Share

Roh jahat 2

Penulis: Red Water
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-23 14:27:03

Ken melepas jubah putihnya menyisakan kaos hitam ketat dan di bagian belakang kaosnya itu ada sebuah gagang pedang dan gelang yang berwarna merah tua. Ia mengambil gagang pedang itu seketika memunculkan laser berwarna biru tua.

Ia juga memakai gelangnya—di tangan kiri—mendadak rambutnya berubah menjadi warna putih dan matanya menjadi biru muda. Luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya juga mendadak sembuh tanpa menyisakan satu goresan pun.

“Oh, kau salah satu ‘Dokter’ alam itu, ya? Dari matamu saja sudah terlihat. Itu sama sekali tidak akan merubah keadaan sedikit pun dan kau tam—”

Sring!

“Aku berikan kau satu kesempatan untuk keluar dari tubuhnya, jika tidak.” Ken mengacungkan pedangnya di leher Sera—sudah dirasuki.

Bukannya takut karena kecepatannya yang tinggi, Sera malah sengaja melukai lehernya membuat Ken harus menjauh darinya. Sera menghela napas lega lalu memanggil roh-roh jahat labu serta memunculkan lima tangan hitam.

Tidak hanya itu, ia juga memunculkan sebuah palu dan paku di kedua telapak tangannya. Sera memasukkan paku-paku itu ke sela-sela jarinya dan menggigit palunya di mulutnya.

Ken menutup mata, mengambil kuda-kuda, dan mengambil napas yang dalam. Ia memfokuskan pikirannya lalu meneriakkan,”KELUAR!” Dengan sangat keras hingga membuat roh-roh labu itu terbang tak beraturan.

Tapi sayangnya, roh jahat tersebut tidak keluar dari tubuh Sera. Merasa tak punya pilihan lain, ia akan menggunakan cara kekerasan untuk mengusirnya. Ia menggerakkan sedikit jari-jarinya seketika memunculkan perisai bening di gelangnya.

“SERANG!”

“MAJULAH!”

Pertarungan kembali dilanjutkan. Kali ini Ken lebih unggul dari roh jahat, dia bergerak secepat kilat lalu menebas mereka dengan sangat akurat.

Sementara di dalam jiwa Sera, ia masih berada di lautan gelap tapi di tengah tenggelamnya Sera, muncul sesosok yang bermata merah dengan postur tubuh gelap sehingga sulit dilihat.

Sosok itu memotong tangan-tangan yang menarik Sera seraya tersenyum seringai. Sosok itu menggandengnya berenang ke atas permukaan.

"Semakin menyenangkan, semakin menarik."

Ting! Ting! Ting!

Ken menangkis serangan paku-paku dengan pisau bedahnya. Meski ia terkena beberapa paku dan hantaman palu yang sangat kuat hingga membuat kepalanya berdengung keras seakan akan pecah.

Ken terhenti sejenak sebelum kemudian dikepung tangan-tangan hitam. Ia menebas tangan-tangan itu, dari arah belakang gelombang suara muncul, dengan cepat Ken menggunakan perisainya untuk menahannya.

Tapi tidak lama kemudian, salah satu tangan hitam menggenggam perisai itu lalu mencoba meremukkannya. Ken menghilangkan perisainya lalu memotong tangan itu dan di saat bersamaan pundak kirinya tertancap sebuah paku.

“Merepotkan!"

“Ha ha ha! Menurutmu jika terus bertarung seperti itu, kau akan menang?”

Roh-roh jahat labu muncul kembali setelah tadi dikalahkan kali ini mereka mengeluarkan suara amarah serta mata mereka menjadi merah menyala.

Ken tampak muram, baru kali ini ia menghadapi roh jahat yang kuatnya minta ampun jika dihadapi sendiri. Meski begitu, Ken tetap tidak menyerah jika menyerah maka ia sudah melakukannya sedari dulu tapi digagalkan oleh seseorang.

