LOGINMiya duduk di ruang tamu dan memainkan ponselnya. Dia menunggu suaminya pulang. Hari sudah sangat gelap, tetapi Ardi masih saja belum sampai ke rumah. Akhir-akhir ini, dia merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Beberapa hari terlihat sangat murung, tetapi dua hari ini malah terlihat sangat bersemangat tanpa sebab. Mungkin memang bukan tanpa sebab, tetapi hanya Miya saja yang tidak tahu sebab apa yang membuat pria itu sangat bersemangat. "Di mana sebenarnya dia nih? Malam banget dan nggak ada ngabarin siapa pun. Bahkan Mbak juga nggak bilang apa-apa." Miya mulai merasa khawatir dan ada sedikit rasa curiga dari dalam hatinya. Dia mengintip sedikit ke jendela, berharap pria itu segera pulang. Namun, cukup lama dia menunggu, pria yang berstatus suaminya itu, masih saja belum pulang. Akan tetapi, Miya tidak menyerah. Dia masih menunggu suaminya untuk pulang.Sangat tidak seperti dirinya yang biasa meninggalkan Ardi sendirian. Jika biasanya, dia lebih banyak meninggalkan pria itu beke
Naya duduk tenang di taman kota. Namun, siapa sangka Ardi malah datang menyusulnya. Naya pun hanya diam dan menikmati cimol di tangannya. "Nay, kamu marah kah? Kok beberapa hari ini diamkan saya?" tanya Ardi yang duduk di samping Naya."Siapa yang bilang saya marah? Saya hanya menikmati waktu saya sendiri, Pak. Serius deh, saya sama sekali nggak marah. Saya hanya ingin memanjakan diri saya sendiri," jawab Naya."Lalu, kenapa kamu terkesan mengabaikan saya, Nay?" tanya Ardi kembali."Saya tidak mengabaikan Bapak. Hanya perasaan Bapak saja. Saya benar-benar tidak mengabaikan Bapak," jawab Naya lagi."Yakin?" tanya Ardi. "Sangat yakin, Pak. Bapak sudah nggak percaya sama saya?" balas Naya. "Iya, saya percaya. Maaf, Nay. Saya terlalu takut kehilangan kamu, Nay. Saya tidak ingin kehilangan orang yang saya sayang, Nay." Ardi mengatakan dengan sangat jujur pada perasaan. Naya menganggukkan kepalanya. Dia paham dengan perasaan Ardi. Namun, dia memang sama sekali tidak marah dengan Ardi. D
Berita tentang perselingkuhan Ardi tiba-tiba mencuat. Naya menahan diri untuk tidak terlihat terlalu ingin tahu. Namun, Sari sangat paham akan perasaan sahabatnya yang pasti ingin tahu, apa yang membuat gosip itu mencuat begitu saja. "Siapa yang bilang? Terus tahunya dari mana?" tanya Sari yang memang suka bergosip."Banyak yang lihat, kalau kemarin Pak Ardi naik mobil bareng dosen muda itu, Sar." Gadis yang duduk di depan Sari mengatakannya. Naya menahan diri untuk tidak terlalu penasaran. Dia sangat tahu, bahwa dirinya juga berkaitan dengan Ardi. Dia tidak ingin terlihat bahwa dirinya sangat dekat dengan pria yang sedang menjadi pembicaraan itu. "Kalau sesama dosen mah, kita masih belum bisa memastikan. Bisa aja hanya ada tugas bersama kan." Sari mencoba menjaga hati Naya. "Lah, kan namanya juga gosip, pasti juga belum tentu benar, Sar." Naya menepuk lengan sahabatnya, membuat Sari menoleh ke arahnya. "Kita kan netizen," lanjut Naya."Tahu, Sar. Aneh banget kamu, malah mau memas
Setelah cukup lama berada di rumah sakit, Naya akhirnya bisa dibolehkan pulang. Namun, papanya masih belum mengizinkan Naya untuk pergi ke kampus. Alhasil, Sari sering datang ke rumah Naya dan memberikan beberapa catatan dan update tentang kuis, serta lainnya. Seperti saat ini, Sari datang ke rumah Naya. Dia memberikan catatan yang dia buat. Dia sangat membantu Naya yang ketinggalan beberapa materi selama sakit. Naya merasa sangat terbantu dengan inisiatif sahabatnya. Dia mendengarkan dengan saksama penjelasan Sari. Dia juga menyalin catatan yang diberikan oleh Sari padanya. Sahabatnya itu juga tidak lupa memberikan gosip dan update tentang kabar di sekitar mereka. "Kamu nggak penasaran sama kabar Pak Ardi?" tanya Sari dengan nada pelan, seolah takut ada yang mendengar selain mereka. "Emang ada kabar apa tentang dia?" tanya Naya sambil menyalin catatan sahabatnya."Ada yang bilang, dia akrab sama dosen muda di fakultas teknik, Nay." Sari mengatakannya dengan pelan. "Fakultas tekn
Sebuah teriakan membuat Naya menutup telinganya. Bagaimana tidak, ruangan rawat itu sebelumnya sangat hening. Hanya dentingan sendok dan mangkuk yang terdengar. Suara Naya dan keluarganya pun tidak begitu keras. Namun, saat sebuah teriakan menyapa, tentu saja semua yang ada di sana terkejut. "Naya!!!" Sari terdiam dan terpaku, saat Bi Ida dan papa Naya menoleh ke arahnya. Naya hanya menutup telinganya. Sari seketika merasa canggung. "Selamat pagi, Om, Bi." Sari menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. "Makanya, jangan asal teriak aja. Sudah tahu ini rumah sakit, masih aja menggema itu suaramu," kata Naya yang mulai melepaskan tangan dari telinganya."Aku nggak tahu, kalau ada yang jaga kamu. Aku kira kamu lagi sendirian pagi ini," kata Sari pada sahabatnya yang sedang berada di brankar. "Makanya yang santun gitu loh. Kamu nggak pernah ikut kelas budi pekerti kah?" tanya Naya yang menoleh ke arah sahabatnya. "Iya, kan ... aku nggak tahu, kalau kamu ada yang jaga di pagi ini.
Naya membuka matanya dan menangkap banyak warna putih. Ditambah dengan aroma obat yang menyengat. Naya mulai mengedarkan pandangannya. Dia menangkap kedua orang tuanya menatapnya cemas. Di sisi lain ada ardi dan beberapa temannya yang ikut menemaninya. Satu persatu orang yang ada di sana, dia perhatikan. "Nay, kamu sadar?" tanya mama Naya yang mulai menyadari anaknya sudah membuka mata. "Ma, aku kenapa?" tanya Naya."Kepalamu bocor, karena terlalu keras terbentur tiang," jawab papa Naya yang terlihat khawatir dengan keadaan anaknya. "Tapi kita menang kan?" tanya Naya ke teman-temannya. "Buat apa kita menang, kalau kamu malah masuk ruang operasi, Nay?"" balas teman-teman Naya. "Ciih! Cengeng. Aku nggak papa, tenang aja. Aku sangat baik-baik saja," kata Naya. "Nay, mereka kan khawatir sama kamu." Mama Naya mengatakannya. "Iya, tahu, tapi kan ....""Nggak ada 'tapi', Nay. Kamu buat Mama dan Papa sangat khawatir sekarang. Kamu menyelamatkan poin kalian, tapi nggak menyelamatkan ke