MasukDetak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang lebih muda darinya itu membuat ulu hatinya nyeri.
Ia merasa sesak, ia butuh udara dan butuh pengalihan agar kewarasannya tidak benar-benar tumbang. Alya meraih tasnya dan melangkah keluar menuju pusat perbelanjaan yang terletak beberapa blok dari apartemennya. Sambil berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan yang terang-benderang, matanya terpaku pada sebuah etalase toko mainan. Sebuah robot plastik berwarna biru mengingatkannya pada putra bungsunya--Rio, sementara gaun merah muda di toko sebelahnya mengingatkannya pada si sulung--Nana. "Ulang tahun Rio tinggal dua minggu lagi," bisiknya lirih. Kerinduan itu menghantamnya begitu telak hingga dadanya terasa sesak. Ia hendak melangkah masuk ke toko tersebut, tapi langkahnya ragu. Di kejauhan, ia melihat sosok yang sangat ia kenali--Emran. Mantan suaminya itu tampak rapi, menggandeng seorang wanita berpenampilan modis yang kini menjadi istrinya. Dan di samping mereka, dua sosok mungil sedang tertawa, tampak bahagia. "Rio? Nana?" Jantung Alya seolah berhenti berdetak. Tanpa pikir panjang, karena didorong oleh insting seorang ibu yang sudah lama dipisahkan dari darah dagingnya, Alya berlari kecil mendekat. "Rio! Sayang, ini Ibu!" Anak laki-laki berusia tiga tahun itu menoleh. Namun, alih-alih berlari memeluk ibunya, anak kecil itu justru mundur selangkah, lalu bersembunyi di balik kaki ayahnya. Matanya menatap Alya dengan tatapan asing dan penuh ketakutan. "Rio, Nana... ini Ibu. Sini, Nak," suara Alya bergetar, tangannya terulur ingin menyentuh pipi anak-anaknya. Sayangnya, ia malah menerima penolakan dari anak-anaknya. "Jangan sentuh mereka!" Emran membentak, suaranya menggelegar menarik perhatian pengunjung lain. Ia memegangi kedua anaknya yang kini ada di belakang tubuhnya. Seolah Alya membawa penyakit menular untuk keduanya. "Sudah kubilang, jangan pernah muncul di depan anak-anakku dengan penampilan menyedihkanmu itu!" "Mas, aku cuma mau lihat mereka sebentar aja." "Lihat itu, Rio, Nana," sela istri baru Emran dengan nada menghina, matanya menatap sinis baju Alya yang agak kusut dan wajahnya yang hanya mengenakan riasan tipis. "Ini wanita yang kalian panggil ibu? Dia lebih mirip gelandangan... sungguh haus perhatian." Emran tertawa sinis, ia maju satu langkah, mencoba mengintimidasi Alya. "Kenapa? Salon tempatmu bekerja tidak laku? Atau kamu sengaja berdandan seperti ini supaya bisa menarik perhatian pria hidung belang di sini?" "Jaga bicaramu, Mas!" Mata Alya berkaca-kaca. "Aku kerja halal selama ini!" "Halal?" Emran mendengus. "Janda kesepian sepertimu paling-paling cuma bisa menjual... diri. Jangan-jangan kamu ke sini memang sedang mencari mangsa, kan?" Tubuh Alya gemetar hebat. Dunianya terasa berputar. Hinaan itu, tatapan dingin anak-anaknya yang tampak sudah dicuci otaknya untuk membencinya, benar-benar menghancurkan mental dan meruntuhkan kekuatannya. Saat kakinya nyaris lemas dan ia hampir jatuh ke lantai, sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya dengan cukup protektif. Aroma maskulin yang familier menyeruak. Alya mendongak dengan mata basah, menemukan sesosok pria berdiri di sana dengan ekspresi sedingin es-Raka. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Raka lembut. "Raka? Apa yang kamu lakuin di sini? Kamu buntutin aku?" tanya Alya pelan. "Siapa kamu?" Emran mencibir, melihat Raka dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. "Oh, jadi tuduhanku benar? Kamu sudah punya pria lain? Tapi.. seleramu rendah, Alya. Kamu menyewa gigolo berondong yang sepertinya nggak tahu siapa kamu sebenernya." Istri Emran ikut tertawa sinis. "Kasihan sekali. Uang hasil memijat orang dipakai untuk membayar laki-laki. Kenapa? Kamu kesepian? Bisa-bisanya cari daun muda!" Raka tidak meledak. Ia justru menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang mematikan. Matanya menatap logo perusahaan pada id-card yang masih menggantung di saku kemeja Emran. "Emran Prasetyo, PT. Surya Kencana, bagian logistik?" tanya Raka pelan, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Menarik. Aku baru saja