Share

Bab 04

Auteur: Lavendulaaa
last update Dernière mise à jour: 2025-10-15 21:44:26

Kedekatan antara Naya dan Ardi semakin terlihat saat Naya terpilih menjadi ketua UKM basket. Bahkan Naya mulai terlihat dekat dengan banyak orang lain. Seperti saat ini, Naya duduk bersama dengan Ardi dan wakil ketua UKM basket, Rangga Baskhara yang sedang membicarakan persiapan untuk pertandingan selanjutnya antar sekolah. 

Naya mendengarkan Rangga yang membicarakan keinginan para cowok yang sangat ingin bertanding dan mencoba di pertandingan dengan tingkat yang lebih luas. Ardi yang mendengar hal itu. Ambisi mereka untuk berkembang memang patut diacungi jempol, tapi Ardi perlu waktu untuk melihat kemampuan mereka. 

“Kita pasti bisa kok, Pak. Rangga dan anak-anak yang lain, pasti bisa memberikan yang terbaik untuk nama baik kampus, meski tidak menang, tapi tidak akan kalah dengan cara yang buruk, Pak.” Naya mendukung keinginan teman-temannya. 

“Oke, tapi kalian juga harus bertanggungjawab dengan pilihan kalian. Kalian harus latihan lebih keras untuk membuktikan kekuatan kalian. Bisa dimengerti?” Ardi melihat Naya dan Rangga secara bergantian. 

Keduanya menganggukkan kepalanya dengan bersamaan tanpa sengaja. Ardi pun ikut mengangguk karena kedua mahasiswanya itu setuju untuk berjuang dan berlatih bersama. Naya tersenyum saat Ardi sudah menyetujui keinginan mereka untuk lebih banyak mengikuti pertandingan. 

“Oke, saya akan cari informasi lengkap tentang pertandingan yang kalian inginkan itu. Saya juga akan membuat jadwal latihan baru untuk kalian. Jadi, saya harap kalian juga mau bekerja sama dengan saya dalam latihan kita nanti.” Ardi mengatakan pada Rangga dan Naya.

“Siap, Pak!” Keduanya dengan semangat menjawab bersamaan. 

“Kalian ini baru diangkat sebagai ketua dan wakil ketua yang baru, tapi kalian sangat semangat untuk membuat maju tim basket kita.” Ardi memuji keberanian kedua pemimpin ekstrakurikuler yang baru dengan wajah bangganya. 

“Mereka mempercayakan kemajuan tim pada kami, jadi kami juga mau memberikan yang terbaik untuk tim, Pak. Semoga bisa berhasil selalu mengharumkan nama Universitas Cendikia Utama, Pak.” Naya tersenyum dan menjawab dengan sopan. 

“Iya, sudah. Kalian bisa segera pulang.” Ardi menyuruh muridnya segera pulang, karena hari sudah mulai petang. Mengingat juga Naya selalu pulang mengendarai ojek online. 

“Baik, Pak. Kami pamit dulu.” Rangga dan Naya berdiri dari duduknya. Mereka pun mulai berjalan menjauh dari Ardi. 

Ardi membereskan semua barangnya dan masuk ke mobilnya. Dia juga perlu segera pulang seperti yang lainnya. Dia mengemudikan mobilnya dan masih melihat Naya baru saja duduk di trotoar. Dia pun menghentikan mobilnya di depan Naya yang terduduk sambil menikmati jajanan.

“Naya!” Ardi memanggil Naya setelah menurunkan kaca mobilnya. 

“Iya, Pak?” Naya mendekat ke arah mobil Ardi sambil membawa jajannya yang sedang dia nikmati sebelumnya. 

“Kenapa belum pulang, Nay?” tanya Ardi yang memperhatikan Naya membersihkan ujung bibirnya dari saus. 

“Belum pesan ojek onlinenya, Pak. Baru aja beli jajan,” jawab Naya dengan cengengesan khasnya, sambil menunjukkan jajanannya. 

“Ya, sudah. Ayo, pulang sama saya, Nay. Ini sudah hampir malam.” Ardi membuka kunci mobilnya.

