Share

Bab 06

Penulis: Lavendulaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 22:08:33

“Kalau dapat ciuman dari saya, Nay?”

Naya membeku mendengar kalimat yang keluar begitu saja dari bibir Ardi. Dia tahu itu hanya sebuah candaan, tapi entah mengapa jantungnya terasa berdebar lebih cepat. Naya tersadar begitu mendengar tawa Ardi yang menertawakan dirinya. Dengan rasa kesalnya, Naya menginjak kaki Ardi dan berjalan mendahului pria itu. 

“Naya, tunggu!” Ardi berhenti tertawa dan mengejar Naya yang terlihat sangat kesal. Pria itu menggapai pergelangan tangan Naya dan membuat gadis muda itu menghentikan langkahnya. “Maaf, Nay. Saya bercanda tadi,” kata Ardi. 

“Tapi saya tidak suka ditertawakan, Pak.” Naya mengatakan dengan jujur apa yang dia rasakan saat Ardi menertawakannya. 

“Iya, okay. Maafkan saya menertawakan kamu, Nay.” Ardi menangkup wajah Naya dan membelai lembut pipi gadis itu. Naya hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mengajak Ardi untuk segera pulang. 

Saat akan berjalan meninggalkan Ardi kembali, langkah Naya terhenti dan menatap tangannya yang kini digenggam oleh Ardi. Mengerti arah tatapan Naya, Ardi berniat melepaskan tangannya, tapi jemari Naya membalas genggaman tangan itu. Ardi menatap Naya heran dan gadis itu tersenyum melihat Ardi. 

“Saya tidak pernah digandeng sama Papa. Boleh kan kali ini, saya merasakan digandeng seperti ini?” Naya menatap Ardi dengan penuh harap. 

“Iya, boleh. Ayo pulang, hari semakin terik. Kamu sudah kepanasan.” Ardi menggenggam lebih erat tangan Naya dan mengajaknya untuk kembali ke mobil yang terparkir di lapangan. Naya hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama dengan Ardi. 

Ardi memutuskan untuk mengantar Naya pulang. Namun, siapa sangka, Naya malah tertidur di mobil Ardi karena kelelahan. Pria itu pun membiarkan Naya untuk tidur terlebih dahulu selama perjalanan hingga sampai di tempat Naya selalu berhenti. Ardi menatap wajah polos Naya yang menurutnya sangat cantik dan menarik. Perlahan, tangan Ardi bergerak membelai rambut Naya yang sedikit berantakan. 

“Naya, Nay, bangun. Kita udah sampai di dekat rumahmu.” Ardi membangunkan gadis muda yang tertidur di mobilnya itu. 

Naya terbangun dan mengerjapkan matanya. Dia sedikit mengucek matanya dan menegakkan tubuhnya. Dia melihat area kompleks perumahannya dan menoleh ke arah Ardi kembali. 

“Maaf, saya ketiduran, Pak Ardi.” Naya merasa bersalah dan Ardi hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mempermasalahkan hal itu.

“Saya tunggu kamu di sini seperti biasa dan kalau sudah sampai rumah, kabari saya.” Ardi mengatakannya dan Naya seperti biasa menganggukkan kepalanya sebelum pamit pulang. Naya berjalan menuju ke rumahnya. Ardi memperhatikan langkah Naya yang berjalan meninggalkan mobilnya. 

Tidak membutuhkan waktu lama dari Naya menghilang di tikungan, gadis itu mengirimkan pesan dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di rumah. Ardi menjalankan kembali mobilnya dan meninggalkan area kompleks perumahan Naya. Dia segera memutuskan untuk pulang. Namun, saat sampai di rumah, Ardi hanya bisa melihat Daffa sendirian bermain bola basket mininya. 

“Halo, Boy!” Ardi menyapa anaknya dengan hangat. 

“Ayah, kenapa hari ini pergi? Nggak main basket sama aku lagi.” Daffa mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes pada ayahnya. 

