LOGINSetelah pertanyaan dari Ardi, Naya langsung merasa bersalah dengan membawa perasaan yang tidak sewajarnya. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan perasaannya yang tidak pernah meminta untuk jatuh pada pria beristri itu. Namun, Naya tidak menolak saat dirinya merasa tertarik juga dengan pria yang jauh lebih tua dari dirinya itu.
Naya yang duduk di kantin menatap Ardi yang sedang berjalan dari gedung fakultas lain. Kharisma pria itu sungguh mampu membuat Naya seolah terhipnotis dengan kehadirannya. Sari yang sedang duduk di depan Naya pun penasaran dengan sahabatnya itu. “Hey! Kenapa ngelamun dah? Lihatin siapa sih?” Sari menolehkan kepalanya dan melihat ada Rangga yang sedang berjalan masuk ke kantin. “Oh, ngelihatin Rangga, ya? Kamu berpikir mau coba buka hati buat dia, Nay?” tanya Sari yang penasaran dengan sahabatnya itu. “Ngawur ih! Kamu tuh kalau bicara coba dipikirkan lagi, Sari. Aku hanya melihat ke arah yang sama, bukan berarti aku memperhatikan Rangga.” Naya mengelak dan hanya menggelengkan kepalanya. “Iya, udah, nggak usah marah sih, Nay. Aku kan cuma tanya loh.” Sari mengerucutkan bibirnya. “Ih, siapa yang marah? Orang aku cuma kasih tahu, kalau aku enggak ngelihatin Rangga, Sar.” Naya membela dirinya dan menatap gelas es teh yang diraih dan disedotnya. Sari pun diam tidak lagi memperpanjang masalah tentang arah tatapan Naya. Mereka menikmati waktu istirahat berdua di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang memesan makan serta minum di kantin. Naya memainkan sedotannya di gelas hingga seorang pria duduk di sampingnya. “Hai, Nay!” Rangga duduk dan membawa makanannya di meja tempat Naya duduk berdua dengan Sari. “Hai, Ngga. Tumben rajin kelas, Ngga?” balas Naya yang melihat Rangga mulai menyendok siomay di sampingnya. “Hahaha, bisa aja kamu, Nay. Soalnya hari ini kelasku banyak kosong. Ini aja karena aku mau cari makan di kantin, makanya aku ke kampus, Nay.” Rangga menoleh ke arah Naya yang masih memainkan sedotannya sambil menatapnya. Sari hanya memperhatikan dua cucu Adam dan Hawa di depannya itu berinteraksi. Ada rasa ingin menggoda Naya, tetapi masih ditahan oleh Sari, sebelum sahabatnya itu murka dan mengamuk padanya. Naya menghabiskan minumannya dan segera mengajak Sari untuk kembali ke kelas. “Aku duluan, ya, Ngga. Masih ada tugas yang belum selesai.” Naya membawa tasnya dan berdiri dari duduknya. “Nanti kamu latihan kan, Nay? Secara kita sudah dekat banget sama turnamen, Nay.” Rangga melihat Naya yang sudah membawa barang bawaannya. “Sepertinya datang, soalnya aku lupa bawa baju, Ngga. Mungkin akan terlambat sih, Ngga. Lihat nanti aja deh. Aku duluan, ya. Yuk, Sar.” Naya dan Sari pun berjalan meninggalkan Rangga yang menikmati makannya. Sudah jadi rahasia umum, jika semua orang banyak yang mendengar rumor tentang Rangga yang jatuh cinta pada Naya sejak masa pengenalan kampus. Naya pun sudah mendengar, tapi dia tidak pernah mengambil pusing apa yang dikatakan oleh rumor tersebut. Dia hanya ingin berteman baik dengan Rangga tanpa membawa perasaan yang bisa saja saling menyakiti. *** Naya berlari ke arah lapangan basket indoor di mana latihan kali ini akan berlangsung. Dia sangat terlambat untuk bergabung dengan latihan, tapi dia tidak bisa melewatkan