Compartir

Cemburu?

Autor: PhiKey
last update Fecha de publicación: 2026-06-16 19:07:18

Raka merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa hampa. Sepulang mengantar Alya ke apartemennya, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya terus berputar pada ucapan Alya di restoran tadi. Ia sadar betul betapa kejamnya posisi yang ia berikan pada wanita itu. Tidak ada tujuan pernikahan, tidak ada janji manis, bahkan sekadar status kekasih pun tidak pernah ia tawarkan. Mereka hanya terikat dalam hubungan fisik di atas ranjang, sebuah realita dingin yang kini terasa be
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Obsesi di luar batas

    Pagi itu, suasana di dalam mobil baru Alya terasa ringan. Raya yang duduk di kursi penumpang tampak begitu menikmati kenyamanan interior mobil tersebut."Al, jujur ya, aku suka banget sama mobil ini. Simple tapi elegan," ujar Raya sambil menoleh ke arah Alya yang fokus menyetir. "Di mana kamu beli mobil ini? Kayaknya aku bakal beli yang tipe serupa saja. Nggak perlu yang terlalu mewah, yang penting bukan pemberian Papa."Alya sudah mengantisipasi pertanyaan itu. Ia menarik napas tenang, menjaga intonasi suaranya agar terdengar wajar. "Aku beli di situs daring. Kemarin pagi aku sudah janjian ketemu langsung sama penjualnya buat cek unit. Makanya, kalau kamu nanti iseng cek rekaman CCTV salon soal kedatangan Mas Emran kemarin, jangan heran kalau aku baru sampai agak siangan. Aku memang harus mengurus pembelian mobil ini dulu."Raya manggut-manggut, tidak ada kecurigaan sedikit pun di wajahnya. Ia justru tersenyum lebar. "Ah, kayaknya nanti aku minta Raka aja yang beliin mobil, atau mung

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Siapa yang lebih berkuasa?

    "Kamu semalam dari mana saja, Al? Aku lihat kamu pulang larut sekali, dan... kenapa wajahmu sembab begitu?" tanya Raya sambil meletakkan sepiring roti bakar. Tatapannya tajam, penuh selidik. "Aku mau tanya semalem, tapi aku udah ngantuk parah karena kecapean."Pagi itu, Alya dan Raya sarapan bersama. Keduanya tidak sempat mengobrol semalam karena Raya sudah terlelap, sementara kondisi Alya sendiri sedang terlalu kacau.Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya. "Maafin aku, Ra. Aku... aku kangen banget sama anak-anak. Semalam aku kepikiran mereka terus, rasanya sesak sekali. Aku baru aja beli mobil dan rasanya aku pengen jemput mereka secepetnya. Sejak kejadian malam itu, aku bahkan nggak tahu kondisi anak-anak sekarang." Alya memaksakan senyum tipis. Ia menutupi bagian di mana ada keributan besar dengan Raka. "Ditambah lagi, kemarin pagi Mas Emran datang ke salon, dia buat keributan. Dia maksa aku buat balikan, aku sampai gemetaran menghadapi dia. Kamu bisa tanya Lina

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pengakuan setelah air mata

    "Kamu mau pergi?"Suara itu rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk Alya meremang. Alya, yang sedang berusaha mengancingkan gaunnya dengan tangan gemetar, membeku seketika. Ia tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan tatapan tajam Raka yang seolah ingin membakarnya hidup-hidup dari balik punggungnya."Maafin aku, Raka," cicit Alya. Ia menghentikan gerakannya, lalu perlahan berbalik. Wajahnya yang tadi terlihat memukau kini tampak sendu, menyisakan jejak kekecewaan yang mendalam. "Maaf, tapi jarak dari apartemen ini ke apartemenku lumayan jauh. Aku nggak mau Raya curiga kalau aku sampai sananya terlalu malam."Ia menunduk, bahunya merosot lemas. Sesungguhnya, hatinya pun menjerit karena kekecewaan. Sejak siang tadi, ia sudah membayangkan momen di mana ia bisa melepas segala penat dan menjadi milik Raka sepenuhnya."Kamu bisa cari alasan. Kamu nggak perlu menginap di sini. Setidaknya... argh! Kita sudah setengah jalan, Alya!" Raka menggeram frustrasi. Rahangnya meng

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Gagal main!

