Se connecter“Kalau dapat ciuman dari saya, Nay?”
Naya membeku mendengar kalimat yang keluar begitu saja dari bibir Ardi. Dia tahu itu hanya sebuah candaan, tapi entah mengapa jantungnya terasa berdebar lebih cepat. Naya tersadar begitu mendengar tawa Ardi yang menertawakan dirinya. Dengan rasa kesalnya, Naya menginjak kaki Ardi dan berjalan mendahului pria itu. “Naya, tunggu!” Ardi berhenti tertawa dan mengejar Naya yang terlihat sangat kesal. Pria itu menggapai pergelangan tangan Naya dan membuat gadis muda itu menghentikan langkahnya. “Maaf, Nay. Saya bercanda tadi,” kata Ardi. “Tapi saya tidak suka ditertawakan, Pak.” Naya mengatakan dengan jujur apa yang dia rasakan saat Ardi menertawakannya. “Iya, okay. Maafkan saya menertawakan kamu, Nay.” Ardi menangkup wajah Naya dan membelai lembut pipi gadis itu. Naya hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mengajak Ardi untuk segera pulang. Saat akan berjalan meninggalkan Ardi kembali, langkah Naya terhenti dan menatap tangannya yang kini digenggam oleh Ardi. Mengerti arah tatapan Naya, Ardi berniat melepaskan tangannya, tapi jemari Naya membalas genggaman tangan itu. Ardi menatap Naya heran dan gadis itu tersenyum melihat Ardi. “Saya tidak pernah digandeng sama Papa. Boleh kan kali ini, saya merasakan digandeng seperti ini?” Naya menatap Ardi dengan penuh harap. “Iya, boleh. Ayo pulang, hari semakin terik. Kamu sudah kepanasan.” Ardi menggenggam lebih erat tangan Naya dan mengajaknya untuk kembali ke mobil yang terparkir di lapangan. Naya hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama dengan Ardi. Ardi memutuskan untuk mengantar Naya pulang. Namun, siapa sangka, Naya malah tertidur di mobil Ardi karena kelelahan. Pria itu pun membiarkan Naya untuk tidur terlebih dahulu selama perjalanan hingga sampai di tempat Naya selalu berhenti. Ardi menatap wajah polos Naya yang menurutnya sangat cantik dan menarik. Perlahan, tangan Ardi bergerak membelai rambut Naya yang sedikit berantakan. “Naya, Nay, bangun. Kita udah sampai di dekat rumahmu.” Ardi membangunkan gadis muda yang tertidur di mobilnya itu. Naya terbangun dan mengerjapkan matanya. Dia sedikit mengucek matanya dan menegakkan tubuhnya. Dia melihat area kompleks perumahannya dan menoleh ke arah Ardi kembali. “Maaf, saya ketiduran, Pak Ardi.” Naya merasa bersalah dan Ardi hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mempermasalahkan hal itu. “Saya tunggu kamu di sini seperti biasa dan kalau sudah sampai rumah, kabari saya.” Ardi mengatakannya dan Naya seperti biasa menganggukkan kepalanya sebelum pamit pulang. Naya berjalan menuju ke rumahnya. Ardi memperhatikan langkah Naya yang berjalan meninggalkan mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama dari Naya menghilang di tikungan, gadis itu mengirimkan pesan dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di rumah. Ardi menjalankan kembali mobilnya dan meninggalkan area kompleks perumahan Naya. Dia segera memutuskan untuk pulang. Namun, saat sampai di rumah, Ardi hanya bisa melihat Daffa sendirian bermain bola basket mininya. “Halo, Boy!” Ardi menyapa anaknya dengan hangat. “Ayah, kenapa hari ini pergi? Nggak main basket sama aku lagi.” Daffa mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes pada ayahnya. “Maaf, Nak. Ayah