MasukKediaman keluarga Mahendra tampak megah dengan lampu-lampu kristal yang menyinari ruang makan luas. Maya, ibu Zahira, menyambut Raka dengan senyum yang manis. "Raka, kami sangat senang kamu bisa datang. Saya sudah menyiapkan menu makan yang lezat."Mahendra, sang kepala keluarga, juga tampak begitu antusias. "Benar, Raka. Kami sangat menantikan malam ini untuk mengeratkan hubungan keluarga Sanjaya dan Mahendra. Kami berharap secepatnya keluarga besar kita bisa berkumpul."Raka membalas dengan senyum palsu yang tenang. "Tentu saja. Apalagi melihat hubungan kedua keluarga kita yang tak lama lagi akan terlaksana dalam ikatan pernikahan," ucapnya datar. Saat mengucapkan itu, tatapannya beralih pada Zahira yang tampil begitu cantik dan anggun malam itu. Sayangnya, kecantikan itu sama sekali tidak menarik di mata Raka. Itu hanyalah topeng bagi Raka.Makan malam itu hanya dihadiri empat orang, Maya, Mahendra, Zahira, dan Raka. Di tengah hidangan utama, Raka sengaja memecah keheningan dengan
"Apa-apaan ini?!" Raka membanting map biru itu ke atas meja kerjanya hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan.Raka kembali ke kantor dengan suasana hati yang sangat buruk. Kekesalannya pada keluarganya malah ia lampiaskan ke sekretarisnya, juga karyawan lain. Sejak kembali dari salon Raya, entah sudah berapa kali ia melempar map berisi laporan pekerjaan."Kalian kira ini proyek apa? Proyek mainan anak-anak? Lihat angka ini! Margin keuntungan turun dua persen dan kalian berani bilang ini sudah optimal?" Raka berdiri, menunjuk wajah manajer pemasaran yang tertunduk di depannya. Ya, kali ini manajer pemasaran yang menjadi sasaran amukannya. "Saya nggak bayar kalian mahal untuk memberikan alasan! Saya butuh hasil, bukan cerita dongeng tentang kendala pasar. Kalau cuma bisa kasih alasan, besok kalian nggak usah datang ke kantor. Saya bisa cari orang di luar sana yang lebih kompeten!"Setelah manajer itu keluar dengan gemetar, Raka kembali duduk dan menyapu semua berkas di atas mejan
Raka tidak langsung kembali ke kantor. Setelah pintu mobil tertutup, napasnya masih terasa berat, sisa-sisa amarah belum sepenuhnya reda."Ke salon Kak Raya. Sekarang," perintah Raka tajam.Rehan, yang tengah bersiap mengarahkan mobil kembali ke kantor, sedikit ragu. "Tapi, Pak, Anda memiliki jadwal meeting penting dengan dewan direksi siang ini. Kita tidak bisa menunda ini."Raka menatap Rehan dari kaca spion, sorot matanya dingin, sedingin es yang baru saja menampar wajah Rehan. "Batalkan," ucapnya pendek, mutlak, dan tidak menerima bantahan.Rehan tidak berani bertanya lagi. Ia segera memutar kemudi menuju salon milik Raya. Begitu mobil berhenti di depan salon, Raka turun dengan langkah yang penuh tekanan, masuk ke dalam ruangan yang harum dengan aroma sampo dan perawatan rambut.Di balik meja kasir, Alya membeku. Matanya membelalak, dadanya mendadak sesak. "Apa yang dilakukan Raka di sini? Kenapa dia datang ke sini?" batinnya kalut, menatap Raka dengan intensitas yang tak bisa ia
Raka melangkah menuju mobil dengan langkah lebar yang menghentak tanah. Ia masuk ke mobil dan menutup pintu dengan membantingnya, sangat keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Dengan kasar, ia menarik dasinya, melepaskannya dari leher, dan melempar kain sutra itu ke kursi depan seolah benda itu adalah sumber rasa sesaknya.Susah payah ia mendesak Alya tadi pagi, mengancam dan memanipulasi wanita itu agar bersedia bertemu malam ini, hanya untuk dikacaukan oleh Zahira dalam sekejap."Rehan!" suara Raka menggelegar di dalam kabin mobil yang sempit, terdengar seperti geraman buas. "Cari tahu setiap hal mengenai Zahira. Cari tahu kelebihan dan kekurangannya, dan pastikan kamu dapetin apa kelemahan dia."Rehan, yang sudah bertahun-tahun mendampingi Raka, segera menegakkan posisi duduknya. Ia melirik sekilas melalui kaca spion tengah, menangkap sorot mata bosnya yang berkilat tajam, sebuah tanda bahaya yang sangat ia kenali. "Baik, Pak Raka.""Sial!!!" Raka m
Di salon yang mulai lengang, aroma cairan kimia perawatan rambut dan parfum mahal memenuhi ruangan. Lina, salah satu pekerja salon, sedang sibuk menangani pelanggan terakhir di depan, sementara pegawai lainnya sibuk merapikan peralatan. Di ruang istirahat, suasana terasa berat. Alya dan Raya duduk bersandar di sofa, menatap dinding dengan tatapan kosong yang sama, seolah-olah mereka sedang berbagi beban pikiran yang tak mampu diungkapkan.Raya memecah keheningan dengan desah napas panjang yang terdengar letih. "Apa kamu pernah merasa... kalau dunia ini sedang mencoba memaksamu masuk ke dalam kotak yang nggak kamu mau, Alya?"Alya tersentak kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari dinding ke samping, menatap wajah sahabatnya yang tampak jauh lebih lelah dari biasanya. "Maksudmu?""Mamaku," jawab Raya singkat, suaranya parau. "Dia terus berusaha mengatur hidupku, mengenalkanku pada pria yang bahkan tidak punya nyali untuk menatap mataku, hanya karena mereka punya latar belakang yang 'coc
Suasana di ruang tamu kediaman Sanjaya terasa panas. Soraya, yang baru saja melangkah masuk bersama Raya, masih tampak meradang dengan wajah memerah menahan kesal. Ia menghempaskan tas tangannya ke atas meja dengan dentuman yang cukup keras."Kamu keterlaluan, Raya!" seru Soraya, suaranya melengking tinggi, memecah keheningan rumah. "Kenapa bisa-bisanya kamu mengatai anak teman Mama gendut dan malas? Dia cuma sedikit lebih berisi, itu saja. Dan itu bisa diperbaiki dengan menjaga pola makan dan sedikit olahraga, makanya Tante Kenes mengajaknya lari pagi tiap hari sekarang!"Raya yang berdiri tidak jauh dari sana, baru saja melepaskan sepatu olahraganya. Ia menatap sang ibu dengan tatapan yang jauh dari rasa bersalah. Sudut bibirnya justru menyunggingkan senyuman sinis."Tapi memang dia gendut, Ma," sahut Raya santai, nada suaranya terdengar meremehkan. "Dan Mama jangan berharap aku mau menikah sama cowok seperti itu. Nggak ada ganteng-gantengnya sama sekali di mataku."Raya menarik nap