    Siang itu berubah menjadi begitu sibuk dengan deretan pelanggan yang datang silih berganti. Kesibukan itu seolah menjadi berkah bagi Alya, karena mampu mengalihkan pikirannya sepenuhnya dari kejadian mengerikan bersama Emran tadi pagi. Fokusnya benar-benar tersita pada pekerjaannya.Di sela-sela jeda, Alya menyempatkan diri menghubungi Raya yang masih berada di luar kota."Halo, Ra?""Eh, Alya! Pas banget kamu telepon," sahut Raya di seberang sana. "Aku mau bilang, urusanku di sini mungkin nggak bisa selesai dalam sehari. Aku baru bisa balik besok, jadi malam ini aku nginap di sini ya.""Oh, oke, Ra. Nggak apa-apa, selesaiin dulu aja urusanmu di sana. Aku telepon karena mau bilang kalau aku sudah beli HP.""Aku tadi mau nanya itu, kamu telepon pake HP siapa? Padahal aku niatnya mau beliin kamu, tapi lupa-lupa terus. Eh kamu malah udah beli sendiri.""Kan tadi pagi aku bilang mau beli mobil, terus aku kepikiran buat beli HP juga." Alya mencoba menjelaskan."Ya udah kalau begitu, aku m

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Candu yang tak disangka

    Lina menghampiri Alya di ruang istirahat dengan segelas air dingin, menyerahkannya dengan tatapan penuh simpati. Setelah memastikan Alya sedikit lebih tenang, Lina kembali ke depan untuk melayani pelanggan yang mulai berdatangan. Salon cukup ramai, dan absennya Raya membuat suasana terasa lebih sibuk bagi staf yang tersisa.Alya kini ditemani Kevin. Ruangan itu terasa kontras dengan hiruk-pikuk di luar. Alya menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan gelas yang berembun, merasa sangat tidak enak hati."Maaf, kamu jadi sering terseret dalam urusanku yang berantakan," ucap Alya lirih, suaranya masih sedikit parau akibat tangis yang baru saja mereda.Kevin yang duduk di seberang meja, menatap Alya dengan pandangan lembut namun tegas. Ia mendengar nada penyesalan yang mendalam dalam suara wanita itu."Daripada mendengar kata maaf, aku akan jauh lebih senang jika mendengar kata terima kasih," jawab Kevin santai, mencoba mencairkan suasana yang kaku.Alya mengangkat wajahnya sedikit, m

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Menikah lagi denganmu? Jangan gila!

    "Pergi, Mas! Pergi dari sini sekarang juga!" Alya berteriak, suaranya parau menahan rasa mual yang meluap di kerongkongan. "Aku jijik melihat wajahmu! Menjauh dariku dan hentikan semua sandiwaramu ini!"Namun, Emran tidak bergeming. Pria itu tetap bersimpuh di atas trotoar yang keras, menunduk dengan bahu yang bergetar. "Aku nggak akan berdiri, Alya. Apalagi pergi. Aku nggak akan beranjak satu inci pun dari sini sebelum kamu memberikan maafmu."Alya tertegun sejenak, lalu sebuah kekehen getir lolos dari bibirnya. Suara tawa yang terdengar patah dan menyakitkan. Di saat yang sama, cairan hangat mulai menggenang di pelupuk matanya, meluncur turun melewati pipi yang pucat."Maaf?" Alya menatap Emran dengan tatapan yang begitu dalam dan terluka. "Kamu mau aku memaafkanmu? Oke. Aku punya syarat yang sangat sederhana, Mas."Alya menyeka kasar air matanya, menatap pria itu dengan tatapan tajam yang menghujam. "Biarin anak-anak tinggal sama aku. Berikan hak asuh mereka padaku, dan aku akan ma

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tempat bersandar yang salah

    Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hati yang terluka

    Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tanggung jawab

    Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status