harus melatih kakak-kakak, mereka mau ikut lomba. Lain kali kita main basket bersama, ya.” Ardi mengusap lembut puncak kepala anaknya. Daffa hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Ayah mau mandi dulu, ya. Habis ini, kita main. Oke?” lanjut Ardi. “Oke!” Daffa dengan semangat mengatakannya. Ardi mengangguk sebentar dan berjalan meninggalkan Daffa yang bermain di ruang keluarga. Dia sungguh membersihkan dirinya sebelum bermain dengan anaknya yang sudah menunggunya untuk bermain bersama. Ardi segera kembali ke ruang keluarga setelah dirinya selesai membersihkan dirinya. *** Pertandingan yang semakin dekat membuat para pemain inti tim basket melakukan latihan dengan sangat serius. Bahkan semakin jarang untuk ada libur latihan. Jika untuk pemain cadangan, masih bisa mereka pertimbangkan, tetapi tetap hanya kepentingan mendesak yang bisa mendapat izin dari Ardi. Namun, Naya sempat tidak datang latihan selama dua hari, bahkan dia juga tidak datang ke sekolah. Ardi yang sempat khawatir pun mengirimkan pesan pada Naya. Beruntung gadis itu hari ini masuk dan ikut latihan. Naya duduk di tepi lapangan setelah dirinya diganti oleh pemain yang lain. Dia duduk sambil menikmati minumnya. Setelah latihan berakhir, seperti biasa, Ardi akan memberikan pengarahan terlebih dahulu sebelum mengizinkan para siswa pulang. Naya berjalan ke gerbang sekolah begitu Ardi mengizinkan untuk pulang. Namun, tidak begitu lama Naya duduk di dekat gerbang, Ardi mengirimkan pesan untuk Naya menunggu dirinya. Naya hanya mengerutkan keningnya membaca pesan pelatih sekaligus salah satu dosen di kampusnya itu. Dia merasa ada yang janggal dengan hatinya, tapi dirinya juga merasa nyaman dengan keberadaan Ardi yang seolah mengisi kekosongan hatinya yang disebabkan kedua orang tuanya. Dia menemukan sosok yang selalu memperhatikannya di Ardi. Saat kampus mulai tidak terlalu ramai, sebuah mobil berhenti di depan Naya dan kaca mobil itu diturunkan setengah untuk mengetahui siapa pengemudinya, membuat Naya membuka pintu penumpang di sisi pengemudi. Naya duduk dan segera memasang seat beltnya. Ardi menjalankan mobilnya kembali meninggalkan area kampus. “Ada apa, ya, Pak?” tanya Naya yang segera menanyakan apa maksud dan tujuan Ardi memintanya untuk pulang bersama dengan dirinya lagi hari ini. “Kamu kenapa dua hari nggak kelihatan dan enggak latihan, Nay? Sesuatu terjadi lagi?” tanya Ardi tanpa basa-basi. “Ada teman saya yang kasih tahu nggak, Pak?” tanya Naya yang langsung menoleh ke arah Ardi yang sedang memandang jalanan. “Ada, katanya kamu sakit, Nay.” Ardi menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan di depannya. “Nah, itu Bapak tahu, kenapa masih bertanya, Pak?” Naya mengerutkan keningnya heran juga dengan pelatihnya yang ada di sampingnya itu. Ardi sempat terdiam sejenak, sebelum menoleh ke arah Naya yang menatapnya dengan heran. “Saya hanya penasaran dengan kebenarannya, Nay. Saya khawatir dengan apa yang kamu rasakan, kalau kamu merasa tidak nyaman, karena kamu tidak sestabil itu, Nay.” Ardi mengatakannya sambil kembali menatap lurus ke jalanan. “Bapak perhatian sekali sama saya, Pak. Saya takut salah mengartikan perhatian Bapak.” Naya mengatakannya dengan jujur apa yang dia takutkan. “Maksudnya, Nay?” tanya Ardi saat berhenti