tersebut masih melanjutkan permainannya. Kali ini, Nabila tidak akan takut, ia akan menghadapinya langsung besok pagi. Keesokan paginya, gadis itu sudah siap dengan setelan scrubnya. Penampilannya jauh lebih segar setelah beberapa hari sakit kemarin. Ia pun berangkat diantar oleh sang ayah, dirinya sudah dilarang bepergian sendiri oleh orang tuanya. Nabila mencium tangan sang ayah saat sudah sampai di depan gerbang rumah sakit tak jauh dari loket parkir. “Dah, Papa, Nabila kerja dulu, ya, assalamu’alaikum…” anak bungsu dari Khairul dan Farida ini melambaikan tangannya pada sang ayah. “Wa’alaikumussalam, semangat kerjanya, jaga kesehatan dan diri kamu, enam hari lagi kamu akan menikah,” pesan Khairul pada putrinya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 70 Setelah Pertandingan

    Aldo berjalan mendekati Fahmi, lalu ia memegang pundak kiri dokter obgyn itu. “Bayarannya belum lunas,” ucapnya dengan seringai, lalu berjalan lagi keluar lapangan. Tangannya terangkat, ia berhenti sejenak lalu menoleh. “Aku pulang dulu, terima kasih atas permainan yang lumayan ini…” ucapnya santai, lalu berjalan lagi meninggalkan Fahmi, Nabila, dan Salma.Aldo sudah pergi meninggalkan lapangan basket ini setelah selesai melakukan pertandingan satu lawan satu dengan Fahmi. Hasil pertandingan antara keduanya adalah seri. Mereka berdua sama-sama jago dalam olahraga basket, dan keduanya adalah lawan yang sepadan. Nabila masih menatap ke arah parkiran, motor Aldo sudah tak ada lagi bersama tuannya yang telah pergi. “Jadi, dia cuma mau main aja?” tanya Nabila polos. Fahmi tertawa kecil mendengar pertanyaan Nabila. “Iya,” jawabnya singkat lalu berjalan ke pinggir lapangan untuk beristirahat. “Tengil banget,” ucap Salma dengan tawa kecil. Ia juga meny

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 69 Babak Kedua

    Babak pertama sudah selesai dengan skor yang beda tipis sekali. Aldo sedikit lebih unggul dibanding Fahmi. Dua laki-laki ini sama-sama memiliki kemampuan bermain basket yang tinggi. Dua-duanya adalah lawan yang sepadan, meskipun perbedaan usia yang cukup jauh, stamina Fahmi tak kalah kuat dengan Aldo. Nabila memberikan sebotol air mineral dan sebuah saputangan handuk pada Fahmi. Calon suaminya menerima dengan senang hati. Dengan hati-hati, Nabila mencoba mengelap keringat yang membasahi kening Fahmi. Irama jantung Nabila mulai tak keruan, melihat Fahmi yang bersimbah keringat malah di matanya terlihat seksi sekali. Sisi maskulinnya semakin menonjol. Aroma tubuhnya pun tetap wangi seperti biasanya, padahal habis berolahraga. Dada Fahmi naik turun, napasnya bergerak sedikit lebih cepat. Kepala Nabila mulai membayangkan hal-hal tentang Fahmi yang membuatnya menggila. Penampakannya yang seperti ini saja sudah membuat jantungnya berdebar se

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 14 Hujan

    Air hujan masih turun dengan santainya mengguyur pagi ini. Senyum kecil mengembang di wajah manisnya, tatkala membaca dan melihat pesan dari sang calon suami. Rasa hangat memenuhi relung dada Nabila. Ia belum mengetikkan pesan balasan. Ia tengah mematuti foto berbagai model cincin

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status