Share

Dunia sempit

Penulis: PhiKey
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 09:47:57

"Raka, pernikahan kita adalah pernikahan bisnis," ujar Zahira tajam, suaranya sarat akan ancaman yang terukur. "Kamu bisa menolakku sekarang, tapi mari kita lihat bersama, apa yang akan terjadi nanti. Penolakanmu? Aku nggak peduli, selama orang tua kita menginginkan pernikahan kita, maka itu sudah lebih dari cukup."

Zahira langsung turun dari mobil dengan kepala tegak, meninggalkan Raka yang hanya bisa terkekeh sinis melihat kegigihan wanita itu. Baginya, itu hanyalah sebuah langkah awal dari p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Batasan tegas dan kecurigaan baru

    Sore tiba, menandakan waktu operasional salon telah usai. Alya merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Saat ia hendak melangkah masuk ke dalam mobil, Raya tiba-tiba menghampirinya. Sikap sinis yang ditunjukkan sahabatnya itu sejak siang tadi sudah menguap, digantikan oleh raut wajah yang lebih tenang."Kamu jadi ke rumah sakit?" tanya Raya pelan.Alya menghentikan gerakannya, menoleh dengan tatapan ragu. "Aku masih bimbang," ucapnya apa adanya.Mendengar keraguan itu, Raya menghela napas pendek sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Kalau mau ke rumah sakit, aku temenin. Sekarang aku ada waktu, dan aku nggak akan biarin kamu berduaan sama mantan suamimu yang brengsek itu."Kalimat itu seketika meruntuhkan beban di dada Alya. Senyum bahagia terukir di wajahnya, lalu ia spontan membawa tubuh Raya ke dalam dekapannya erat-erat."Terima kasih," bisik Alya. Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Ia merasa terlalu banyak menerima kebaikan dan dukungan dari Raya, membuat kata-kata lain ter

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Keraguan yang menyiksa

    Mentari pagi menyusup malu-malu di balik tirai kamar hotel yang temaram, namun suasana di dalam ruangan itu terasa begitu pekat oleh sisa-sisa emosi yang belum reda. Zahira terduduk di tepi ranjang dengan napas yang masih memburu. Pikirannya masih berdengung hebat, berputar pada tuduhan telak Lidia semalam, bahwa kehancuran keluarga dan kepergian sang ibu adalah akibat dari pilihannya sendiri. Rasa bersalah itu menghimpit dadanya hingga nyaris membuat ia kehilangan akal sehat.Ia butuh pelarian. Ia butuh seseorang yang bisa membuatnya sejenak melupakan beban hidup yang menyesakkan ini, dan Hendri adalah satu-satunya tempat ia mencari pelipur lara."Zahira... pandang aku, Sayang," bisik Hendri parau. Suara rendah itu terdengar begitu dekat, memecah keheningan kamar hotel yang sunyi.Zahira menoleh, lalu tanpa aba-aba, ia merengkuh leher pria itu, menariknya dalam sebuah ciuman yang sarat akan keputusasaan dan kebutuhan mendesak untuk melarikan diri dari kenyataan

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Kasihan pada mantan

    Keesokan pagi, suasana meja makan di kediaman Sanjaya terasa begitu kaku dan sarat akan ketegangan. Sanjaya, Soraya, Raka, dan Raya duduk bersama menikmati sarapan. Di awal, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya Sanjaya membuka pembicaraan dengan nada yang tenang, hampir terlalu tenang."Bagaimana kondisi kantor?" tanya Sanjaya.Raka sedikit tersentak kaget. Ia menduga sang ayah akan kembali membahas hubungannya dengan Alya, namun dugaannya meleset. Nada bicara Sanjaya terdengar dingin dan terkontrol, seolah tidak ada emosi yang meluap-luap di baliknya."Kantor baik-baik saja, nggak ada masalah, Pa. Penjualan stabil. Papa mau lihat semua laporan kuartal terakhir?" jawab Raka dengan nada rendah dan hati-hati.Sanjaya menggeleng pelan. "Papa percaya sama semua ucapan kamu. Kalau kamu bilang semua aman, pasti semua aman. Jadi... kamu juga pasti akan menepati janjimu untuk tetap menikah dengan Zahira." Sanjaya menggantung kalimatnya sejenak. Ia menatap Raya sekilas, lalu kembali

