Share

Tanggung jawab

Penulis: PhiKey
last update Tanggal publikasi: 2026-05-04 18:23:54

Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.

Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.

“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya mengunci mata hazel milik Alya.

Tiba-tiba denyut nyeri menghantam kepala wanita itu. Tatapan Raka tanpa sadar menarik kembali memori yang mati-matian Alya kubur. Pengkhianatan Emran. Ketukan palu hakim yang merampas anak-anaknya. Hinaan mantan suaminya yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai wanita... luka itu masih terlalu basah.

Kini, Raka–adik dari sahabatnya sendiri–menatapnya seolah ia hanya objek pemuas sesaat?

Alya meremas ujung bajunya, membalas tatapan pria itu dengan napas tertahan. "Raka, kamu serius?" tanyanya pelan. Suaranya nyaris bergetar.

Raka terkekeh pelan. Tawanya terdengar rendah, mengalun berat di telinga Alya. "Kamu mau lari begitu saja setelah semua ini?"

"Ta-tapi..." Alya ragu.

"Aku mau kita mengulang apa yang kita lakukan semalam. Lagi." Sorot mata Raka menajam, mengunci pergerakan Alya tanpa sedikit pun keraguan.

Darah Alya terasa mendidih. "Kamu mau kita mengulang dosa semalam?"

"Dosa atau apa pun sebutannya, aku hanya menuntut pertanggungjawaban atas apa yang sudah kamu mulai," balas Raka. Nadanya tidak meninggi, tapi ketegasannya tak bisa dibantah.

"Bukan begitu caranya, Raka! Kalau kamu cuma butuh pelampiasan, aku bisa carikan wanita lain," ujar Alya cepat. Napasnya memburu.

Seringai tipis terukir di sudut bibir Raka. Pria itu menyandarkan punggungnya perlahan, menatap Alya dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat Alya merasa ditelanjangi. Ketenangan pria itu terasa mencekik.

"Kamu pikir aku butuh wanita lain?" Suara Raka terdengar sedingin es. "Kalau aku sekadar mencari pelampiasan, aku tidak akan membuang waktuku duduk di depanmu saat ini. Aku menuntutmu, Alya. Kamu yang mengambilnya, dan aku mau kamu yang bertanggung jawab."

Alya tak mampu berkutik. Lidahnya kelu. Ia kalah telak.

Raka mencondongkan tubuhnya ke depan, menipiskan jarak di antara mereka. Aroma maskulin dari parfum mahalnya seketika menginvasi penciuman Alya, memberikan intimidasi yang tak kasat mata. "Aku tidak suka penolakan. Datang kapan pun aku memintamu datang. Kalau tidak..." Raka memiringkan kepalanya, menatap tepat ke manik mata Alya, "kamu tidak akan suka melihat apa yang bisa kulakukan, Alya."

Setelah menjatuhkan ancaman itu, Raka berdiri. Ia merapikan jasnya dengan gerakan elegan yang tak terburu-buru, lalu pergi meninggalkan Alya yang nyaris kehabisan napas.

Tubuh Alya melemas. Seolah tak lagi memiliki energi untuk melanjutkan hidup. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakuin?" bisiknya lirih.

Ia meraih ponselnya dan tanpa berpikir panjang langsung menelepon Raya.

"Halo, Ra?" sapa Alya, mencoba menstabilkan napasnya.

"Iya, Al. Ada apa?" jawab Raya di seberang.

"Itu... botol kaca berlabel emas di atas meja riasmu. Itu minuman apa, Ra?" tanya Alya hati-hati.

Terdengar hembusan napas kaget dari seberang. "Astaga, Al! Kamu minum itu?"

"I-iya. Sedikit. Memangnya kenapa?"

"Itu wine racikan khusus yang dikasih klienku dari luar negeri. Alkoholnya tinggi banget dan ada campuran herbal afrodisiaknya. Badanku aja langsung panas cuma cium aromanya, makanya aku taruh meja dan belum berani minum. Kamu nggak apa-apa, kan?"

Napas Alya tercekat. Fakta itu memukulnya dengan telak.

"A-aku nggak apa-apa. Cuma pusing sedikit," dusta Alya dengan suara bergetar.

Setelah telepon terputus, Alya memejamkan mata erat. "Hanya karena sebotol wine sialan? Ya Tuhan, aku cuma mau hidup tenang dan mengumpulkan uang untuk anak-anakku. Kenapa ini harus terjadi?"

