Chapter: Tak pantas bahagia"Apa yang sudah aku lakukan?"Alya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi apartemen Raka yang luas. Suara air keran yang mengalir terdengar samar, namun tidak mampu menenggelamkan gemuruh di kepalanya. Jarinya gemetar saat menyentuh kulit leher bagian samping. Ada bekas kemerahan yang mencolok di sana—sebuah tanda kepemilikan yang dipaksakan."Jijik," bisiknya pada bayangan sendiri. "Kamu benar-benar wanita yang menjijikkan, Alya. Kamu wanita nggak tahu malu! Kamu wanita nggak tahu diri!"Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap rasa panas dan mual di perutnya bisa sedikit mereda. Bayangan wajah Raya, sahabat yang selama ini begitu tulus padanya, terus muncul di benaknya. Alya memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus ingatan tentang bagaimana dia dalam ketakutan dan keterpaksaan menyerah pada tuntutan Raka semalam.Setelah menarik napas panjang, ia keluar dari kamar mandi. Kamar sudah kosong. Alya melangkah keluar menuju ruang tengah.Raka ada di sana, sedang berdi
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Keraguan dan ketakutanNamun, tepat saat dunia seolah akan meledak bagi mereka berdua, saat Raka sudah berada di puncak keinginannya untuk menyatu sepenuhnya dengan Alya, sebuah interupsi tajam menghancurkan segalanya.Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...Ponsel di atas nakas bergetar hebat, suaranya terasa begitu memekakkan di tengah kesunyian kamar yang panas itu. Kedua orang itu mematung. Napas Raka yang tadi menderu kini tertahan di tenggorokan.Raka mencoba mengabaikannya, tangannya masih mendekap pinggul Alya dengan erat, namun dering itu tidak berhenti. Raka melirik sekilas ke arah layar, dan seketika itu juga, rahangnya mengeras. Alya pun melihat nama penelepon itu."Raya."Nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah sebuah peringatan, sebuah pembatas moral yang baru saja mereka langgar dengan kasar. Nama itu seolah menjadi tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Alya, menyadarkannya dari mimpi indah yang berbahaya.Seketika, hasrat yang tadi membara di dalam tubuh Alya padam seperti disiram air es. Rasa d
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Malam yang panasRaka menindih tubuh Alya di atas sofa apartemennya. Napas keduanya memburu cepat, saling beradu di dalam kamar yang tertutup rapat itu. Alya baru saja menangis teringat caci maki mantan suaminya. Namun sekarang, himpitan dada bidang Raka sepenuhnya mengalihkan pikiran wanita itu dari rasa sakitnya. Raka menangkup wajah Alya dengan jemarinya yang kasar. Pria muda itu menunduk, mengusap sisa air mata di pipi Alya, lalu melumat bibirnya dalam-dalam. "Biar aku yang buat kamu lega. Lupakan mantan suamimu, lupakan semuanya, Alya," bisik Raka parau, tepat di depan bibir yang sedikit bengkak itu. "Sebut namaku." Alya memejamkan mata. Tangan Raka turun perlahan, meremas pelan bahu Alya, lalu menyusuri leher jenjangnya. Jari Raka menekan urat di bawah telinga Alya, membuat tubuhnya menggelinjang pelan. Kulit Alya memerah di setiap tempat yang disentuh jemari dan bibir Raka. "Raka... ah... jangan! Ini salah..." rintih Alya di sela napasnya yang pendek. Namun kedua tangan Alya justru bertin
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Tempat bersandar yang salahDi dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengumpulkan kepingan tubuhnya yang hancur. Bahunya yang rapuh berguncang hebat, namun tak ada suara yang keluar. Hanya air mata yang berbicara, tanpa henti. Air mata itu membasahi gaunnya yang kini terasa seperti kain kafan bagi harga dirinya. Sikap anak-anaknya tadi yang menolaknya mentah-mentah, terasa seperti belati yang menghujamnya, tepat di jantung. Padahal, dua manusia itu adalah darah dagingnya. Ia rela mempertaruhkan nyawa demi bisa melahirkan keduanya. Namun, kini keduanya tak lagi menganggapnya ibu.Raka melirik dari balik kemudi. Jemarinya mencengkeram stir hingga buku kukunya memutih. Ia tidak bicara, tapi rahangnya berkedut menahan amarah yang nyaris meledak. Ia tahu, saat ini kat
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Hati yang terlukaDetak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang lebih muda darinya itu membuat ulu hatinya nyeri.Ia merasa sesak, ia butuh udara dan butuh pengalihan agar kewarasannya tidak benar-benar tumbang.Alya meraih tasnya dan melangkah keluar menuju pusat perbelanjaan yang terletak beberapa blok dari apartemennya. Sambil berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan yang terang-benderang, matanya terpaku pada sebuah etalase toko mainan.Sebuah robot plastik berwarna biru mengingatkannya pada putra bungsunya--Rio, sementara gaun merah muda di toko sebelahnya mengingatkannya pada si sulung--Nana."Ulang tahun Rio tinggal dua minggu lagi," bisiknya lirih. Kerinduan itu menghantamnya begitu telak hingga dadanya terasa sesak.Ia hendak melangkah masuk
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Tuntutan tak terelakAlya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia lalui.Ancaman Raka terus terngiang di benaknya. Ia takut, sangat amat takut. Bagaimana jika Raka melakukan hal yang akan merugikannya? Bagaimana jika dia diusir Raya dan tak bisa lagi bekerja di salon? Harus cari kerja ke mana lagi? Di usianya yang sudah 33 tahun itu, pasti tidak mudah.Belum lagi, angan-angannya yang ingin hidup bersama kedua anaknya, bisa lenyap begitu saja jika ia harus kehilangan pekerjaannya sekarang.Namun, membayangkan melakukan hubungan terlarang dengan Raka lagi, membuatnya ketakutan. Mana bisa ia melakukannya dalam kondisi sadar? Jika tanpa pengaruh obat, dia tidak akan bisa melakukan hubungan terlarang itu.Tangisannya semakin dalam, wanita itu sungguh kalut dalam
Last Updated: 2026-05-04