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pertanyaan yang sulit dijawab

    Malam itu, Raya yang seharusnya langsung pulang ke rumah justru pergi ke kediaman Kevin. Suasana malam yang tenang mengiringi langkahnya, membawa kehangatan tersendiri setelah hari-hari yang melelahkan. Kini, keduanya duduk berdampingan di ruang tamu, ditemani oleh dua gelas jus jeruk segar buatan Kevin sendiri yang tersaji di atas meja."Maaf, udah dua hari ini aku sibuk banget sampai nggak bisa telepon kamu sering-sering," ucap Kevin tulus, manik matanya menatap Raya dengan penuh atensi, menyiratkan rasa bersalah karena kesibukan pekerjaan yang menyita waktunya.Raya menggeleng pelan, senyum manis terbit di bibirnya. "Nggak apa-apa, kok. Aku tahu kamu sibuk, itu semua kan juga demi masa depan kita. Lagian aku juga sibuk banget di salon, karena Alya juga masih repot ngurusin anak-anaknya dan pindahan rumah.""Untung saja hari ini aku bisa ngosongin jadwal, jadi aku bisa sedikit bantu Mbak Alya pindahan tadi. Dan yang paling penting, aku bisa menghabiskan waktuku seharian sama kamu,"

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Cinta yang saling menyakiti

    "Jadi... orang tua kamu udah tahu?" tanya Alya sedikit terbata.Malam itu ia berada di rumah Raka, rumah yang terletak tepat di sebelah rumahnya. Raya dan Kevin sudah pulang, dan anak-anak pun sudah lelap dalam tidur mereka. Memanfaatkan waktu yang senyap, Alya melangkah diam-diam ke rumah sebelah untuk menemui Raka dan membicarakan semuanya secara serius."Iya," jawab Raka singkat. Laki-laki itu menunduk dengan lemas, auranya yang biasanya tegas dan mendominasi kini tampak runtuh perlahan."Orang tuamu bilang apa?" tanya Alya getir, suaranya mencerminkan ketakutan terburuk yang selama ini ia pendam."Apalagi? Mereka pikir aku gila karena aku punya hubungan sama kamu," jawab Raka apa adanya, tanpa berniat menutupi kepahitan kenyataan tersebut.Alya tersenyum miris, dadanya terasa dihujam ribuan jarum. "Wanita yang lebih tua, temen kakaknya sendiri, janda beranak dua, dan hanya dari kalangan miskin. Mereka pasti nggak suka sama aku, kan?" tanyanya getir, suaranya mulai bergetar hebat m

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tak pantas

    Setelah Raya menghilang di balik pintu depan beberapa menit yang lalu, Alya sempat melangkah keluar untuk mencarinya. Udara sore yang hangat menyapa kulitnya, namun atensinya justru langsung tertarik pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir rapi di carport rumah tepat di sebelah rumahnya.Jantung Alya sempat berdesir aneh saat itu. Ia sangat mengenali tipe dan jenis kendaraan tersebut, itu adalah mobil milik Raka. Namun, keraguan segera melanda benaknya, apalagi dia tak ingat nomor polisi mobil sang kekasih. "Untuk apa Raka memarkir mobil di sana di jam kerja?" Merasa tidak ingin ambil pusing atau berspekulasi terlalu jauh, Alya memilih mengurungkan niatnya mencari Raya dan kembali masuk ke dalam rumah.Suasana ruang tengah langsung menyambutnya kembali. Kevin, kekasih Raya, tampak tengah duduk bersila di atas karpet bersama Nana dan Rio, tertawa renyah sembari menemani kedua anak itu merakit balok-balok susun. Alya menarik napas pelan, berusaha menepis bayangan mobil hitam

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Seporsi kekalahan anak perempuan

    Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tanggung jawab

    Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Salah minum

    “Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status