latihan. Naya berdiri terengah-engah dan melihat teman-temannya beristirahat sebelum melanjutkan latihan. Ardi menatap Naya datar dan membuat gadis itu menundukkan pandangannya. Dia sama sekali tidak pernah melihat Ardi menatap sedingin itu. Ardi berdiri tegak di depan Naya. “Ikut saya!” Ardi mengatakannya dengan nada dinginnya. Naya sering melihat Ardi menghukum anak-anak yang tidak disiplin. Namun, kali ini Naya adalah satu-satunya yang tidak disiplin itu. Naya pun mengikuti langkah Ardi berjalan ke arah kolam renang indoor. Di sana sudah terlihat sangat sepi. Bagaimana tidak, hari ini sudah mulai malam, memang basket sedang melakukan latihan besar-besaran untuk mengikuti turnamen. Naya hanya berdiri tegak di depan Ardi yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. “Jelaskan, kenapa kamu terlambat, Nay?” tanya Ardi. “Saya tadi kelas agak lama, Pak. Terus, saya pulang dulu, bukan karena niat enggak mau latihan. Saya lupa bawa baju ganti, Pak. Saya baru ingat waktu Rangga ingatkan saya, Pak. Jadi, saya pulang dulu. Maaf, Pak.” Naya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi alasanya datang terlambat di latihan kali ini. “Kamu sedang mencoba menghindar dari saya?” tanya Ardi yang membuat Naya terlihat lebih gugup untuk menjawab pertanyaan Ardi yang cukup tiba-tiba. “Anu, Pak … itu, saya tidak menghindar kok.” Naya mencoba mengelak. Namun, Ardi jelas melihat dari mata Naya yang tidak bisa berbohong dengannya. Ardi mendorong pelan tubuh Naya hingga punggungnya menabrak dinding. Jantung Naya terasa berdebar lebih cepat, jauh lebih cepat dari dirinya terengah-engah saat berlari sebelumnya. Ardi menaikkan dagu Naya memaksa pandangan gadis itu bertemu dengan pandangannya. “Coba katakan lagi, Nay.” Ardi menatap Naya intens. “Say—” Belum juga Naya mengatakan apa pun, Ardi mengecup bibir Naya membuat gadis itu membeku. Merasa tidak mendapat penolakan, Ardi melumat bibir Naya perlahan. Naya hanya terdiam hingga Ardi melepaskan bibirnya dan menatap gadis di depannya itu dalam-dalam. “Jangan menghindari saya, Nay.” Ardi mengatakannya dengan lembut. “I-iya, Pak. Saya tidak akan menghindar.” Setelah mengatakannya, Naya membelalak karena Ardi menariknya dalam dekapan. “Maaf, saya lancang.” Ardi membisikkan hal itu. Naya merasa ada desiran lembut menyentuh hatinya yang lama tidak pernah merasakan apa pun. Sekarang terasa ada ribuan kupu-kupu terbang di perutnya, saat Ardi mendekapnya erat. Naya menutup matanya sejenak dan menjauhkan tubuh mereka. “Kita harus latihan, Pak. Untuk hukumannya—” “Hukuman kamu, nanti kamu harus pulang sama saya, Nay.” Ardi memotong kalimat Naya yang belum sempat dia selesaikan. “Tapi—” Ardi mengangkat telapak tangannya menandakan Naya harus diam dan menurutinya. Naya hanya menganggukkan kepalanya dan kembali ke lapangan basket indoor yang tidak jauh dari tempat mereka. Naya berjalan di belakang Ardi seolah memang mereka memiliki batas sendiri. Latihan pun dilanjutkan dan Naya berlatih dengan giat. Latihan berakhir saat jam digital di ponsel menunjukkan pukul sembilan malam. Naya membereskan semua barangnya. Teman-temannya satu persatu berangsur pergi. Naya menatap Ardi yang memainkan ponsel di pinggir lapangan. Dia sangat ingat dengan perkataan Ardi untuk pulang