“Maaf, Nak. Ayah harus melatih kakak-kakak, mereka mau ikut lomba. Lain kali kita main basket bersama, ya.” Ardi mengusap lembut puncak kepala anaknya. Daffa hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Ayah mau mandi dulu, ya. Habis ini, kita main. Oke?” lanjut Ardi. 

“Oke!” Daffa dengan semangat mengatakannya. 

Ardi mengangguk sebentar dan berjalan meninggalkan Daffa yang bermain di ruang keluarga. Dia sungguh membersihkan dirinya sebelum bermain dengan anaknya yang sudah menunggunya untuk bermain bersama. Ardi segera kembali ke ruang keluarga setelah dirinya selesai membersihkan dirinya. 

***

Pertandingan yang semakin dekat membuat para pemain inti tim basket melakukan latihan dengan sangat serius. Bahkan semakin jarang untuk ada libur latihan. Jika untuk pemain cadangan, masih bisa mereka pertimbangkan, tetapi tetap hanya kepentingan mendesak yang bisa mendapat izin dari Ardi. Namun, Naya sempat tidak datang latihan selama dua hari, bahkan dia juga tidak datang ke sekolah. 

Ardi yang sempat khawatir pun mengirimkan pesan pada Naya. Beruntung gadis itu hari ini masuk dan ikut latihan. Naya duduk di tepi lapangan setelah dirinya diganti oleh pemain yang lain. Dia duduk sambil menikmati minumnya.

Setelah latihan berakhir, seperti biasa, Ardi akan memberikan pengarahan terlebih dahulu sebelum mengizinkan para siswa pulang. Naya berjalan ke gerbang sekolah begitu Ardi mengizinkan untuk pulang. Namun, tidak begitu lama Naya duduk di dekat gerbang, Ardi mengirimkan pesan untuk Naya menunggu dirinya.

Naya hanya mengerutkan keningnya membaca pesan pelatih sekaligus salah satu dosen di kampusnya itu. Dia merasa ada yang janggal dengan hatinya, tapi dirinya juga merasa nyaman dengan keberadaan Ardi yang seolah mengisi kekosongan hatinya yang disebabkan kedua orang tuanya. Dia menemukan sosok yang selalu memperhatikannya di Ardi. 

Saat kampus mulai tidak terlalu ramai, sebuah mobil berhenti di depan Naya dan kaca mobil itu diturunkan setengah untuk mengetahui siapa pengemudinya, membuat Naya membuka pintu penumpang di sisi pengemudi. Naya duduk dan segera memasang seat beltnya. Ardi menjalankan mobilnya kembali meninggalkan area kampus. 

“Ada apa, ya, Pak?” tanya Naya yang segera menanyakan apa maksud dan tujuan Ardi memintanya untuk pulang bersama dengan dirinya lagi hari ini. 

“Kamu kenapa dua hari nggak kelihatan dan enggak latihan, Nay? Sesuatu terjadi lagi?” tanya Ardi tanpa basa-basi. 

“Ada teman saya yang kasih tahu nggak, Pak?” tanya Naya yang langsung menoleh ke arah Ardi yang sedang memandang jalanan. 

“Ada, katanya kamu sakit, Nay.” Ardi menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan di depannya. 

“Nah, itu Bapak tahu, kenapa masih bertanya, Pak?” Naya mengerutkan keningnya heran juga dengan pelatihnya yang ada di sampingnya itu. 

Ardi sempat terdiam sejenak, sebelum menoleh ke arah Naya yang menatapnya dengan heran. “Saya hanya penasaran dengan kebenarannya, Nay. Saya khawatir dengan apa yang kamu rasakan, kalau kamu merasa tidak nyaman, karena kamu tidak sestabil itu, Nay.” Ardi mengatakannya sambil kembali menatap lurus ke jalanan. 

“Bapak perhatian sekali sama saya, Pak. Saya takut salah mengartikan perhatian Bapak.” Naya mengatakannya dengan jujur apa yang dia takutkan. 

