LOGINSetelah mengunjungi tempat itu, Yaho membawa Dimas ke samping dan memberinya sesuatu untuk dimakan camilan manis dan kenyal yang disebut mochi. Dimas merasa rasanya enak sekali. Setelah itu, Yaho menyuruh sopirnya menyiapkan mobil. Ia ingin membawa Dimas ke tempat lain. Dimas mengangguk setuju. Ia memang tidak terlalu tertarik pada shogun Jepang, tapi kalau sampai dihadiahi istana seperti ini, itu urusan lain lagipula, pria mana yang tidak ingin punya kastil? Yaho membawa Dimas ke area parit. Tempat itu sangat indah. Dimas menyukai betapa artistiknya hasil karya orang-orang di abad pertengahan. Tak lama kemudian, mobil tiba di jalan terdekat untuk menjemput mereka. Yaho mengatakan sesuatu pada sopir dalam bahasa Jepang, dan sopir itu hanya mengangguk. “Kita bisa pergi minum teh sekarang. Teh yang sehat dan autentik, di Taman Hama-Rikyu,” kata Yaho. Lalu ia membawa Dimas ke tepi sungai, di mana
“Eh! Aku kan nggak bilang apa-apa.” Dimas berkata sambil tersenyum, lalu menggaruk kepalanya dengan agak canggung. Kalau dipikir-pikir, situasinya memang sedikit memalukan. “Nama saya Nakayama Yaho.” Ia membungkuk cukup dalam, lalu berkata, “Mari kita berangkat. Saya akan mengantar Anda ke hotel sekarang. Barang bawaannya juga bisa saya bawakan.” Sambil berkata begitu, Yaho mencoba mengambil koper dari tangan Dimas. Namun Dimas menggeleng dan mengatakan kalau dia bisa membawanya sendiri. Yaho mengangguk sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya pada tamu. Setelah itu, ia berjalan di depan, dan Dimas mengikutinya dari belakang. Beberapa orang di bandara menoleh ke arah mereka ketika tiba-tiba empat petugas keamanan muncul entah dari mana dan langsung memberikan pengawalan khusus untuk Dimas. “Ini paket yang Anda pilih. Paket Anda adalah Ultra VIP.” Yaho berkata sambil memperhatikan e
Dimas menghela napas. Dengan pemahaman polosnya, dia hanya bisa mengangguk lalu menuliskan cek untuk mereka. Ia memberikan cek senilai satu miliar rupiah, dan Anin menerimanya sambil tersenyum, lalu menunjukkannya pada Bella. Dimas tampak agak lelah dengan permainan kecil mereka. Ia pun duduk di sofa dan memesan makanan penutup ringan untuk dirinya sendiri. Karena ingin yang dingin, ia juga memesan es krim premium dari kedai es krim di lantai bawah. “Kamu pesan cuma buat diri kamu sendiri?” tanya Anin. Suaranya terdengar jauh lebih ceria dari sebelumnya. Ia duduk di samping Dimas, mengambil es krim itu untuk dirinya sendiri, bahkan memberikan sebagian pada Bella. Dimas mulai merasa frustrasi dengan tingkah mereka. Ia ingin pergi secepat mungkin dan kembali lagi saat suasana lengket itu sudah menghilang. “Aku pergi dan menginap di rumahmu malam ini. Kamu tetap di sini saja, Anin,” kata Dimas, la
Dimas tersenyum, lalu meminta perawat membawa formulir untuk ditandatangani Anin. Tak lama kemudian, dokter datang dan membawa Anin ke ruang pemeriksaan. Dimas keluar dari bilik dan duduk di bangku ruang tunggu. Beberapa saat kemudian, dokter kembali dengan senyum tipis. Ia mengangguk pelan ke arah Dimas sebelum pergi lagi, karena masih banyak pasien lain yang harus ditangani. Dimas tersenyum sendiri. Ini memang di luar rencananya, tapi jelas sebuah kejutan yang menyenangkan. Sepertinya aku memang harus mulai lebih bertanggung jawab mulai sekarang. Tak lama kemudian, Anin diperbolehkan pulang. Dokter memberinya beberapa obat penenang ringan, vitamin yang baik untuk kondisinya, serta menyarankan agar Anin tidak minum alkohol atau merokok. Dimas dan Anin keluar lewat pintu belakang, karena cukup banyak orang yang menunggu Dimas di depan. Saat ini, dia sama sekali tidak ingin menghadapi siapa pun. Dimas langsung
“Tentu saja tidak. Kamu itu segalanya buat aku. Tapi seperti yang sudah aku bilang, aku memang bikin kesalahan, dan itu nggak bisa dibereskan cuma dengan mutusin hubungan sama Bella. Dia bergantung sama aku. Aku salah ke kamu, dan aku minta maaf soal itu.” Dimas tahu dia tidak bisa begitu saja meninggalkan seseorang yang sangat bergantung padanya. Dalam hidupnya, orang itu sudah seperti sandaran. Jadi, mau tak mau, dia harus membicarakan semuanya dengan Anin sekarang. Perasaannya penuh rasa bersalah, tapi dia juga sadar hampir tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. “Maaf itu memang bisa nyembuhin semuanya? Maksudku… apa kata maaf bisa nyatuin lagi kaca yang sudah pecah?” Anin bertanya tiba-tiba sambil menyeka air matanya. Padahal, selama ini dia dikenal sebagai perempuan yang percaya diri. Bagi Anin, Dimas juga adalah segalanya. Dia merasa tak sanggup hidup tanpa pria itu tapi apakah dia bisa bertahan dengan seseorang yang sudah mengkhiana
Dimas memeluknya dengan lembut. Bella langsung menangis, tubuhnya gemetar hebat. Dimas tidak tahu pasti kenapa dia menangis, tapi satu hal yang jelas dia harus menenangkannya. Beberapa saat kemudian, Bella mulai tenang dan menatap Dimas dengan mata yang penuh luka dan kekecewaan. “Tidak apa-apa. Ceritakan padaku, kenapa kamu bisa sesedih ini?” Dimas menepuk pelan kepalanya, suaranya lembut. Dia benar-benar terlihat hancur. “Ka-kamu nggak pernah punya waktu buat aku. Kamu nggak datang malam hari, dan setiap kali kita ketemu di kantor, kamu selalu pergi…” Bella berbicara dengan nada tertekan, merasa diabaikan, merasa perasaannya tidak dianggap. “Ah… soal itu,” Dimas menghela napas pelan. “Aku lagi sibuk persiapan ujian. Dan jujur saja, melihat kamu di kantor itu bikin aku tenang. Makanya aku selalu ninggalin tanggung jawab ke kamu dan pergi. Bukan karena aku menghindar… tapi justru karena aku per
Begitu dia meninggalkan ruangan, orang-orang menatapnya seolah-olah dia adalah makhluk aneh yang nyasar. Walaupun Dimas mulai terbiasa, rasa kikuk itu masih belum hilang sepenuhnya. Sambil menggelengkan kepala, ia berjalan menuju area parkir basement hotel. Saat melangkah, ia mende
Dimas menatap gadis itu dan sedikit mengerutkan kening. Dari cara bicaranya, gadis itu jelas sedang dikerjai atau dipaksa seseorang. Dan Dimas paling benci orang yang suka mengintimidasi. “Ya, aku dengar kok. Terima kasih,” ujar Dimas pelan. “Tapi sebelum itu… bisa kasih tahu siapa
Dimas terbangun dari tidur nyenyaknya ketika alarm di ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia mendapati dirinya di tempat tidur putih dengan Anin yang masih tertidur di sampingnya. Ia butuh sekitar dua puluh detik untuk benar-benar sadar, lalu memeriksa ponselnya. Ada tiga panggilan tak t
Dimas membawa Anin ke dalam suite yang baru saja dia pesan. Pilihan di resepsionis cuma dua: kamar standar seharga Rp.3.000.000 per malam atau suite yang jauh lebih mewah dan nyaman seharga Rp4.250.000.per malam. Dimas langsung pilih yang per malam. Setelah ditambah PPN 11%, totaln