“Nggak perlu, Pak. Ngerepotin Pak Ardi, jatuhnya.” Naya terlihat mencoba menolak dengan lembut. 

“Masuk aja, Nay.” Ardi tetap menyuruh mahasiswanya itu masuk ke mobil dan bersedia untuk mengantarnya. 

Naya pun mau-tidak mau segera masuk ke mobil Ardi dan memasak seat belt sebelum Ardi menjalankan mobilnya. Setelah melihat Naya selesai memasang seat belt, pria itu langsung menjalankan mobilnya menjauh dari area kampus. Ardi mengantarnya seperti saat pertama dia mencoba mengakrabkan diri pada mahasiswa yang ternyata tidak seceria tampangnya itu.

***

Naya menerima pesan dari Ardi yang memintanya untuk datang ke ruang dosen mata kuliah umum (MKU), di mana pria itu berada. Dia pun berjalan dan membawa kertas yang mungkin akan dia butuhkan. Dia mengetuk dan menunggu Ardi mengizinkannya masuk ke ruang yang jarang dimasuki sembarang mahasiswa.

Naya masuk setelah mendengar suara yang mengizinkannya untuk masuk. Dia melihat Ardi duduk dan sibuk dengan laptop di depannya. Ardi menyuruh Naya untuk duduk terlebih dahulu dan menunggu dirinya menyelesaikan apa yang dia kerjakan terlebih dahulu.

“Apa kabar, Nay?” tanya Ardi pada Naya setelah selesai mengerjakan pekerjaannya.

“Baik, Pak. Jadi apa yang membuat saya harus menghadap Bapak di sini, Pak?” Naya memperhatikan Ardi yang mulai duduk di dekatnya.

“Ini jadwal latihan yang baru, Nay. Sampaikan ke teman-temanmu, terus saya juga sudah mendapatkan informasi tentang pertandingan yang akan diadakan ke depannya. Ada dari pemerintah daerah, Nay. Saya sudah daftar beberapa, Nay. Untuk informasi ke depannya, saya akan beritahu lagi.” Ardi menjelaskan dan memberikan jadwal pada Naya.

“Baik, Pak. Saya akan segera memberitahu teman-teman tentang jadwal latihan baru dan saya juga akan memberitahu tentang pertandingan yang akan datang, Pak.” Naya menerima kertas jadwal dari Ardi. 

“Bagaimana perasaanmu sekarang, Nay? Jauh lebih stabil?” Ardi memperhatikan Naya yang langsung menoleh ke arahnya saat dirinya menanyakan hal itu.

“Arah pembicaraan Bapak ke mana? Saya sepertinya kurang mengerti, Pak.” Naya menatap heran, tapi tetap berusaha sopan pada kepala sekolahnya itu. 

“Sudah tidak ada masalah yang membuat kamu merasa terpuruk lagi kan? Semua sudah aman?” Ardi menjelaskan maksudnya.

“Belum sepenuhnya, tapi pesan dan nasihat dari Bapak membuat saya mencoba untuk bisa mengendalikan diri saya sendiri, Pak.” Naya menjelaskan maksudnya. 

Ardi menganggukkan kepalanya paham akan apa yang dirasakan oleh Naya. Dia menatap lembut gadis yang selama ini dia kenal sangat ceria dan sekarang belajar untuk mengendalikan dirinya atas masalah yang terjadi dalam kehidupannya. Ardi terlihat pada Naya yang tidak terus mengurung dirinya pada alasan yang membuat dirinya semakin jatuh dan tidak berkembang.

“Nay, saya tahu apa yang kamu rasakan, tapi saya harap kamu memiliki teman untuk bercerita, Nay. Siapa pun itu, asal tidak menambah beban saat kamu mengeluarkan ceritamu. Apa kamu memiliki itu, Nay?” Ardi melihat Naya menggelengkan kepalanya. Dia pun paham akan apa yang terjadi pada Naya sebelumnya hingga membuat gadis itu berantakan dalam permainannya. “Kamu tidak memilikinya?” lanjut Ardi.