menandatangani kontrak akuisisi dengan direktur utama di sana pagi ini. Aku tidak tahu perusahaan itu memelihara karyawan dengan mulut sampah seperti kamu." Tawa Emran seketika lenyap. Wajahnya berubah pucat pasi saat matanya beralih ke jam tangan di pergelangan tangan Raka, sebuah barang yang nilainya jauh lebih besar dari gaji Emran selama setahun. "Anda..." Emran tergagap. “Direktur utama di sana teman baik saya.” Raka memiringkan kepala, tatapannya menilai jam tangan Rolex palsu yang ada di pergelangan Emran. “Unik. Istri Anda pakai Hermes KW. Dan suaminya masih bangga pakai jam tangan yang juga KW seharga... ratusan ribu?” Wajah istri Emran seketika pias. Tangannya refleks menyembunyikan tas di belakang punggung. Begitu juga dengan mantan suami Alya itu, langsung memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Raka tidak menunggu jawaban. Dia menggandeng Alya, menarik wanita itu menjauh. Tapi sebelum berbalik, dia menunduk lagi, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alya. Ia dengan sengaja begitu, agar Emran bisa melihat. Sorot matanya tajam hanya tertuju ke pria yang pernah jadi suami Alya itu. "Alya yang sekarang, bukan Alya yang kamu kenal dulu," Raka mengeratkan dekapannya di pinggang Alya, menarik tubuh ramping itu lebih rapat ke tubuhnya hingga tak ada celah. "Dia di sini buat nunggu aku, bukan cari mangsa. Dan aku benar-benar nggak suka milikku diganggu oleh orang-orang... seperti kamu." Raka menatap istri Emran yang kini menunduk takut, lalu kembali menatap Emran dengan sorot menghina. Tanpa sepatah kata lagi, ia memutar tubuh Alya, membimbingnya pergi dari sana. "Ayo pergi," bisik Raka tepat di telinga Alya, nada suaranya berubah dalam dan posesif. "Waktuku sudah tersita banyak karena drama nggak bermutu ini." Alya hanya bisa pasrah, membiarkan Raka membawanya menuju mobil yang terparkir di lobi, sementara di belakang sana, Emran masih mematung seperti pecundang yang kehilangan lidah. Namun di dalam hati, Alya tahu, apa yang dilakukan Raka hanya untuk menyelamatkan harga dirinya di depan mantan suaminya. Dan wanita itu tahu, semua itu tidak gratis. Raka pasti meminta bayaran mahal atas apa yang baru saja dia lakukan.Mobil yang membawa Soraya dan Sanjaya menuju bandara baru saja menghilang di balik gerbang saat lembayung sore di luar jendela perlahan berganti menjadi malam yang pekat. Di dalam rumah yang kini mendadak hening, Raka menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya mendadak runtuh, berganti dengan gelombang kelegaan yang begitu membuncah. Ia menatap Raya yang masih menyeka sisa air mata penyesalan dan haru di pipinya."Kak..." panggil Raka dengan suara serak namun tegas.Raya menoleh, menatap adiknya dengan alis bertaut. "Kenapa, Raka?""Malam ini juga. Antar aku ke rumah Alya," ujar Raka tanpa ragu sedikit pun. Matanya berkilat mantap. "Mama dan Papa sudah merestui kita sepenuhnya. Mereka sudah pergi, dan aku tidak mau menunda ini bahkan untuk satu jam saja. Aku mau Kak Raya ikut, jadi saksi kalau aku melamar Alya malam ini."Raya mengikis jarak di antara mereka, lalu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak kandung Raka seka
Baru pukul dua siang, dan Raka sudah melangkah masuk ke rumahnya. Hari itu ia meninggalkan kantor lebih awal. Tubuhnya terasa remuk, sarat oleh rasa frustrasi yang membuatnya merasa bahwa hidup tidak lagi menyisakan ruang untuk bernapas lega.Saat ia duduk di kursi meja makan setelah menenggak air dingin langsung dari kulkas, Soraya muncul dari arah ruang tengah. Perempuan paruh baya itu mengerutkan kening begitu mendapati anak bungsunya sudah berada di rumah pada jam kerja."Raka? Kamu sudah pulang?" tanya Soraya cemas.Tanpa menatap sang ibu, Raka menjawab dengan suara serak, "Aku mau mundur saja dari perusahaan, Ma."Soraya tertegun, langkahnya terhenti. "Kenapa? Kamu sakit?" tanyanya lagi, ketakutan utamanya tetap pada kondisi fisik anaknya.Raka menggeleng pelan. "Aku capek. Aku nggak ada semangat apa pun. Aku mau tidur saja, mau istirahat yang lama."Soraya menatap punggung putranya dengan perasaan getir. Sikap lesu itu mendadak memantik ketus di hatinya. "Ini cara kamu protes?