“Maksudnya, Nay?” tanya Ardi saat berhenti di lampu merah. 

“Saya takut salah mengartikan tentang perhatian Bapak ke saya. Maklum, Pak … saya hanya gadis dewasa awal yang terkadang labil. Saya takut mengartikan perhatian Bapak ini sebagai perasaan suka Bapak ke saya, Pak.” Naya menundukkan kepalanya setelah mengatakannya. 

Ardi sempat terkejut dengan pengakuan Naya. Namun, gadis itu tidak salah. Perhatiannya memang akan menimbulkan banyak pertanyaan. Bahkan, hingga saat ini, Ardi juga sering bersembunyi untuk mengajak Naya pulang bersama seperti ini. 

“Kalau memang saya suka sama kamu, bagaimana, Nay?”

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 66

    “Dia kecelakaan pesawat dan meninggal.” Satu kalimat yang mampu membuat es krim rasa coklat vanila yang dinikmati Ardi, terasa seperti kopi. Ardi yang sedang menikmatinya, seketika menaruh sendok es krim tersebut dan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap Naya yang masih menundukkan kepalanya. “Nay?” Ardi memanggil gadis yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak menyangka apa yang tidak diceritakan Naya adalah hal pahit yang sangat tidak nyaman untuk diingat. Namun, sekarang dialah yang membuka luka itu.“Kenapa, Pak?” tanya Naya. “Kamu nggak papa? Masalah kayak gini menimbulkan trauma yang cukup besar pasti,” kata Ardi. “Ada traumanya. Cukup besar, tapi aku janji sama Aunty, kalau akan lebih menerima lagi, bukan hanya mencoba melupakan aja, Pak. Aku mau melakukan sesuai janjiku," balas Naya dengan sangat yakin."Aku tahu rasanya, Nay. Kamu akan jauh lebih baik nantinya. Tenang aja, di dunia ini, kamu masih banya yang sayang kamu. Aku, Daffa dan keluargamu, Nay. Jadi, janga

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 65

    Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama dengan Xera, Naya merasa sangat bahagia. Banyak hal yang sangat dia rasa membuatnya semakin terasa hidup. Hidup yang dulu dia rasa berat, saat bersama dengan Xera, meski tidak ada Ardi, semua terasa sangat ringan. Setiap masalah seolah terangkat begitu saja. Namun, hari ini sudah tiba. Hari di mana Xera harus terbang kembali ke Taiwan. Naya mengantar Xera ke bandara. Bibirnya sudah melengkung, seolah sangat tidak rela melihat Xera harus terbang meninggalkannya lagi. Ada rasa khawatir, setiap datang ke bandara, karena itu setiap papanya melakukan perjalanan bisnis, Naya sebisa mungkin hanya menemuinya di rumah.Berbeda dengan saat ini. Dia ingin mengantar Xera ke bandara, meski dadanya mulai terasa sesak, sejak memasuki area bandara. Xera sangat paham dengan perubahan Naya. Dia pun meraih tangan Naya.“Masih suka takut, ya?” tanya Xera.Naya menganggukkan kepalanya dan memaksanya sebuah senyuman muncul di wajahnya. Xera mengusap lembut

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 64

    Kebersamaan yang Naya dan Xera lakukan sungguh menghapuskan rasa rindu mereka satu sama lain. Sejak meninggalnya Reski, tidak ada waktu mereka untuk bersama seperti ini. Kali ini, mereka benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama, meski hanya sesingkat mungkin. Langkah kedua wanita itu berhenti di sebuah toko mainan. Keduanya saling menoleh dan secara bersamaan. Lalu, mereka mengangguk bersama dan berjalan memasuki toko mainan tersebut. Seolah melakukan nostalgia, keduanya tertawa bersama saat mengingat bagaimana dulu Naya sering bertengkar dengan Reski hanya untuk membeli mainan. Naya tertawa saat Xera memeragakan apa yang selalu Naya lakukan pada Reski. Wajahnya memerah saat Xera terus menggodanya."Aunty, jangan terus menggodaku. Takutnya, kamu malah kangen Ores, bukan kangen aku kecil," kata Naya yang balik menggoda Xera.Mendengar hal itu, Xera hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Tawa mereka terhenti, saat terdengar suara yang memanggil nama Naya. Keduanya menoleh ke a