“Tidak, Pak. Bahkan pada Bi Ida pun, saya tidak menceritakan apa pun. Mama selalu bilang, kalau saya menceritakan apa yang saya rasakan, tandanya saya sangat lemah untuk menghadapi dunia luar yang lebih berat. Bahkan Papa pun mengatakan untuk terus terlihat kuat, agar orang lain tidak menertawakan saya, Pak.” Naya menjawab dan masih memberikan senyum terbaik pada Ardi yang ada di depannya.

“Kalau begitu, kamu ceritakan pada saya, Nay. Saya siap menjadi telinga untuk kamu, Nay. Kamu pemain inti sekarang dan keberadaanmu sangat krusial, Nay. Kamu juga mahasiswa saya yang selalu memberi banyak prestasi dalam akademik maupun non-akademik, Nay. Meski saya cuma mengampu kamu satu tahun aja, ya, Nay. Jadi, saya sebagai dosen dan pelatih kamu, saya mau mendengar semua keluh kesah kamu, agar bisa memastikan keadaan mental dan fisikmu. Tidak ada salahnya bercerita dan menjadi lemah, Nay. Kita manusia yang selalu saling membutuhkan, Nay.”

**

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 94

    Mobil Ardi melaju meninggalkan mini market. Pria itu pun mulai memperhatikan mobil yang ada di belakangnya. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Naya sebelumnya. "Ternyata benar, dia mengikutiku." Ardi mulai menaikkan kecepatan mobilnya. Dia ingin tahu pengemudi mobil yang mengikutinya itu, akan sejauh mana mengikutinya. Sementara itu, Miya mengikuti mobil suaminya dengan pertanyaan yang besar. Dia jelas tadi melihat seorang perempuan masuk ke mobil suaminya. Namun, mengapa mobil tersebut malah berjalan menuju ke arah rumah mereka. "Dia nggak mungkin bawa selingkuhannya ke rumah kan?" Miya mempertanyakan apa yang sedang ada di kepala suaminya saat ini. Namun, sedetik kemudian, dia mengingat apa yang dikatakan teman lamanya. "Selingkuhannya akrab sama Daffa. Bisa aja dia membawa ke rumah untuk bermain sama Daffa," lanjut Miya dengan praduganya sendiri. Miya mengemudikan mobilnya terus mengikuti suaminya itu. Namun, saat suaminya mulai mendekati area rumah mereka. Miya mengu

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 93

    Pertengkaran antara Miya dan Ardi ternyata tidak berhenti di hari itu. Bahkan sudah tiga hari, Ardi dan Miya tidak terlalu banyak berbicara. Mereka hanya mengobrol saat Daffa berada di dekat mereka. Miya masih merasa ada yang janggal. Alhasil, dia diam-diam mencari tahu sendiri. Dia melakukan banyak hal untuk menyelidiki semua yang disembunyikan oleh suaminya. Namun, tetap bertingkah seolah dirinya masih tidak mengetahui apa pun. Hari ini, Ardi sedang ada jadwal latihan basket. Sementara itu, Miya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang mewah. Dia melihat seorang wanita berdiri di tepi jalan. Miya keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita itu. Dia menyapa dengan hangat. Wanita itu menyodorkan kunci ke arah Miya. "Kamu ada apa memang, sampai mau pinjam mobilku dulu.?" tanya wanita itu pada Miya yang mulai menerima kunci mobil tersebut. "Ada hal yang harus aku lakukan dulu." Miya memberikan kunci mobilnya pada wanita yang merupakan teman lamanya itu. "Kenapa? Tentang su

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 92

    Dari semua yang Ardi katakan, entah mengapa Miya masih merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Dia merasa bahwa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sangat dalam. "Yakin nggak ada yang kamu sembunyikan, Sayang?" tanya Miya yang sempat membuat Ardi terdiam."Maksudnya? Kamu nggak percaya sama aku, Sayang?" tanya balik Ardi mencoba untuk tenang."Bukan nggak percaya, Sayang. Aku hanya merasa ada yang janggal dari ceritamu. Kayak nggak kamu ceritakan semuanya gitu, Sayang." Miya mencoba mengatakan jujur, agar suaminya tidak salah paham dan berusaha untuk lebih terbuka lagi. "Aku nggak ada menyembunyikan apa pun sama kamu. Kalau kamu memang nggak percaya sama aku, ya, sudah. Aku tidak pernah memaksamu untuk percaya padaku. Kamu sendiri yang mengajak untuk deep talk, aku kira akan hangat, ternyata malah seperti ini." Ardi melepaskan rangkulannya. Miya terdiam saat mendengar kata-kata Ardi. Dia tidak menyangka pria itu mengeluark