***

Mesin mobil Raka sudah menyala, tapi ia belum juga beranjak dari tempat parkir. Tangannya bertumpu di setir, diam terlalu lama, seolah ia butuh waktu untuk sekadar meredakan emosinya.

"Carikan wanita lain?" gumamnya pelan. Rahangnya mengeras tajam. Bayangan Alya yang menyodorkan wanita lain padanya entah kenapa memancing denyut amarah yang aneh di dadanya.

Dua tahun terakhir, ia sudah menahan diri. Awalnya hanya sebatas rasa penasaran melihat perubahan Alya–dari wanita yang tampak hancur setelah dikhianati, menjadi sosok tangguh yang mati-matian menyembunyikan lukanya. Cara wanita itu tersenyum tipis, bersikap dingin pada pria lain, dan kemandiriannya yang keras kepala, perlahan menarik perhatian Raka lebih dari yang seharusnya.

Ia tahu batas. Alya adalah sahabat kakaknya, dan usianya terpaut cukup jauh. Namun malam itu menghancurkan semua tembok pertahanan yang susah payah ia bangun. Sentuhan putus asa Alya meruntuhkan kewarasannya.

Cengkeraman Raka pada setir semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kalau bukan kamu...," bisiknya tertahan. Ia mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari, mengingat panasnya kulit Alya malam itu. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhku."

Raka akhirnya memindahkan persneling dan menginjak pedal gas. Mobilnya melesat elegan membelah lalu lintas.

"Kamu yang menghancurkan pertahananku," batinnya dingin, menatap pantulan matanya sendiri di kaca spion. "Maka bersiaplah. Karena aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   TAMAT

    Mobil yang membawa Soraya dan Sanjaya menuju bandara baru saja menghilang di balik gerbang saat lembayung sore di luar jendela perlahan berganti menjadi malam yang pekat. Di dalam rumah yang kini mendadak hening, Raka menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya mendadak runtuh, berganti dengan gelombang kelegaan yang begitu membuncah. Ia menatap Raya yang masih menyeka sisa air mata penyesalan dan haru di pipinya."Kak..." panggil Raka dengan suara serak namun tegas.Raya menoleh, menatap adiknya dengan alis bertaut. "Kenapa, Raka?""Malam ini juga. Antar aku ke rumah Alya," ujar Raka tanpa ragu sedikit pun. Matanya berkilat mantap. "Mama dan Papa sudah merestui kita sepenuhnya. Mereka sudah pergi, dan aku tidak mau menunda ini bahkan untuk satu jam saja. Aku mau Kak Raya ikut, jadi saksi kalau aku melamar Alya malam ini."Raya mengikis jarak di antara mereka, lalu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak kandung Raka seka

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Restu yang akhirnya didapat

    Baru pukul dua siang, dan Raka sudah melangkah masuk ke rumahnya. Hari itu ia meninggalkan kantor lebih awal. Tubuhnya terasa remuk, sarat oleh rasa frustrasi yang membuatnya merasa bahwa hidup tidak lagi menyisakan ruang untuk bernapas lega.Saat ia duduk di kursi meja makan setelah menenggak air dingin langsung dari kulkas, Soraya muncul dari arah ruang tengah. Perempuan paruh baya itu mengerutkan kening begitu mendapati anak bungsunya sudah berada di rumah pada jam kerja."Raka? Kamu sudah pulang?" tanya Soraya cemas.Tanpa menatap sang ibu, Raka menjawab dengan suara serak, "Aku mau mundur saja dari perusahaan, Ma."Soraya tertegun, langkahnya terhenti. "Kenapa? Kamu sakit?" tanyanya lagi, ketakutan utamanya tetap pada kondisi fisik anaknya.Raka menggeleng pelan. "Aku capek. Aku nggak ada semangat apa pun. Aku mau tidur saja, mau istirahat yang lama."Soraya menatap punggung putranya dengan perasaan getir. Sikap lesu itu mendadak memantik ketus di hatinya. "Ini cara kamu protes?