bersama dengannya. Naya berniat untuk kabur, tapi sebuah pesan dari Ardi masuk ke ponselnya yang menyuruh untuk menunggu di luar. Dia pun membalas sebentar dan segera melangkahkan kakinya menuju ke area luar kampus. Naya menendang batu kecil yang dia temukan di sepanjang jalannya keluar. Naya berdiri di perbatasan kampusnya dengan sebuah SPBU. Dia menunggu Ardi di sana. Saat mobil Ardi berhenti di depannya, Naya segera masuk dan melihat Ardi yang menatapnya. Naya menaruh tas di pangkuannya. Napas Naya tercekat saat Ardi mendekatkan wajahnya ke arahnya. “Pak—” **Seperti yang dijanjikan Naya sebelumnya, dia bertemu dengan Ardi setelah latihan. Namun, tidak di luar kamus. Mereka malah bertemu di kolam berenang.Naya memasukkan kakinya di kolam. Dia menunggu Ardi yang masih mengambil barangnya di kantor. Naya pun tidak banyak protes. Dia hanya ingin mendengar kebenaran dari pria itu.Setelah cukup lama Naya bermain air, akhirnya Ardi datang dan duduk di samping Naya. Dia tidak ikut memasukkan kakinya, tetapi menyilakan kakinya.“Masih nggak mau ngomong dan hanya mau dengarkan saya apa gimana, Nay?” tanya Ardi yang penasaran dengan mood gadis di sampingnya itu.“Sejujurnya, masih ada rasa kesal, tapi saya juga nggak bisa hanya mendengarkan satu pihak.” Naya membalas dengan tenang, sembari menggerakkan kakinya di kolam.“Jujur, saya nggak tahu, kamu akan menganggap saya membuat pembelaan atau bagaimana, tapi saya hanya ingin menceritakan apa yang saya tahu sebelumnya, Nay.” Ardi mengatakannya dan menoleh ke arah gadis yang asyik memainkan kakinya
Naya menatap Ardi yang terdiam, meski tangannya masih memeluknya dengan erat. Pertanyaannya yang tiba-tiba membuat Ardi langsung terdiam. Naya menyentuh bibir bawah Ardi dengan ibu jarinya, membuat pria itu tersadar dari lamunannya."Jadi, Bapak sungguhan kenal sama Ores?" tanya Naya yang langsung mendudukkan tubuhnya, membuat Ardi ikut mendudukkan tubuhnya juga."Nay, nama Reski kan banyak. Nggak mungkin cuma ....""Nama Reski memang banyak, tapi cowok yang jadi selingkuhan mantan Ores, nomor pribadi Bapak yang saya cek. Jujur sama saya, Bapak kenal Ores nggak?" Naya memotong perkataan Ardi sebelum dia memberikan bualan yang mungkin semakin membuat dirinya meragukan apa yang sudah dia cek sebelumnya. "Iya, saya kenal ommu itu." Ardi menjawab dengan pelan.Naya menghela napas dan segera ke kamar mandi. Dia merasa sangat kecewa, meski dia sudah menduga. namun, dia merasa ada yang berat di dalam hatinya, saat mendengar sendiri dari mulut Ardi. Ardi yang melihat Naya yang berlalu begit
Naya berjalan di mal sendirian. Dia ingin menghilangkan pikirannya yang berantakan akhir-akhir ini. Dia menuju ke sebuah toko buku.Naya membaca blurb sebuah novel yang ada di deretan best seller. Dia berdiri tenang dan menimbang satu persatu novel yang ada di depannya. Dia sangat ingin membeli di antara buku-buku tersebut.Saat asyik membaca novel yang ada di depannya, Naya dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Naya menoleh adan menatap Miya yang tiba-tiba menghampirinya. Naya menaruh kembali novel di tangannya dan memperhatikan Miya."Ada apa, ya, Bu Miya?" tanya Naya yang tidak paham dengan kedatangan Miya secara tiba-tiba dan menegurnya. "Akhir-akhir ini nggak ada latihan basket kah?" tanya Miya."Ada, kenapa, Bu?" balas Naya. "Suami saya mulai jarang pulang terlambat banget," jawab Miya pada Naya yang hanya memperhatikannya. "Oh, karena nggak ada turnamen dalam jangka waktu yang mepet, jadi Pak Ardi memang memberikan kami kelonggaran