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 91

    Miya duduk di ruang tamu dan memainkan ponselnya. Dia menunggu suaminya pulang. Hari sudah sangat gelap, tetapi Ardi masih saja belum sampai ke rumah. Akhir-akhir ini, dia merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Beberapa hari terlihat sangat murung, tetapi dua hari ini malah terlihat sangat bersemangat tanpa sebab. Mungkin memang bukan tanpa sebab, tetapi hanya Miya saja yang tidak tahu sebab apa yang membuat pria itu sangat bersemangat. "Di mana sebenarnya dia nih? Malam banget dan nggak ada ngabarin siapa pun. Bahkan Mbak juga nggak bilang apa-apa." Miya mulai merasa khawatir dan ada sedikit rasa curiga dari dalam hatinya. Dia mengintip sedikit ke jendela, berharap pria itu segera pulang. Namun, cukup lama dia menunggu, pria yang berstatus suaminya itu, masih saja belum pulang. Akan tetapi, Miya tidak menyerah. Dia masih menunggu suaminya untuk pulang.Sangat tidak seperti dirinya yang biasa meninggalkan Ardi sendirian. Jika biasanya, dia lebih banyak meninggalkan pria itu beke

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 90

    Naya duduk tenang di taman kota. Namun, siapa sangka Ardi malah datang menyusulnya. Naya pun hanya diam dan menikmati cimol di tangannya. "Nay, kamu marah kah? Kok beberapa hari ini diamkan saya?" tanya Ardi yang duduk di samping Naya."Siapa yang bilang saya marah? Saya hanya menikmati waktu saya sendiri, Pak. Serius deh, saya sama sekali nggak marah. Saya hanya ingin memanjakan diri saya sendiri," jawab Naya."Lalu, kenapa kamu terkesan mengabaikan saya, Nay?" tanya Ardi kembali."Saya tidak mengabaikan Bapak. Hanya perasaan Bapak saja. Saya benar-benar tidak mengabaikan Bapak," jawab Naya lagi."Yakin?" tanya Ardi. "Sangat yakin, Pak. Bapak sudah nggak percaya sama saya?" balas Naya. "Iya, saya percaya. Maaf, Nay. Saya terlalu takut kehilangan kamu, Nay. Saya tidak ingin kehilangan orang yang saya sayang, Nay." Ardi mengatakan dengan sangat jujur pada perasaan. Naya menganggukkan kepalanya. Dia paham dengan perasaan Ardi. Namun, dia memang sama sekali tidak marah dengan Ardi. D

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 89

    Berita tentang perselingkuhan Ardi tiba-tiba mencuat. Naya menahan diri untuk tidak terlihat terlalu ingin tahu. Namun, Sari sangat paham akan perasaan sahabatnya yang pasti ingin tahu, apa yang membuat gosip itu mencuat begitu saja. "Siapa yang bilang? Terus tahunya dari mana?" tanya Sari yang memang suka bergosip."Banyak yang lihat, kalau kemarin Pak Ardi naik mobil bareng dosen muda itu, Sar." Gadis yang duduk di depan Sari mengatakannya. Naya menahan diri untuk tidak terlalu penasaran. Dia sangat tahu, bahwa dirinya juga berkaitan dengan Ardi. Dia tidak ingin terlihat bahwa dirinya sangat dekat dengan pria yang sedang menjadi pembicaraan itu. "Kalau sesama dosen mah, kita masih belum bisa memastikan. Bisa aja hanya ada tugas bersama kan." Sari mencoba menjaga hati Naya. "Lah, kan namanya juga gosip, pasti juga belum tentu benar, Sar." Naya menepuk lengan sahabatnya, membuat Sari menoleh ke arahnya. "Kita kan netizen," lanjut Naya."Tahu, Sar. Aneh banget kamu, malah mau memas

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status