Siang itu, udara di dalam kafe berpendingin ruangan terasa jauh lebih pengap ketimbang terik matahari yang memanggang jalanan di luar. Raka duduk di sudut yang agak tersembunyi, menatap cangkir kopi hitamnya yang kini telah mendingin. Di seberangnya, Raya baru saja menutup agenda laporan bulanan salon yang menjadi alasan utama pertemuan mereka hari ini. Sebagai investor utama, Raka biasanya akan meneliti setiap angka dengan cermat, namun hari ini pikirannya entah melayang ke mana."Apa?" tanya Raya setengah berseru, nada suaranya mendadak melengking di antara deru mesin espresso dan alunan musik latar yang lembut. Tanpa sengaja ia menarik perhatian beberapa pengunjung di meja sebelah, tapi Raya tidak peduli. Laporan keuangan yang sedari tadi dipegangnya mendadak terasa tidak penting setelah ia mendengar kalimat pembuka dari adiknya. "Kamu serius?" tanyanya sekali lagi, menuntut kejelasan dengan mata membelalak tak percaya.Raka mengangguk pelan, gerakannya lemah tanpa tenaga. "Zahira
Pagi itu, suasana kediaman Sanjaya terasa aneh. Alih-alih berada di kantor, Zahira justru melangkah masuk ke ruang tamu rumah tersebut atas undangan langsung Sanjaya. Pria paruh baya itu berniat meminta kejelasan mutlak mengenai kelanjutan hubungan antara Zahira dan Raka. Keduanya kompak mangkir dari pekerjaan hari itu demi menyelesaikan urusan pelik di antara mereka."Selamat pagi, Om, Tante," sapa Zahira dengan senyum ramah yang tetap terjaga di wajahnya.Soraya menyambutnya dengan anggukan tenang. Sementara itu, Sanjaya menatap tajam dengan wajah tertekuk sempurna."Kamu tahu kan maksud dan tujuan Om mengundang kamu untuk datang ke sini jam segini?" tanya Sanjaya tanpa basa-basi.Zahira mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah Raka yang duduk tenang di seberangnya. "Om sama tante pasti sudah dikasih tahu Raka soal keputusanku untuk mundur dari perjodohan kami.""Apa maksudmu dengan memilih untuk mundur, Zahira? Kamu sendiri yang menginginkan perjodohan ini sejak awal, bukan?" prote
Suara dentingan sendok dan piring beradu tipis, menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di meja makan itu. Suasana sarapan pagi terasa begitu canggung dan dingin. Hanya ada tiga orang di sana, Sanjaya, Soraya, dan Raka. Raya tidak kelihatan batang hidungnya sejak kemarin, menambah kekosongan di ruang makan yang terlalu luas itu."Raya nggak pulang?" tanya Sanjaya datar, akhirnya memecah kesunyian sembari merapikan napkin di pangkuannya.Soraya hanya menggeleng pelan tanpa bersuara. Wanita itu mengaduk teh hangatnya dengan gerakan lambat, pikirannya berkelana ke tempat lain. Kerutan samar di dahinya menyiratkan beban pikiran yang berat. Soraya terus bertanya-tanya dalam hati, haruskah ia menceritakan pertemuannya dengan Zahira kemarin di depan suaminya? Itu karena Sanjaya sama sekali tidak tahu-menahu mengenai niatnya untuk membatalkan perjodohan Raka dan Zahira secara sepihak.Di sisi lain meja, Raka duduk dalam bungkam. Tatapannya tertuju kosong pada sisa makanan di piring
"Ada apa?" tanya Raka sinis begitu melabuhkan duduknya di kursi restoran mewah pilihan Zahira. Suaranya terdengar datar, menyiratkan keengganan untuk berada di sana malam itu.Sementara itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Alya dan Raya tengah menghabiskan malam dalam pelukan kehangatan persahabatan. Namun di sini, di bawah temaram lampu restoran, Zahira memilih menuntaskan sisa-sisa benang kusut yang selama ini mengikat hidupnya.Zahira menatap pria di hadapannya. Malam ini, ia tidak berdandan tebal seperti biasanya. Ia hanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana, tanpa polesan berlebihan yang justru menonjolkan kecantikan alaminya, itu adalah pemandangan yang terasa asing di mata Raka."Selamat malam, Raka," sapa Zahira lembut.Sapaan itu lolos begitu tenang, terdengar janggal sekaligus menggelitik sudut hati Raka. Ada nada yang berbeda dari biasanya, melunturkan sedikit saja ketus di dada pria itu. "Kenapa? Ada apa?" tanyanya, nadanya tak lagi sesinis tadi.Zahira men
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la
Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya







