MasukLatihan dengan jadwal yang baru membuat Naya masih berada di lapangan kampus saat hari minggu seperti ini. Naya mengambil minumnya saat dia diganti dengan temannya. Dia menghabiskan minumnya dan duduk di tepi lapangan.
Ardi melihat Naya yang mengatur napasnya. Naya duduk memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain. Dia menyemangati teman-temannya. Teriakan Naya berhenti saat Ardi tiba-tiba menaruh air mineral di pangkuannya. “Minum aja lagi.” Ardi mengatakannya pelan dan meninggalkan Naya yang masih duduk tertegun. Naya menerimanya dan minum lagi karena dahaganya masih terasa. Ardi tersenyum samar melihat Naya minum air yang dia berikan. Ardi pun kembali fokus pada permainan para mahasiswanya yang sedang berlatih. Naya sangat menyadari apa yang dilakukan Ardi selama ini padanya. Pria itu terlihat sangat memperhatikan dirinya. Naya yang tidak pernah mendapatkan perhatian penuh dari seorang ayah, jadi merasa bahagia dengan perhatian Ardi, meski hanya hal kecil seperti memberinya minum seperti ini. Naya tersenyum melihat pria gagah yang tidak jauh darinya itu sedang fokus melihat permainan basket dari para mahasiswanya. Setelah latihan selesai, Ardi memanggil Naya dan meminta gadis itu untuk menunggunya sebelum pulang. Naya pun hanya mengangguk dan menunggu Ardi di tepi lapangan. Dia hanya melambaikan tangan saat teman-temannya satu persatu pamit untuk pulang terlebih dahulu. Naya menendang angin dan menunggu Ardi kembali. Tidak lama setelah itu, Ardi kembali dan berdiri di depannya. Pria itu mengambil tasnya dan menatap Naya yang mendongakkan wajahnya. “Kamu capek nggak, Nay?” tanya Ardi pada gadis yang menatapnya itu. “Capek sih, Pak. Kan latihan hari ini lama banget, Pak. Udah mau turnamen juga kan, Pak, jadi agak berat latihannya.” Naya menjawab dengan jujur tanpa menyembunyikan rasa lelahnya pada Ardi. Entah apa yang membuat Naya selalu jujur akan perasaannya yang biasanya dia sembunyikan pada pria yang saat ini tersenyum padanya. “Ikut saya, yuk! Saya mau ajak kamu ke satu tempat.” Ardi mengajak Naya untuk pergi bersama dengannya. “Ke mana, Pak?” Naya menatap heran Ardi yang ada di depannya. “Sudah, nanti juga kamu tahu, Nay. Mau nggak?” Ardi menunggu jawaban dari Naya. Gadis itu menganggukkan kepalanya membuat Ardi segera mengajaknya untuk masuk ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lapangan. “Nggak papa nih, Pak?” Naya menanyakannya pada Ardi karena pria itu berjalan terlebih dahulu di depannya. “Nggak papa, Nay. Kan saya yang ajak kamu, Nay. Masuk aja dulu ke mobil saya, Nay.” Ardi membalikkan badannya dan menyuruh Naya untuk masuk terlebih dahulu ke kursi penumpang, sebelum dirinya masuk ke kursi pengemudi. Naya menganggukkan kepalanya dan segera melakukan apa yang diminta oleh Ardi. Setelah melihat Naya menutup pintu kursi penumpang, Ardi langsung masuk melalui pintu sebelah Naya. Dia melihat Naya mulai memasang seat belt-nya. Ardi mulai menghidupkan mobilnya dan menjalankannya ke arah di mana dirinya akan mengajak Naya. Gadis itu memperhatikan jalan dan sangat percaya pada Ardi yang fokus mengendarai mobilnya. Sesekali Naya tersenyum menatap luar kaca yang menampilkan banyak orang berlalu-lalang. “Kalau bosan, kamu bisa menyalakan audionya, Nay.” Ardi mengatakannya dengan lembut dan menoleh ke arah Naya sebentar sebelum kembali fokus ke jalan. “Iya, Pak. Saya hidupkan, ya. Sekalian sambil merhatiin jalan, Pak.” Naya menghidupkan audio di mobil Ardi dan menyambungkannya ke ponselnya. Ardi hanya mengangguk dan membiarkan Naya mencari lagu yang ingin dia dengarkan. Lagu lawas dari Last Child terdengar. Lagu berjudul “Diary Depresiku” itu terputar dan Naya menatap ke luar jendela. Ardi melirik Naya yang menikmati lagu yang mungkin memang menggambarkan perasaannya yang sering merasa sendirian. Pria itu menghela napas perlahan dan fokus ke jalan. Dia membiarkan Naya tenggelam akan perasaannya sendiri dulu. Tidak lama setelah itu, saat lagu berakhir bertepatan dengan Ardi menghentikan mobilnya di sebuah lapangan yang dipenuhi pohon yang rindang. Naya mengerutkan dahi melihat pria yang keluar terlebih dahulu itu. Pria itu berdiri memasukkan tangannya di saku dan menunggu Naya. Naya keluar dan membenarkan rambutnya. Gadis itu membawa tasnya di bahu dan berdiri tidak jauh dari bumper mobil. Dia melihat Ardi yang perlahan membalikkan badannya. “Kita ngapain di sini, Pak?” tanya Naya yang bingung akan ajakan Ardi kali ini. “Ikuti langkah saya, ya, Nay.” Ardi mengunci mobilnya dan berjalan terlebih dahulu menjauh dari mobil. Naya sedikit berlari mengejar langkah Ardi yang memang lebar. Dia mencoba menyetarakan langkahnya dengan Ardi. “Woaaah!” Naya terpesona begitu melihat apa yang ada di depannya setelah Ardi menghentikan langkahnya. Terlihat danau buatan yang ada di dekat lapangan itu. “Di sini tenang sekali, Nay. Kamu bisa melampiaskan masalahmu di sini, kalau kamu mau ke sini, kamu bisa bilang ke saya. Saya akan temani kamu di sini, Nay.” Kata-kata Ardi benar-benar masuk ke hati Naya kali ini. Tanpa sadar gadis itu memeluk kepala sekolahnya dan mengucap terima kasih atas perhatian pria itu padanya. “Ah, maaf, Pak. Saya terlalu berlebihan.” Naya melepaskan pelukan itu seketika setelah sadar. “Santai, Nay. Saya tahu apa yang kamu rasakan. Nikmati di sini, kalau kamu mau cerita di sini juga, saya akan mendengarkan kamu, Nay.” Ardi menjauhkan sedikit tubuhnya menghargai Naya yang mundur dan menjaga jarak dengannya. Naya hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit bercerita. *** Matahari semakin tinggi di atas kepala. Naya pun telah menguap. Melihat hal itu, Ardi pun mengajak Naya untuk segera pergi dari pinggir danau tersebut. Naya diminta untuk berjalan di depan karena matanya yang mengantuk membuat Ardi khawatir gadis itu terjatuh. Benar saja apa yang dikhawatirkan Ardi, gadis itu hampir saja tengkurap di tanah karena tersandung batu di depannya. Dengan cepat, tangan Ardi menarik tas Naya dan tanpa sengaja membawa gadis itu dalam pelukannya. Seketika waktu terasa berhenti sejenak dan Naya dapat mendengar deru napas Ardi beserta dengan degup jantung pria itu. Ardi mulai menjauhkan tubuhnya dan masih memegang bahu Naya yang mematung dalam pelukannya. “Kamu nggak papa ‘kan, Nay?” tanya Ardi yang terlihat sangat khawatir. Naya menganggukkan kepalanya, tetapi tidak menjauhkan tubuhnya dari Ardi. “Kamu sungguh nggak papa ‘kan, Nay?” Ardi memastikan kembali. “Nggak papa, Pak. Cuma kaget aja, terima kasih sudah menyelamatkan saya dari ciuman mesra dengan tanah.” Naya tersenyum dan membuat Ardi hanya menggelengkan kepalanya. “Makanya, kalau jalan dipakai juga matanya, selain pakai kaki aja, Nay. Kamu jatuh, luka, tim saya juga yang susah buat cari pengganti kamu nanti.” Ardi menanggapi kata-kata Naya. “Iya, juga sih, tapi kan kalau saya jauh. Bibir saya juga dapat ciuman mesra dari tanah yang bahkan saya nggak tahu sebelumnya ada bekas apa di sana, Pak. Jadi, rugi juga saya.” Naya menggaruk kepala bagian belakangnya. “Kalau dapat ciuman dari saya, Nay?” **Di makam Reski, Miya menatap heran buket bunga yang ada di makam Reski. Namun, saat menatap ke arah wanita yang baru saja pergi, Miya malah mengerutkan dahinya heran. Dia menatap saat kedua orang itu berjalan menjauh dari area pemakaman. Miya menaruh buketnya di makam Reski, berdampingan dengan buket yang sudah ada di sana. Dia menatap buket lily yang masih sangat fresh itu. Ada rasa penasaran dengan apa yang sebelumnya dia lihat. “Cewekmu datang, ya. Pada akhirnya, meski kamu membawa cintanya pergi, kakakmu masih sangat menyukainya dan tetap membenciku,” gumam Miya menatap makam pria yang dulu dia inginkan sepenuh hatinya.Sementara itu, di pojokan kafe, Naya duduk menatap Xera, sembari menunggu pesanan mereka datang. Naya menunggu wanita di depannya itu menjelaskan apa yang dia lihat di makam tadi. Xera tersenyum miris sebentar dan menghela napasnya erlahan.“Dia mantan Reski. Sebelum pacaran sama aku, dia pacaran sama cewek tadi, Nay. Apa kamu nggak pernah dikenalkan sama cewek t
Seperti yang Naya janjikan pada Xera, setelah kelas, gadis itu berjalan bersama Sari seperti biasanya. Namun, Naya sibuk dengan ponselnya. Sari menatap heran sahabatnya itu.“Nay, kenapa sih? Sibuk banget.” Sari mulai mengeluarkan pertanyaannya. “Pak Ardi?” tanya Sari pelan sekali.“Bukan dong. Orang penting lainnya. Orang paling lama aku dambakan kedatangannya,” kata Naya dengan semangat.“Siapa sih? Jadi penasaran,” balas Sari.“Sstt.” Naya meminta Sari untuk diam terlebih dahulu, karena panggilan masuk ke ponselnya. Naya langsung mengangkatnya. “Ni Hao, Aunty! Tunggu di hotel, aku akan jemput Aunty sekarang, tunggu bentar, mau pesan taksi online buat kita,” kata Naya. Setelah mematikan sambungannya, Naya menoleh ke arah Sari. “Sar, kelas udah selesai, aku mau ketemu orang penting dulu. Kalau kamu ketemu Ranga atau anak basket yang lain, tolong bilangin, ya, aku izin latihan kali ini. Bye-bye!” Naya langsung berlari meninggalkan Sari yang tercengang melihat tingkahnya.Naya langsun
Ardi segera mengantar Naya pulang, saat gadis itu mengatakan harus segera pulang untuk menemui seseorang. Dia masih menyimpan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Naya turun dari mobil Ardi, begitu mereka sampai di tempat biasanya.“Pak, saya duluan, ya. Daah!” Naya langsung berlari meninggalkan mobil Ardi. Ardi menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia hanya berdiam di kemudi dan menatap Naya yang berlari dengan sangat semangat. Wajah ceria Naya terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.“Penasaran, siapa yang bisa buat Naya sebahagia itu? Kayaknya sangat berarti banget,” kata Ardi yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area perumahan Naya.Sementara itu, Naya berlari ke rumahnya dengan cepat. Dia mencari Bi Ida. Mendengar namanya dipanggil, Bi Ida langsung menghampiri Naya.“Kenapa, Mbak?” tanya Bi Ida.“Bibi ingat pacarnya Ores dulu nggak?” Naya dengan antusias.“Iya, Mbak. Kenapa?” tanya Bi Ida lagi.“Aunty Xera mau datang jenguk aku, Bi Ida. Jadi, nanti tolong buat hida
Miya turun dari mobil. Dia berjalan menyusuri parkiran menuju ke sebuah jalan setapak yang telah lama tidak dia lewati. Langkahnya terus membawanya ke tempat yang sunyi.Miya berdiri menatap batu nisan bertuliskan nama mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya. Dia menaruh buket bunga yang dia bawa dan memejamkan matanya. Sejenak otaknya mengingat banyak memori tentang mereka.“Kenapa kamu masih datang ke sini?” tanya seseorang dari balik badan Miya.Miya membalikkan badannya dan melihat jelas siapa yang ada di depannya. Terlihat pria yang cukup dia kenal. Hal itu membuat dia menundukkan kepalanya.“Aku masih menyimpan rasa untuknya,” kata Miya.“Menyimpan rasa? Untuk siapa? Untuk adikku? Setelah kamu mencoba mengambil keuntungan darinya?” Kakak Reski mengatakannya. “Kak, aku tahu, aku salah, tapi aku memang sangat mencintai Reski, Kak. Aku malu, kalau aku nggak begitu cocok bersanding dengan Reski, Kak. Aku terlalu menyuk—”“Stop membual! Kamu kira aku akan percaya dengan a
Ardi mencengkram botol air mineral yang sebelumnya dia minum. Ingatan masa lalu membuat emosinya bergejolak di dalam dirinya. Kepala terasa pening dan Ardi pun memejamkan matanya kembali. “Kalau Reski nggak meninggal, sampai sekarang mungkin aku nggak akan punya Daffa.” Ardi bergumam pada dirinya sendiri. “Ternyata rasa cintaku sekarang benar-benar pindah ke Naya,” lanjut Ardi. Setelah merasa istirahatnya cukup, Ardi kembali melanjutkan olahraganya untuk berlari ke rumah. Ardi segera pulang dan saat sampai rumah, dia melihat istrinya terlelap di sofa. Tanpa keinginan mengganggu, dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi, dia melihat Daffa belajar bersama dengan pengasuhnya di kamar. Ardi mengetuk pintu kamar tersebut dan Daffa berlari memeluk ayahnya. Ardi pun mengusap lembut rambut anaknya“Lagi apa nih?” tanya Ardi basa-basi pada anaknya. “Belajar membaca. Sekarang aku sudah jauh lebih baik, Ayah.” Daffa mengatakannya dengan sangat yakin dengan apa yang
Ardi langsung membawa pulang istrinya yang masuk berat. Sepanjang perjalanan, Miya menangis dan memanggil nama Reski. Ada luka sayat dalam hati Ardi, tetapi pria itu tidak mempermasalahkannya.Ardi memapah tubuh istrinya ke kamar dan merebahkannya ke kasur. Miya menarik tubuh Ardi hingga menindihnya. Wanita itu menangkup pipi suaminya dan mengecup bibir suaminya dengan mesra. “Reski, ayo bersama. Aku percaya, kamu akan jauh lebih sukses dari Ardi.” Miya mengatakannya dengan kesadaran yang entah berada di mana.“Aku bukan Reski. Aku Ardi, suamimu.” Ardi mencoba melepaskan tangan istrinya yang malah memeluk lehernya erat.“Sentuh aku! Jangan tinggalkan aku!” Miya merengek pada Ardi.“Kamu akan menyesalinya, Miya.” Ardi masih mencoba menolak untuk menyentuh istrinya yang tidak sadar diri. Dia bukan pria bajingan yang menikmati tubuh wanita, di saat wanita itu hilang kesadaran. “Huum, ayolaaah. Sentuh aku. Aku yakin, kamu pasti lebih nikmat dari Ardi,” rengek Miya yang malah membuat Ard