"Menghabisi mereka semua itu sungguh merepotkan tapi …Sudah saatnya mengakhiri ini," ucapnya dalam hati.

"Maju!"

Sera dan roh-roh labu langsung menerjang Ken yang tampak percaya diri. Roh-roh jahat terbang ke atas lalu membuat gelombang suara yang amat keras dan hujan paku yang kali ini lebih besar dan runcing dari yang tadi.

“Sekarang!”

"Berikan aku, kekuatanmu!"

Sring!

Ken memotong roh-roh jahat hingga tak bisa muncul lagi. Dia juga memotong jiwa roh jahat yang ada didalam tubuh Sera tanpa melukai fisiknya.

“Si*l. Aku tidak akan kalah secepat itu. Tapi hebat juga kau bisa bertahan setelah terkena itu semua, tapi itu takkan kubiarkan terjadi untuk kedua kalinya.”

Mereka langsung berhadapan dan bertarung menggunakan kemampuan mereka yang luar biasa serta tak ada yang mau mengalah sedikitpun, hingga pada akhirnya ...

Sring!

Ken berhasil membuatnya kewalahan. Sera mundur ke belakang sambil mengusap pipinya yang tergores, ia melemparkan semua paku-paku yang ada di sela-sela jarinya, tetapi semuanya di tangkis menggunakan pedangnya.

Ken menangkap salah satu tangan Sera lalu membantingnya ke bawah dan di saat bersamaan pedangnya berusaha direbut oleh tangan-tangan hitam. Ia berusaha menariknya tetapi pedangnya hancur berkeping-keping akibat saling tarik-menarik.

Meski begitu, ia tak berputus asa. Ia mengambil serpihan pedangnya lalu menikam perut Sera setelah ia terbanting, ia berteriak kesakitan lalu menendang Ken hingga terpental ke belakang.

“KAU SANGAT BR****EK! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI! APA KAU TIDAK PEDULI PADA GADIS INI?” bentak Sera seraya menatap Ken yang penuh amarah.

“Apa pun akan kulakukan untuk mengusir roh jahat sepertimu. Aku tidak terlalu peduli padanya ditambah aku juga tidak kenal, silakan saja jika kau mau membunuhnya,” balasnya.

“Heh, ‘tidak terlalu peduli’ katamu? Dari tadi kau melindunginya. He he he ...Kalau begitu,” seringai Sera.

Sera memunculkan tangan-tangan tapi tidak untuk menyerang Ken melainkan menyerang dirinya sendiri. Tangan-tangan itu meremukkan tangan, kaki, serta badannya yang membuat Ken menjadi geram tidak main.

Ia segera menolongnya, tetapi, roh jahat yang ada di dalam Sera tiba-tiba saja berteriak kesakitan serta terbakar hebat. Ken terhenti, ia bingung dengan apa yang baru saja terjadi di tambah api itu berasal dari mana?

“Terkadang ...Yang menarik itu langsung dicoba tanpa tahu yang membuatnya menarik apa? Jika merasuki tubuh orang, perhatikan dulu siapa yang duluan!” suara yang sangat mengancam serta penuh dengan nafsu membunuh terdengar.

Roh jahat itu langsung terpental keluar dan di saat yang sama Ken berlari menuju ke roh jahat tersebut sambil mengambil pisau bedahnya yang tergeletak di mana-mana. Ia melempar pisaunya lalu menusuk mata roh jahat tersebut.

“AAAAAAH!” Roh jahat itu langsung kesakitan tidak main seperti mata yang di tusuk jarum tapi jarumnya besar serta runcing.

Setelah itu, roh jahatnya pun menghilang layaknya kayu yang habis terbakar. Ken dengan cepat menghampiri Sera yang keadaannya sangat parah dan nyawanya sudah hampir tak tertolong.