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Merasa lelah

    Siang itu, udara di dalam kafe berpendingin ruangan terasa jauh lebih pengap ketimbang terik matahari yang memanggang jalanan di luar. Raka duduk di sudut yang agak tersembunyi, menatap cangkir kopi hitamnya yang kini telah mendingin. Di seberangnya, Raya baru saja menutup agenda laporan bulanan salon yang menjadi alasan utama pertemuan mereka hari ini. Sebagai investor utama, Raka biasanya akan meneliti setiap angka dengan cermat, namun hari ini pikirannya entah melayang ke mana."Apa?" tanya Raya setengah berseru, nada suaranya mendadak melengking di antara deru mesin espresso dan alunan musik latar yang lembut. Tanpa sengaja ia menarik perhatian beberapa pengunjung di meja sebelah, tapi Raya tidak peduli. Laporan keuangan yang sedari tadi dipegangnya mendadak terasa tidak penting setelah ia mendengar kalimat pembuka dari adiknya. "Kamu serius?" tanyanya sekali lagi, menuntut kejelasan dengan mata membelalak tak percaya.Raka mengangguk pelan, gerakannya lemah tanpa tenaga. "Zahira

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Perjuangan mengharap restu

    Pagi itu, suasana kediaman Sanjaya terasa aneh. Alih-alih berada di kantor, Zahira justru melangkah masuk ke ruang tamu rumah tersebut atas undangan langsung Sanjaya. Pria paruh baya itu berniat meminta kejelasan mutlak mengenai kelanjutan hubungan antara Zahira dan Raka. Keduanya kompak mangkir dari pekerjaan hari itu demi menyelesaikan urusan pelik di antara mereka."Selamat pagi, Om, Tante," sapa Zahira dengan senyum ramah yang tetap terjaga di wajahnya.Soraya menyambutnya dengan anggukan tenang. Sementara itu, Sanjaya menatap tajam dengan wajah tertekuk sempurna."Kamu tahu kan maksud dan tujuan Om mengundang kamu untuk datang ke sini jam segini?" tanya Sanjaya tanpa basa-basi.Zahira mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah Raka yang duduk tenang di seberangnya. "Om sama tante pasti sudah dikasih tahu Raka soal keputusanku untuk mundur dari perjodohan kami.""Apa maksudmu dengan memilih untuk mundur, Zahira? Kamu sendiri yang menginginkan perjodohan ini sejak awal, bukan?" prote

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi harapan di meja makan

    Suara dentingan sendok dan piring beradu tipis, menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di meja makan itu. Suasana sarapan pagi terasa begitu canggung dan dingin. Hanya ada tiga orang di sana, Sanjaya, Soraya, dan Raka. Raya tidak kelihatan batang hidungnya sejak kemarin, menambah kekosongan di ruang makan yang terlalu luas itu."Raya nggak pulang?" tanya Sanjaya datar, akhirnya memecah kesunyian sembari merapikan napkin di pangkuannya.Soraya hanya menggeleng pelan tanpa bersuara. Wanita itu mengaduk teh hangatnya dengan gerakan lambat, pikirannya berkelana ke tempat lain. Kerutan samar di dahinya menyiratkan beban pikiran yang berat. Soraya terus bertanya-tanya dalam hati, haruskah ia menceritakan pertemuannya dengan Zahira kemarin di depan suaminya? Itu karena Sanjaya sama sekali tidak tahu-menahu mengenai niatnya untuk membatalkan perjodohan Raka dan Zahira secara sepihak.Di sisi lain meja, Raka duduk dalam bungkam. Tatapannya tertuju kosong pada sisa makanan di piring

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Diakhiri saja

    "Ada apa?" tanya Raka sinis begitu melabuhkan duduknya di kursi restoran mewah pilihan Zahira. Suaranya terdengar datar, menyiratkan keengganan untuk berada di sana malam itu.Sementara itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Alya dan Raya tengah menghabiskan malam dalam pelukan kehangatan persahabatan. Namun di sini, di bawah temaram lampu restoran, Zahira memilih menuntaskan sisa-sisa benang kusut yang selama ini mengikat hidupnya.Zahira menatap pria di hadapannya. Malam ini, ia tidak berdandan tebal seperti biasanya. Ia hanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana, tanpa polesan berlebihan yang justru menonjolkan kecantikan alaminya, itu adalah pemandangan yang terasa asing di mata Raka."Selamat malam, Raka," sapa Zahira lembut.Sapaan itu lolos begitu tenang, terdengar janggal sekaligus menggelitik sudut hati Raka. Ada nada yang berbeda dari biasanya, melunturkan sedikit saja ketus di dada pria itu. "Kenapa? Ada apa?" tanyanya, nadanya tak lagi sesinis tadi.Zahira men

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Perasaan yang mulai berubah

    Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tempat bersandar yang salah

    Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hati yang terluka

    Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status