Share

Bab 70

Author: Penadiary
last update Last Updated: 2026-01-04 23:04:17

MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman.

"Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”

Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.

Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.

Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.

Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.

Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 75

    "Soal itu ... hanya kebetulan." Neilson akhirnya angkat bicara dengan nada datar, seolah ingin memutus dugaan yang terlanjur tumbuh di benak Lyra. “Telur itu memiliki stok paling banyak di kulkas, jadi aku membuatnya.”"Oh ...." Jawaban itu membuat Lyra tersenyum tipis, senyum yang lebih condong pada rasa malu daripada lega. Ia menunduk sebentar, menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu percaya diri hanya karena beberapa perhatian kecil dari Neilson. Ada rasa hangat yang pelan-pelan surut, digantikan perasaan kikuk yang tak ingin ia akui.Tanpa berkata apa-apa lagi, Lyra meraih sendok dan mengambil sepotong telur gulung dari piringnya. Ia memasukkannya ke mulut dan mengunyah perlahan, rasanya tetap enak, tetapi hatinya sedikit kecewa. Namun, ia memilih diam, menyembunyikan perasaan itu di balik ekspresinya yang tenang, seolah tak terganggu.Neilson melirik sekilas ke arah Lyra, memperhatikan perubahan halus di wajah gadis itu yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan. Ada bayangan k

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 74

    "M–mahar?" Lyra tertegun saat kata mahar keluar begitu saja dari bibir Neilson. Ia tak pernah membayangkan pria itu akan menggunakan kata yang bermakna itu, apalagi dalam konteks pernikahan kontrak mereka.Kalimat sederhana itu memunculkan banyak pertanyaan di benaknya, membuatnya bertanya-tanya apakah Neilson mulai menganggap hubungan mereka lebih dari sekadar kesepakatan tertulis? Tanpa disadari, wajah Lyra memanas, dan rona merah perlahan menjalar di pipinya, menandai keguncangan perasaan yang berusaha ia sembunyikan.Lyra akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar gugup. “Aku … aku akan mempertimbangkannya dulu.” Tanpa menunggu tanggapan, ia segera bangkit, gerakannya terburu-buru seolah takut perasaannya akan terbaca.Ia melangkah menuju kamar dan menutup pintu di belakangnya. Di balik daun pintu itu, Lyra menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. Kedua tangannya terangkat memegang pipinya yang terasa panas.“Ada apa denganku?” gumamnya lirih.Pandangan L

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 73

    Lyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia berdiri di antara peluang besar dan batasan yang tak berani ia lewati. Neilson yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati Lyra dengan saksama. Ia bisa melihat jelas keraguan di wajah gadis itu, juga kegelisahan yang belum sepenuhnya terurai.Akhirnya, Neilson memutuskan untuk angkat bicara dengan nada datar. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” katanya. “Pertimbangkan saja dulu.”Grey ikut menimpali ucapan Neilson dengan senyum santai. Ia tak ingin Lyra merasa tertekan oleh tawaran sebesar itu. Baginya, keputusan besar memang tak seharusnya diambil dalam keadaan terburu-buru.“Tenang saja,” ujar Grey. “Pikirkan baik-baik. Kakak ipar tidak perlu memutuskan langsung hari ini.”Mendengar itu

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 72

    Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan Neilson. Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu memasukkannya ke saku celana dengan santai sambil menatap pria itu.“Lama tidak bertemu, Neil,” ujarnya ringan. “Kupikir kabar tentangmu mengajar di kampus hanya rumor belaka. Ternyata benar?”Neilson tidak menjawab. Tatapannya dingin dan datar, seolah Theo hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di hadapannya. Sikap itu justru membuat Theo tertawa kecil, suaranya rendah dan mengandung ejekan.“Jadi sekarang kamu sudah tidak bisa menciptakan desain baru lagi?” sindirnya. “Sampai harus menjadi dosen dan sibuk mencari penerus?”Tanpa menunggu respons Neilson, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Lyra. Senyumnya melunak, berb

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 71

    Erina tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, meski sorot matanya mulai terlihat gelisah. Ia berusaha terdengar tenang seolah tudingan itu sama sekali tak menggoyahkannya.“Kenapa kamu berkata begitu?” tanyanya lembut, seakan tersinggung. “Kenapa kamu menuduhku?”Tatapan Neilson mengeras. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun keraguan, suaranya terdengar tajam dan dingin. “Karena kunci ruang busana ada padamu,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.Senyum Erina meredup, berganti raut wajah sendu yang dibuat-buat. Ia menggeleng pelan, matanya terlihat mulai berkaca-kaca, sedangkan suaranya dibuat serendah mungkin. “Aku tidak tahu apa-apa,” katanya. “Pagi tadi aku bahkan tidak masuk ke ruangan itu. Aku hanya menitipkan kuncinya pada seorang mahasiswa.”Neilson tertawa kecil, namun nadanya terdengar meremehkan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar layar ke arah Erina. “Kamu lupa satu hal,” ujarnya singkat.Di layar ponsel itu terpampang rekaman CCTV. Terlihat jelas Erina berdiri di depan

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 70

    MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman."Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status