di lampu merah. “Saya takut salah mengartikan tentang perhatian Bapak ke saya. Maklum, Pak … saya hanya gadis dewasa awal yang terkadang labil. Saya takut mengartikan perhatian Bapak ini sebagai perasaan suka Bapak ke saya, Pak.” Naya menundukkan kepalanya setelah mengatakannya. Ardi sempat terkejut dengan pengakuan Naya. Namun, gadis itu tidak salah. Perhatiannya memang akan menimbulkan banyak pertanyaan. Bahkan, hingga saat ini, Ardi juga sering bersembunyi untuk mengajak Naya pulang bersama seperti ini. “Kalau memang saya suka sama kamu, bagaimana, Nay?” **Mobil Ardi melaju meninggalkan mini market. Pria itu pun mulai memperhatikan mobil yang ada di belakangnya. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Naya sebelumnya. "Ternyata benar, dia mengikutiku." Ardi mulai menaikkan kecepatan mobilnya. Dia ingin tahu pengemudi mobil yang mengikutinya itu, akan sejauh mana mengikutinya. Sementara itu, Miya mengikuti mobil suaminya dengan pertanyaan yang besar. Dia jelas tadi melihat seorang perempuan masuk ke mobil suaminya. Namun, mengapa mobil tersebut malah berjalan menuju ke arah rumah mereka. "Dia nggak mungkin bawa selingkuhannya ke rumah kan?" Miya mempertanyakan apa yang sedang ada di kepala suaminya saat ini. Namun, sedetik kemudian, dia mengingat apa yang dikatakan teman lamanya. "Selingkuhannya akrab sama Daffa. Bisa aja dia membawa ke rumah untuk bermain sama Daffa," lanjut Miya dengan praduganya sendiri. Miya mengemudikan mobilnya terus mengikuti suaminya itu. Namun, saat suaminya mulai mendekati area rumah mereka. Miya mengu
Pertengkaran antara Miya dan Ardi ternyata tidak berhenti di hari itu. Bahkan sudah tiga hari, Ardi dan Miya tidak terlalu banyak berbicara. Mereka hanya mengobrol saat Daffa berada di dekat mereka. Miya masih merasa ada yang janggal. Alhasil, dia diam-diam mencari tahu sendiri. Dia melakukan banyak hal untuk menyelidiki semua yang disembunyikan oleh suaminya. Namun, tetap bertingkah seolah dirinya masih tidak mengetahui apa pun. Hari ini, Ardi sedang ada jadwal latihan basket. Sementara itu, Miya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang mewah. Dia melihat seorang wanita berdiri di tepi jalan. Miya keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. Dia menyapa dengan hangat. Wanita itu menyodorkan kunci ke arah Miya. "Kamu ada apa memang, sampai mau pinjam mobilku dulu.?" tanya wanita itu pada Miya yang mulai menerima kunci mobil tersebut. "Ada hal yang harus aku lakukan dulu." Miya memberikan kunci mobilnya pada wanita yang merupakan teman lamanya itu. "Kenapa? Tentang su
Dari semua yang Ardi katakan, entah mengapa Miya masih merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Dia merasa bahwa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sangat dalam. "Yakin nggak ada yang kamu sembunyikan, Sayang?" tanya Miya yang sempat membuat Ardi terdiam."Maksudnya? Kamu nggak percaya sama aku, Sayang?" tanya balik Ardi mencoba untuk tenang."Bukan nggak percaya, Sayang. Aku hanya merasa ada yang janggal dari ceritamu. Kayak nggak kamu ceritakan semuanya gitu, Sayang." Miya mencoba mengatakan jujur, agar suaminya tidak salah paham dan berusaha untuk lebih terbuka lagi. "Aku nggak ada menyembunyikan apa pun sama kamu. Kalau kamu memang nggak percaya sama aku, ya, sudah. Aku tidak pernah memaksamu untuk percaya padaku. Kamu sendiri yang mengajak untuk deep talk, aku kira akan hangat, ternyata malah seperti ini." Ardi melepaskan rangkulannya. Miya terdiam saat mendengar kata-kata Ardi. Dia tidak menyangka pria itu mengeluark