Naya menikmati memainkan ponsel lama Reski. Dia membuka room chat milik papanya. Banyak sekali pembahasan di sana.Dimulai dari pekerjaan, persiapan kuliah dan masalah pribadi. Bahkan ada saat papa Naya meminta tolong pada Reski untuk membantu membujuk mama Naya yang sedang merajuk. Naya tersenyum membaca semua hal tersebut.Tidak hanya berhenti di sana, mata Naya seketika melotot saat menemukan isi curhatan Reski pada papa Naya. Dia memastikan kembali dan membacanya berkali-kali. Dia memastikan apa yang dibaca tidak ada yang salah. "Ores beneran diselingkuhin?" kaget Naya yang membaca curhatan Reski. Dia terus membaca isi chat room tersebut, di mana papanya mulai meminta Reski untuk menyelesaikan hubungan dengan wanita yang disebut "menjijikkan" itu. Naya terus membaca melihat betapa kesal papanya pada wanita yang menyelingkuhi Reski."Kan Kakak sudah bilang sebelumnya, dia memang bukan wanita baik. Dia wanita matre yang hanya mengincar harta saja," tulis papa Naya di room chat itu
Setelah percintaan yang liar itu, keduanya tidur sebentar untuk memulihkan energi mereka. Naya tidur di dalam pelukan Ardi. Setelah melakukan percintaan, keduanya selalu tidur bersama dan Ardi selalu setia memeluk gadis yang selalu bersama dengannya. Setelah lima belas menit tidur dan cukup untuk menerima energi, mereka akhirnya terbangun. Ponsel Ardi berbunyi dan pria itu segera meraihnya. Panggilan dari istrinya telah masuk. Ardi menaruh kembali dan tidak menghiraukan ponselnya. "Kenapa?" tanya Naya yang baru keluar dari kamar mandi."Miya. Nggak tahu ada apa," jawab Ardi."Nggak mau diangkat aja? Tumben dia telepon jam segini loh, Pak." Naya memberi masukan."Nggak ah. Nanti aja biar ngobrol di rumah. Kalau lagi sama kamu, aku maunya sama kamu," kata Ardi yang sangat serius dengan apa yang dia katakan. Naya pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera memakai kembali bajunya, saat Ardi masuk ke kamar mandi. Naya duduk di kasur dan mulai merapikan riasan wajahnya. Naya menatap
"Ponsel lamanya Ores."Naya yang mendengar itu, langsung menatap wajah mamanya dengan serius. Dia tidak percaya kalau mamanya masih menyimpan barang Reski. Mama Naya membalas tatapan anak yang terlihat sangat heran."Papa yang minta buat simpan, karena banyak kenangan di ponsel itu, Nay. Foto-foto, bahkan video, Nay. Papa nggak mau kehilangan hal itu," kata mama Naya."Bukannya, pesawat Ores jatuh di laut? Kenapa ponselnya masih bisa diselamatkan?" tanya Naya heran."Ores pergi menggunakan ponsel lain. Dia meninggalkan ponsel lamanya itu dan menyimpan di rumah Nenek, Nay. Itu ponsel baru Ores yang dibawa. Lalu, saat kecelakaan, Papa ambil ponsel lama itu dan buka, ternyata semua kenangan ada di sana, termasuk tentang masa lalu Ores." Mama Naya menjelaskan."Jadi, Ores sempat ganti ponsel?" tanya Naya meyakinkan kembali."Iya. Kamu mau lihat?" balas mama Naya.Naya menganggukkan kepalanya dan menatap mamanya dengan sangat serius. Semua tentang Reski, dia sangat ingin tahu. Pria yang se