Dengan keraguan yang berat, ia memberikan pertolongan pertama kepadanya seraya memeriksa detak jantung dan nadinya. Merasa sudah mencapai batasnya ia melakukan teknik terakhir dalam menyelamatkan nyawa yaitu ...

Cup!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dokterku Pemburu Roh   Bencana

    Almin mengecek sekitaran lalu meminta mereka untuk bergegas pergi dari sini. Namun, belum sempat untuk berlari mereka semua tiba-tiba terjatuh tanpa sebab seakan ada yang menarik kaki mereka.Dari jauh, terdengar suara dedaunan yang amat sangat berisik. Secara mengejutkan, Almin terangkat ke atas, ia mencoba meraih dahan pohon tapi sayang belum sempat meraihnya sesosok bayangan hitam muncul dan menelannya."Almin? ALMIN! DASAR!" Repi berdiri lalu menerjang bayangan hitam itu.Bayangan itu juga ikut menerjang serta hendak melahap Repi, tetapi Embi dengan berani menarik Repi hingga jatuh ke belakang hingga terguling dengan begitu Embi yang di lahap.Tidak ingin perjuangan mereka sia-sia, Yuri langsung membantu mereka semua untuk berdiri lalu berlari sekencang mungkin kecuali Sera yang ketakutan hingga tak mampu mengerakkan kakinya.Yuri yang sangat kesal menyeret Sera tapi sayang bayangan hitam itu melemparkan kayu nan runcing ke arah mereka. Dengan sigap, Yuri langsung menjadi dinding

  • Dokterku Pemburu Roh   Kemah

    Semua menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan lalu memasukkannya ke dalam mobil sewa. Pada awalnya Sera sempat ragu tetapi dirinya mempercayai perkataan Repi bahwa semuanya akan baik-baik saja.Mereka berangkat pagi-pagi dengan suhu udara yang menusuk kulit hingga membuat mereka bersin-bersin karena sangat dingin. Meski begitu, mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju ke tempat perkemahan.Selama perjalanan, Sera hanya bisa menatap luar jendela mobil dengan wajah gelisah dan bergumam tidak jelas. Repi yang duduk di sebelahnya langsung menenangkan Sera dengan berbagai candaan."Ikan ikan apa yang profesinya ngelawak tapi gak ngelawak?" "Ikan apa?""Ikan badut ...Ketawa sedikit aja meski gak lucu.""Sudah tahu tidak lucu." Sera lanjut menatap luar.Tanpa ia sadari, ia dan teman-temannya sedang di awasi dari jarak yang amat jauh seakan sudah menanti kedatangan mereka. Sesuatu itu juga tampak melirik Sera lalu menghilang ketika Sera menoleh ke arahnya meski jaraknya sangat

  • Dokterku Pemburu Roh   Masa lalu

    "Sera! Ayo bangun. Bukankah kita akan berkemah besok? Jika kamu terus-menerus tidur besok kamu kesulitan tidur." Suara nan lembut terdengar.Dengan membuka matanya perlahan, Sera yang masih muda—sekitar 13 tahun—terbangun dari mimpinya yang menurutnya cukup mengerikan.Perempuan yang memanggilnya adalah Jasmine—yang lebih tua 4 bulan dari Sera—dia berambut panjang serta selalu bersikap seperti seorang ibu."Dasar! Sera, memangnya kamu itu kukang? Setiap hari hanya bisa tidur?" kesal seorang perempuan yang tatapannya tajam serta rambutnya pendek tapi berantakan."Hei! Jangan terlalu kasar Repi! Sera itu masih kecil," bela Jasmine."Kecil? Sebaiknya kau cuci matamu dulu!" ejek Repi.Tidak lama setelah mereka berdebat muncul perempuan lainnya. Salah satunya Embi berambut pendek tapi lurus, Nami dengan kuncir kudanya, dan Almin yang bersanggul plus berkacamata.Almin seperti pemimpin, dia sangat tegas tapi tetap kalem. Almin meminta mereka untuk bergegas menyiapkan semua barang dan melihat