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 63

    Di makam Reski, Miya menatap heran buket bunga yang ada di makam Reski. Namun, saat menatap ke arah wanita yang baru saja pergi, Miya malah mengerutkan dahinya heran. Dia menatap saat kedua orang itu berjalan menjauh dari area pemakaman. Miya menaruh buketnya di makam Reski, berdampingan dengan buket yang sudah ada di sana. Dia menatap buket lily yang masih sangat fresh itu. Ada rasa penasaran dengan apa yang sebelumnya dia lihat. “Cewekmu datang, ya. Pada akhirnya, meski kamu membawa cintanya pergi, kakakmu masih sangat menyukainya dan tetap membenciku,” gumam Miya menatap makam pria yang dulu dia inginkan sepenuh hatinya.Sementara itu, di pojokan kafe, Naya duduk menatap Xera, sembari menunggu pesanan mereka datang. Naya menunggu wanita di depannya itu menjelaskan apa yang dia lihat di makam tadi. Xera tersenyum miris sebentar dan menghela napasnya erlahan.“Dia mantan Reski. Sebelum pacaran sama aku, dia pacaran sama cewek tadi, Nay. Apa kamu nggak pernah dikenalkan sama cewek t

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 62

    Seperti yang Naya janjikan pada Xera, setelah kelas, gadis itu berjalan bersama Sari seperti biasanya. Namun, Naya sibuk dengan ponselnya. Sari menatap heran sahabatnya itu.“Nay, kenapa sih? Sibuk banget.” Sari mulai mengeluarkan pertanyaannya. “Pak Ardi?” tanya Sari pelan sekali.“Bukan dong. Orang penting lainnya. Orang paling lama aku dambakan kedatangannya,” kata Naya dengan semangat.“Siapa sih? Jadi penasaran,” balas Sari.“Sstt.” Naya meminta Sari untuk diam terlebih dahulu, karena panggilan masuk ke ponselnya. Naya langsung mengangkatnya. “Ni Hao, Aunty! Tunggu di hotel, aku akan jemput Aunty sekarang, tunggu bentar, mau pesan taksi online buat kita,” kata Naya. Setelah mematikan sambungannya, Naya menoleh ke arah Sari. “Sar, kelas udah selesai, aku mau ketemu orang penting dulu. Kalau kamu ketemu Ranga atau anak basket yang lain, tolong bilangin, ya, aku izin latihan kali ini. Bye-bye!” Naya langsung berlari meninggalkan Sari yang tercengang melihat tingkahnya.Naya langsun

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 61

    Ardi segera mengantar Naya pulang, saat gadis itu mengatakan harus segera pulang untuk menemui seseorang. Dia masih menyimpan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Naya turun dari mobil Ardi, begitu mereka sampai di tempat biasanya.“Pak, saya duluan, ya. Daah!” Naya langsung berlari meninggalkan mobil Ardi. Ardi menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia hanya berdiam di kemudi dan menatap Naya yang berlari dengan sangat semangat. Wajah ceria Naya terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.“Penasaran, siapa yang bisa buat Naya sebahagia itu? Kayaknya sangat berarti banget,” kata Ardi yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area perumahan Naya.Sementara itu, Naya berlari ke rumahnya dengan cepat. Dia mencari Bi Ida. Mendengar namanya dipanggil, Bi Ida langsung menghampiri Naya.“Kenapa, Mbak?” tanya Bi Ida.“Bibi ingat pacarnya Ores dulu nggak?” Naya dengan antusias.“Iya, Mbak. Kenapa?” tanya Bi Ida lagi.“Aunty Xera mau datang jenguk aku, Bi Ida. Jadi, nanti tolong buat hida

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status