Miya duduk di ruang tamu dan memainkan ponselnya. Dia menunggu suaminya pulang. Hari sudah sangat gelap, tetapi Ardi masih saja belum sampai ke rumah. Akhir-akhir ini, dia merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Beberapa hari terlihat sangat murung, tetapi dua hari ini malah terlihat sangat bersemangat tanpa sebab. Mungkin memang bukan tanpa sebab, tetapi hanya Miya saja yang tidak tahu sebab apa yang membuat pria itu sangat bersemangat. "Di mana sebenarnya dia nih? Malam banget dan nggak ada ngabarin siapa pun. Bahkan Mbak juga nggak bilang apa-apa." Miya mulai merasa khawatir dan ada sedikit rasa curiga dari dalam hatinya. Dia mengintip sedikit ke jendela, berharap pria itu segera pulang. Namun, cukup lama dia menunggu, pria yang berstatus suaminya itu, masih saja belum pulang. Akan tetapi, Miya tidak menyerah. Dia masih menunggu suaminya untuk pulang.Sangat tidak seperti dirinya yang biasa meninggalkan Ardi sendirian. Jika biasanya, dia lebih banyak meninggalkan pria itu beke
Naya duduk tenang di taman kota. Namun, siapa sangka Ardi malah datang menyusulnya. Naya pun hanya diam dan menikmati cimol di tangannya. "Nay, kamu marah kah? Kok beberapa hari ini diamkan saya?" tanya Ardi yang duduk di samping Naya."Siapa yang bilang saya marah? Saya hanya menikmati waktu saya sendiri, Pak. Serius deh, saya sama sekali nggak marah. Saya hanya ingin memanjakan diri saya sendiri," jawab Naya."Lalu, kenapa kamu terkesan mengabaikan saya, Nay?" tanya Ardi kembali."Saya tidak mengabaikan Bapak. Hanya perasaan Bapak saja. Saya benar-benar tidak mengabaikan Bapak," jawab Naya lagi."Yakin?" tanya Ardi. "Sangat yakin, Pak. Bapak sudah nggak percaya sama saya?" balas Naya. "Iya, saya percaya. Maaf, Nay. Saya terlalu takut kehilangan kamu, Nay. Saya tidak ingin kehilangan orang yang saya sayang, Nay." Ardi mengatakan dengan sangat jujur pada perasaan. Naya menganggukkan kepalanya. Dia paham dengan perasaan Ardi. Namun, dia memang sama sekali tidak marah dengan Ardi. D
Berita tentang perselingkuhan Ardi tiba-tiba mencuat. Naya menahan diri untuk tidak terlihat terlalu ingin tahu. Namun, Sari sangat paham akan perasaan sahabatnya yang pasti ingin tahu, apa yang membuat gosip itu mencuat begitu saja. "Siapa yang bilang? Terus tahunya dari mana?" tanya Sari yang memang suka bergosip."Banyak yang lihat, kalau kemarin Pak Ardi naik mobil bareng dosen muda itu, Sar." Gadis yang duduk di depan Sari mengatakannya. Naya menahan diri untuk tidak terlalu penasaran. Dia sangat tahu, bahwa dirinya juga berkaitan dengan Ardi. Dia tidak ingin terlihat bahwa dirinya sangat dekat dengan pria yang sedang menjadi pembicaraan itu. "Kalau sesama dosen mah, kita masih belum bisa memastikan. Bisa aja hanya ada tugas bersama kan." Sari mencoba menjaga hati Naya. "Lah, kan namanya juga gosip, pasti juga belum tentu benar, Sar." Naya menepuk lengan sahabatnya, membuat Sari menoleh ke arahnya. "Kita kan netizen," lanjut Naya."Tahu, Sar. Aneh banget kamu, malah mau memas