  • Dokterku Pemburu Roh   Hari sabtu

    "Apa yang terjadi padanya? Apa dia …." Sera menahan ucapannya."Tidak mungkin. Dia sangat hebat dan kuat bahkan sekarang pun aku sama sekali tidak bisa menyainginya." Ken mengangkat kepalanya.Suasana dingin dan pemandangan nan asri terpampang di depan mereka. Sera menyadari sesuatu yaitu, hari sudah semakin larut bahkan jalanan menjadi gelap gulita.Dan juga Sera menyadari sesuatu yang lain yaitu bunga di taman bermekaran tanpa sinar matahari dan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari.Mungkin karena memiliki ciri khas khusus makanya hal seperti ini sudah biasa—itu yang dipikirkan Sera. Sambil berdiri, Sera meminta Ken untuk memberikannya senter jika punya."Ada." Ken berdiri lalu menggandeng Sera menuju ke rumahnya."Mana? Kok, kamu ikut?" tanyanya."Ada. Senternya aku biar kalau mataku menatapmu tidak silau. Bukankah ini senter paling keren?" gombalnya.Sera hanya bisa tersenyum malu. Di tengah jalan, Sera sempat gemetar akibat rasa takut yang menghantuinya sebab akhir-akhir ini

  • Dokterku Pemburu Roh   Serei 3

    Melihat Ken yang antusias, Serei mengajaknya ke dalam hutan agar aman dari manusia-manusia lainnya yang menganggap Ken bukan manusia.Tentu saja, bahaya terus mengintai Ken di dalam hutan—roh jahat yang tidak menerima keberadaan Ken serta hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang berbahaya.Serei mengetahui hal tersebut tapi tetap membawa Ken kesana, tentu saja Serei akan melindunginya sepenuh hati hingga Ken siap pergi ke dunia luar."Pelajaran yang akan aku ajarkan dulu adalah bahasa, huruf, dan angka. Kita mulai bahasa dulu." Serei mengambil daun lebar yang dijadikan buku dan ranting untuk dijadikan pensil."Bagaimana kamu bisa memahami bahasaku, Serei? Dan juga aku bisa memahami bahasamu. Apa kamu juga berasal dari tempat tinggalku?" "Oh, itu …Kamu akan tahu suatu hari nanti," Sera mengelak.Mereka pun melanjutkan pelajaran dengan suasana riang. Hingga tanpa sadar malam telah tiba, mereka berdua menghentikan pelajaran dan mencari tempat untuk tidur.Biasanya Serei tidur di atas pohon t

  • Dokterku Pemburu Roh   Serei 2

    Beberapa tahun yang lalu …"Tangkap, Tuan muda!" ucap seseorang dengan zirah lengkap.Seorang anak laki-laki—Ken—melarikan diri istana yang sangat teramat megah serta peradaban terlihat sangat maju berbeda dengan planet bumi yang manusia tinggali.Ken yang masih muda sekitar berumur 6 tahun menyadari bahaya yang sedang direncanakan oleh seseorang. Dia sadar bahwa keluar dari istana sangat sulit karena itu dia bertarung menggunakan tangan kosong.Meski sempat kalah, dia tidak menyerah dan terus melarikan diri hingga menemukan sebuah portal rahasia di ruang bawah tanah istana."Tuan muda ada di sana!" "Bertaruh atau tidak? Aku pilih bertaruh!" Ken memasuki portal itu seketika portal itu menghilang bersama Ken tanpa meninggalkan jejak.Para penjaga yang berbaju zirah berkumpul ke tempat itu seraya membongkar satu tempat ke tempat lain. Mereka sama sekali tidak bisa menemukan Ken."Mungkin dia pergi menggunakan portal yang aku buat." Muncul seseorang di belakang mereka."Hormat!" Semua p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status