MasukLyra tersenyum lembut, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak apa-apa,” katanya tenang. “Mungkin kamu memang tidak sengaja.”Ia lalu menoleh pada Wina dan memberi isyarat halus agar sahabatnya menahan diri. “Sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.”Tatapannya sekilas menyapu sekeliling. Beberapa peserta berhenti berbicara. Bahkan beberapa juri terlihat memperhatikan ke arah mereka.Lyra menganggap, dalam kompetisi sebesar ini, tidak mungkin hanya desain yang dinilai. Sikap, etika, dan profesionalisme bisa saja menjadi pertimbangan tambahan.Ia tidak ingin Wina ikut terseret dalam konflik yang bisa merugikan mereka berdua, apalagi itu adalah konflik keluarganya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.Salsa tersenyum semakin lebar. “Dengar, kan?” ucapnya ringan, menoleh pada Wina dengan nada penuh kemenangan. “Bahkan dia sendiri bilang aku tidak sengaja.”Senyum Salsa bukan seperti permintaan maaf, itu terlihat seperti ejekan.Di sisi lain aula, Grey dan Neilson berdiri
Lyra terkejut ketika tirai benar-benar terbuka dan sosok yang muncul adalah Dave Alexander. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi kelegaan.Ternyata yang menjadi sponsor utama adalah ayah mertuanya, bukan Neilson. Artinya, pikiran buruk yang sempat menghantuinya bahwa Neilson mungkin ikut campur agar ia lolos seleksi tidaklah benar. Neilson bukan juri, ia tidak duduk di meja penilaian.Lyra perlahan mengangkat wajahnya, lalu tanpa sadar mencari-cari sosok yang ingin ia pastikan. Ia menoleh ke arah kursi tamu undangan. Matanya bergerak menyapu barisan satu per satu hingga akhirnya berhenti di barisan ketiga.Di sana, Neilson duduk dengan tenang di samping Grey. Posturnya tegak, wajahnya datar seperti biasa, namun tatapannya lurus ke arah panggung.Lyra menghela napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat. Tidak ada campur tangan apa pun dari pria itu. Salsa hanya ingin memprovokasinya.Ia menunduk sejenak, merapikan pikirannya sendiri. Sekarang bukan waktunya memi
"Lyra!" Tiba-tiba, suara seseorang memanggil namanya dari belakang membuat Lyra spontan menoleh. Wina berlari cepat ke arahnya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.Tanpa menunggu, Wina langsung memeluk Lyra. Lyra membalas pelukan itu dengan hangat, merasa lega bisa bertemu sahabatnya di acara lomba sesuai janji mereka.“Aku sudah yakin kamu pasti akan lolos seleksi, Ly,” kata Wina sambil tersenyum lebar, matanya bersinar penuh semangat.Lyra hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, namun pikirannya masih terganggu oleh ucapan Salsa. Keraguan tiba-tiba muncul, membuatnya menunduk sejenak.Wina melepas pelukannya perlahan dan menatap gaun Lyra dari atas ke bawah. Lyra menahan napas, takut sahabatnya juga akan menganggap desainnya terlalu sederhana.Namun pandangan Wina berubah. Ia menatap Lyra dengan tatapan penuh arti, penuh semangat.“Desain unik seperti apa lagi yang kamu buat, Ly?” tanya Wina dengan nada antusias.Lyra terkejut. Desainnya unik? Wina benar-benar bisa melihat sesua
Salsa mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap Lyra. Ia benar-benar tidak menyangka perubahan Lyra sebesar ini.Ia sempat mengira keberanian Lyra kemarin hanyalah kebetulan, sekadar emosi sesaat. Namun kini jelas, gadis di hadapannya benar-benar berubah. Lyra tak lagi menunduk, tak lagi membiarkan dirinya diinjak.“Kapan aku bilang gaunku sampah?” Suara Salsa meninggi, tajam dan penuh sindiran. “Yang sampah itu gaunmu! Apa kamu benar-benar pikir desain sesederhana itu bisa menarik perhatian juri?”Ucapannya sengaja dibuat cukup keras hingga beberapa peserta yang berdiri tak jauh dari sana ikut menoleh. Satu per satu tatapan beralih ke arah Lyra, lebih tepatnya ke arah gaun yang ia kenakan.Memang benar, gaun Lyra tampak jauh lebih sederhana dibandingkan yang lain. Tidak ada detail yang rumit, kain berlapis, atau hiasan yang mencolok. Potongan gaunnya bersih, tanpa ornamen berlebihan.Bisik-bisik mulai
Aldi tampak benar-benar terkejut ketika mendengar jawaban Lyra. Alisnya terangkat, dan senyum kecil yang tadi sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar.“Kamu ... belum melihatnya?” tanyanya pelan, memastikan.Lyra menggeleng. “Belum. Flashdisk apa memangnya? Aku tidak ingat melihat apa pun di dalam kotak foto itu.” Ia berpikir sejenak, lalu menambahkan. “Mungkin aku kurang teliti. Nanti setelah lomba selesai, aku akan memeriksanya lagi.”Aldi terdiam. Sorot matanya berubah, ada sesuatu yang tampak ragu sekaligus gugup. Jika Lyra sudah membuka kotak itu dengan saksama, seharusnya ia menemukan flashdisk yang sengaja ia selipkan di sana.“Kalau begitu ....” Aldi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Sebenarnya kamu tidak perlu mencarinya lagi.”Lyra mengernyit bingung. “Tidak perlu? Kenapa?”Aldi mengusap tengkuknya canggung. Jemarinya bergerak gelisah di sisi tubuhnya sebelum akhirnya ia menatap Lyra dengan lebih serius. “Sebenarnya aku ingin mengatakannya se
Perjalanan menuju lokasi lomba memakan waktu hampir dua jam.Sepanjang jalan, Lyra lebih banyak diam. Tangannya sesekali meremas ujung tas di pangkuannya, lalu melepasnya lagi. Ia berusaha mengatur napas, menenangkan pikirannya yang terus membayangkan bagaimana cara dirinya bersikap ketika ia sudah sampai di tempat lomba.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan gedung acara, Lyra terdiam beberapa detik dan menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Kakinya menapaki aspal dengan sedikit kaku, kemudian ia mendongak menatap bangunan tinggi di hadapannya.Spanduk besar terpampang di depan pintu masuk. Para peserta berjalan masuk dengan busana terbaik mereka, beberapa kru sibuk membawa perlengkapan, tamu undangan mulai berdatangan, juga ada beberapa wartawan yang masih berlalu-lalang.Suasana itu tiba-tiba membuat dadanya kembali terasa sesak.Lyra menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. Ia baru hendak melangkah ketika mendengar pintu mobil di sisi lain ikut terbuka. Ia menole






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
